Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sabrang vs Feng Ying


__ADS_3

Serangan tiba tiba Wardhana benar benar membuat Majasari kelabakan, tanpa persiapan apa apa bukan hal mudah mengatur ratusan ribu pasukan untuk langsung berperang.


Keadaan didalam keraton semakin kacau saat Wijaya muncul bersama tim kecilnya, mereka bergerak sebagai pasukan membuka untuk mengacaukan situasi sebelum pasukan utama tiba.


"Cepat ambil peralatan perang kalian di gudang penyimpanan, sebagian menyebar ke gerbang keraton, sebagian lagi lindungi Yang mulia," teriak salah satu prajurit pada yang lainnya.


Dia mencoba mengarahkan pasukannya namun tak berhasil, keadaan sudah terlanjur kacau, mereka terus diserang oleh tim yang dipimpin Wijaya.


Tampak Mantili, Brajamusti dan Suliwa terus membuat kekacauan di dalam keraton bersama pendekar aliran putih lainnya. Semua bergerak sesuai arahan Wardhana.


"Sial, keadaan benar benar kacau, aku harus berbuat sesuatu," prajurit itu membawa sepuluh temannya menuju gudang senjata.


"Ambil senjata sebanyak banyaknya dan bagikan pada mereka," perintah prajurit tersebut sambil berlari.


Keadaan yang sudah tidak terkendali itu membuat semua prajurit panik dan bergerak tanpa arah. Serangan kejutan di gerbang kota dan tim kecil Wijaya yang dirancang Wardhana membuat kekacauan di dalam keraton dan melumpuhkan seluruh komunikasi musuh.


Saat ini prajurit Majasari bergerak atas insting masing masing, tak ada komando apapun.


"Aku harus segera mengendalikan situasi," gumam prajurit itu sambil terus berlari bersama yang lainnya namun langkah mereka terhenti saat melihat Sabrang muncul didekat gudang senjata Majasari.


"Siapa kau?" teriak prajurit itu.


"Kalian ingin mengambil apa yang ada didalam gudang ini?" ucap Sabrang sambil menarik pedangnya.


"Bau minyak? jangan jangan."


"Ambil jika kalian mampu," Pedang naga api mulai diselimuti kobaran api, Sabrang menempelkan ujung pedang ke pintu gudang.


Kobaran api langsung menyambar gudang senjata itu dan membakar semua yang ada didalamnya.


"Kau!" dia memberi tanda pada yang lainnya untuk menyerang bersama.


"Ayah, lihatlah aku, hari ini panji Malwageni akan berkibar diatas keraton Majasari," Sabrang memejamkan matanya sesaat sebelum bergerak.


Mata bulannya bersinar terang sebelum dia melepaskan jurus api abadi tingkat II. Dalam hitungan detik, sepuluh prajurit yang menyerangnya tumbang tanpa tau kapan Sabrang bergerak.


Asap yang membumbung tinggi di langit Majasari menjadi tanda pasukan utama bergerak. Dalam hitungan menit gelombang besar pasukan yang dipimpin Jaladara merobohkan dinding keraton, mereka masuk dan menyebar ke segala arah dibawah pimpinan Lingga dan Arung.


Serangan dari tiga arah yang dirancang Wardhana sangat efektif meluluhlantakkan Majasari.


Kecerdasan Wardhana dan Paksi mengatur siasat, ditambah kekuatan Sabrang dan pendekar lainnya membuat Majasari, kerajaan yang selama ini ditakuti tak berdaya.


Hanya dalam waktu hampir setengah hari saja keraton Majasari mulai bisa dikuasai.


Wardhana memang sejak awal mengincar kemenangan cepat karena jika sampai berlarut larut, pasukannya yang minim logistik akan kalah.


Jaladara yang memimpin pasukan dari arah berlawanan tampak mudah menerobos keraton, dia kemudian bergabung dengan pasukan angin selatan yang dipimpin Sabrang untuk menguasai Keraton.


"Wardhana benar benar mengerikan," gumam Jaladara sambil bergerak maju. Ratusan pasukan Majasari yang tidak siap melawan dengan peralatan seadanya.


Dia kembali teringat saat hampir bertarung dengan Wardhana dua hari sebelum penyerangan. Jaladara merasa Wardhana sudah gila, Logistik yang dijanjikan Wardhana cukup untuk enam hari pertempuran ternyata hanya tipuan Wardhana.


Malwageni tak memiliki sedikitpun makanan untuk para prajuritnya.


"Kau sudah gila?" teriak Jaladara kesal, tanpa makanan prajuritnya akan kelaparan yang berujung kekalahan. Jaladara sudah memperkirakan pertempuran dengan Majasari akan memakan waktu berhari hari.


"Aku mohon maaf jika aku berbohong tuan namun aku merasa jika Majasari dapat ditaklukkan dalam satu hari kita tak membutuhkan makanan," balas Wardhana tenang walau Jaladara telah mencabut pedangnya.


"Dalam satu hari?" Jaladara makin murka karena merasa dipermainkan Wardhana.


"Serangan di gerbang kota sebagai pancingan, saat mereka terpusat di gerbang kota, tim kecilku akan membuat kekacauan di dalam keraton sebelum anda masuk.


Kekacauan akan membuat mereka panik, aku alan memanfaatkan itu untuk menundukkan mereka dalam satu hari. Jika kalian mengikuti semua rencanaku, penggal kepalaku jika dalam satu hari keraton tidak bisa dikuasai," balas Wardhana yakin.


"Sayang sekali aku tak bisa memenggal kepalamu," gumam Jaladara sambil tersenyum kecut.


***


Wajah Tunggul umbara menjadi pucat saat melihat suasana keraton yang baru dia tinggalkan beberapa menit lalu.


Ratusan prajurit gabungan telah menguasai hampir seluruh keraton.


Prajurit tangan besi yang bertugas menjaga keraton terlihat kocar kacir karena tidak siap menerima serangan.


Tunggul umbara kembali menoleh kearah pertempuran di gerbang utama ibukota, tangannya mengepal menahan amarah.


Kali ini dia kalah segalanya dari Wardhana, baik strategi perang maupun membaca gerakan lawan.


Tunggul umbara bukan tidak tau rencana penyerangan Malwageni dan Saung galah, mata matanya jelas mengatakan jika mereka akan menyerang setelah purnama.


Tunggul umbara lalu membuat gerakan untuk mengecoh Wardhana, dia mengirim organisasi pembunuh Bintang kegelapan untuk mengacaukan rencana Wardhana dan diam diam mengundang utusan Kekaisaran Shang. Semua panglima perang akan berfikir ribuan kali untuk melanjutkan penyerangan setelah rencananya bocor.


Saat itu dia berfikir, setelah penyerangan tapak es utara, Wardhana akan memundurkan rencananya sehingga dia memiliki kesempatan untuk menyerang lebih dulu dengan bantuan Kekaisaran Shang.

__ADS_1


Semua teliksandi sudah disebar untuk membaca gerakan Wardhana selanjutnya namun tanpa diduga Wardhana justru nekat menyerang lima hari setelah penyerangan Bintang kegelapan.


Sebuah rencana yang dianggap Tunggul umbara bunuh diri karena dalam waktu sempit seperti itu tak mudah menggerakkan ratusan bahkan ribuan prajurit namun Wardhana lebih pintar darinya, dia mengambil sisi lemah pikiran manusia untuk memoles rencananya.


Dan hasilnya, Majasari yang merupakan kerajaan terbesar di nuswantoro hancur dalam waktu singkat.


Tubuh Tunggul umbara langsung lemas melihat kerajaannya porak poranda, sebagai seorang patih yang telah banyak pengalaman berperang, situasi yang dihadapinya saat ini sudah selesai dan hanya menunggu waktu Majasari runtuh.


Kepanikan dan tanpa persiapan prajuritnya sangat mustahil untuk membalikkan keadaan, Wardhana menjadi aktor utama hancurnya Majasari.


"Jaladara, kubunuh kau," Tunggul umbara melepas jubah perangnya, dan langsung melesat. Saat ini yang ada dipikirannya adalah membunuh Jaladara dan menyelamatkan Rajanya sementara waktu.


"Umbara?" Jaladara memutar pedangnya dan bersiap menyerang namun tiba tiba sebuah keris muncul diikuti dengan aura besar yang menyelimuti keraton.


"Aura ini?" Tunggul umbara menarik serangannya dan melompat mundur menghindari lesatan keris yang terarah padanya.


Tubuh Tunggul umbara bergetar hebat, dia masih ingat betul siapa pemilik aura yang menekannya, bahkan auranya kini kini dirasakannya jauh lebih kuat dari pertempuran di rogo geni dulu.


"Tunggul umbara, berikan kepalamu!" Sabrang muncul tiba tiba ditengah pertempuran para prajurit Majasari dan angin selatan.


Aura pekat yang meluap dari tubuhnya benar benar membuat orang sulit bergerak. Sabrang memang melepaskan hampir separuh tenaga dalamnya, dia berfikir untuk menghancurkan Majasari secepatnya.


"Tenaga dalam apa ini?" ucap salah satu prajurit tangan besi.


Beberapa prajurit tangan besi langsung menyerang saat melihat Sabrang muncul, mereka serentak menghunuskan pedang sambil bergerak maju menbentuk formasi tangan besi.


"Sudah saatnya aku mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak Malwageni," Pedang naga api tiba tiba muncul dilengan kanannya, dia membentuk perisai es untuk menutup area disekitarnya sambil merapal jurus andalannya.


"Pedang jiwa tingkat III : Energi perusak jiwa," Sabrang mengayunkan pedangnya membentuk lingkaran, dan bersamaan dengan hancurnya dinding es yang mengelilinginya, puluhan energi pedang melesat kearah prajurit yang menyerangnya.


Lesatan energi pedang jiwa menembus tubuh puluhan prajurit Majasari dan baru berhenti ketika membentur dinding keraton dan menimbulkan ledakan besar.


Setelah melihat ilmu kanuragan Sabrang, para prajurit tangan besi mulai menjaga jarak, kereka sadar Sabrang tak mudah dilawan walau menggunakan formasi terbaik mereka sekalipun.


"Lindungi Yang mulia," teriak Wijaya sambil mendekat, pasukan angin selatan mulai membentuk lingkaran mengelilingi Sabrang.


Semangat Tunggul umbara mulai pudar, rasa percaya diri pada ilmu kanuragan yang telah dia latih selama ini hancur dalam seketika dihadapan kekuatan raja Malwageni itu.


Jubah perang khas Arya dwipa yang digunakan Sabrang menambah tekanan dalam diri Tunggul umbara, dia seolah berhadapan kembali dengan sosok Arya dwipa namun dalam wujud yang jauh lebih kuat.


Jaladara dan Lembu sora yang menangkap rasa takut Tunggul umbara tak menyianyiakan kesempatan, mereka terus bergerak maju menuju aula utama raja untuk menangkap Raja Majasari yang selama ini seolah tak bisa disentuh.


"Sepertinya firasatku benar, wahyu keprabon telah meninggalkan keraton," gumam Tunggul umbara putus asa.


"Yang mulia, maafkan aku tak bisa melindungi mu, semoga anda selamat," Tunggul umbara melesat menyerang Sabrang dengan sekuat tenaga, dia sudah membulatkan tekadnya untuk mati demi menjaga kehormatan Majasari.


"Sepertinya kau memilih mati demi rajamu, aku sangat mengagumi sikapmu yang ksatria, sayang sekali kita berada di pihak yang berlawanan," Sabrang memunculkan puluhan energi keris dihadapannya dan melemparkannya sekuat tenaga.


"Aku bersumpah akan membawamu mati bersamaku," Tunggul umbara mencoba menangkis puluhan energi keris sambil terus bergerak mendekati Sabrang, dia seolah tidak perduli belasan energi keris yang tak berhasil ditangkis menembus tubuhnya.


Langkah Tunggul umbara terhenti sesaat karena merasakan sakit yang sangat namun dia kembali bergerak mendekat.


"Semangatnya sangat mengerikan," Sabrang menggeleng pelan, dia terus melemparkan energi keris untuk menahan Tunggul umbara yang semakin dekat.


"Kau tak akan bisa menyentuhku," ucap Sabrang pelan.


Ketika jarak mereka hanya beberapa langkah saja, Langkah umbara terhenti, dia menurunkan pedangnya dan menggunakan sebagai tumpuannya berdiri.


Wajahnya pucat pasi karena darah terus mengalir ditubuhnya, lengan kirinya hampir hancur terkena energi keris.


"Aku akan membunuhmu," ucap Tunggul umbara terbata bata.


Tunggul umbara menoleh kesekelilingnya, terlihat para prajuritnya sudah hancur. Sebagian sudah terbujur kaku ditanah dan sebagian lainnya masih bertarung dengan sisa kekuatan mereka.


"Pertahankan keraton sampai titik darah penghabisan, jangan sampai kalian mundur satu langkahpun atau aku akan membunuh kalian semua," ucap Umbara dengan sisa sisa tenaganya.


"Dunia selalu berputar pangeran, suatu saat kau akan merasakan apa yang kurasakan. Aku akan tertawa saat nanti melihatmu berada di posisiku," Umbara kembali melangkah gontai, pedangnya diarahkan pada Sabrang.


Saat pedangnya sudah berada didekat Sabrang, rubuhnya roboh ketanah.


"Beristirahatlah dengan tenang," Sabrang menundukkan kepalanya memberi hormat, dia benar benar kagum pada Tunggul umbara.


"Berikan bendera malwageni padaku," ucap Sabrang pada salah satu prajurit angin selatan yang berada didekatnya.


Sabrang melesat keatas bangunan yang paling tinggi untuk menancapkan panji kebesaran Malwageni, namun langkahnya terhenti saat berhadapan dengan Liu Xingsheng dan pasukannya yang sedang bergegas pergi.


Feng ying mengernyitkan dahinya, dia masih mengingat wajah Sabrang yang dia temui di penginapan tempo hari.


"Jadi kekuatan besar tadi berasal darimu? aku sudah curiga dari awal kau menyembunyikan kekuatanmu," ucap Feng ying pelan.


Sabrang yang tak mengerti bahasa yang digunakan Feng ying hanya diam sambil menatap tajam mereka.


"Panggil paman sora!" perintah Sabrang pada salah satu prajuritnya.

__ADS_1


Tak lama Lembu sora muncul dengan wajah bingung, dia terus menatap rombongan kekaisaran Shang yang menghunuskan pedang kearah Sabrang.


"Katakan pada mereka aku tidak memiliki urusan apapun dengan kekaisaran Shang, aku akan pura pura tidak melihat keberadaan mereka," ucap Sabrang pelan.


Lembu sora yang sedikit mengerti bahasa daratan sungai kuning mulai bicara walau dengan terbata bata.


"Kalian sudah melihatnya bukan, saat ini kami hampir menguasai Majasari namun aku sangat terkejut ada utusan kekaisaran Shang. Kita tak pernah memiliki masalah dengan kalian, kuharap kalian tidak ikut campur, Yang mulia mempersilahkan kalian pergi," ucap Sora pelan.


"Kami hanya mendapat undangan dari Majasari, terima kasih telah mengerti. Aku akan pergi, kuharap suatu saat kita dapat berhubungan baik," balas Liu Xingsheng sopan.


Sebagai ahli strategi perang, Liu Xingsheng sudah dapat membaca arah kemenangan dan dia berharap suatu saat dapat menjalin kerjasama dengan Sabrang.


"Terima kasih, akan kami pertimbangkan," jawab Lembu sora sopan.


"Ayo kita pergi," ucap Liu Xingsheng setelah menundukkan kepalanya, namun tiba tiba wajahnya berubah saat Feng ying tiba tiba menyerang Sabrang.


"Si bodoh ini," Wenhua mengumpat dalam hati sambil bersiap menghentikan adik seperguruannya itu namun Liu Xingsheng terlihat menahannya, dia ingin melihat seberapa besar kemampuan raja muda itu.


Sabrang menarik pedangnya untuk menangkis serangan tiba tiba itu namun dia tersentak kaget saat lengan kiri Feng ying mengeluarkan pedang dari punggungnya.


Mata bulan Sabrang mampu membaca semua gerakan Feng ying namun tubuhnya terlambat bereaksi. Tubuh Sabrang menghilang tepat setelah pedang Feng ying menghujam dadanya.


"Menghilang?" gumam Feng ying dalam hati sesaat sebelum muncul kembali dengan serangannya.


"Pedang pemusnah raga," Sabrang mengayunkan pedangnya dengan cepat.


Feng ying memutar tubuhnya, dia menyambut serangan pedang pemusnah raga dengan mudah sambil melepaskan serangan balasan.


"Dia membaca gerakan jurus pemusnah raga?" Sabrang menciptakan energi keris sambil melompat mundur, dia terus menghindari serangan Feng ying yang semakin cepat.


"Megantara," ucap Sabrang dalam pikirannya.


"Aku tau, ada mahluk aneh yang juga bersemayam dalam tubuhnya," Eyang wesi mengalirkan energinya keseluruh tubuh Sabrang.


"Anak itu akan kalah oleh Feng ying, anda harus menghentikannya atau kita akan dianggap musuh karena telah membunuh raja mereka," bisik Wenhua pada Liu Xingsheng.


Liu Xingsheng mengangguk pelan, dia bersiap memberikan tanda pada Feng ying untuk berhenti sesaat sebelum gerakan pedang Sabrang tiba tiba berubah cepat.


"Gerakan pedangnya?" Wenhua tersentak kaget melihat gerakan pedang Sabrang.


"Aku tak tau apa tujuan kalian kemari namun tindakanmu kali ini benar benar keterlaluan," Sabrang melepaskan energi Megantara dan menyerang balik.


Sabrang berpindah tempat menggunakan jurus ruang dan waktunya sebelum mencengkram pedang Feng ying.


"Kau ingin mengambil pedangku? jangan bermimpi," Feng ying mengayunkan pedang ditangan kirinya sekuat tenaga.


"Bodoh itu jebakan," Wenhua bergerak maju namun terlambat, Sabrang melepaskan cakar dewa bumi melalui pedang Feng ying.


Tubuh Feng ying terpental tiba tiba sesaat sebelum Sabrang merubah arah pedangnya.


""Pedang jiwa tingkat III : Energi perusak jiwa," Sabrang mendekat dengan cepat, dia melepaskan beberapa energi keris untuk mengecoh sebelum energi pedang iblis melesat cepat kearah Feng ying.


Wenhua muncul dihadapan Feng Ying dan membuat tameng tenaga dalam.


Ledakan besar terdengar saat kedua tenaga dalam berbenturan, terlihat Wenhua dan Feng ying terpental beberapa langkah sebelum Wenhua menarik Fengying menjauh.


"Energi pedangnya tidak bisa dihentikan," ucap Wenhua takjub.


Baru kali ini ada sebuah serangan yang tak dapat dihentikan oleh perisai tenaga dalam naga miliknya.


"Maafkan atas kebodohan adik seperguruanku tuan, kuharap anda tidak tersinggung," Wenhua menundukkan kepalanya.


Sabrang terdiam sejenak, dia bisa saja meneruskan pertarungan namun saat ini situasinya tidak memungkinkan. Selain itu hanya dalam beberapa gerakan Wenhua, Sabrang sudah bisa membaca jika kemampuan Wenhua jauh di atas Feng ying.


Dalam situasi saat ini akan sangat merepotkan menghadapi mereka bersamaan.


"Tak perlu sungkan, aku dapat memahami adik anda, kuharap dia dapat mengukur kemampuannya terlebih dulu," jawab Sabrang mengejek.


Wenhua hanya tersenyum kecut, dia menatap tajam Feng ying yang tersulut emosinya karena ejekan Sabrang.


"Kau bukan tandingannya, hentikan atau aku yang akan menjadi lawanmu," bentak Wenhua.


Feng yin terlihat bersungut kesal, dia benar benar tersinggung dengan ejekan Sabrang.


"Kami akan pergi dan maafkan sekali lagi atas kelancangan adikku. Selamat atas kemenangan anda tuan, kuharap kita dapat berteman baik suatu saat," Wenhua menundukkan kepalanya sebelum menyeret Feng ying pergi.


"Yang mulia," ucap Sora pelan.


"Aku tidak apa apa," balas Sabrang sambil menatap keraton yang sudah hancur.


Ratusan prajurit Majasari yang tersisa sudah melepaskan pedangnya, mereka menyerah setelah melihat Tunggul umbara tewas.


"Kibarkan panji Malwageni di setiap sudut keraton, aku ingin Nuswantoro tau Malwageni telah bangkit kembali," perintah Sabrang.

__ADS_1


"Hamba menerima perintah Yang mulia," Lembu sora menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.


__ADS_2