
"Setengah hati katamu? apa kau sudah gila? berapa pasukan yang dikerahkan Saung galah untuk membantu kalian?" ucap Jaladara sedikit berteriak.
Suasana semakin mencekam setelah ucapan Paksi menyulut emosi Jaladara, dua prajurit dari masing masing kerajaan tinggal menunggu perintah untuk saling menyerang.
"Aku sudah ratusan kali memimpin pasukan dan berperang, beberapa kali bahkan nyawaku hampir melayang. Apa kau pikir aku tak bisa membaca gerakanmu?" Paksi tersenyum mengejek sambil melangkah mendekati Jaladara.
"Jaga ucapanmu Paksi! apa ini balasan Malwageni atas bantuan Saung galah?" bentak Jaladara kesal.
"Apa aku salah bicara? Jarak Saung galah ke keraton Majasari tidak terlalu jauh, namun kau datang sedikit terlambat Jaladara. Kau mungkin bisa menipu banyak orang tapi tidak mataku.
Pasukan Topeng galah adalah pasukan tempur elit yang dilatih dengan sangat keras, sangat mengejutkan jika mereka bergerak lambat. Kau bermain dua kaki Jaladara dan menjadikan kami umpan. Jika kami menang kalian akan mendapat keuntungan namun jika rencanaku gagal kau akan menarik pasukanmu. Kau mulai yakin bergerak saat kepulan asap membumbung tinggi di langit keraton, aku dapat membaca semua rencanamu," balas Paksi.
Jaladara tampak terkejut namun tetap berusaha tenang, dia tersenyum penuh percaya diri.
"Semua perkiraanmu sangat masuk akal namun kau melupakan satu hal, Saung galah diberitahu rencana penyerangan empat hari sebelumnya, harusnya kau yang paling tau jika mengumpulkan ratusan ribu pasukan dalam waktu tiga hari sangat sulit. Hal yang wajar jika kami datang sedikit terlambat.
Saat ini pasukan Saung galah jauh lebih besar dari Malwageni, jika aku memang bermain dua kaki bukankah saat ini waktu yang paling tepat untuk melumpuhkan kalian semua," balas Jaladara.
"Biar kutebak, kau bukan tak ingin menyerang kami Jaladara tapi kau sedang berhitung kekuatan. Kali ini aku mengakui kau cerdas karena aku sudah mempersiapkan segala kemungkinan.
Kau tidak berfikir aku mempercayai kalian sepenuhnya bukan? hubungan kerjasama antar dua kerajaan tak sama dengan persahabatan dua orang manusia, begitu banyak kepentingan dan campur tangan didalamnya. Aku sudah sangat berpengalaman dalam intrik kerajaan baik sebagai pelaku maupun korban politik, jika kau ingin mencobanya aku dengan sedang hati menghadapimu," ancam Paksi.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"
Paksi tersenyum lega, untuk kesekian kalinya dia berhasil menguasai keadaan yang tidak menguntungkan Malwageni.
Jika Jaladara benar benar memutuskan menyerang saat ini, Paksi yakin walau sekuat tenaga Malwageni melawan pasti akan tetap kalah. Selain karena prajuritnya banyak yang terluka, pasukan Saung galah saat ini jauh lebih banyak.
"Kita baru saja bekerja sama menghancurkan Majasari dan merayakan kemenangan, kau tentu tidak ingin kita saling berperang bukan?
Biarkan Airlangga menjadi tahanan Malwageni disini, dan kita akan duduk bersama membagi wilayah Majasari secara adil dengan catatan Wilayah Malwageni yang mereka rebut tidak termasuk dalam pembagian.
Aku sudah mempersiapkan semua rencana jika kalian menyerang dan ku harap tak menggunakannya untuk melawanmu karena kerugian besar akan terjadi di kedua belah pihak.
Saat ini kau memegang minuman ditangan kananmu dan pedang ditangan kiri, kau yang memilihnya Jaladara," ucap Paksi tajam.
Jaladara terlihat berfikir sejenak, ancaman Paksi bukan main main dia sudah melihat sendiri bagaimana strategi Paksi dan Wardhana begitu mengerikan.
"Turunkan pedang kalian," perintah Jaladara sambil menyarungkan pedangnya.
"Aku ingin pembagian wilayah secara adil tanpa ada tipu muslihat atau aku akan memilih pedangku saat itu," ucap Jaladara.
"Senang bekerja sama denganmu," balas Paksi puas.
Ketegangan mulai mengendur setelah kedua belah pihak menyarungkan pedangnya, Jaladara dan Paksi tampak saling berpelukan untuk meredakan suasana.
"Yang mulia, gusti ratu terluka," teriak Mentari saat muncul sambil menggendong Tungga dewi.
Wajah Sabrang berubah seketika, dia menatap rombongan Wardhana yang terluka parah termasuk Candrakurama.
"Bawa ratuku kedalam dan minta kakek Brajamusti untuk memeriksanya, perketat pertahanan keraton dan jangan biarkan ada seorang pun masuk tanpa izinku," ucap Sabrang tegas.
"Hamba menerima perintah," balas Lembu sora cepat sambil membawa sebagian pasukan angin selatan pergi ke gerbang utama keraton.
Mentari menundukkan kepalanya sebelum melangkah masuk keraton diantar Wijaya, Wulan sari dan Candrakurama mengikuti dari belakang.
Paksi tersenyum bangga, perintah Sabrang tadi bukan hanya untuk menjaga keamanan keraton Majasari namun untuk menegaskan kekuasaannya atas keraton dihadapan Jaladara tanpa menggunakan kekuatan.
"Anda telah banyak belajar Yang mulia, Wardhana sepertinya ditakdirkan untuk berpasangan dengan anda untuk membawa Malwageni ke masa keemasan," gumam Paksi dalam hati.
"Apa yang terjadi paman? tak banyak pendekar yang bisa mengimbangi Candrakurama?" tanya Sabrang heran saat melihat Candrakurama terluka parah.
Wardhana kemudian menceritakan tentang kemunculan Prabaya yang mengalahkan mereka semua termasuk Candrakurama sampai akhirnya seorang pendekar berambut putih yang mengaku sebagai Rubah putih datang dan mengalahkan Prabaya dengan mudah.
"Rubah putih?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
Wardhana mengangguk pelan, "Hamba tidak tau siapa sebenarnya dia namun yang pasti dia juga mengincar Masalembo, dia mengatakan akan menemui anda saat berhasil melacak keberadaan Masalembo."
"Tidak mungkin," ucap Eyang wesi terkejut.
"Kau mengenalnya?" tanya Sabrang pelan.
"Aku hanya pernah mendengar kehebatannya namun tidak mungkin dia masih hidup. Ku dengar seorang pendekar misterius berhasil menjebaknya dan mengurungnya di dimensi ruang dan waktu, aku yakin orang itu hanya mengaku sebagai Rubah putih," jawab Eyang wesi.
"Tidak mungkin masih hidup?" tanya Sabrang bingung.
"Kau menguasai jurus ruang dan waktu bukan? apa yang terjadi jika kau dikurung didalamnya? kau bukan hanya akan mati kelaparan karena ruang dan waktu adalah sebuah dimensi hampa yang diciptakan mata bulan namun ruangan itu akan menyerap tenaga dalam dan energi kehidupanmu perlahan.
__ADS_1
Kau akan mati secara perlahan dan menyakitkan, dengan tenaga dalam besar yang kau miliki saat ini kau hanya bisa bertahan satu purnama sebelum kehabisan seluruh tenaga dalam, tak akan ada yang bisa hidup walau Rubah putih sekalipun."
"Apa Masalembo pelakunya?"
"Aku tidak tau, kabar yang kudengar dia terkurung di dimensi ruang dan waktu," balas Eyang wesi singkat, dia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Jika memang pendekar misterius yang muncul dihadapan Wardhana adalah benar Rubah putih, bagaimana dia bisa selamat dari dimensi itu.
"Kau harus berhati hati dengannya, kudengar gerakannya tidak bisa diduga, musuh utamanya memang Masalembo namun tak pernah ada yang tau siapa sosok dibalik topeng itu," ucap Eyang wesi memperingatkan.
"Jadi dia akan datang menemui ku? baiklah kita liat apa yang dia inginkan," gumam Sabrang dalam hati.
"Paman, aku ingin paman memimpin persiapan pemindahan keraton Malwageni kesini, bentuk tim untuk membantu paman. Aku akan menjenguk Dewi terlebih dulu, temui aku malam ini di aula utama," perintah Sabrang.
"Baik Yang mulia," balas Wardhana pelan.
"Tuan patih, aku terpaksa harus meninggalkan anda untuk mengurus sesuatu sambil menjenguk ratuku, kuharap anda mengerti.
Aku sangat berterima kasih atas bantuan Saung galah selama ini, kuharap kita bisa menjalin kerjasama seperti ayahku dulu. Jika ada yang anda perlukan selama berada disini katakan saja pada paman Wardhana, aku mohon diri," Sabrang menundukkan kepalanya memberi hormat sebelum melangkah pergi.
"Terima kasih Yang mulia, mungkin besok pagi kami akan pergi. Aku harus melaporkan kemenangan ini pada Yang mulia raja," Jaladara membalas hormat Sabrang.
***
Kemenangan Malwageni tersebar dengan cepat di Nuswantoro, dan seperti yang diduga sebelumnya, penahanan Airlangga membuat nama Malwageni kembali melambung setelah tenggelam selama puluhan tahun.
Nama Saung galah yang sebenarnya juga ikut berperang seolah tenggelam dengan kabar bangkitnya kembali Malwageni.
Strategi ini tak lepas dari rencana lanjutan Wardhana, dia meminta teliksandi yang tersebar di seluruh Jawata untuk menyebarkan cerita kemenangan tanpa membawa nama Saung galah.
Wardhana ingin menekan pengaruh Saung galah yang saat ini cukup besar agar tidak mengganggu pergerakan Malwageni.
Wardhana bergerak cepat, dia membentuk kembali pasukan kerajaan dengan merekrut banyak prajurit berbakat baik dari sekte aliansi maupun rakyat Malwageni.
Penyeleksian untuk para pelayan kerajaan pun dilakukan dengan sangat ketat terutama pelayang pribadi Sabrang dan Tungga dewi, dia ingin memastikan tak ada yang memanfaatkan perekrutan besar besaran ini dengan tujuan menyusup.
Pasukan kerajaan mulai disusun kembali, dia memberikan hak khusus pada Lingga untuk melatih seluruh pasukan Malwageni. Posisi Lingga bagaikan Patih bayangan yang bertanggung jawab atas seluruh pasukan.
Arung yang memang terkenal dengan Sabrang diberi jabatan sebagai komandan resimen Api, sebuah pasukan khusus yang bertugas sebagai pengawal pribadi Sabrang, Tungga dewi dan selirnya.
Seratus pasukan terbaik yang diseleksi oleh Lingga ditugaskan menjadi anggota resimen api, mereka dilatih langsung dibawah rasa takut. Lingga benar benar menekan mental dan psikis para calon pasukan resimen api itu selama pelatihan agar tidak memiliki rasa takut mati.
Jika resimen api adalah pengawal keluarga kerajaan yang diakui dalam hukum Malwageni berbeda dengan Hibata. Organisasi pimpinan Candrakurama itu bertugas melindungi keluarga kerajaan dari balik layar.
Untuk melebarkan pengaruh Malwageni diantara kerajaan tetangga, Wardhana membentuk tim ilmu pengetahuan yang berada dibawah pimpinan Ciha.
Tim ini bertugas untuk mempelajari gulungan gulungan peninggalan Naraya dan mempraktekkannya langsung di Malwageni.
Wardhana benar benar membuktikan ucapannya yang ingin menjadikan Malwageni sebagai pusat kekuatan dan ilmu pengetahuan di Nuswantoro.
Terakhir adalah Paksi, walau sempat menolak diberi jabatan karena ingin memilih mundur dari politik kerajaan, berkat bantuan Wardhana yang berhasil membujuknya, Paksi ditugaskan menjadi penasehat raja dalam memutuskan sesuatu.
Kerajaan kecil yang dibangun oleh trah Dwipa itu mulai menggeliat dan perlahan menancapkan pengaruhnya di Nuswantoro berkat kepemimpinan Naga kembar dari Malwageni.
Wardhana tampak berjalan sambil membawa beberapa gulungan untuk dilaporkan pada Sabrang, dia menghentikan langkahnya saat beberapa prajurit resimen api yang menjaga ruang khusus raja menyapanya.
"Hormat tuan patih," ucap salah satu prajurit menyapanya.
"Apa Yang mulia ada? kabarkan aku memohon bertemu," balas Wardhana pelan.
"Maaf tuan patih, yang mulia sedang berada di kediaman gusti ratu."
"Kediaman gusti ratu? apa terjadi masalah?" tanya Wardhana bingung.
"Gusti ratu sepertinya sedang sakit tuan, Yang mulia langsung bergegas setelah mendapat kabar itu."
"Sakit?" Wardhana mengernyitkan dahinya bingung, beberapa hari setelah pertempuran melawan Majasari, seingatnya Tungga dewi sudah sadarkan diri.
"Apa terjadi sesuatu?"
***
"Sudah lama sekali aku tidak kemari, hutan ini tak pernah berubah, menakutkan dan menyimpan sesuatu yang mengerikan," Rubah putih mengentikan langkahnya setelah berjalan cukup jauh memasuki hutan Larangan.
"Alam kadang seolah mempermainkan kita, aku tak menyangka lokasi Masalembo berdekatan dengan Air terjun lembah pelangi."
Rubah putih terlihat merapal suatu jurus sebelum tiba tiba menghilang dan muncul kembali di depan sebuah air terjun yang sangat indah dengan hiasan pelangi akibat percikan air.
"Semoga dia masih hidup," gumam Rubah putih sambil berjalan kearah air terjun.
__ADS_1
"Berhenti disana atau aku akan membunuhmu," sebuah teriakan seorang wanita yang mengandung tenaga dalam besar membuat Rubah putih menghentikan langkahnya.
"Mengurung diri di air terjun Lembah pelangi tidak merubah watakmu yang pemarah Wulan...ah tidak apa aku harus memanggilmu dewi kematian?" ucap Rubah putih menyapa.
"Sepertinya kau memang bukan manusia Rubah putih, bahkan dimensi ruang dan waktu tak bisa membunuhmu," seorang wanita cantik dengan selendang terlilit di pinggangnya terlihat melompat dari atas air terjun, dia melayang di udara beberapa saat sebelum kakinya menginjak tanah.
"Jangan bicara tentang ruang terkutuk itu di hadapanku", wajah Rubah putih terlihat tidak suka.
Wulan yang dikenal dimasanya sebagai dewi kematian itu tampak terkekeh mengejek sebelum menundukkan kepalanya.
"Lama tak bertemu tuan," ucap Wulan pelan.
"Kau tidak berubah sama sekali, wajahmu masih terlihat sangat cantik, ramuan Amrita dan soma benar benar mengerikan."
"Wanita pasti selalu ingin terlihat cantik dihadapan pria pujaannya namun sayang aku memilih pria yang bodoh," umpat Wulan kesal sambil memandang Rubah putih.
Rubah putih hanya terkekeh sambil mengambil sebuah ramuan dari dalam pakaiannya.
"Racun Iblis abadi?" Wulan mengernyitkan dahinya.
"Apa kau ingin membunuhku dengan racun itu karena aku satu satunya orang yang mengetahui identitas aslimu?"
Rubah putih menggeleng pelan, "Aku ingin meminta bantuanmu untuk membuat penawar racun ini. Sesaat sebelum aku terkurung di dimensi ruang dan waktu, aku terkena racun ini saat melawannya.
Jika aku tidak menguasai ledakan tenaga dalam iblis mungkin sudah lama aku mati. Kini, efek ledakan tenaga dalam iblis mulai tidak berfungsi menahan racun ini menyebar, aku bisa mati jika tidak meminum penawar racunnya."
"Aku selalu kagum dengan tubuhmu, tak ada yang bisa bertahan lama setelah terkena racun itu. Aku bisa saja membuat penawar itu namun untuk apa? sejak awal aku memang ingin melihatmu mati," balas Wulan sinis.
"Bantulah aku kali ini saja, aku harus menyelesaikan tugasku atau Masalembo akan menguasai dunia," pinta Rubah putih.
"Tak ada yang bisa menemukan tempatku ini kecuali dirimu, untuk apa aku peduli pada dunia luar," Wulan berjalan menuju sebuah gubuk yang ada didekat air terjun.
"Megantara telah muncul di dunia persilatan, aku sempat merasakan energinya didalam tubuh keturunan trah dwipa, apa kau pikir ini tidak menarik?"
Wulan menghentikan langkahnya setelah mendengar nama Megantara.
"Aku tak ada urusan dengan mahluk terkutuk itu," balas Wulan kesal.
"Sejarah Eyang wesi Megantara berhubungan erat dengan keluargamu, apa kau tidak ingin meneruskan perjuangan keluargamu? tujuan kita sama, Masalembo,"
"Jangan sebut nama itu di hadapanku, sebelum dia membentuk Masalembo, ayahku pernah menghadapinya dengan seluruh kekuatan Megantara namun hasilnya sama, ayahku mati ditangan mereka. Para pemimpin dunia tidak bisa dikalahkan, jalan terbaik saat ini adalah bersembunyi di air terjun lembah pelangi," ucap Wulan lirih.
"Ayahmu memang tidak bisa mengalahkannya namun untuk pertama kalinya para pemimpin dunia itu terluka, itu menunjukkan energi Megantara lah satu satunya harapan membunuh mereka. Apa kau tidak ingin bertaruh lagi?"
"Bertaruh? berapa pengguna pusaka Megantara lagi yang harus mati demi harapan semu? mereka abadi dan tak bisa dikalahkan. Naraya mungkin bisa menyegel mereka tapi itupun saat mereka tak sadarkan diri ketika memulai proses penelitian."
"Tapi saat ini mereka sedang tak sadarkan diri, jika kita berhasil menemukan dimana mereka menyembunyikan tubuh para pemimpin dunia sebelum Masalembo berhasil membuat ramuan Amrita dan soma maka membunuh mereka bukan mustahil."
"Kau ingin menyeretku dalam masalahmu, jika kau tidak menemukan racikan Amrita dan soma mungkin dunia ini sudah aman. Para pemimpin dunia mungkin tak bisa dikalahkan karena ilmu kanuragan mereka sangat tinggi namun mereka akan menua dan mati dengan sendirinya andai Amrita dan soma tidak ditemukan."
Rubah putih terdiam ketika Wulan menyinggung kesalahannya yang berhasil menemukan racikan Amrita dan soma. Penemuannya inilah yang membuat ambisi para pemimpin dunia menggila, mereka mulai berhasrat untuk hidup abadi dan memulai semua penelitiannya.
"Aku hidup dengan menanggung beban kesalahan masa laluku, efek Amrita dan soma yang juga kau rasakan kutahan sekuat tenaga demi menebus kesalahanku.
Saat ini aku memiliki harapan baru saat merasakan energi Megantara ditubuh keturunan trah Dwipa. Mereka bukan tidak bisa dikalahkan namun sesuai ucapan ayahmu saat itu, Megantara bukan dipilih tetapi memilih untuk memaksimalkan kekuatannya. Anak itu mungkin orang yang pernah digambarkan ayahmu dulu sebagai pendekar terpilih, aku ingin bertaruh sekali lagi dengannya. Bantu aku kali ini, jika masalembo telah hancur aku akan menyerahkan nyawaku padamu," ucap Rubah putih pelan.
Wulan terdiam sejenak, matanya mulai memerah seolah menahan air mata keluar.
"Menyerahkan nyawamu? aku sudah memendam rasa cintaku padamu. Aku tidak ingin diganggu selama empat hari ini, carilah tempat untuk kau tidur sementara waktu, akan kuberikan penawar itu setelah empat hari," Wulan melangkah pergi.
"Terima kasih Dewi kematian, aku akan mengajakmu menemui keturunan trah dwipa itu agar kau yakin akan keputusanku," jawab Rubah putih.
"Tak perlu, aku sudah bersumpah untuk membunuh keturunan Naraya jika bertemu, sebaiknya kau menjauhkannya dariku," balas Wulan sinis.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jika mengikuti Api di Bumi Majapahit mungkin sudah mendengar apa itu Air Terjun Lembah Pelangi.
Oh iya mumpung ingat lagi ngebahas ABM ada sesuatu yang ingin saya sampaikan walaupun sedikit malas.
Sudah lama saya LIBUR membaca komentar Api di Bumi Majapahit karena banyak komentar yang membuat saya sakit kepala karena ABM jarang update...
ABM adalah buku kedua dari trilogi Naga api yang ceritanya berkaitan dengan Pedang Naga api. Saya sudah mengetahui dengan jelas resiko menulis dua buku yang saling berkaitan, saya harus pandai mengatur alur agar tidak saling membuka inti cerita.
Dua minggu lalu saya sudah memutuskan inilah saatnya memunculkan Rubah putih dan itu artinya ABM harus berhenti sejenak agar kemunculannya di PNA tidak terduga.
Membaca PNA dan ABM bagai melihat dua sisi cermin yang berbeda dan saling memantulkan, jika kalian meresapi harusnya kalian bisa menikmati keterkaitan keduanya tapi jika tidak sabar minggato.
__ADS_1
Kalian akan menebak sesuatu di ABM dan mungkin tebakan kalian akan dipatahkan di PNA, begitu juga sebaliknya, itulah yang ingin saya suguhkan pada pecinta Trilogi Naga api.
ABM pasti saya lanjutkan karena sudah di kontrak oleh Mangatoon jadi harap bersabar...