Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kitab Energi Bumi


__ADS_3

"Aku sudah sering mendengar kehebatan kelompok Teratai Merah, namun baru kali ini bertemu langsung. Suatu kehormatan bagi Sekte kami.” Ki ageng menunduk dan mempersilahkan Wulan sari duduk. Wulan sari menatap Sabrang cukup lama kemudian menatap Pedang Naga Api yang terjatuh di lantai. "Pedang ini memiliki ruh Naga Api yang menurut legenda dia akan memilih tuannya sendiri. Maka jika kau tidak dianggap tuan oleh Naga Api seluruh tenaga dalammu akan di serapnya dalam hitungan detik. Kau akan tewas seketika, jadi berhati hatilah memegang pedang ini" Wulan sari mengambil Pedang Naga Api hati hati kemudian meletakkannya di meja.


"Jangan sentuh gagang Pedang ini jika anda ingin memegangnya". Ki ageng mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan Wulan sari "Tapi bukankah anak ini tadi memegang pedang ini saat bertarung?".


Wulan sari tersenyum kecil "Bukankah ini menarik? Apakah dia mengakui anak ini sebagai tuannya? Atau anak ini hanya dimanfaatkan seperti gurumu?".


"Anda mengenal guruku?" Wulan sari mengangguk dan mulai menceritakan dari awal pertemuannya dengan Suliwa sampai anak ini muncul. Dia menarik nafas perlahan dan melanjutkan ceritanya. Ki Ageng mendengarkan dengan seksama. “Gurumu telah memperkirakan jika anak ini akan terluka saat menggunakan Pedang Naga Api, entah apa yang dipikirkan gurumu”. Ki Ageng tersentak mendengar cerita Wulan sari. "Jika Guru sudah mengetahui Sabrang akan terluka apabila menggunakan Pedang Naga Api mengapa guru tetap memberikan pedang ini pada Sabrang".

__ADS_1


“Gurumu tidak ingin terlibat kembali di dunia persilatan, dia memintaku untuk tidak memberitahukan di mana keberadaannya. Ku harap tetua mengerti”. Ki Ageng masih tak percaya akan cerita yang didengarnya. “Enam belas tahun lalu saat aku bertemu dengan gurumu dia telah mempersiapkan semuanya untuk hari ini. Dia percaya suatu saat akan ada yang benar benar menguasai Pedang Naga Api. Semua dipersiapkannya secara rinci bahkan dia mempelajari Segel kegelapan abadi untuk menekan kekuatan Naga api. Tapi ternyata kekuatan Naga Api sangat besar, bahkan Segel kegelapan abadi pun hanya mampu menekan setengah kekuatannya dan itu pun hanya beberapa saat”.


Ki Ageng masih mendengarkan Wulan sari tanpa berkata apapun. Dia bingung harus berkata apa. “Semua persiapan matang gurumu memiliki celah yang sangat besar, yang bahkan dirinya pun belum dapat mengatasinya”. Wulan memandang Pedang Naga Api sesaat.” Satu hal yang tidak masuk akal dan membuatku tak percaya adalah Kekuatan Pedang Naga Api dan Kitab Api Abadi sangat bertolak belakang. Mereka bagaikan api dan air yang tak kan bisa bersatu”.


Ki ageng terkejut dan menahan nafas “ Bukankah pedang Naga Api dan Kitab Api Abadi adalah satu kesatuan? Bagaimana bisa saling bertolak belakang” ki Ageng tak percaya mendengarnya.


“Akupun awalnya berpikir demikian, namun aku menyadari sesuatu setelah berbicara dengan gurumu. Aku mengobati gurumu saat aku menemukannya tak sadarkan diri di sungai kematian. Beberapa urat nadinya terputus dan aliran darahnya sangat kacau. Seumur hidupku baru kali itu aku menemukan luka yang sangat aneh, butuh waktu hampir setahun aku mengobati gurumu. Jika dia memaksakan menggunakan Pedang Naga Api kembali maka aku tak dapat menjamin keselamatannya. Yang terjadi pada anak ini sama seperti yang terjadi pada gurumu walau dalam skala kecil”. Wulan sari menunjuk sabrang yang terbaring. Ki Ageng makin bingung “ Aku tidak mengerti maksud anda tetua”.

__ADS_1


Ki ageng mengangguk pelan. Dia pun hampir tidak percaya bahwa Pedang Naga Api dan Kitab Api Abadi memiliki prinsip yang bertolak belakang. Kini dia mengerti kenapa Sabrang bisa terluka parah seperti ini. “Aku akan mengobati luka anak muda ini, tapi katakan padanya untuk tidak menggunakan Pedang Naga Api dan Jurus Api abadi secara bersamaan sementara waktu”.


Wulan berjalan mendekati Sabrang, dan mulai mengeluarkan tenaga dalamnya. Beberapa totokan mendarat di tubuh sabrang. “ Aliran darahnya mulai stabil, tapi jika dia menggunakan Pedang Naga Api dan Kitab Api Abadi bersamaan kembali aku khawatir dia tak akan pulih lagi“. Wulan memberikan beberapa butir obat kepada ki Ageng “Minumkan ini saat dia sadar, tenaga dalamnya akan pulih kembali”.


Wulan sari kembali duduk ditempatnya, “ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan padamu, mungkin ini dapat memecahkan masalah ini. Apakah tetua pernah mendengar kitab Energi bumi?”. Ki ageng mengangguk pelan “Aku pernah mendengarnya, bukankah kitab tersebut sudah hilang sejak ratusan tahun lalu. Jikapun kitab itu masih ada aku rasa tak ada orang segila itu ingin mempelajari kitab berbahaya itu?” Wulan tersenyum kecil. “ Kitab Energi Bumi adalah kitab tentang ilmu tenaga dalam. Kudengar inti dari ilmu energi bumi adalah membuat tenaga dalam saling bertabrakan sehingga menghasilkan tenaga dalam yang luar biasa. Banyak pendekar yang coba mempelajari ilmu itu kehilangan nyawanya akibat efek dari tabrakan tenaga dalam di tubuhnya. Itulah kenapa Kitab energi bumi disebut kitab terlarang”.


“Maksud anda?” ki Ageng bertanya seolah tau arah pembicaraan Wulan sari. “Kitab ini bisa menjadi solusi menyatukan dua kekuatan Naga Api dan Kitab Api Abadi yang bertolak belakang”. Wajah ki Ageng berubah, ia memandang Wulan sari tajam. Ratusan pendekar di masa lalu kehilangan nyawanya karena mempelajari Energi bumi. Baginya membuat tenaga dalam saling bertabrakan di dalam tubuh adalah hal yang sangat tidak masuk akal. Jika maksud Wulan sari adalah mengajarkan Sabrang ilmu tersebut dia jelas akan menentangnya. Itu sama saja mengantarkan nyawa Sabrang, dan menurut diapun Kitab Energi Bumi sudah punah ratusan tahun lalu, tak ada yang tau keberadaanya. “ Anda bukan bermaksud meminta Sabrang belajar ilmu tersebut bukan?”.

__ADS_1


“Gurumu memintaku mencari informasi keberadaan Kitab Energi Bumi, dan mengajarkannya pada anak ini”. Ki Ageng makin tak mengerti jalan pikiran gurunya. Bagaimana dia bisa mengambil keputusan yang membahayakan Sabrang. Ki Ageng tetap akan menentang keputusan itu. “Aku tau perasaan mu sebagai gurunya, mungkin akupun akan melakukan hal yang sama denganmu. Aku hanya menyampaikan pesan Suliwa padamu. Saat dia menyerahkan Pedang Naga Api pada anak ini aku yakin dia sudah memikirkannya dengan matang”.


Ki ageng mematung bimbang. Dia orang yang paling mengerti sifat Suliwa. Gurunya tak akan melakukan sesuatu tanpa pertimbangan dan pikiran yang matang. Tapi baginya Sabrang masih terlalu muda untuk dapat menanggung beban dipundaknya.


__ADS_2