Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertempuran besar di Mulai


__ADS_3

Selama perjalanan ke Keraton Saung galah Sabrang sama sekali tidak berbicara. Arkadewi merasa suasana selama perjalanan cukup tegang bahkan Lembu sora yang biasanya menjadi teman bicaranya hanya sesekali bicara pada prajuritnya.


Wardhana berada di rombongan paling depan sambil memastikan tidak ada gangguan selama perjalanan.


"Selamat datang tuan, anda sudah ditunggu tuan Wijaya di ruang utama, silahkan ikuti aku". Seorang Prajurit Saung galah menyapanya saat mereka memasuki pintu keraton Saung galah.


Wardhana menyerahkan surat undangan sebagai perwakilan Malwageni pada prajurit tersebut.


Meraka memasuki gedung besar yang sudah hampir penuh oleh tamu undangan. Saat Wardhana dan rombongan melewati tempat perwakilan Majasari matanya menatap tajam utusan Majasari yang juga menatapnya sinis.


Perasaan Arkadewi makin tak karuan saat melihat gerak tubuh Wardhana yang seolah meremehkan utusan Majasari.


"Selamat datang Yang Mulia". Wijaya menyambut kedatangan Sabrang dan mempersilahkannya duduk. Sabrang hanya tersenyum dari balik topeng sambil menganggukan kepalanya.


"Bukankah anda terlalu berlebihan Yang mulia". Seseorang dari utusan Majasari berbicara keras setelah Sabrang duduk di kursi yang disediakan untuk perwakilan Malwageni.


"Jaga ucapanmu dihadapan Yang mulia". Jaladara menghardik utusan itu.


"Maaf tuan patih aku tidak bermaksud seperti itu, namun bukankah mengundang perwakilan Malwageni sama saja mencoreng wajah Majasari?". Utusan itu masih bersikeras dengan pendapatnya.


"Apa Saung galah harus meminta persetujuan Majasari untuk mengundang seseorang?. Kalian berbicara seolah kami mencoreng wajah kalian, lalu apa yang kalian lakukan di Kadipaten Ligung dan Wanajaya tidak mencoreng wajah kami?". Suara Jaladara makin meninggi. Wajahnya mengeras menahan amarah.


"Sepertinya sudah menjadi tabiat Majasari untuk mencampuri urusan kerajaan lain". Wardhana tiba tiba berdiri dan tersenyum sinis.


"Pemberontak seperti kalian tidak berhak berbicara". Amarah utusan itu semakin meninggi setelah mendengar sindiran Wardhana.


"Pemberontak? Kalian merebut wilayah Malwageni secara paksa dan menyebut kami pemberontak?".


"Kau". Utusan Majasari itu lepas kontrol, dia bergerak menyerang Wardhana. Namun tiba tiba Jaladara muncul dihadapannya dan memukul perutnya.


"Kau berani menghunuskan pedangmu di keraton saung galah dan menyerang tamu kami".


"Saung galah akan membayar semua ini". Seorang utusan lainnya bergerak cepat menyerang Jaladara.


"Dia seorang pendekar". Jaladara bergerak cepat menangkis serangan yang terarah padanya.


"Lindungi Yang mulia". Jaladara bergerak maju menekan utusan Majasari yang menyerangnya. Tak lama puluhan prajurit Saung galah menerobos masuk membantu Jaladara meringkus utusan itu.


Ada tigapuluh orang utusan Majasari yang semuanya langsung menyerang Jaladara dan berusaha bergerak kearah Sabrang dan rombongan yang masih duduk mengamati situasi.


"Tuan". Kertapati berbisik pada Wardhana pelan.


Wardhana hanya terdiam dan terus mengamati pertarungan dihadapannya tanpa berkedip sama sekali.


Para tamu undangan sebagian masih belum percaya jika keraton Saung galah kini menjadi medan pertempuran. Mereka masih terdiam berusaha mencerna apa yang terjadi dihadapannya. Beberapa saat kemudian mereka tersentak kaget mendengar teriakan Wardhana yang menggema di seluruh ruangan.

__ADS_1


"Majasari menyerang Saung galah, hancurkan mereka!". Wardhana berteriak sambil berlari diikuti Kertapati dan yang lainnya dibelakang. Hanya Sabrang dan Arkadewi yang masih belum bergerak.


Pertempuran tak terelakan lagi, sebagian tamu yang tadi masih menunggu ikut bertarung setelah mendengar teriakan Wardhana.


Tiba tiba puluhan pendekar Golok setan terlihat memasuki pertarungan dan menekan pasukan topeng galah.


Tanpa ada yang menyadari seorang Pendekar Gokok setan mengamati dari kejauhan sebelum kemudian pergi dengan senyum diwajahnya.


***


"Tuan patih perintah telah turun". Seorang prajurit menghadap Tunggul umbara.


"Kau yakin?". Tunggul umbara yang sedang berdiri tak jauh dari pasukannya menatap prajurit itu tajam.


"Aku yakin tuan, utusan tuan Paksi berkata pasukan pengecoh saat ini sedang bertempur di keraton".


Tunggul umbara mengangguk pelan lalu dia menoleh kearah Raksaka, ketua golok setan.


"Ayo kita hancurkan mereka tuan". Raksaka tersenyun dingin.


"Ayo bergerak". Tunggul umbara melompat keatas kudanya diikuti Raksaka dan beberapa pendekar golok setan lainnya.


Mereka bergerak ke arah Kadipaten Citrajaya yang merupakan salah satu kadipaten yang cukup jauh dari keraton Saung galah.


***


Wardhana bersama Arkadewi dan Sabrang ikut mengejar kearah Rogo geni.


"Semua sesuai rencana, saatnya kita rebut Rogo geni". Wardhana berteriak memberi semangat pada pasukan angin selatan.


Langkah pasukan Saung galah terhenti saat serangan jarum berancun menghujam mereka. Beberapa pasukan Saung galah roboh ketanah terkena serangan jarum beracun milik Racun selatan.


Jaladara dan Kertapati melesat cepat kearah pepohonan. Mereka melihat jaruk beracun berasal dari pepohonan tersebut.


"Pukulan angin selatan". Serangan Kertapati berhasil mengenai pendekar dari racun selatan yang bersembunyi di atas pohon. Kertapati terus bergerak sambil sesekali menghindari jaurm beracun yang mengarah padanya.


"Serang!". Jaladara berteriak setelah berhasil menghabisi pendekar yang bersembunyi di atas pohon. Ratusan pasukan kembali bergerak masuk ke kadipaten Rogo geni.


Saat Kertapati akan menyusul Jaladara tiba tiba tubuhnya terpental terkena pukulan seseorang yang tiba tiba muncul dihadapannya.


"Cepat sekali". Kertapati memegang perutnya yang terkena pukulan pendekar itu.


"Kalian pikir bisa seenaknya menginjakan kaki disini?". Nagata melangkah mendekati Kertapati dan menatapnya tajam.


Wardhana menghentikan langkahnya setelah melihat Kertapati terjatuh akibat serangan Nagata.

__ADS_1


"Pergilah tuan, biar aku yang mengurusnya". Kertapati mencabut pedangnya.


"Berhati hatilah". Wardhan kembali berlari bersama pasukan topeng galah.


"Kau pikir bisa pergi begitu saja". Nagata melesat cepat kearah Wardhana.


"Aku lawanmu". Kertapati tiba tiba muncul dihadapan Nagata dan melepaskan pukulan kearah wajah Nagata.


"Cepat sekali". Nagata melompat mundur menghindari serangan Kertapati.


Kertapati tersenyum setelah melihat Wardhana sudah jauh darinya.


"Akan kuperlihatkan padamu apa itu tekad Malwageni". Kertapati melompat dan menyerang Nagata dengan cepat. Dalam waktu singkat mereka telah bertukar belasan jurus, namun karena Kertapati menyerang tiba tiba membuat Nagata tak siap menerimanya. Beberapa sabetan pedang Kertapati mampu mengenai tubuh Nagata.


***


"Kita diserang". Salah satu penjaga pos perbatasan kadipaten Citrajaya berteriak setelah melihat puluhan pasukan berkudan dan ratusan resimen pedang Pasukan tangan besi bergerak kearah mereka.


Raksaka memutuskan melompat dari kudanya dan berlari diudara. Sesaat sebelum dia sampai di gerbang kadipaten Citra jaya dia merapal sebuah jurus.


"Jurus pedang seribu bunga". Seketika gerbang kadipaten itu hancur terkena energi pedang yang melesat keluar dari pedamg Raksaka.


Separuh prajurit penjaga meregang nyawa tanpa bisa bereaksi terhadap serangan Raksaka.


Terlihat puluhan prajurit kadipaten Citra jaya berlari kearah gerbang. Beberapa detik kemudian kedua belah pihak berbenturan dan dalam sekejap lokasi itu menjadi medan pertempuran.


"Pasukan pedang menyebar kedua arah dan kepung mereka segera, yang lainnya ikuti aku". Tunggul umbara memberi arahan pada prajuritnya sesaat sebelum dia bergerak kedepan dengan tombaknya.


Pasukan tangan besi segera memisahkan diri menjadi dua kelompok dan bergerak kearah berlawanan mengepung pasukan Citra jaya.


Dalam sekejap pasukan Citra jaya terpojok dan menjadi bulan bulanan pasukan Majasari.


"Tapak Dewa bumi". Raksaka kembali menyerang digaris depan, dalam sekali serangan beberapa prajurit Citra jaya meregang nyawa. Seketika itu semangat bertempur mereka runtuh melihat kehebatan Raksaka.


Melihat pasukan musuh semakin terpojok Raksaka semakin menggila, dia meningkatkan kecepatannya dan kembali menyerang dengan tapak dewa buminya namun tiba tiba sesosok tubuh menahan serangan tapaknya dengan kedua tangannya.


Tubuh Raksaka terdorong beberapa langkah, dia dengan cepat menarik tangannya setelah melihat aura hijau memyelimuti tubuh pendekar itu.


"Racun Mawar hitam? Kau pengguna Ajian lebur sukma?". Raksaka mundur beberapa langkah, dia menotok beberapa bagian tubuhnya.


"Untung aku cepat menyadarinya". Raksaka mengatur nafasnya sesaat.


Mentari menatap pemandangan mengerikan di sekelilingnya, puluhan pasukan Citra jaya terkapar di tanah dengan luka yang mengenaskan. Tak lama Restu muncul bersama puluhan pasukan angin selatan.


"Apa yang terjadi sebenarnya? apa paman Wardhana salah perhitungan?". Mentari bergumam dalam hati.

__ADS_1


"Nona jumlah pasukan mereka beberapa kali lipat dari pasukan kita, sebaiknya kita mundur dulu". Restu menatap ngeri kearah Tunggul umbara yang sedang bertarung menghabisi prajurit Citra jaya.


"Jika Paman Wardhana berpesan padamu untuk mempertahankan kadipaten ini maka kita harus mempertahankannya apapun yang terjadi". Mentari melesat menyerang pasukan tangan besi yang mulai berlari kearahnya.


__ADS_2