
Gerakan para pendekar misterius itu terhenti sessat ketika melihat kembang api diudara. Kembang api yang entah muncul dari mana itu menandakan penyerangan dimulai.
"Sudah saatnya, bunuh siapapun yang kalian temui, tak perduli anak anak sekalipun. Aku tidak ingin ada yang tersisa, kita harus memutus informasi mengenai paraton dan khayangan api" Perintah Dehen yang merupakan pemimpin tim penyerangan kali ini sekaligus orang terkuat nomor tiga di Sekte kuntau timur.
"Baik ketua". Mereka mulai bergerak dan mendobrak ruangan ruangan untuk mencari siapa saja yang ada di sekte tapak es utara.
"Malam ini begitu dingin dan hening, sangat cocok untuk Pedang sukmaku bermandirkan darah". Ucap Dehen sambil tersenyum sesaat sebelum tubuhnya bergerak kesebuah ruangan yang cukup besar.
Sekte Kuntau timur adalah salah satu sekte terbesar Aliran hitam di daratan Hujung tanah. Kepercayaan mereka akan kekuatan gaib tanpa sadar ikut mempengaruhi ilmu kanuragannya. Mereka biasa merawat pusaka mereka dengan darah manusia.
Sedangkan pasukan 40 pilar langit adalah para pendekar berani mati milik kuntau timur yang dipilih dari para murid berbakat sekte. Mereka dilatih dengan sangat keras sampai tumbuh kesetiaan pada Kuntau timur.
Ciri khas mereka adalah 40 pedang pusaka yang terbuat dari tanduk hewan yang memiliki kekuatan magis cukup besar.
"Ada penyusup". Teriakan Suliwa menggema diseluruh area tapak es utara membuat para tamu undanngan waspada. Mereka keluar dari kamar masing masing sambil membawa pedangnya.
Namun beberapa pendekar yang kurang beruntung langsung menemui ajalnya saat menemukan 40 pendekar pilar langit. Pertarunganpun terjadi disemua sudut sekte Tapak es utara termasuk Suliwa yang terlihat menghadapi dua pendekar yang mengejarnya saat mendengar teriakan Suliwa.
"Siapa kalian? berani sekali menyerang tempatku, aku harus mencincang tubuhmu dan membekukannya berkali kali sebagai balasan kelancangan kalian". Tubuh Mantili mulai diselimuti bongkahan es.
"Aku sangat beruntung bisa mencoba ilmu kanuragan salah satu pendekar terkuat tanah Jawata". Ucap salah satu pendekar pilar langit penuh semangat.
"Jika kalian datang untuk mengambil kitabku maka lupakan mimpi kalian". Mantili bergerak menyerang saat dia buah pedang terbentuk di kedua tangannya.
"Cepat sekali". Pendekar itu tersentak kaget menerima serangan pedang es Mantili. Wajahnya berubah seketika karena dia merasa Mantili adalah lawan terberatnya selama ini. "Bentuk formasi". Teriaknya pada tiga pendekar langit lainnya.
Pertukaran jurus tingkat tinggi terjadi antara Mantiki dan 4 pendekar pikar langit. Mantili terlihat tidak terlalu kesulitan mengahapi serangan para pendekar itu, terlihat Mantili unggul segalanya. Ilmu kanuragannya jauh diatas mereka begitu juga dengan pengalamannya namun ada satu yang membuat Mantili menelan ludahnya. Para pendekar itu terlihat masih sangat muda, jika mereka diberi kesempatan berkembang beberapa tahun lagi mungkin Mantili akan kewalahan.
Mantili menarik pedangnya sedikit kesamping ketika menemukan celah yang sedikit terbuka.
"Aku tidak tau kalian dari aliran mana namun bukankah terlalu cepat kalian memantangku!". Mantili menghujamkan kedua pedangnya kearah mereka sambil melompat diudara. Ketika para pendekar lainnya hendak melindungi temannya pisau es sudahn terbentuk diudara.
"Hujan es Utara". Puluhan es menghantam tubuh mereka. Dua pendekar pilar langit meregang nyawa.
__ADS_1
***
"Lembu sora izin menghadap". Suara Lembu sora mengagetkan Wardhana yang terlihat sedang berfikir. Wardhana mengernyitkan dahinya bingung, jarang sekali Lembu sora menemuinya sepagi itu.
"Masuklah". Ucap Wardhana dari dalam ruangannya.
"Apa terjadi sesuatu?". Wardhana terlihat penasaran.
"Baru saja teliksandi yang kita sebar datang menghadap dan membawa pesan Yang mulia".
"Pesan dari Yang mulia?". Wardhana sedikit terkejut mendengar ucapan Sora.
"Benar tuan, Yang mulia memerintahkan anda untuk menyusul ke sekte Tapak es utara secepatnya dan membawa beberapa catatan yang anda dapatkan di Dieng".
"Membawa catatan Dieng?". Wardhana megernyitkan dahinya. Dia memang menyalin hal hal yang dia temui selama di Dieng karena merasa akan berguna untuk memecahkan misteri yang belum terpecahkan namun untuk apa Sabrang menyuruhnya menyusul secepatnya dengan membawa catatan Diengnya.
"Apa terjadi sesuatu pada Yang mulia tuan?". Sora bertanya khawatir.
"Aku tidak tau namun sepertinya ini berhubungan dengan hancurnya sekte kelelawar hijau beberapa saat lalu. Sepertinya situasinya cukup gawat jika melihat reaksi Yang mulia". Wardhana mengambil catatan yang dibuatnya dibawah mejanya.
"Catatan ini aku temukan digua Danau kehidupan. Aku merasa sumber masalah terletak pada kitab Paraton yang memiliki rahasia tentang Telaga khayangan api namun aku merasa semua ini sepertinya tidak sesederhana ini. Jika benar yang membuat kitab ini pernah masuk ke Telaga khayangan api yang menjadi pusat ilmu pengetahuan lalu untuk apa mereka menyebarkannya pada dunia persilatan?. Aku bukan tidak percaya ada orang baik didunia persilatan namun hampir mustahil bagi mereka mau memberikan petunjuk sebuah tempat yang menjadi pusat dunia itu".
"Maksud anda tuan?". Sora mengernyitkan dahinya.
"Aku berfikir siapapun yang menulis kitab paraton, mereka seperti sengaja mengundang kita masuk Telaga khayangan api dengan tujuan tertentu". Wardhana membuka lembaran catatan lainnya.
"Ini yang belum aku mengerti sampai saat ini karena sangat minim petunjuk lainnya". Wardhana menunjuk salah satu tulisan yang dia temukan di gerbang kedua.
(Sabdo palon dan Kebangkitan pedang Penakluk dunia adalah satu kesatuan untuk menebus kesalahan masa lalu dunia. Biarkan alam bersama isinya bekerja dan jangan kau ganggu atau kesalahan akan terulang)".
"Tulisan ini sepertinya bukan Suku iblis petarung yang menulisnya, aku sempat memeriksa batunya yang jauh lebih tua dari Dieng. Perkiraanku batu ini mereka temukan disuatu tempat dan bukan ditulis berdasarkan kitab paraton".
"Coba kau bandingkan dengan tulisan yang dibuat oleh Iblis petarung. (Khayangan api merupakan tempat munculnya pedang penakluk dunia, siapapun yang menemukan tempat itu akan menaklukan dunia dan membuatnya menjadi damai. Itulah kenapa kami sangat terobsesi tentang tempat itu untuk melindungi dunia dari kehancuran). Apa kau merasakan ada yang aneh?".
__ADS_1
"Aneh?". Lembu sora terus memperhatikan dua tulisan berbeda itu namun dia tidak menemukan apa apa.
"Dua sumber informasi ini menjelaskan sesuatu yang bertentangan. Perkiraanku batu ini berasal dari Telaga khayangan api yang dibawa oleh penulis kitab paraton dan ditemukan oleh Suku iblis petarung dikemudian hari. Jika kitab Paraton ditulis setelah mereka berhasil masuk Telaga khayangan api harusnya kedua informasi ini tidak bertentangan.
Batu ini menjelaskan untuk membiarkan alam berkerja. Artinya biarkan Alam menentukan kapan Sabdo palon dan kebangkitan pedang penakluk dunia akan muncul dan jangan sekali sekali kau ganggu. Namun tulisan kedua yang dibuat iblis petarung setelah membaca kitab paraton seolah memaksa kita secepatnya menemukan khayangan api yang mungkin saat ini masih ditempa alam. Apa kau tidak berfikir pembuat Paraton memancing kita menemukan Telaga itu untuk tujuan tertentu?".
"Jadi maksud anda?". Raut wajah Lembu sora sedikit berubah setelah mendengar penjelasan Wardhana.
"Aku takut kitab paraton sengaja dibuat untuk memancing kita membuka telaga khayangan api yang seharusnya belum boleh dibuka. Ada sesuatu yang penulis paraton rencanakan dengan mengundang dunia persilatan masuk sana dan aku yakin itu bukan hal baik". Wardhana memejamkan matanya sesaat sambil berfikir.
"Aku takut yang Mulia salah mengambil keputusan. Sora, dengarkan perintahku. Aku akan pergi menemui Yang mulia raja untuk membicarakan hal ini, selama aku pergi kau bertanggung jawab terhadap kadipaten ini. Awasi pangeran Pancaka dengan ketat dan siagakan pasukan angin selatan, aku ingin kalian bergerak saat Yang mulia memberi perintah".
"Menyiagakan pasukan kita?". Lembu sora tampak bingung.
"Jika telaga khayangan api adalah pusat ilmu pengetahuan maka lawan yang akan kita hadapi bukan hanya menguasai ilmu kanuragan namun juga kepintaran yang luar biasa. Sepertinya kali ini aku akan memeras kepalaku lebih keras". Wardhana menghela nafas panjang sebelum bangkit dan mempersiapkan perjalanannya.
"Aku harus melihat isi kitab Paraton apapun caranya untuk mempersiapkan perang besar melawan Majasari. Sudah terlalu lama Yang mulia raja menunggu, setelah masalah Paraton ini selesai kami harus menggempur Majasari". Gumam Wardhana dalam hati sambil menyarungkan pedang kebesarannya yang selama ini jarang digunakan. Pedang berwarna kuning Emas itu hadiah dari Arya Dwipa saat dia berhasil memenangkan perang untuk pertama kalinya.
"Hamba mohon izin menggunakan pedang pemberian anda Yang Mulia raja. Mulai detik ini aku tak akan pernah meletakan pedang ini sebelum menghancurkan Majasari dan mendudukan Yang Mulia Sabrang disinggasana Malwageni".
Wardhana melangkah keluar ruangan dengan wajah sedikit gusar. "Sepertinya pertarungan kali ini akan lebih sulit dari Dieng". Wardhana menarik nafas panjang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Author
Ada yang sempet DM Author beberapa kali dan bertanya kenapa Wardhana gak dikasih ilmu kanuragan yang tinggi.
Hmm jadi gini, Wardhana itu salah satu tokoh unik favorit Author karena dengan kemampuan ilmu kanuragan yang seadanya dia terseret kedalam dunia persilatan dan MAMPU beberapa kali merubah alur dunia persilatan dengan kepintarannya.
Sabrang diciptakan bukan untuk menjadi Pendekar Sempurna. Mungkin saat ini dia adalah pendekar terkuat dunia persilatan namun Author merasa "Sisi manusia" Sabrang harus tetap ditonjolkan.. Sisi lemah Sabrang inilah yang akan diisi Wardhana dan beberapa tokoh pendukung lainnya.
Mulai minggu depan PNA akan terbit kembali normal yaitu sehari 2 kali... Maaf jika beberapa hari ini kadang hanya terbit satu kali karena kesibukan menjelang Idul Fitri
__ADS_1
Terakhir selamat Hari buku Nasional..