
"Mohon maaf jika kami lancang menyerang anda, kami hanya ingin memastikan jika anda benar benar pertapa sakti dari gunung Sinabung," ucap pendekar misterius itu sopan.
"Siapa kalian sebenarnya dan ada perlu apa denganku?"
"Namaku adalah Lamhot, aku adalah keturunan ke dua puluh dari salah satu ksatria penjaga Sidihoni yang juga merupakan ketua sekte Sibayak. Sudah cukup lama aku ingin bertemu dengan anda namun sepertinya kemampuanku belum bisa menghadapi ksatria pisau Tumbuk Lada," jawab Lamhot sambil membuka topeng di wajahnya.
"Sibayak? ada perlu apa sekte netral dari gunung Sibayak sampai ingin menemuiku?" jawab Darin penasaran.
Darin cukup terkejut melihat ketua Sekte Sibayak turun gunung, seingatnya sekte itu tidak perduli sama sekali dengan dunia persilatan dan lebih memilih tinggal di atas gunung.
"Aku ingin membahas tentang keadaan dunia persilatan yang akhir akhir ini semakin kacau, sejak kemunculan Pasukan Kuil Suci," jawab Lamhot cepat.
"Dunia persilatan? sejak kapan kalian perduli dengan semua itu?" jawab Darin sinis.
"Kami bukan tidak perduli dengan dunia persilatan tetua, aku hanya tidak ingin bersentuhan dengan pendekar pendekar kotor yang penuh dengan ambisi. Sibayak dibentuk oleh leluhurku untuk memusnahkan kitab Sabdo Loji dan penggunanya termasuk pemilik tubuh sembilan Naga agar tidak ada lagi ilmu kanuragan yang menentang alam," ucap Lamhot.
"Tubuh Sembilan Naga? jadi kau sudah tau ajian itu?" tanya Darin terkejut.
"Sudah kukatakan jika leluhurku adalah salah satu ksatria penjaga Sidihoni jadi tidak mungkin dia tidak mengetahui isi dari kitab itu dan tugas kami adalah memastikan semuanya berjalan pada jalurnya, hanya itu."
"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Darin kembali.
"Anda pasti sudah mengetahui jika ajian sembilan naga adalah jurus terlarang yang bisa membentuk tubuh kutukan dan saat ini ada dua orang yang memiliki tubuh sembilan Naga dan salah satunya adalah pemuda yang baru saja menemui anda," jawab Lamhot pelan.
"Kau? bagaimana kau bisa tau anak itu memiliki tubuh Sembilan Naga?"
"Sama seperti anda, aku juga cukup terkejut saat melihat anak itu memiliki tubuh kutukan itu dan itu cukup mengkhawatirkan terlebih tujuannya adalah menemui anda. Anda bisa bayangkan jika mereka berdua muncul bersamaan, tak akan ada yang bisa menghentikan mereka."
Darin mencoba mencerna maksud ucapan Lamhot, dia merasa pria dihadapannya itu memiliki rencana terselubung.
"Kau berkata seolah anak itu adalah ancaman dunia persilatan seperti Mandala, apa kau bermaksud mengajakku membunuhnya?" tanya Darin tajam.
"Anda yang paling mengerti betapa mengerikannya kekuatan Mandala Rakyan dengan tubuh itu dan jika pasukan Kuil Suci berhasil membangkitkan dia maka hanya anak itu yang mungkin bisa menandingi kekuatannya.
Namun sama seperti Mandala, anak itu juga pasti akan merasakan efek memiliki tubuh Sembilan Naga dan aku yakin cepat atau lambat dia akan menjadi Mandala baru. Aku ingin menawarkan kerjasama pada anda demi dunia persilatan, kita manfaatkan anak itu untuk membunuh Mandala dan pasukan kuil sucinya, setelah itu baru membunuhnya.
Mohon anda jangan salah paham denganku, dia adalah anak yang baik dan aku tidak memiliki dendam apapun tapi efek tubuh kutukan adalah pasti dan tidak akan bisa dihindari, membiarkannya hidup sama saja memelihara iblis yang suatu saat bisa menghancurkan anda sendiri," balas Lamhot.
Darin terdiam, walau terkesan kejam apa yang dikatakan Lamhot benar. Suatu saat ketika tubuh sembilan Naga mulai mempengaruhi Sabrang, dia akan berubah menjadi iblis yang sangat mengerikan.
"Jika aku boleh menebak, dia pulang lebih cepat karena anda menolaknya bukan? dan itu artinya anda setuju dengan pendapatku jika anak itu sangat berbahaya," Lamhot menyudahi ucapannya saat sepuluh ksatria pisau tumbuk lada muncul.
"Tetua," teriak Arsenio khawatir, dia langsung membentuk formasi untuk menyerang Lamhot dan empat pendekar lainnya.
"Hentikan Arsenio, dia bukan musuh kita," teriak Darin.
"Tapi tetua, bukankah mereka tadi menyerang kita?" balas Arsenio tak percaya.
"Sudah hentikan, aku sudah katakan dia bukan musuhku, dan kau pergilah, aku tidak memiliki niat sedikitpun untuk bekerja sama dengan kalian," jawab Darin tegas.
"Terima kasih atas waktunya tetua dan mohon pertimbangkan tawaranku," Lamhot menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.
__ADS_1
"Tawaran?" Arsenio mengernyitkan dahinya.
"Bukan urusan kalian," bentak Darin tiba tiba.
***
Emmy terus mengumpat sepanjang perjalanan, bahkan setelah mereka sampai di penginapan. Dia benar benar tidak habis pikir dengan sikap Darin yang menolak mereka mentah mentah tanpa memikirkan perjalanan jauh yang telah mereka lalui.
"Dia seharusnya bisa sedikit menghargai kita Yang mulia, aku ingin sekali memukul wajahnya sampai hancur," umpat Emmy kesal.
"Apa kau tidak bisa bersabar sedikit saja? bagaimana bisa aku mencintai wanita sepertimu," ucap Sabrang menggoda.
"Yang mulia," rengek Emmy yang disambut tawa Sabrang.
"Sudah cepat bereskan barang barang milikmu, pangeran Maruli sudah menunggu di pintu rahasia," ucap Sabrang pelan.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka segera berjalan menuju ruang belakang yang merupakan jalan rahasia keluar dari ibukota. Maruli tampak sudah menunggu bersama dua pengawalnya.
"Tuan, anda benar benar akan kembali ke Jawata?" tanya Maruli sedikit kecewa, dia sempat berharap bantuan Sabrang untuk melawan pasukan kuil suci dan adiknya.
"Semua urusanku di sini sudah selesai, aku sangat berterima kasih atas bantuan anda selama ini pangeran. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan," balas Sabrang sopan.
Maruli mengangguk pelan, dia kemudian menunjukkan jalan untuk kembali ke lembah persembunyiannya.
"Aku sudah memesan kapal yang akan mengantar anda ke Jawata siang ini tuan, sebaiknya kita bergegas," Maruli mempercepat langkahnya, dia tidak ingin Sabrang tertinggal dan harus menunggu esok hari.
"Pangeran, anda sebaiknya berhati hati terhadap pasukan kuil suci karena jika perkiraanku benar mereka bukan lawan yang mudah dihadapi," ucap Sabrang memperingatkan.
"Secara langsung tidak tapi sepertinya kemunculan mereka berhubungan dengan dendam masa lalu, sebaiknya hindari pertarungan langsung dengan mereka untuk sementara waktu."
"Begitu ya... sepertinya memang cukup sulit untuk merebut kembali tahta Arkantara," ucap Maruli lirih.
Maruli tiba tiba menghentikan langkahnya saat melihat puluhan prajurit Arkantara berjaga di dermaga kapal dengan senjata lengkap.
"Apa yang mereka lakukan di tempat ini?" ucap Maruli bingung, tidak biasanya dermaga kapal dijaga oleh puluhan prajurit bersenjata lengkap.
"Kelihatannya ada pejabat kerajaan yang juga menumpang kapal itu pangeran," bisik salah satu pengawalnya.
"Tuan, aku hanya bisa mengantar anda sampai sini, kapal besar itu yang akan mengantar anda menuju Jawata. Berhati hatilah, selama dalam perjalanan," ucap Maruli pelan.
"Aku mengerti, terima kasih atas bantuan anda," Sabrang memberi hormat sebelum melangkah pergi.
"Kami permisi dulu tuan," ucap Emmy pelan.
***
Sabrang bersama Emmy berjalan mendekati kapal, dia mencoba menghindari para prajurit penjaga dengan berjalan sedikit memutar namun dua orang penjaga menghampirinya lebih dulu.
"Berhenti di sana," teriak salah satu prajurit.
"Yang mulia?" bisik Emmy khawatir.
__ADS_1
"Bersikaplah seperti biasa, mereka tidak akan mengenali kita," jawab Sabrang cepat.
"Aku tidak pernah melihat wajah kalian, apa yang sedang kalian lakukan di sini?" tanya salah satu prajurit curiga.
"Maaf tuan, kami adalah pedagang baru yang sedang mencari peruntungan di ibukota Arkantara," jawab Emmy tenang.
"Pedagang? apa kalian pikir aku akan percaya begitu saja saat kalian tidak membawa barang dagangan sama sekali?" balas prajurit itu sinis.
"Ini...ini.." Wajah Emmy menjadi panik, dia baru menyadari telah melakukan kesalahan besar saat mengaku sebagai pedagang sedangkan mereka tidak membawa barang dagangan sama sekali.
"Jika kalian memang pedagang, dimana barang dagangan kalian?" bentak prajurit satunya.
Sabrang sudah bersiap mengeluarkan pisau Tumbuk Lada saat melihat puluhan prajurit Arkantara mulai mendekati mereka.
"Naga Api, bersiaplah," ucap Sabrang dalam pikirannya, dia sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk untuk bertarung melawan puluhan prajurit itu.
"Tuan, barang anda tertinggal di penginapan," teriak seorang wanita dari jauh.
"Barang?" Sabrang menoleh kearah suara dan menemukan Arina berlari kearahnya sambil membawa dua bungkusan besar.
"Maaf tuan, aku berusaha mengejar anda," ucap Arina sambil mengatur nafasnya.
Para prajurit itu menatap bungkusan besar yang dipegang Arina, mereka mulai percaya saat melihat Arina membawa puluhan pakaian dalam bungkusannya.
"Jadi kau memang pedagang?" ucap Prajurit itu sambil memberikan jalan pada Sabrang untuk menaiki kapal.
"Terima kasih tuan, maaf merepotkan kalian," Arina terlihat memberikan beberapa keping uang perak pada para penjaga sebelum mengikuti Sabrang dan Emmy.
"Siapa gadis ini, dia seperti sudah mengenal Yang mulia?" Wajah Emmy tiba tiba berubah buruk, dia menatap gadis cantik itu dengan tatapan curiga.
"Sepertinya sudah cukup jika kau ingin mengantar kepergian kami," ucap Emmy dingin.
"Mengantar? sepertinya kau salah paham nona, aku akan ikut kalian," jawab Arina polos.
"Ikut?" Emmy menoleh kearah Sabrang yang juga terlihat bingung dengan situasi yang dihadapinya.
"Sejak kapan aku mengizinkanmu ikut?" ucap Emmy sinis.
"Jika kalian tidak mengizinkanku ikut, akan kukatakan pada para prajurit itu bahwa barang yang kubawa bukan milik kalian," ucap Arina sambil menoleh kearah para penjaga yang sudah cukup jauh.
"Hei, baiklah...kau boleh ikut," jawab Sabrang sedikit panik.
Arina tersenyum penuh kemenangan sambil melangkah cepat mendahului Sabrang dan Emmy.
"Cepatlah, kalian lambat sekali," ucap Arina.
"Aku akan membunuhnya, aku pasti akan membunuhnya," umpat Emmy kesal sambil menatap tajam Arina yang berlari kecil menaiki kapal.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesuai janji, chapter bonus untuk para pendekar Tuna Asmara sudah saya luncurkan di malam penuh duka ini. Semoga bisa sedikit mengobati hati kalian yang teriris iris.
__ADS_1