Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertarungan Terakhir


__ADS_3

"Kakek...Bagaimana kau bisa ada di tempat ini?" Sabrang tersentak kaget saat melihat Suliwa berdiri dihadapannya.


"Sepertinya sudah saatnya aku menjelaskan banyak hal pada kalian, tapi sebelum itu aku akan mengurus si bodoh ini terlebih dahulu," Suliwa menyentuh Cakra Mahkota Moris dan menggunakan segel kegelapan abadi untuk menekan energi Cakra Loji di tubuh pemuda itu.


"Guru, Lepaskan aku! Biarkan aku mati dan..."


"PLAK."


"Guru..." Moris terdiam sambil menundukkan kepalanya takut, ini pertama kalinya guru yang paling dia hormati itu menampar wajahnya.


"Apa kau masih belum sadar juga setelah dihajar habis habisan oleh kakakmu? Hatimu dipenuhi dendam yang tidak masuk akal. Kau bahkan berani mengurungku diam diam di Puncak Suroloyo dengan segel kegelapan abadi dan melakukan semua kekacauan ini dengan menjual jiwamu pada mahluk yang dulu ingin di hancurkan oleh ayahmu. Andai Arya Dwipa masih hidup, dia pasti sangat kecewa padamu," bentak Suliwa kesal.


"Guru?" ucap Sabrang bingung, dia benar benar tidak mengerti dengan situasi yang dihadapinya kali ini. Bagaimana mungkin adik dan gurunya itu bisa saling mengenal, bahkan Moris memanggilnya guru.


Wajah Suliwa mengeras menahan amarah dengan kedua tangan mengepal, dia benar benar merasa gagal mendidik Moris. "Aku terlalu memanjakan dirimu," ucapnya dingin.


"Deg," Jantung Moris seolah terhenti seketika saat mendengar ucapan dingin gurunya, kini dia benar benar merasa sendirian di dunia ini setelah Suliwa membela Sabrang.


"Guru...untuk pertama kalinya kau memukulku dengan sangat keras. Apa aku telah melakukan kesalahan yang begitu besar di matamu? Aku akan bersujud dan meminta maaf dihadapan guru jika memang ini adalah sebuah kesalahan, tapi kumohon jangan marah padaku, apa yang kulakukan ini hanya..."


"Membalas sakit hatimu karena merasa di buang oleh ayahmu sendiri? Aku sudah mengatakan ribuan kali jika yang dilakukan Arya Dwipa adalah untuk kebaikanmu sendiri, tapi kau terlalu bebal dan membiarkan dendam itu merusak dirimu.


"Apa kau tau bagaimana aku dan ayahmu berusaha sekuat tenaga agar energi Cakra Loji tidak menguasai tubuhmu? saat aku hampir berhasil mengeluarkan semua energi itu kau justru menyerahkan tubuhmu secara sukarela pada Iblis itu," potong Suliwa lirih.


"Mengeluarkan energi Cakra Loji dari tubuhku?" tanya Moris terkejut.


Suliwa menarik napasnya panjang sambil mencoba mengingat kembali pertemuannya dengan Arya Dwipa di Gua Kematian setelah dia mundur dari dunia persilatan.


"Jadi selama ini ayah menitipkan Moris pada kakek? Lalu kenapa kakek tidak pernah memberitahukan hal ini padaku?" tanya Sabrang tiba tiba.


"Banyak hal di dunia ini yang sebenarnya akan jauh lebih baik jika tetap menjadi rahasia termasuk keberadaan adikmu dan mungkin juga kitab Sabdo Loji yang selama ini menjadi pusat dari semua masalah dunia persilatan," Suliwa mulai menceritakan pertemuannya dengan Arya Dwipa di gua Kematian yang juga menjadi tempat pertemuannya pertama kali dengan Sabrang.


"Ayahmu baru mengetahui jika trah Dwipa adalah keturunan Atlantis saat menyelidiki keberadaan Masalembo. Petunjuk petunjuk kecil yang dia temukan di seluruh Nuswantoro membawanya ke Puncak Suroloyo dan tanpa sadar membuka rahasia yang jauh lebih besar dari sekedar Masalembo.


"Di Puncak itulah dia menemukan sebuah kitab bernama Serat Nuswantoro yang menceritakan semua fakta yang terjadi dimasa itu, termasuk keberadaan kekuatan besar yang sangat jahat dan hampir terlepas dari ruang dimensi karena kesalahan leluhur mereka menciptakan jurus untuk menentang alam. Yasha Wirya yang disebut Ayahmu sebagai ketua Latimojong telah menciptakan jurus mengendalikan waktu yang membuat dimensi waktu kacau dan melemahkan segel alami di gerbang kesepuluh.


"Arya Dwipa adalah orang baik, sebagai keturunan Atlantis dia merasa bertanggung jawab dengan kesalahan leluhurnya di masa lalu dan memutuskan untuk menghentikan Cakra Loji sendirian namun pada akhirnya dia sadar telah melakukan kesalahan. Iblis itu terlalu kuat untuk dihadapi sendirian, tubuhnya bahkan berhasil disusupi energi Cakra Loji yang terus berusaha merebut kesadarannya.


"Namun dengan kemampuan yang dimilikinya dan tubuh sembilan Naga Sempurna, Arya Dwipa berhasil menekan energi Cakra Loji sambil terus mencari cara menghentikan Iblis itu sampai akhirnya semua berubah setelah Sekar Pitaloka mengandung. Sadar tidak bisa mengambil alih tubuh Arya Dwipa, Cakra Loji perlahan menyusupkan energinya kedalam kandungan Sekar saat mereka berhubungan.


"Mengetahui energi Cakra Loji bersemayam di tubuh salah satu anaknya, Arya Dwipa semakin merasa bersalah. Dia kemudian meminta bantuan padaku untuk merawat salah satu anaknya sampai energi Iblis itu benar benar menghilang..."


"Dan anak itu adalah aku?" potong Moris tiba tiba.


Suliwa mengangguk pelan, amarahnya pada Moris berganti menjadi rasa iba saat menatap wajah pemuda yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri itu.


"Tapi kenapa harus membuang aku, bukankah dia bisa menekan energi itu di tubuhnya?"


"Cakra Loji sangat licik, dia akan melakukan apapun untuk membuatnya terlepas dari gerbang kesepuluh termasuk memanfaatkan tubuhmu dan Arya Dwipa tidak ingin itu terjadi pada anaknya. Hanya ada satu tempat di dunia ini yang tidak bisa ditembus energi Cakra Loji karena dilindungi oleh segel Waktu, Puncak Suroloyo.

__ADS_1


"Sejak saat itulah aku tinggal dan merawat dirimu di tempat itu sambil sesekali pergi ke gua Kematian dengan jurus ruang dan waktu untuk melihat situasi, karena iblis itu akan terus mencari cara untuk keluar dari gerbang kesepuluh. Sekarang kau sudah tau alasanku melarangmu keluar dari Puncak Suroloyo? selama energi Cakra Loji belum benar benar hilang dari tubuhmu, dia akan terus berusaha merebut tubuhmu," jawab Suliwa pelan.


"Jadi Moris selama ini tinggal di Puncak Suroloyo? tapi bagaimana bisa, bukankah paman Wardhana pernah datang ketempat itu?"


"Puncak Suroloyo adalah tempat paling misterius yang konon menjadi gerbang terakhir menuju ruang dimensi Api. Ada begitu banyak tempat rahasia yang kami temukan di sana dan salah satunya menjadi tempat kami bersembunyi. Itulah sebabnya Wardhana tidak akan bertemu dengan kami walau berada di tempat yang sama," jawab Suliwa.


"Tidak, Guru pasti sedang membohongiku demi menyelamatkan kakang Sabrang! jika memang energi Cakra Loji tidak bisa menembus Puncak Suroloyo, kenapa ayah tidak tinggal di sana bersamaku!"


"Dia tidak bisa melakukannya, Arya Dwipa memberikan hampir semua energinya untuk menekan Cakra Loji di tubuhmu sehingga Iblis itu mulai menguasai tubuhnya. Itulah sebabnya dia lebih memilih mati daripada harus menyerahkan tubuh sembilan Naga Sempurna miliknya."


"Ayah..." Moris mulai merasa bersalah setelah mendengar cerita gurunya, dia merasa menjadi orang paling bodoh di dunia ini.


"Kau salah telah membenci ayahmu sendiri Moris, jika ada orang yang sangat menyayangimu di dunia ini maka Arya Dwipa lah orang itu."


"Tidak... tidak mungkin... Apa yang telah kulakukan selama ini...." teriak Moris tiba tiba.


Suliwa memejamkan matanya, hatinya bergetar saat mendengar teriakan pilu seorang anak yang hidup dengan menyimpan dendam pada ayahnya, teriakan penyesalan yang sangat tulus dan menyayat hati.


"Arya Dwipa memintaku merahasiakan keberadaan Cakra Loji di tubuhmu sampai benar benar hilang agar dirimu bisa tumbuh sebagai anak yang kuat tanpa rasa takut. Dia sangat yakin suatu saat anak kembarnya mampu menghentikan Iblis itu, tapi sepertinya itu adalah sebuah kesalahan besar. Rasa dendam yang membusuk di dalam hati membuat dirimu diam diam keluar dari Puncak Suroloyo dan menyelidiki semuanya saat aku berada di gua Kematian," ucap Suliwa dalam hati.


"Masih belum terlambat untuk memperbaiki kesalahan, setelah menyegel Cakra Loji, aku akan membawamu kembali ke puncak Suroloyo dan memulai dari awal. Semoga masih belum terlam..." Suliwa menghentikan ucapannya saat sebuah pedang menusuk tubuhnya hingga tembus ke dadanya.


"Moris?" ucap Suliwa sebelum tubuhnya terbelah menjadi dua.


"Moris! apa yang kau lakukan!" teriak Sabrang.


"Bergerak sendiri? jangan jangan..."


"Kau benar benar membuatku muak Moris! Jika hatimu tidak lemah, seharusnya dia sudah mati dari tadi," suara Moris berubah menjadi berat.


"Cakra Loji?" Sabrang tersentak kaget saat mendengar suara itu.


"Sepertinya guru benar, aku sudah melakukan kesalahan besar dengan menjual tubuhku pada Cakra Loji," Moris berusaha mempertahankan sisa sisa kesadarannya sekuat tenaga.


"Seumur hidup, aku tidak pernah memohon sesuatu pada orang lain tapi kali ini aku ingin kau melakukan sesuatu untukku kakang. Tolong bunuh aku sebelum semua terlambat dan kuburkan tubuhku didekat ibu, aku sangat ingin bertemu dengannya," pinta Moris sebelum kesadarannya benar benar telah dikuasai Cakra Loji.


"Moris!"


"Akhirnya tubuh anakmu jatuh ke tanganku Arya Dwipa dan sekarang aku akan membunuh anakmu yang tersisa sebagai balasan atas apa yang kau lakukan padaku selama ini," ucap Moris sambil tertawa.


Sabrang menatap tubuh Moris dengan penuh amarah dan tanpa disadari sesuatu sedang terjadi pada tubuhnya.


Suasana di Bukit Cetho langsung berubah mencekam saat aura dari tubuh Sabrang meluap dan disaat bersamaan sesuatu yang aneh mulai terjadi pada semua pemilik pusaka ruh batu Satam.


Mentari, Rubah Putih dan Lingga yang sedang bertarung dengan para pendekar Iblis Loji mulai merasakan tenaga dalamnya kembali terhisap.


"Tuan Yuda, apakah energi segel Langit dan Bumi sudah menghilang? Aku mulai merasakan tenaga dalam milikku mulai terhisap," teriak Mentari sambil memunculkan bongkahan es saat belasan pendekar Iblis Loji menyerang dari sisi kanannya.


"Tenaga dalam milikmu mulai terhisap? Tidak mungkin, segel itu masih melindungi kita," tunjuk Layang Yuda kearah aura kuning yang menyelimuti Hutan Kematian.

__ADS_1


"Lalu siapa yang menghisap energi milikku...?" ucap Mentari dalam hati.


***


"Jadi kau adalah dalang dibalik semua kekacauan yang terjadi selama ini?" tanya Sabrang dingin sambil memunculkan pedangnya di kedua tangan.


"Jika ingin menyalahkan seseorang atas semua kejadian ini maka Yasha Wirya lah orangnya, dia yang membuat segel alami gerbang kesepuluh melemah sehingga energi milikku bisa keluar dari tempat itu perlahan," ejek Cakra Loji.


"Kau!" Sabrang mulai mengaktifkan mata bulannya, dia langsung menggunakan ajian Inti Lebur Saketi untuk menarik energi Naga Api, Anom dan Megantara bersamaan.


"Kakek tua, apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh sedang terjadi? Walau masih samar, aku bisa merasakan tubuh Sabrang mulai menghisap semua Ruh Batu Satam," tanya Naga Api terkejut.


"Tidak hanya batu Satam tapi separuh energi milikku yang masih tersegel juga dihisap oleh tubuhnya. Sepertinya sesuatu sedang terjadi dan dia tidak menyadarinya," balas Eyang Wesi tak kalah bingung.


"Akan aku pastikan kau membayar semuanya hari ini," Sabrang menghilang dari pandangan dan muncul tepat di sisi kiri Cakra Loji.


"Jurus Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma."


"Duarr!" Ledakan besar akibat benturan dua energi seolah menjadi pembuka pertarungan mereka. Mata bulan mereka mulai bertemu dan saling membaca gerakan lawan.


"Suku Sungai Kuning, akulah yang mengundang mereka datang ketempat ini melalui mimpi untuk memulai rencana menghancurkan dimensi waktu, tak akan kubiarkan kau merusak semuanya," Cakra Loji merubah gerakannya, dia memunculkan puluhan serpihan es di udara untuk mengganggu gerakan Sabrang.


"Tapak Dewa Mencengkeram Langit," Cakra Loji memutar pergelangan tangannya dan mendorong gagang pedang kearah perut Sabrang. Gerakan yang halus dan sangat cepat itu membuat Sabrang sedikit terkejut.


Memanfaatkan telinganya yang bisa mendengar suara angin, Sabrang menangkis serangan itu sambil bergerak menghindar.


Baru lepas dari serangan itu, pedang ditangan kiri Cakra Loji sudah mengincar tenggorokannya.


"Gawat! Dia sudah bisa menggunakan kembali jurus manipulasi waktu!" Sabrang kembali menghindar dengan cara menunduk sebelum sebuah tendangan keras menghantam tubuhnya.


Tubuh Sabrang terlempar ke udara membuat pertahanannya terbuka lebar. Tak ingin menyianyiakan waktu, Cakra Loji langsung melepaskan jurus lainnya sambil bergerak dengan kecepatan tinggi.


Sabrang masih terlihat tenang walau berada dalam posisi tidak menguntungkan, dia merubah gerakannya di udara dan bersiap menangkis serangan cepat itu tanpa kuda kuda.


"Hei nak, apa kau sudah gila? menyambut serangan dengan energi sebesar ini tanpa kuda kuda yang kokoh sama saja menyerahkan diri untuk dibunuh!" teriak Eyang Wesi Panik.


Namun Sabrang bergeming, entah bagaimana caranya mata bulan miliknya sudah membuat simulasi gerakan untuk menyambut serangan yang mengarah padanya dengan bantuan angin.


"Aku pasti akan membawamu kembali ke keraton Moris, tempat yang seharusnya menjadi rumah bagi kita berdua."


"Mati kau!" Cakra Loji melepaskan serangan tusukan dengan sekuat tenaga. Sebuah serangan sederhana yang sangat mematikan karena digabungkan dengan jurus mengendalikan waktu itu seolah menutup semua celah bagi Sabrang untuk menghindar.


Namun, saat tusukan itu hampir merobek tenggorokan Sabrang, secara mengejutkan tubuhnya bereaksi sangat cepat.


Cakra Loji tersentak kaget, tak mudah bagi siapapun menghindari serangan di udara, terlebih disaat bersamaan dia melambatkan waktu disekitar Sabrang.


Belum selesai rasa terkejutnya, belasan serangan cepat menghantam tubuhnya berkali kali.


"Tidak mungkin.. Hanya Yasha Wirya yang mampu melakukan serangan ini," umpat Cakra Loji sambil berusaha mencari keberadaan Sabrang.

__ADS_1


__ADS_2