
Setelah hancurnya Dieng dan fakta tentang suku Iblis petarung beberapa sekte yang terlibat dalam pertempuran berdarah di Dieng memutuskan menarik diri untuk sementara waktu. Ratusan nyawa melayang saat itu membuat mereka semua harus kembali menyusun kekuatan.
Sekte Iblis hitam yang sebelumnya telah lebih dulu menarik diri dari dunia persilatan kini menutup rapat akses mereka demi memulihkan kondisi Kertasura yang terluka parah. Tapuk pimpinan tertinggi sementara dipegang oleh Dongkel karena Lingga menolak saat dipilih menggantikan Kertasura sementara waktu.
Kerugian terbesar dialami Pasukan angin selatan Malwageni, mereka kehilangan banyak prajurit berbakat. Menghadapi situasi ini Wardhana mengambil keputusan untuk menutup rapat akses informasi mengenai pasukannya. Dia khawatir jika Majasari berhasil mengendus tentang gugurnya banyak prajurit angin selatan mereka akan memanfaatkannya untuk menyerang.
"Tutup semua akses informasi ke Kadipaten ini, aku ingin semua berjaga seolah tidak terjadi apa apa sampai Yang mulia selesai dari masa penyembuhannya dan memberi perintah selanjutnya". Ucap Wardana pada Lembu sora yang ada dihadapannya.
"Baik tuan. Lalu mengenai Yang mulia apakah sudah ada kabar? Beliau sudah hampir satu purnama mengurung diri di ruang Adipati, aku sedikit khawatir tentang kesehatannya".
"Tak perlu khawatir, nona Mentari yang merawatnya setiap hari. Dia selalu memberiku kabar mengenai kesehatan Yang mulia". Ucap Wardhana menenangkan.
"Hamba menghadap tuan Adipati". Salah satu pasukan angin selatan menundukan kepala didepan pintu ruangan Wardhana.
"Apa terjadi sesuatu? kau terlihat begitu tergesa gesa". Tanya Wardhana bingung.
"Ada yang memaksa bertemu anda tuan, dia sekarang berada di depan gerbang".
"Bertemu denganku? bukankah sudah aku katakan untuk menutup semua akses menuju Rogo geni". Wardhana sedikit membentak.
"Aku tau tuan namun... namun dia mengatakan masih keturunan Yang mulia raja terdahulu". Ucap prajurit itu sedikit terbata bata.
Wajah Wardhana tersentak kaget mendengar laporan prajuritnya. Dia tau betul jika Arya Dwipa hanya mempunyai satu anak bersama Ratu Sekar Pitaloka, jika ada yang mengaku masih keturunan Arya Dwipa berarti kemungkinan terbesarnya anak dari selir Anjani yang diasingkan karena ikut membantu pemberontak.
Wardhana menoleh kearah Lembu sora yang juga tak kalah terkejutnya. Setelah sempat berfikir beberapa saat akhirnya Wardhana mempersilahkannya masuk untuk memastikan.
"Biarkan dia masuk". Perintah Wardhana singkat.
"Baik tuan Adipati". Prajurit itu menundukan kepalanya sebelum melangkag keluar.
Wardhana terlihat memejamkan matanya sesaat "Sepertinya masalah akan semakin rumit sora".
"Apa yang akan anda lakukan tuan?". Lembu sora bertanya pelan.
"Kita liat dulu apa maunya, jika dia berniat buruk aku terpaksa menyingkirkannya. Kita semua tau jika wahyu keprabon telah memilih Yang mulia raja".
Tak lama prajurit penjaga datang kembali bersama dua orang. Salah satunya seorang pemuda yang cukup tampan dan hampir seumuran dengan Sabrang. Satunya lagi seorang pendekar yang sangat dikenal oleh Wardhana.
Pendekar itu terlihat kikuk saat melihat Wardhana menatapnya tajam. Walau wajah Wardhana terlihat bersahanat namun tak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya.
Ketidaksukaan Wardhana sangat beralasan, dulu Mandaka pernah hampir mencelakai Ratu Sekar pitaloka atas perintah selir Anjani.
"Tuan Adipati". Mandaka menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Tak perlu sungkan, apa ada yang ingin kau bicarakan padaku?". Wardhana terlihat tak terlalu tertarik berbasa basi.
"Aku ingin bertemu dengan Kakang Sabrang". Pancaka memotong tiba tiba.
Wardhana menoleh kearah Mandaka meminta penjelasan.
"Beliau Pangeran Pancaka, putra dari selir Anjani". Mandaka menjelaskan pada Wardhana.
"Ah maaf pangeran, hamba terlambat mengetahui anda". Wardhana terpaksa berbasa basi.
"Dimana Kakang?".
"Maaf Pangeran, Yang mulia sedang tidak bisa diganggu".
"Walaupun oleh adiknya yang sudah lama tidak ditemui?". Suara Pancaka sedikit meninggi, dia merasa Wardhana tidak menghargainya.
"Hamba benar benar tidak dapat mengabulkan permintaan anda Pangeran, ini perintah langsung Yang mulia untuk tidak menganggunya". Wardahana menundukan kepalanya.
"Kalian terlalu berlebihan, aku hanya ingin bertemu kakakku". Pancaka berusaha masuk dan mencari sendiri ruangan Sabrang. Dia sangat yakin Sabrang berada di salah satu ruangan di Kadipaten itu.
Wardhana tiba tiba mengarahkan sarung pedang untuk menahan Pancaka.
Pancaka sedikit terkejut melihat sikap Wardhana yang nekad mengarahkan pedang kepadanya.
"Hamba hanya melaksanakan perintah Yang mulia, mohon jangan memaksa hamba".
Madaka melihat tak ada keraguan sama sekali di wajah Wardhana untuk mencabut pedangnya dan itu membuatnya sedikit khawatir pada keselamatan Pancaka.
"Sebaiknya kita menunggu pangeran, tuan Adipati hanya melaksanakan perintah Yang mulia". Mandaka berusaha menengahi situasi yang sedikit memanas.
"Kau!". Pancaka menatap tajam Wardhana sebelum melangkah pergi.
"Toling antarkan Pangeran ke kamarnya, dan pastikan dia nyaman berada disini". Perintah Wardhana pada penjaga yang sedang berjaga.
"Baik tuan Adipati".
"Bagaimana menurut anda tuan?". Tanya Lembu sora ketika Pancaka sudah meninggalkan ruangannya.
"Awasi dia sampai Yang mulia selesai masa penyembuhannya, aku tidak akan segan segan menghancurkan siapapun yang mencoba mengganggu Raja Malwageni".
"Baik tuan, aku akan pastikan semuanya". Jawab Lembu sora.
***
__ADS_1
Suasana Sekte Kelelawar hijau tiba tiba mencekam setelah sebuah aura hitam menyelimuti hampir diseluruh sudut sekte. Beberapa murid bersama tetua Sekte bersiap didepab gerbang dengan semua perlengkapan tempurnya.
Sebulan sudah mereka mencoba memulihkan tenaga setelah bertempur mati matian di Dieng sepertinya kali ini mereka akan bertarung kembali.
Dua orang pendekar menatap tajam puluhan anggota sekte kelelawar hijau yang berjajar didepan gerbang sekte.
"Kau yakin kitab itu ada disini?". Salah satu pendekar yang paling tinggi bicara pada temannya.
"Aku melihatnya menyembunyikan kitab itu didalam jubahnya saat mereka keluar Dieng, Jika bukan karena ada Naga api disana sudah kurebut saat itu juga" Ucap satunya menimpali.
"Baik, ayo kita ambil kitab itu". Ucap temannya sesaat sebelum tubuhnya melesat kearah kerumunan murid Kelelawar hujau.
"Bersiaplah, tahan mereka sampai tetua bahadur da..." Belum selesai tetua Darma bicara sebuah energi pedang telah menembus tubuhnya.
"Bagaimana bisa". Darma menatap tubuhnya yang sudah mengeluarkan darah segar. Dia sangat yakin masih dalam jarak aman saat tubuhnya terluka.
"Bentuk formasi serangan kelelawar hijau". Salah satu murid kelelawar hijau berteriak kencang namun sampai akhir formasi itu tak pernah terbentuk. Dua pendekar misterius itu bagai malaikan pencabut nyawa yang setiap langkahnya mampu mencabut puluhan nyawa anggota sekte kelelawar hijau.
Dalam waktu singkat sekte kelelawar hijau telah menjadi lautan mayat.
"Kesalahan terbesar kalian adalah mencuri Kitab Paraton dari tempatnya". Dua pendekar itu melangkah masuk kedalam sekte dengan aura yang masih meluap dari tubuhnya.
"Siapa kalian?". Raut Wajah Bahadur menjadi buruk ketika melihat sektenya telah berubah menjadi lautan darah. Dia benar benar tak habis pikir seberapa kuat dua pendekar dihadapannya itu. Tetua Darma dan beberapa tetua kelelawar hijau lainnya bukan pendekar sembarangan, namun dihadapan dua pendekar ini mereka seolah tak bisa berbuat banyak.
"Serahkan kitab Paraton padaku, tangan kotormu tak pantas memegangnya". Pendekar itu menatap tajam bahadur.
"Apa yang kalian bicarakan? kitab apa?". Bahadur berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya karena dua pendekar itu mengetahui dia mengambil kitab paraton di Dieng.
Bahadur menemukan kitab itu saat menutup lubang lubang resapan Magma.
"Kitab itu tidak boleh jatuh ketangan siapapun atau dunia persilatan akan hancur".
Bahadur tersenyum sinis pada dua pendekar itu "Kalian bertindak seolah demi menyelamatkan dunia persilatan namun membantai ribuan orang tanpa belas kasih".
"Kami tak membutuhkan penilaian siapapun atas tindakan yang kami lakukan namun satu yang harus kau tau sebelum pergi keneraka, Sepasang Pendekar langit tak akan membiarkan kitab paraton itu berkeliaran di dunia ini atau akan memancing "Nya" muncul kedunia ini". Tepat setelah pendekar itu menyelesaikan ucapannya tubuhnya bergerak dengan kecepatan tinggi menyerang Bahadur.
"Dia bahkan lebih cepat dari para pendekar iblis petarung". Gumam Bahadur sesaat sebelum tubuhnya roboh dengan luka menganga diperutnya.
"Harusnya kau membiarkan kitab itu terkubur di Dieng". Pendekar itu menggeleng pelan sambil menyarungkan pedangnya.
"Ayo kita cari kitab itu, aku merasakan energinya disekitar sini". Ucap Pendekar itu pada temannya.
"Apakah pusaka penakluk dunia itu benar benar akan muncul didunia ini?". Tanya temannya.
__ADS_1
"Muncul atau tidaknya itu bukan urusan kita, saat ini tugas kita hanya memastikan kitab itu kembali ketelaga khayangan api. Dan aku sarankan kau jangan pernah berfikir memiliki kitab itu atau pedang petir hitamku terpaksa mengoyak tubuhmu ". Pendekar itu melangkah pergi diikuti temannya sambil menelan ludah. Dia tau benar kekuatan pedang petir hitam itu hanya setingkat dibawah pusaka penakluk dunia Pedang Megantara.