Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Perang Besar V


__ADS_3

Belasan kapal besar tampak bersandar di dermaga kecil yang berada di pinggiran Kadipaten Karang Sari, salah satu wilayah paling ujung Malwageni.


Kapal dengan simbol simbol kebesaran Arkantara itu terlihat mengangkut ribuan pasukan lengkap dengan senjata perang.


Belasan orang yang ada di sekitar Dermaga tampak terkejut melihat ribuan prajurit mulai turun dari kapal perang itu, sebagian bahkan berlarian menyelamatkan diri karena sadar sesuatu akan terjadi.


Saragi, yang berada di kapal paling besar tampak begitu percaya diri menatap pasukan tempurnya yang mulai turun dari atas kapal. Dia memutuskan memimpin sendiri penyerangan kali ini untuk memastikan daratan Jawata takluk di bawah kakinya.


Sepuluh pendekar misterius dengan aura besar yang mengenakan penutup wajah terlihat berdiri mengelilingi Saragi dan seorang pria yang berpakaian seperti wanita, mereka adalah pendekar elit Kuil Suci yang memang bertugas menjaga Saragi dari segala ancaman.


Seorang pria dengan jubah perang yang berbeda dari prajurit lainnya tampak berjalan mendekati Saragi dan memberi hormat.


"Yang mulia, semua pasukan sudah siap, mohon turunkan perintah," ucap pria itu.


Saragi mengangguk pelan sambil mengambil gulungan kecil dari balik pakaiannya dan menunjukkan pada pria itu.


"Perintahkan beberapa prajurit untuk menyisir dan memastikan tempat ini aman, bunuh siapa saja yang menurut kalian mencurigakan. Kita akan mendirikan tenda di hutan dekat sini untuk memancing mereka mendekat.


Aku akan membagi pasukan menjadi dua kelompok dan saat malam tiba, kau sebagai komandan pasukan Elit Arkantara akan memimpin sebagian pasukan untuk menyerang dari arah barat.


Aku yakin mereka telah menunggu kita di suatu tempat dan siap menyergap. Aku akan memimpin pasukan melalui jalur utama, kau terus bergerak dari sisi barat dan bergabung dengan tuan Agam di titik ini," ucap Saragi sambil menunjuk gulungannya.


"Baik Yang mulia," jawab pria itu cepat.


"Barapati, pastikan pasukanmu tidak melakukan kesalahan kali ini, aku bersumpah akan membunuh kalian jika sampai rencana sempurnaku hancur oleh kebodohan kalian," ancam pria yang berpakaian seperti wanita itu sambil memainkan kipas di lengan kanannya.


Barapati hanya diam sambil menundukkan kepalanya, walau merasa kesal dengan tingkah pria itu tapi dia sadar orang yang mengancamnya itu adalah otak dari semua strategi perang yang membuat Arkantara belum pernah mengalami kekalahan selama Saragi memimpin.


Selain di kenal pintar meramu strategi perang dengan jebakan jebakan yang membuat lawan frustasi, orang kepercayaan Saragi itu juga terkenal kejam dan berdarah dingin. Dia akan dengan mudah membunuh pasukannya sendiri andai melakukan kesalahan yang bisa membahayakan mereka.


"Kau jangan terlalu keras padanya Rengga, jika semua pasukan yang melakukan kesalahan kau bunuh maka suatu saat hanya kau yang tersisa," ucap Saragi mengingatkan.


"Yang mulia, anda harusnya membelaku," Rengga tampak merengek seperti seorang wanita yang dibalas senyuman oleh Saragi.


"Aku bercanda, lakukan sesukamu asal kau bisa membawa kemenangan untukku," balas Saragi kembali.


"Anda tak perlu khawatir Yang mulia, apa selama ini hamba pernah mengecewakan anda? aku akan membuat orang yang dijuluki Naga tidur itu tak berdaya dihadapan anda," balas Rengga manja.


Saragi mengangguk pelan sambil meminta Barapati pergi dan mempersiapkan semuanya.


"Narendra, bawa dua orang untuk melihat situasi di sekitar ibukota dan pastikan jalur yang akan dilewati pasukan Barapati aman dari semua jebakan. Kita akan bergerak begitu pagi tiba," ucap Saragi pada salah satu pendekar yang berada di dekatnya.


"Baik Yang mulia," Narendra memberi tanda pada dua pendekar yang ada di dekatnya untuk mengikutinya.


Sedetik kemudian, tubuh Narendra seolah menghilang bersama dua pendekar lainnya.


"Aku selalu dibuat takjub oleh ilmu kanuragan pendekar elit kuil suci," ucap Saragi dalam hati.


"Lalu bagaimana menurutmu peluang kita dalam pertempuran kali ini, Rengga?" tanya Saragi tiba tiba.


"Anda jangan terlalu khawatir Yang mulia, walau mereka memiliki seratus Wardhana sekalipun, kita tetap akan memenangkan perang ini karena posisi Malwageni sudah terjepit. Seperti yang hamba katakan sebelumnya, saat ini suka tidak suka mereka akan menumpuk pasukan di sekitar sini untuk mencoba menahan kita mendekati keraton.

__ADS_1


Kita akan menyulut perang besar di jalur utama dan di saat bersamaan Barapati yang bergerak diam diam dari sisi barat akan menyerang lebih dulu dan membuka jalan bagi pasukan pimpinan tuan Agam.


Ketika pasukan Barapati sudah membuat kekacauan di sekitar Ibukota, Saung Galah akan menyerang bersamaan dari segala penjuru untuk menguasai keraton. Simbol sebuah kerajaan adalah keraton, jika kita bisa menguasainya maka perang akan berakhir. Mereka telah kalah segalanya, andai hamba berada di posisi Wardhana sekalipun, hamba tak yakin akan memiliki cara lepas dari kepungan ini," balas Rengga membanggakan strategi perangnya.


"Bagus, pastikan semua berjalan lancar, namamu akan melambung jika bisa mengalahkan Wardhana," ucap Saragi puas.


"Baik Yang mulia," jawab Rengga sambil tersenyum.


Setelah memastikan aman, pasukan Arkantara yang dipimpin Barapati mulai bergerak menuju hutan di dekat Dermaga. Mereka membangun puluhan tenda sebagai pertahanan awal sambil menunggu perintah dari Rengga untuk bergerak maju.


Puluhan pendekar Kuil Suci terlihat menyebar dan bersembunyi di beberapa titik, mereka bertugas menjaga wilayah disekitar perkemahan pasukan Arkantara.


Barapati juga menyebar Telik Sandi terbaik untuk membaca setiap gerakan yang dilakukan musuh.


Saat ini, Malwageni benar benar terjepit dari segala sisi, sedikit saja Tungga Dewi salah mengambil keputusan, mereka akan hancur seketika.


(Ilustrasi posisi pasukan Arkantara dan Malwageni)



***


"Kuil Suci dibangun menghadap arah matahari menandakan mereka adalah pemuja Dewa matahari. Awalnya hamba pun berfikir seperti itu namun ada tujuan yang lebih besar dengan berdirinya kuil Khayangan ditengah danau purba ini dari sekedar tempat pemujaan.


Kuil ini dibangun untuk menyamarkan sekaligus menutup rapat gerbang menuju peradaban mereka yang sepertinya berada di suatu tempat bernama Puncak Suroloyo. Jika perkiraan hamba tepat, sebenernya puncak Suroloyo berada di puncak Bukit Menoreh," ucap Wardhana sambil menggeser susunan batu dilantai kamar Ajidarma.


"Berada puncak Bukit menoreh? jika yang kau katakan benar seharunya tempat itu sudah ditemukan dari dulu bukan?" tanya Sekar Pitaloka terkejut.


"Seharusnya gerbang ini sudah terbuka, apa masih ada yang salah dengan pola kunci ini?" gumam Wardhana dalam hati, dia sangat yakin sudah menggeser lempengan batu di kamar itu sesuai dengan pola bayangan di danau purba.


"Apa kau yakin sudah menggesernya dengan benar?" Hanggareksa yang juga menunggu gerbang itu terbuka bertanya pelan.


"Aku yakin tuan, tak ada satupun batu yang terlewat," jawab Wardhana cepat.


Saat Wardhana sedang berfikir, tiba tiba lantai yang mereka injak bergetar, tampak retakan ratakan kecil di tengah sebelum perlahan terbelah dan bergeser ke dua sisi.


Bergesernya lantai ke empat di Kuil Khayangan itu diikuti dengan lantai lantai kamar dibawahnya yang posisinya sejajar dengan kamar Ajidarma dan diakhiri dengan lantai dasar kuil Khayangan sehingga membentuk sebuah lubang.


"Cari pegangan apa saja untuk menahan tubuh kalian agar tidak jatuh," teriak Wardhana panik, separuh lantai batu itu sudah masuk ke celah kecil yang berada sisi kamar.


Hanggareksa dan Wardhana melompat ke celah jendela sedangkan Sekar Pitaloka membentuk bongkahan es dan menancapkan nya di dinding sebagai pegangan sebelum menyambar tubuh Cokro tepat setelah lantai kamar benar benar hilang.


Tubuh mereka semua tergantung di dinding kamar sambil menatap lubang besar dihadapannya.


"Jadi ini gerbang rahasia yang paling dicari oleh Ajidarma? aku tidak menyangka lantai di setiap teras Kuil Khayangan saling terhubung dan menutupi Gerbang itu," ucap Hanggareksa takjub.


"Simpan dulu rasa terkejut anda karena aku yakin apa yang berada di ujung lubang ini akan lebih mengejutkan kita," sahut Wardhana.


"Lalu bagaimana kita akan turun ke dasar lubang jika tidak ada pijakan sama sekali," tanya Hanggareksa Bingung.


"Air tuan, apa anda ingat saat kita terkurung di ruang rahasia di lantai dasar? aku menemukan kunci tersembunyi itu dengan menyiramkan air ke dinding ruangan dan aku yakin sistem di gerbang rahasia ini juga sama, ada sesuatu yang menutupi tangga penghubung ini dan hanya bisa dinetralkan oleh air," Wardhana menatap kebawah dan menemukan tuas kecil tepat dibawah lantai teras dasar.

__ADS_1


"Maaf Ibu ratu, apa anda bisa membawa hamba ke tuas kecil yang ada di teras pertama itu?" tanya Wardhana sopan.


"Akan aku usahakan," hawa dingin tiba tiba keluar dari tubuh Sekar sebelum dua buah pisau es muncul di tangannya. Dia kemudian melompat kearah Wardhana dan memeluk tubuhnya.


"Berpegangan lah," Sekar melompat turun dan menancapkan kedua pisau es tepat di dekat tuas yang ditunjuk Wardhana. Tubuh mereka terayun dengan keras yang menyebabkan pisau es yang digunakan sebagai pijakan retak dan hancur karena tidak kuat menahan beban tubuh mereka.


"Gawat!" Sekar membentuk pisau es lainnya dan menancapkan kembali dengan cepat.


"Hampir saja," ucap Sekar lega.


Wardhana kemudian meraih tuas itu dan menariknya kebawah. Tak lama, lubang lubang kecil di dinding gua terbentuk saat beberapa dinding batu tergeser.


Semburan air danau masuk dengan cepat dan membasahi lubang itu. Yang terjadi berikutnya membuat Sekar Pitaloka takjub, bagai sebuah sihir, perlahan namun pasti tangga baru terbentuk diantara semburan air yang cukup besar itu.


"Bagaimana mungkin air bisa membentuk tangga batu?" ucap Sekar takjub.


"Tangga itu sudah ada sejak awal Ibu ratu namun kita tidak dapat melihatnya karena ditutupi oleh sesuatu dan air inilah yang membuat tangga itu kembali terlihat," jawab Wardhana.


***


Mandala melangkah dengan santai ke atas kapal yang akan berlayar menuju ke daratan Jawata, dia seolah tidak perduli dengan teriakan pemilik kapal yang memintanya turun.


"Maaf tuan, anda harus turun karena kapal ini sudah di sewa oleh tuan Ardi dan rombongan. Mohon jangan mempersulit aku tuan," ucap pemilik kapal itu sedikit kesal.


"Berangkatkan kapal ini sekarang juga," jawab Mandala dingin.


"Anda tidak mendengarkan aku?" pemilik kapal itu mendengus kesal.


Tak lama seorang pria tinggi besar yang dikawal sepuluh pendekar mendatangi pemilik kapal itu dengan wajah tidak suka.


"Apa kau tidak bisa mengurus pria lusuh ini? usir dia sekarang juga!" teriak pria itu.


"Aku sudah berusaha tuan, tapi dia bersikeras ikut," jawab pemilik kapal itu takut.


Ardi yang merupakan pedagang kaya dari Jawata itu menatap tajam Mandala.


"Apa kau tuli? turun dari kapal ini sekarang juga!" ucapnya.


Mandala hanya menoleh sesaat sebelum kembali bicara pada pemilik kapal.


"Berangkatkan kapal ini sekarang juga atau kau akan menyesal."


"Kau benar benar membuatku kesal!" Ardi kemudian memberi perintah pada pengawalnya untuk menurunkan paksa Mandala.


Belum sempat para pendekar itu bergerak, waktu disekitar mereka seolah berhenti dan ketika waktu telah kembali berputar, sepuluh pendekar itu sudah meregang nyawa dengan kepala terpisah dari tubuhnya.


Ardi dan pemilik kapal tersentak kaget saat semburan darah beterbangan di udara dan membasahi pakaian mereka. Meraka cukup yakin Mandala tidak bergerak sedikitpun dari posisinya.


"Jika kau tidak cepat menjalankan kapal ini, kepalamu yang berikutnya," Mandala berjalan kembali mengelilingi dek kapal.


"Ba...baik tuan," pemilik kapal itu berlari dan meminta awak kapal untuk menjalankan kapal sedangkan Ardi tampak mematung sebelum tubuhnya roboh dengan tubuh terbelah menjadi dua.

__ADS_1


"Sudah lama sekali sejak saat itu, aku benar benar tidak sabar untuk mengambil kembali pedang Bilah Gelombang," mata bulan milik Naraya Dwipa itu tampak bersinar terang.


__ADS_2