
"Maaf ketua tidak bisa di ganggu silahkan kembali lain kali" Seorang pemuda murid Sekte Bintang Utara berbicara ketus sambil menutup pintu.
"Kau" Lingga Maheswara menggunakan Tapak peregang sukma untuk merusak pintu dihadapannya membuat pemuda tersebut terpental mundur. Darah segar mengalir dari mulutnya.
Wardhana hanya menggeleng pelan tanpa mencegah perbuatan Lingga. Dia menyadari jika Bintang utara tidak bisa diajak bicara baik baik.
"Berani sekali kau menyerang Sekte Bintang utara" Beberapa murid Bintang utara muncul dengan pedang terhunus.
"Jika aku mau aku bisa menghancurkan Sekte mu seorang diri" Aura hitam meluap dari tubuh Lingga Maheswara membuat semua orang tidak bisa bergerak termasuk Wardhana.
"Bersabarlah" Wardhana memperingatkan Lingga untuk tidak membantai mereka semua. Keringat dingin keluar dari tubuh Wardhana akibat tekanan yang keluar dari tubuh Lingga.
"Mereka tidak bisa diajak bicara baik baik" Lingga menoleh kearah Wardhana
"Mimpi apa aku semalam bisa bersama Iblis ini" Wardhana bergumam dalam hati.
Beberapa murid Bintang utara menjadi pucat merasakan tekanan ditubuhnya.
"Lebih baik kalian bekerja sama, apa yang dia katakan akan dilakukannya" Wardhana berkata cemas, dia tidak ingin terlibat pembantaian Sekte aliran putih.
"Sudah cukup" Seorang pria tua berjalan mendekati muridnya yang mematung tak bisa bergerak.
"Kekuatannya sangat mengerikan" Saino menatap Lingga.
"Siapa kau?" Lingga menatap tajam Saino.
"Namaku Saino Ketua Sekte Bintang Utara, ada perlu apa kalian sampai membuat keributan di Sekteku?".
"Maaf tetua ada beberapa hal yang ingin kubicarakan dengan anda" Wardhana melangkah kearah Saino
"Kau terlalu lunak" Lingga menoleh ke arah Wardhana.
"Aku ingin bernegosiasi bukan berniat membantai satu Sekte".
Lingga terkekeh mendengar Wardhana bicara "Jika negosiasimu tak membuahkan hasil jangan salahkan aku jika sekte ini kuhancurkan". Wardhana hanya mengangguk pelan.
Saino sedikit melunak, dia mengukur kemampuan Lingga yang jauh diatasnya dan dia tidak ingin mati konyol hari ini.
"Masuklah" Saino melangkah masuk ke sebuah ruangan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Saino berbicara setelah duduk di ruangannya.
Lingga masih menatap tajam Saino namun dia memberikan kesempatan pada Wardhana untuk bernegosiasi.
"Aku ingin menanyakan perihal salah satu murid Elang putih yang pernah singgah disini. Dia menyebarkan berita kalau sekte Iblis hitam yang menghancurkan mereka. Berita ini bisa membuat konflik antara golongan putih dan hitam, aku ingin menanyakan langsung padanya jika anda berkenan bemberitahukan dimana dia berada" Wardhana memulai pembicaraannya.
"Oh pemuda itu, dia memang sempat kemari namun sudah pergi beberapa hari lalu, aku tidak tau kemana dia pergi".
"Apa yang dia sampaikan pada anda?".
"Dia hanya mengatakan bahwa iblis hitam menghancurkan sektenya seorang diri, aku memberinya makan setelah itu dia pergi entah kemana" Saino berkata datar.
__ADS_1
Wajah Lingga mengeras namun Wardhana memberinya tanda untuk menahan amarahnya.
"Anda yakin dia pergi?".
"Kau tidak mempercayaiku? buat apa aku berbohong padamu" Suara Saino meninggi.
"Jika aku menjadi dirinya aku akan bersembunyi terlebih dahulu karena apa yang dia sampaikan akan membuat marah Iblis hitam. Sektenya telah hancur kenapa aku harus terburu buru pergi?". Wardhana tersenyum penuh makna.
"Kau!!!" Saino menatap tajam Wardhana
"Tetua, dia akan aman jika aku yang menemukannya terlebih dahulu namun jika aku terlambat dan Iblis pedang yang menemukannya terlebih dahulu bukan hanya dia yang akan dibunuh namun Bintang utara akan ikut dihancurkan karena menyembunyikan orang yang menjadi musuh Iblis hitam.
Yang aku ingin katakan pada anda saat ini adalah penyerangan Elang putih penuh dengan kejanggalan, jika salah bertindak akan banyak korban mati sia sia dan jika itu terjadi aku akan dengan senang hati membantu Iblis hitam sekalipun menghancurkan sektemu" Suara Wardhana meninggi.
Lingga menatap Wardhana yang sedang berbicara dengan Saino.
"Orang ini lebih menakutkan dari yang kukira" Gumamnya.
Saino terdiam mendengar ancaman Wardhana, dia merasa jika Wardhana tidak main main dengan ancamannya.
Tak lama dia membisikan sesuatu pada Wardhana. Wardhana tersenyum beberapa saat kemudian.
"Terima kasih atas bantuannya, jika demikian aku undur diri" Wardhana bangkit dan mengajak Lingga pergi.
Saino mengangguk dan menatap kepergian Wardhana dan Lingga dengan perasaan lega.
"Kau tau dimana tempatnya bersembunyi?" Lingga menatap tajam Wardhana setelah mereka meninggalkan Sekte Bintang utara.
"Aku akan memberitahukanmu lokasi dia bersembunyi namun kau harus mengikuti caraku".
"Apa aku terlihat ingin mengambil kesempatan dalam masalah ini? Tuanku memerintahkanku untuk membawanya ke Sekte tapak es utara dan akan kulakukan apapun resikonya. Jika terbukti benar ini hanya jebakan untuk mengadu domba aliran putih dan hitam aku akan membersihkan nama Sekte mu, bukankah ini setimpal untukmu?".
"Suatu saat aku pasti akan membunuhmu" Lingga menahan amarahnya.
Wardhana hanya tersenyum mendengar ancaman Lingga.
"Mari kita temukan dan lihat siapa yang telah menghancurkan Sekte Elang putih".
***
"Jadi maksud anda Iblis hitam dalang dari hancurnya sekte Elang putih?".
Gandana mengangguk "Terlepas dari kabar jika sekte lain di susupi oleh pendekar misterius namun aku sedikit yakin Iblis hitam pelakunya. Tetua semua tentu masih ingat Iblis pencabut nyawa menghancurkan Sekte Tapak suci beberapa saat lalu seorang diri?".
Sudarta mengangguk pelan, dia memang menerima kabar jika Sekte tapak suci dihancurkan seorang diri oleh Asoka.
"Bisa jadi kali ini pun Iblis Pencabut nyawa yang melakukannya" Sudarta berkata pelan.
"Dia tidak akan bisa melakukannya lagi" Suara seseorang mengagetkan pertemuan tersebut.
"Kau!!!" Sudarta mengeluarkan aura biru dan bersiap menyerang.
__ADS_1
"Aku datang kesini hanya ingin bicara" Kertasura menatap Sudarta sesaat.
"Berani sekali kau menginjakan kaki di Sekteku!" Lapisan es mulai menyelimuti tubuh Mantili
"Mohon semua menahan diri" Suliwa menengahi.
"Kuakui nyalimu besar berani datang kemari Kertasura?".
"Seperti yang kukatakan tadi aku hanya ingin berbicara" Kertasura berkata pelan pada Suliwa.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" Sudarta mulai bersikap lunak.
"Bukan Iblis hitam yang menghancurkan Elang putih, aku masih memegang perjanjian itu".
Gandana terkekeh mendengarnya "Sejak kapan kau bisa di percaya? Lalu apa yang bisa kau jelaskan mengenai Iblis pencabut nyawa yang menghancurkan Tapak suci?".
Kertasura terdiam sesaat "Ku akui jika hancurnya tapak suci adalah ulah Asoka, anak itu sulit dikendalikan bahkan olehku namun apa yang dilakukannya diluar sepengetahuanku".
"Kau pandai bersilat lidah Kertasura" Wulan sari menatap tajam Kertasura "Kau bahkan berusaha merebut kitab dewi obat milik teratai merah".
"Asoka tewas di tangan Pengguna Pedang naga api namun aku tidak menuntut balas bukankah itu sudah menjadi bukti jika aku tidak menyetujui tindakan Asoka?".
"Sabrang membunuh Iblis pencabut nyawa? ilmunya jauh di bawah Pendekar Asoka, kau jangan menbual Kertasura" Ki Ageng yang dari tadi diam ikut bicara.
"Apa yang dikatakannya benar tetua, aku melihat sendiri dia mengalahkan Iblis pencabut nyawa".
Semua menoleh ke arah ki Gandana.
"Bagaimana bisa ilmu anak itu meningkat secepat itu?" Ki Ageng masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Anak itu bisa melakukannya, itulah kenapa aku memberikan Pedang Naga Api padanya" Suliwa menoleh kearah Ki Ageng.
"Guru....." Belum sempat Ki Ageng menyelesaikan perkataannya tiba tiba salah satu murid Tapak Es utara muncul dengan luka di tubuhnya.
"Guru maaf aku tidak bisa menahannya" Melihat Kertasura ada dihadapannya murid tersebut langsung menyerang Kertasura.
Belum sempat serangannya mengenai tubuh Kertasura tiba tiba murid tersebut terpental dan roboh di tanah terkena kabut aneh yang menyelimuti tubuh Kertasura.
"Kau berani menyerang muridku!!!".
"Aku hanya membela diri tetua, lagipula aku melumpuhkannya bukan membunuhnya".
"Akan kupastikan kau menerima balasan yang setimpal" Mantili tiba tiba melesat menyerang Kertasura.
"Anda tidak memberiku pilihan tetua" Kertasura bersiap menyambut serangan Mantili dengan Pedangnya.
"Duarrrrr" Serangan Mantili membentur Perisai es yang muncul dihadapan Kertasura beberapa saat sebelum serangannya mengenai tubuh Kertasura.
"Perisai Es?" Mantili mengernyitkan dahinya.
"Maaf bi, aku mohon bibi menahan diri" Sabrang muncul dari balik perisai es yang hancur terkena serangan Mantili.
__ADS_1
"Kau" Mantili hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya "Aku menyerang hampir menggunakan separuh tenagaku bagaimana dia bisa menahannya" Mantili berkata dalam hati.
Kertasura terdiam memandang Sabrang "Aku bahkan hampir tidak bisa merasakan kehadirannya".