Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Ken Panca Menepati Janjinya


__ADS_3

Sabrang berusaha mendekati Dananjaya, sang panglima Wentira namun dia terpaksa menghindar ketika dua pendekar penjaga menyerangnya dari kedua sisi.


Sabrang menarik lengan kirinya dan meneyerang Dananjaya dengan energi keris yang berputar diudara.


Dananjaya menangkap energi keris itu dengan mudah sebelum menghilang ditangannya.


Sabrang sedikit terkejut karena baru kali ini ada seorang pendekar yang begitu mudah mematahkan serangan Anom.


"Menarik". Gumamnya sambil terus menghindari serangan serangan cepat dua pendekar yang terus menyerangnya.


"Cara bertarungnya sangat mirip dengan tuan Panca, siapa pendekar muda ini sebenarnya?". Ucap Dananjaya takjub. Dia benar benar tak menyangka pendekar semuda Sabrang mampu mengimbangi para pendekar penjaga.


Sabrang menggigit bibirnya ketika merasakan sakit ditubuhnya. Efek racun kalajengking hitam belum benar benar hilang walaupun sudah meminum penawar yang diberikan Emmy.


Sebenarnya bukan hal sulit bagi Sabrang untuk melumpuhkan para pendekar penjaga itu karena ilmu kanuragan mereka hanya setingkat diatas Lamakarate namun Sabrang terpaksa membagi tenaga dalamnya untuk menekan racun yang masih tersisa ditubuhnya.


Sabrang melihat kesekelilingnya dan mendapati Lingga dan yang lainnya mulai terdesak. Pertarungan sebelumnya dengan para pendekar darah iblis telah menguras tenaga mereka.


Saat ini Lingga dan yang lainnya tidak ada yang benar benar dalam kondisi prima, Arung bahkan bertarung sambil menahan luka dalamnya.


Sabrang terlihat sedikit menjaga jarak untuk mempersiapkan ajian Cakra manggilingan, dia ingin secepatnya menyingkirkan para pendekar yang menyerangnya dan mengalahkan Dananjaya sebelum racun ditubuhnya semakin menyebar.


"Kondisi tubuhmu saat ini tak akan mampu menahan energi Banaspati nak". Anom memperingatkan Sabrang.


"Apa aku mempunyai pilihan lain?". Tanya Sabrang sinis.


Sabrang mulai merapal ajian Cakra manggilingan dan menarik energi banaspati. Suasana gerbang Wentira tiba tiba mencekam saat aura merah darah meluap dari tubuh Sabrang dan menekan semua yang ada disekitarnya.


Kedua lutut Dananjaya bergetar karena aura menekan setiap sendi ditubuhya.


"Aku harus secepatnya mengakhiri pertarungan ini".


Sabrang bergerak dengan kecepatan tinggi kearah para pendekar yang menyerangnya, aura yang keluar dari tubuhnya membuat gerakan pendekar yang ada disekitarnya sedikit melambat. Lingga memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang balik, dia tidak terlalu terpengaruh aura Sabrang karena sudah sering bertarung bersama.


Dalam beberapa tarikan nafas nafas mereka sudah bertular belasan jurus, Sabrang terus menekan dan sesekali menyerang menggunakan energi keris untuk memecah konsentrasi lawan.


Kombinasi serangan Sabrang membuahkan hasil, Dua pendekar yang menyerangnya mulai terdesak. Selain harus menghindari serangan pedang Sabrang mereka juga disibukan dengan serangan energi keris yang semakin lama semakin cepat.


Ketika mata bulannya melihat celah, Sabrang tak menyianyikan kesempatan itu. Dia mengarahkan puluhan energi keris untuk memisahkan dua pendekar yang bertarung menggunakan formasi tempurnya. Salah satu pendekar terpaksa memisahkan diri dan melompat mundur ketika tiga buah keris tiba tiba muncul dihadapannya.


Sabrang memutar tubuhnya untuk memotong jarak dengan salah satu pendekar penjaga yang berasal dari tanah Jawata. Sabrang menggunakan jurus api abadi tingkat 14 untuk memancing mundur pendekar itu.


Merasa tidak akan mampu menagkis serangan Sabrang, pendekar itu melompat mundur sesuai dengan prediksi mata bulannya.

__ADS_1


"Menghindar". Teriak Dananjaya.


Belum sempat mencerna apa yang dikatakan Dananjaya, tubuh pendekar itu telah berlubang akibat serangan Anom. Tak lama tubuhnya ambruk ketanah.


Sabrang tidak berhenti disitu, dia bergerak maju menyerang Dananjaya saat memiliki kesempatan. Kecepatannya terus meningkat seiring dengan mata bulannya yang semakin bersinar. Dia merapal jurus api abadi tingkat akhir untuk melumpuhkan Dananjaya.


Dananjaya yang tidak siap terpaksa menyambut serangan Sabrang walaupun dia yakin akan terluka parah. Tanpa Sabrang sadari Ajian Cakra manggilingan menyerap semua energi yang ada disekitarnya dan membuat gerakannya makin cepat dan mematikan.


Ketika nyawa Dananjaya diujung tanduk tiba tiba sesosok tubuh membantunya, Pendekar itu mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya untuk membantu Dananjaya. Benturan tenaga dalam terjadi diudara ketika pedang Naga api berbenturan dengan pedang Dananjaya sebelum pedangnya hancur berkeping keping.


Dananjaya dan pendekar misterius itu terdorong beberapa meter sedangkan Sabrang hanya mundur satu langkah.


"Kekuatannya sangat mengerikan". Ucap Pendekar misterius itu.


Dananjaya tersentak kaget ketika mengenali suara itu.


"Hormat pada Yang mulia". Dananjaya berlutut dihadapan Tanwira, Raja dari kota Emas Wentira.


"Yang mulia?". Sabrang mengernyitkan dahinya sambil mengatur nafasnya. Dadanya mulai terasa sesak karena racun mulai menyebar kembali.


"Hentikan pertarungan ini". Teriak Tanwira pada para pendekar penjaga yang sedang bertarung dengan Lingga dan yang lainnya.


"Yang mulia mereka...". Dananjaya menghentikan ucapannya ketika Tanwira memberi tanda untuk diam.


Semua pendekar bergerak mundur ketika menerima titah rajanya.


"Apakah anda memiliki hubungan dengan tuan Panca?". Tanya Tanwira sopan.


"Beliau adalah Raja Malwageni yang juga keturunan terakhir Tuan Panca". Wardhana menjawab pertanyaan Tanwira karena melihat Sabrang masih mengatur nafasnya.


Tanwira tersentak kaget mendengar jawaban Wardhana dan menoleh kearah Dananjaya. "Kau melakukan kesalahan besar Panglima". Ucap Tanwira menahan amarah.


"Mohon ampuni hamba Yang mulia". Dananjaya kembali berlutut dihadapan Tanwira.


"Kau benar benar menepati janjimu Panca, kau menciptakan pusaka untuk melindungi Wentira". Gumam Tanwira dalam hati.


Tanwira kembali menundukan kepalanya sambil tersenyum hangat. "Maafkan atas kesalahpahaman ini tuan, izinkan aku menebus kesalahan para prajuritku".


Arung dan Lingga saling berpandangan heran melihat seorang Raja Wentira mau menundukan kepalanya pada Sabrang.


***


Setelah beberapa hari mengurung diri dikamar untuk memulihkan lukanya, Wardhana memutuskan keluar dari kamarnya untuk melihat lihat Keraton Wentira yang semuanya terbuat dari emas.

__ADS_1


Struktur bangunan, sistem kunci ruangan dan beberapa desain dinding keraton membuatnya takjub. Semua dibangun dengan perhitungan yang matang dan sangat rumit.


"Kami harus memastikan keraton yang berada didalam tanah ini kokoh dan tidak hancur dari gempa ataupun getaran lainnya". Suara Dananjaya mengagetkan Wardhana.


Wardhana menundukan kepalanya memberi hormat.


"Maaf tuan atas kesalahpahaman kemarin". Ucap Dananjaya sedikit menyesal.


"Aku dapat memahaminya tuan, anda melakukannya untuk melindungi kota Wentira". Jawab Wardhana pelan.


Dananjaya mengambil sebuah gulungan didalam sakunya dan menyerahkan pada Wardahana. "Terimalah sebagai permintaan maafku padamu".


"Tuan, ini....". Wardhana terkejut setelah membaca isi gulungan itu.


"Siasat perang yang kususun dengan menggabungkan siasat perang terbaik milik leluhur kami. Itu adalah siasat perang terbaik milik Kumari Kandam. Kudengar saat ini kerajaanmu sedang direbut oleh kerajaan lainnya, aku yakin siasat perang itu bisa membantumu".


"Tapi, bagaimana dengan Wentira?".


"Sepertinya kami tidak membutuhkannya lagi, apa yang harus kami lindungi ketika semua pendekar yang berusaha menyerang kami telah dihancurkan oleh Rajamu".


Wardhana tersenyum kecil sebelum menundukan kepalanya. "Terima kasih tuan". Ucap Wardhana pelan.


"Bagaimana keadaan Rajamu". Tanya Dananjaya.


"Sepertinya beliau sudah pulih tuan, terima kasih atas penawar yang kalian berikan".


"Syukurlah, dia sangat beruntung energi Banaspati menekan racun itu".


Tak lama seorang prajurit berlari kearah mereka dan menundukan kepalanya memberi hormat.


"Maaf Panglima, Yang mulia raja mengundang anda dan semua tamu untuk menemuinya diruangan bintang".


"Ah baiklah, aku akan segera menemui Yang mulia bersama mereka". Jawab Dananjaya pelan.


"Ruangan bintang?". Wardhana mengernyitkan dahinya.


"Tempat yang kalian cari ada diruangan bintang".


"Salah satu dari lima rumah para dewa?".


Dananjaya mengangguk pelan sambil mengajak Wardhana untuk menemui Tanwira.


\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Untuk yang kemarin bertanya tentang Api di Bumi Majapahit bisa langsung merapat, Author sudah update 2 Chapter...


Jangan lupa tinggalkan jejak baik dalam bentuk Like, Koment atau Vote.. Terima kasih.


__ADS_2