Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Suku Iblis Petarung


__ADS_3

"Gerbang Dieng terdiri dari 3 lapis. Gerbang pertama kami menyebutnya Gerbang hawa nafsu karena di gerbang pertama itulah semua hawa nafsu kita seolah meluap. Beberapa pendekar yang berhasil masuk di gerbang pertama bisa saling bunuh tiba tiba tanpa tau apa yang merasuki mereka. Seolah mereka dikendalikan hawa nafsu yang sangat besar.


Gerbang kedua kami menyebutnya Gerbang Rakus karena semua yang ada didalam gerbang kedua bisa membuat mereka mendapatkan apa yang diinginkan. Air yang bisa membuat tubuh abadi, kekuatan yang bisa membuat mereka menjadi pendekar terkuat dan lainnya yang masih menjadi misteri. Semua dapat membuat siapapun yang masuk kesana gelap mata dan menjadi rakus.


Di gerbang terakhir kami menyebutnya Gerbang kehancuran diri. Aku tidak tau apa yang ada didalam sana karena Bintang langit hanya diperbolehkan sampai gerbang kedua namun konon didalam sana banyak pusaka pusaka iblis yang bisa membuat dunia ini menjadi hancur". Birawa kembali menarik nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya.


"Semua kekuatan dan pusaka di dalam sana seperti diciptakan bukan untuk manusia, apa yang disembunyikan di tempat itu akan membuat angkara murka di dunia persilatan jika dibawa paksa keluar. Andai aku bisa menghancurkan gerbang gerbang itu mungkin akan lebih baik".


"Anda sudah mencobanya?".


"Ratusan kali aku berusaha menghancurkan tempat itu bersama tuan Bratajaya Dwipa pemilik pedang yang kau bawa itu namun semua sia sia, tempat itu dilindungi kekuatan aneh, bahkan pusaka terkuat Dieng tak berhasil menghancurkannya".


"Jadi didalam gerbang ketiga ini letak pusaka suling raja setan?". Lingga menunjuk gambar gerbang yang terlihat paling kecil diantara gerbang lainnya.


"Kemungkinan seperti itu tuan karena kami hanya sampai gerbang ke dua. Ku dengar hanya tuan Panca dan Mahendra yang pernah masuk ke gerbang ketiga".


"Anda mengatakan jika kita hanya mempunyai waktu 4 hari sebelum gerbang itu kembali tertutup bukan?".


"Benar, seperti yang kau katakan jika alam hanya memberi waktu 4 hari". Ucap Birawa singkat.


"Lalu berapa jarak tempuh dari gerbang pertama sampai gerbang terakhir?".


"Jika semua berjalan lancar harusnya dalam waktu sehari hari kita bisa mencapai gerbang terakhir".


"Berarti waktu yang kita punya hanya 3 hari sebelum gerbang itu kembali tertutup". Lingga menggeleng pelan. Dengan waktu yang sedikit seperti itu Lingga merasa akan sulit menjelajahi tempat misterius itu.


"Apapun yang kalian cari disana jangan terlalu menaksakan diri, jika waktu hampir habis pergi dari sana secepatnya tak perduli kalian belum menemukan apa yang kalian cari karena nyawa kalian lebih penting dari apapun yang ada didalam sana". Birawa memperingatkan.


Lingga hanya mengangguk, dia masih larut dalam pikirannya sendiri tentang waktu terbukanya Dieng yang cukup sempit. Dia tidak dapat membayangkan jika mereka bertemu pendekar dari Lembah siluman di dalam sana jelas akan memotong sisa waktu yang mereka miliki.


***


Sudah tiga hari Sabrang dan Mentari bergerak menyusuri hutan menuju bukit Cetho. Mereka sengaja tidak mengambil jalur utama untuk menghindari pos pos penjagaan Majasari. Sabrang ingin segera sampai di kaki bukit Cetho tanpa menimbulkan masalah.


Perjalanan mereka selama beberapa hari ini berlangsung tanpa masalah, suasana dunia persilatan begitu sepi akhir akhir seolah tau jika beberapa hari kedepan sebuah gerbang yang paling dicari selama ini akan terbuka.


"Sepertinya kita telah sampai di kaki bukit Cetho". Sabrang menunjuk hutan dihadapannya yang dipenuhi dengan pepohonan yang tinggi menjulang.


Mentari menganggukkan kepalanya, tempat yang beberapa bulan lalu mereka datangi masih tampak sama.

__ADS_1


"Kita tiba satu hari lebih cepat dari janji yang kita buat dengan Ciha, lebih baik kita mengunjungi kakek Rakiti sambil menunggu Ciha menjemput".


Mereka melangkah menuju sebuah gubuk di tengah hutan belantara.


"Kau terlambat nak, temanmu sudah lebih dulu memasuki Sekte bintang langit". Rakiti muncul dari dalam hutan dengan membawa beberapa ayam hutan ditangannya.


"Ah dia bukan temanku kek". Sabrang tersenyum canggung. Dia sudah tau siapa yang dimaksud Rakiti temannya.


"Masuklah bantu aku memasak untuk makan malam". Rakiti mengajak Sabrang dan Mentari masuk ke dalam gubuknya.


Setelah selesai menyantap makan malam, raut wajah Rakiti berubah serius.


"Jadi kalian benar benar ingin memasuki Dieng?". Tanya Rakiti pelan.


Sabrang mengangguk pelan "Aku harus masuk kesana kek".


"Apa yang kau cari disana nak? ku lihat kau semakin bertambah kuat, aku akan membantumu untuk terus bertambah kuat. Dengan tenaga dalam Satanadawa aku yakin kau akan menjadi yang terkuat". Rakiti masih berusaha merayu Sabrang untuk tidak mendekati Dieng.


Sabrang memgernyitkan dahinya "Bukankah kakek sudah merestuiku untuk masuk Dieng beberapa waktu lalu?".


"Aku tau namun firasatku mengatakan agar kau menjauh dari tempat itu nak".


"Sejak kematian ayahku oleh Iblis hitam aku seolah terputus dengan leluhurku. Banyak hal yang membuatku bingung kek, aku harus memastikannya di sana. Ku dengar ada sebuah batu tulis di Dieng yang menceritakan riwayat lengkap leluhurku, ini satu satunya kesempatanku untuk mengetahuinya kek".


"Beristirahatlah, mungkin besok anak dari sekte bintang langit akan menjemputmu pagi". Rakiti bangkit dan memberi tanda pada Mentari untuk mengikutinya.


Rakiti melangkah keluar diikuti Mentari dibelakangnya.


Saat Rakiti sampai disebuah pohon yang biasa digunakannya untuk berlatih dia menghentikan langkahnya.


"Duduklah". Ucap Rakiti pelan.


Mentari mengikuti semua permintaan Rakiti dengan wajah bingung.


"Apa kau pernah mendengar suku Iblis petarung?". Rakiti tiba tiba bertanya.


Mentari mengernyitkan dahinya lalu menggelengkan kepalanya.


"Dahulu kala di Nusantara ada sebuah suku misterius yang sangat kejam. Karena kekejamannya itulah orang orang menjulukinya sebagai Suku Iblis petarung. Mereka sangat tertutup pada dunia luar, siapapun yang mendekati wilayahnya akan mati mengenaskan.

__ADS_1


Sifat mereka yang paling mencolok adalah kegemarannya bertarung. Mereka seolah menikmati pertarungan dan pertumpahan darah bahkan tak jarang mereka bertarung antar sukunya sendiri jika tidak menemukan lawan bertarung. Mereka tidak segan segan membantai suku lainnya hanya demi kesenangan mereka.


Sampai suatu saat mereka membangkitkan iblis api bernama Banaspati, semua mereka lakukan untuk mencari lawan terkuat namun kali ini mereka melakukan kesalahan besar. Banaspati bukan lawan yang mudah dihadapi, setelah bertempur melawan Banaspati selama berhari hari akhirnya mereka semua mati ditangan Banaspati.


Melihat semua kekacauan akibat ulah suku iblis petarung dan banaspati konon sang dewa murka dan menyegel Banaspati di lima gunung berapi di seluruh penjuru dunia". Rakiti terlihat menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


Aku tidak tau apakah cerita mengenai suku iblis petarung dan Banaspati benar atau hanya karangan namun ciri khusus iblis petarung adalah matanya yang mencolok berwarna biru muda".


"Deg". Raut wajah Mentari tiba tiba berubah mendengar ucapan Rakiti.


"Maksud anda mata tuan muda?". Ucap Mentari dengan suara bergetar.


"Seumur hidupku kuhabiskan untuk mencari informasi mengenai tanda tanda suku Iblis petarung dan semua informasi yang kudapatkan mengarah pada satu tempat yaitu Dieng!. Akhirnya aku mencoba masuk ke Dieng untuk menyelidikinya namun 4 hari yang kumiliki sampai gerbang itu tertutup kembali tidak cukup untuk menyelidiki seluruh tempat itu.


Nona dengarkan ucapanku, aku tidak tau apa semua cerita ini benar namun aku merasa ada hubungan antara trah Dwipa dengan suku iblis petarung. Kau adalah orang terdekatnya, dan aku melihat anak itu menyukaimu jadi hanya kau yang bisa kumintai tolong untuk menjaganya jika terjadi apa apa dengannya di Dieng".


"Menjaganya?". Mentari mengernyitkan dahinya.


"Kau akan mengetahuinya saat membaca batu tulisan di gerbang itu, gunakan ini jika terjadi sesuatu di sana". Rakiti menyerahkan sebuah bungkusan pada Mentari.


"Ini?". Mentari menatap bingung bungkusan itu.


"Buka hanya saat terdesak saja, dan jangan pernah kau tinggalkan bungkusan itu saat pergi bersamanya". Ucap Rakiti pelan.


Mentari hanya mengangguk pelan, dia kemudian memasukan bungkusan itu kedalam pakaiannya.


Rakiti melangkah pergi meninggalkan Mentari yang masih menatapnya bingung.


"Semoga firasatku salah". Gumamnya dalam hati.


***


"Hei kau baik baik saja?". Sabrang mengagetkan Mentari yang sedang melamun.


"Ah tuan muda? anda sudah makan?". Ucap Mentari terbata bata.


"Apa terjadi sesuatu padamu?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


Mentari menggeleng sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Ayo pergi, Ciha sudah menunggu dari tadi. Kita harus cepat menguasai segel pelindung, gerbang itu akan terbuka seminggu lagi". Sabrang menarik tangan Mentari yang masih bengong menatapnya.


"Lepaskan tuan muda". Mentari mencoba melepaskan genggaman tangan Sabrang namun Sabrang tidak mempeedulikannya dan tetap memegang tangan Mentari.


__ADS_2