
"Kami hanya ingin beristirahat sejenak kemudian pergi tuan" Sabrang menggeleng pelan.
"Kau" Yudha merapal sebuah jurus. "Pedang bayangan iblis", Yudha bergerak cepat menyerang Sabrang, gerakannya kali ini lebih cepat.
Beberapa serangan cepat Yudha mengenai perisai es yang melindungi Sabrang.
Sabrang melompat mundur setelah melihat perisai es nya mulai retak "Ilmu yang digunakannya sangat aneh, siapa pendekar ini sebenarnya?".
"Kau pikir bisa terus menghindar dariku" Beberapa saat kemudian yudha bergerak cepat dan tiba tiba tubuhnya bertambah menjadi empat seperti membelah diri.
"Ilusi? bagaimana bisa tubuhnya ada empat". Sabrang mencoba mundur dan mencari tubuh asli Yudha.
"Ilmu iblis apa yang digunakan pendekar itu?" Wardhana menatap cemas.
Empat tubuh Yudha menyerang bersamaan membuat Sabrang sedikit terpojok dan melompat mundur.
Beberapa serangan Yudha dapat dipatahkan dengan pedang Naga api dan beberapa serangan lainnya membentur perisai es yang mengelilingi Sabrang.
"Semua serangannya bukan ilusi, bagaimana bisa manusia bisa membelah diri menjadi banyak"
Sabrang melompat diudara dan mulai menarik tenaga dalam tubuhnya, beberapa saat kemudian perisai es ditubuhnya mulai menghilang kali ini kobaran api mulai menyelimuti tubuhnya.
"Kesalahan terbesarmu adalah melompat di udara, dengan tidak adanya pijakan di udara tubuhmu akan sulit dikendalikan dan menjadi sasaran empuk jurusmu. Terimalah kematianmu".
Empat tubuh Yudha menyerang bersamaan ke arah Sabrang. terlihat pedangnya dialiri tenaga dalam yang besar.
"Pangeran" Wardhana terlihat cemas dan siap bergerak membantu
"Pedang bayangan iblis" Sesaat sebelum pedang Yudha menghantam sasaranya tiba tiba Sabrang menghilang dari pandangan.
"Bagaimana mungkin dia bisa secepat ini?".
"Jurus api abadi tingkat I : Kobaran api abadi" Sabrang menyerang dari arah belakang dan tepat mengenai Yudha.
Yudha terpentak mundur dan tubuhnya membentur beberapa meja yang ada dipenginapan. tiga tubuh bayangannya lenyap terbakar api abadi.
"Bagaimana dia bisa secepat ini?" Wajah Yudha berubah seketika.
"Pangeran.....". Wardhana menatap Sabrang kagum "Bagaimana anda bisa sangat kuat dalam waktu singkat".
Wardhana masih mengingat jelas saat di Kadipaten Ligung bagaimana besarnya kekuatan Sabrang namun kali ini dia merasa kekuatan Sabrang telah meningkat berkali kali lipat.
Sabrang kembali menyerang dengan cepat membuat Yudha kewalahan dan terpojok, beberapa serangan Sabrang berhasil mengenai tubuhnya.
"Tidak mungkin ilmu Lembah siluman bisa dikalahkan dengan mudah". Wajah Yudha mengeras menahan amarah, matanya perlahan berubah menjadi merah.
"Ku bunuh kau" Yudha bergerak seperti kerasukan, kali ini gerakannya lebih cepat namun Sabrang berhasil menghindar dan sesekali serangan Yudha membentur perisai Es yang muncul kembali sesaat sebelum salah satu serangan Yudha hampir mengenainya.
"Gerakannya makin cepat namun sepertinya kesadarannya telah menghilang, apakah ini efek jurus aneh yang dia gunakan". Sabrang menatap mata Yudha yang berubah warna menjadi merah darah.
"Ku bunuh kau" Yudha muncul tiba tiba dibelakang Sabrang.
"Tarian Rajawi" Sabrang mengangkis serangan Yudha dengan jurus milik Rajawali emas.
__ADS_1
Yudha terlempar jauh terkena efek Tarian rajawali.
"Jurus pedang api abadi tingkat II : Tarian pedang api". Sabrang bergerak cepat dan menghantam tubuh Yudha sesaat setelah yudha mencoba bangkit kembali.
"Duaarrrrrr" Tubuh Yudha tergeletak tak bergerak terkena serangan Api abadi. Kobaran api kecil nampak di beberapa bagian tubuhnya.
"Anda tida apa apa Pangeran?" . Wardhana memperhatikan sekelilingnya. Efek jurus api abadi begitu mengerikan.
Sabrang mengangguk pelan sambil tersenyum kecil. "Sepertinya kita harus mengganti kerusakan ini paman" Sabrang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Wardhana tersenyum kecut kemudian berjalan ke arah pemilik penginapan yang bersembunyi di bawah meja.
"Maaf tuan sepertinya penginapan mu butuh beberapa perbaikan" Wardhana memberikan kantong berisi beberapa kepingan perak pada pemilik penginapan.
Pemilik penginapan menerima dengan sedikit rasa takut lalu mengangguk pelan.
Wardhana melangkah mendekati Sabrang "Sepertinya kita harus cepat Pangeran, pertarungan ini akan mengundang perhatian Majasari".
"Baik paman, ayo kita pergi" Sabrang menundukan kepala ke arah pemilik penginapan sebelum melangkah pergi.
***
"Aku akan membantumu" Ronggo tiba tiba muncul dihadapan Mada sesaat sebelum mada melangkah pergi.
"Kau berubah pikiran?" Wajah Mada tersenyum memandang Ronggo.
"Anda salah paham tuan, aku hanya ingin membantumu karena bagaimanapun anda adalah teman ayah. Jika kita berhasil melarikan diri aku akan pergi jauh dan memulai hidup baru"
"Lalu apa rencanamu?".
"Besok akan ada rombongan Pasukan Majasari melewati daerah ini, fokus mereka akan terpusat mengamankan jalan yang dilalui Pasukan itu. aku yakin penjagaan di pulau ini akan berkurang karena fokus mereka di sana. Ada 3 kapal yang bersandar di dermaga milik para pendekar itu, jika kita bisa meraihnya kita bisa meninggalkan pulau ini menggunakan kapal tersebut".
"Bagaimana jika mereka menyadarinya?".
Mada menggeleng pelan "Aku harus mengambil semua resiko yang ada untuk keluar dari sini".
"Tuan apakah anda harus melakukan ini sampai membahayakan nyawa anda hanya demi Malwageni?".
"Ronggo, kau belum memahami arti kesetiaan. Apa kau pikir aku melakukan ini bukan semata mata demi Yang mulia raja?. Bagaimana dengan nasip rakyat di kadepatenku? bagaimanapun aku adalah pemimpin mereka, apakah aku akan diam saja melihat mereka diperlakukan semena mena oleh Majasari?. Aku setia pada Malwageni, dan itu yang dilakukan oleh ayahmu dulu".
Ronggo terdiam mendengar perkataan Mada.
"Saat kau menjadi pemimpin saat itu juga kau sudah bersumpah untuk mengabdikan hidupmu pada rakyat yang kau pimpin".
Mada memandang Ronggo sesaat "Nak cobalah berdamai dengan dirimu sendiri, aku membutuhkan jaringan dan kenalanmu untuk menyusun strategi kedepannya".
Ronggo menggeleng pelan, air matanya kembali keluar dari kelopak matanya.
"Kenapa dulu Yang mulia raja tidak menggunakan kekuasaannya untuk mencegah ayahku di hukum mati? bukankah ayah adalah orang kepercayaannya?".
Mada terdiam melihat Ronggo menangis, untuk saat ini penjelasan apapun akan sulit diterima Ronggo karena dendam dihatinya pada Malwageni telah menutup semua akal sehatnya.
***
__ADS_1
Wajah Kertasura mengeras menahan amarahnya, dia menatap tajam Lingga Maheswara yang duduk didepannya. Dia sangat mengetahui kemampuan Lingga, hanya sedikit pendekar dari aliran putih yang dapat mendesaknya.
Terlihat luka sayatan pedang di beberapa bagian tubuh Lingga.
"Kau yakin bukan Aliran hitam yang menyerangmu?".
"Aku yakin ketua, jurus yang digunakan pendekar muda itu sangat aneh, aku belum pernah melihat jurus itu selama ini" Lingga berbicara pelan.
"Akhir akhir ini kabarnya semakin banyak pendekar muda hebat dengan jurus aneh bermunculan di dunia persilatan, apa yang sebenarnya terjadi?". Ketrasura memejamkan matanya sesaat.
"Apa mungkin......" Lingga tak berani melanjutkan perkataannya.
Kertasura menatap tajam Lingga, dia mengetahui arah pembicaraan Lingga.
"Kau merasakannya?".
Lingga mengangguk pelan "Saat bertarung dengan pendekar misterius itu aku merasakan kekuatan tak terbatas dalam diri pendekar itu, namun jurus itu sepertinya memiliki efek yang besar pada tubuh penggunanya. Matanya berubah menjadi merah dan tenaga dalam di tubuhnya terkuras habis.
Efek yang diterima tubuh pendekar itu seperti jurus terlarang Pengikat Sukma".
"Bagaimana jurus itu muncul kembali setelah ratusan tahun menghilang? Apa mungkin Lembah siluman bangkit kembali?" Kertasura menggeleng pelan.
"Ketua....".
"Jika benar semua ini ulah Lembah siluman maka bukan hanya aliran hitam yang akan dihancurkan mereka namun juga aliran putih. Sepertinya masalah semakin banyak bermunculan saat Yang mulia Raja berencana menyerang Saung Galah".
"Lalu apa tindakan kita ketua?".
"Kumpulkan Tetua lainnya, jika memang Lembah Silulam mulai bangkit kembali kita harus menumpasnya segera sebelum mereka bertambah kuat".
"Baik ketua".
Kertasura menghela nafas panjang setelah kepergian Lingga Maheswara, pikirannya menerawang jauh memikirkan perkataan Lingga.
Cerita turun menurun mengenai sebuah kelompok yang menguasai Ilmu Iblis memporak porandakan dunia persilatan kala itu kembali muncul dalam pikiran Kertasura.
Semua golongan hitam maupun putih bersatu melawan mereka namun tetap berakhir dengan kekalahan. Ilmu yang mereka gunakan seperti berasal dari dunia lain, tak ada yang mampu menandinginya.
Hingga muncul seorang Pendekar dalam legenda yang mengalahkan mereka bersama gabungan seluruh pendekar baik aliran putih maupun hitam.
"Aku sudah menguasai secara sempurna jurus pedang langit, kuharap ini dapat membantu mengalahkan mereka sebelum mereka bertambah kuat. Lalu apa yang akan dilakukan oleh aliran putih setelah mendengar kabar bangkitnya lembah siluman?".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca
Dukung juga penulis di
Karyakarsa. com /RickypakeC
dengan memberikan vote dan dukungan dalam bentuk lainnya
Terima kasih atas dukungan teman teman semua 🙏🙏***
__ADS_1