
Sabrang masih belum bergerak dari tempatnya berdiri, dia masih merasakan sakit dibagian tubuhnya akibat efek penggunaan Cakra manggilingan secara berlebihan.
"Cakra manggilingan memaksa jantungmu bekerja tidak normal, menarik paksa energi dan mengalirkan keseluruh tubuhmu memaksa jantung bekerja sangat keras.
Jangan gunakan ajian itu untuk beberapa bulan kedepan atau kau akan kehilangan nyawamu," ucap Eyang wesi pelan.
"Aku tau, semoga semua sesuai rencana," gumam Sabrang sambil memperhatikan pertarungan tim Candrakurama dengan dewa penjaga masalembo yang tersisa.
Kematian Kuntala membuat Kamala goyah, apalagi setelah melihat sendiri Jalapati terbunuh dengan cepat oleh Sabrang.
Konsentrasi bertarungnya buyar karena sesekali dia harus menoleh kearah Sabrang, dia takut jika Sabrang menyerang tiba tiba.
Candrakurama dan Tungga dewi memanfaatkan kesempatan itu dengan terus menekan, sedangkan Mentari yang diberi tugas menyerang dengan segel bayangan dari jarak jauh mulai mendekat.
Mentari terus membentuk dinding es diantara tubuhnya untuk menyamarkan arah segel banyangannya, dia harus menjangkau bayangan Kumala untuk mengunci gerakannya yang terkenal cepat.
Kumala menyadari itu, dari semua serangan para pendekar itu hanya serangan Mentari yang paling dia takuti. Jika segel bayangan berhasil mengunci gerakannya maka selesai sudah karena Candrakurama dan Tungga dewi sudah menunggu celah untuk menghabisinya.
"Aku tidak tau bisa menang atau tidak melawan keturunan trah dwipa itu namun minimal aku bisa mengalahkan mereka dan mencoba melarikan diri," gumam Kumala sambil merubah gerakannya, dia tiba tiba bergerak kearah Mentari.
"Jika gadis itu bisa kubunuh maka aku bisa konsentrasi bertarung tanpa takut terkena segel bayangannya."
Mentari yang memang sudah menunggu Kumala mendekatinya, membuat dinding es untuk tetap menjaga jarak.
Dia mengarahkan satu bayangannya kearah dinding es dan yang lainnya bergerak maju sebagai pancingan.
"Hancurkan lah dinding itu dan akan kutangkap bayanganmu," gumam Mentari sambil melepaskan aura racunnya.
Sabrang mengernyitkan dahinya, mata bulannya dapat membaca rencana Mentari namun terlalu beresiko.
Butuh waktu lima detik untuk menghentikan gerakan orang yang terkena segel bayangan dan melihat jarak antara keduanya, lima detik sudah cukup bagi Kumala untuk menjangkau tubuh Mentari.
Mentari bukan tidak menyadari itu namun dia tidak punya pilihan lain, satu satunya kesempatan mereka menang adalah segel bayangannya.
Sabrang yang sedang terluka tak mungkin membantu mereka, akan sangat beresiko jika Sabrang memaksa bergerak. Mentari hanya perlu berhitung dan memastikan tusukan pedang Kumala tidak melukainya terlalu dalam.
Candrakurama dan Tungga dewi terus menekan, Kumala tersenyum dingin sambil mengibaskan pedangnya.
"Kalian akan kuurus nanti," Kumala melepaskan jurus ledakan tenaga dalam yang membuat Candrakurama dan Tungga dewi terpaksa menghindar.
"Mati kau," Kumala menerobos dinding es dan menghancurkannya berkeping keping, Mentari melompat mundur sambil menarik segel bayangannya yang disembunyikan diantara dinding es miliknya.
"Berhasil," Segel bayangan Mentari akhirnya mampu menjangkau bayangan Kumala.
"Lima detik waktu ku menghindar," ucap Mentari sambil melompat mundur namun wajahnya terkejut karena kecepatan Kumala terus meningkat.
"Gawat."
Saat pedang Kumala hampir mengenai tubuhnya tiba tiba sebuah energi keris muncul dan menangkis serangan Kumala.
Ujung mata pedang dan Keris penguasa kegelapan beradu membuat Kumala terdorong mundur.
"Tubuhku?" Kumala merasakan tiba tiba tubuhnya berat sebelum tak bisa digerakkan sama sekali.
"Terima kasih Yang mulia," gumam Mentari pelan, dia memberi tanda pada Tungga dewi dan Candrakurama untuk menyerang.
Sabrang tersenyum melihat perkembangan ilmu kanuragan Mentari.
"Kau akan menjadi pendekar wanita hebat kelak."
"Aku tidak mungkin kalah oleh manusia lemah seperti kalian, lepaskan aku," teriak Kumala panik.
"Sama sepertimu, aku menjadi kuat untuk membantu seseorang. Tekadku tak akan kalah oleh siapapun," Mentari mengalirkan racun kedalam bayangannya.
Wajah Kumala mulai membiru sebelum pedang Candrakurama dan Tungga dewi mengoyak tubuhnya.
Perlawanan terakhir Masalembo berakhir, mereka kalah oleh para pendekar yang dianggap tidak memiliki bakat seperti tiga trah besar Masalembo.
"Yang mulia," Mentari dan Tungga dewi menundukkan kepalanya saat mendekati Sabrang.
"Apa yang kau lakukan? bantulah tuan Wardhana," ucap Tungga dewi saat melihat Mentari juga mendekati Sabrang.
"Aku? kenapa tidak kau saja?," balas Mentari kesal.
Pertengkaran mereka berdua berakhir saat Wardhana berlari dengan wajah pucat mendekati Sabrang.
"Yang mulia, anda baik baik saja?" tanya Wardhana sopan.
Sabrang mengangguk pelan, "Bagaimana dengan yang lainnya? apa kalian berhasil menghancurkan tubuh dewa Kumari kandam?" tanya Sabrang penasaran.
Perasannya menjadi gelisah setelah melihat wajah Wardhana.
__ADS_1
"Tujuh dewa Kumari kandam sudah dibakar oleh nona Emmy namun tiga tubuh lainnya sudah menghilang," balas Wardhana.
"Menghilang? bagaimana bisa?" tanya Sabrang.
"Hamba tidak tau Yang mulia, saat kami berhasil menemukan ruang kehidupan, tiga dinding es telah hancur. Sepertinya mereka telah bangkit dan melarikan diri."
"Melarikan diri? aku tidak melihat ada orang yang keluar dari bangunan itu paman," balas Sabrang.
"Itu yang membuat hamba bingung Yang mulia, namun hamba sudah meminta Lingga dan yang lainnya untuk menyebar. Hamba juga sudah meminta Ciha melapisi seluruh Masalembo dengan segel udaranya, semoga mereka belum keluar dari sini," ucap Wardhana pelan.
"ini gawat, mereka bisa kembali menyusun rencana jika berhasil melarikan diri," ucap Sabrang panik.
"Anda sebaiknya tenang dulu Yang mulia, aku yakin mereka masih belum jauh dan kita hanya perlu menunggu kabar dari Lingga sambil memulihkan luka anda. Melawan mereka dengan tubuh terluka bukan pilihan bijak," ucap Wardhana.
"Yang dikatakan tuan Wardhana benar Yang mulia, anda harus memulihkan luka anda sejenak," ujar Mentari mengamini ucapan Wardhana.
"Sebaiknya kita menemui Ciha sambil menunggu kabar dari mereka, Hamba akan menyusun rencana baru untuk menghadapi mereka, dengan tubuh anda yang seperti itu tak mudah melawan mereka tanpa rencana."
Sabrang mengangguk sambil mengikuti langkah Wardhana, Mentari dan Tungga dewi yang masih saling menatap sinis mengikuti dibelakangnya.
Wardhana menghentikan langkahnya diruang kehidupan, tampak bekas penyimpanan tubuh manusia sudah habis terbakar. Emmy benar benar membakar habis seluruh peralatan milik Masalembo.
Emmy melangkah mendekati Sabrang dan menundukkan kepalanya.
"Aku sudah berhasil membukanya Yang mulia," ucap Emmy pelan.
"Membukanya?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Akan Hamba jelaskan sambil jalan Yang mulia, mari ikuti hamba," ucap Wardhana menunjukkan jalan pada Sabrang.
"Beberapa benda yang kita temukan di ruang rahasia rumah para dewa ternyata adalah sebuah kunci ruangan. Benda pertama yang kita temukan di Wentira adalah gulungan bergambar daratan, Naraya bermaksud menunjukkan lokasi Masalembo pada kita.
Lalu Kalung di ruang rahasia Swarnadwipa dan pisau kecil di tapak Es utara ternyata adalah kunci sebuah ruangan yang hamba yakini sebagai ruang pribadi Naraya. Sedagkan ruang keempat dan terakhir di Hujung tanah digunakan Naraya sebagai petunjuknya.
Hamba bersama nona Emmy dan Ciha sudah memeriksanya dan menemukan ruang rahasia didekat mereka menyimpan tubuh dewa Masalembo," Wardhana menunjukkan sebuah ruangan.
Ciha tampak berdiri didepan pintu ruangan dan menyambut mereka.
"Anda tidak akan menyangka apa yang kuliat didalam, sebuah pedang tiruan Naga api," ucap Ciha pelan.
"Tiruan," Wardhana tampak mengernyitkan dahinya.
"Pusaka itu adalah yang asli, Ken panca telah membuat tiruannya dan memasukkan Naga api kedalamnya, sepertinya Naga api akan senang memiliki wadah baru," ucap Sabrang sambil melangkah masuk. Dia langsung menuju kesebuah pusaka yang diselimuti es tebal.
Sabrang memunculkan api di lengan kanannya dan mulai menyentuh bongkahan es itu dan mencairkannya.
Tampak sebuah pedang yang hampir sama dengan Pedang Naga api mulai terlihat.
Sabrang menyentuh gagang pedang itu perlahan dan mulai menariknya dari sarungnya.
Dia mengalirkan energi Naga api dan Megantara perlahan.
Sabrang mengernyitkan dahinya saat melihat tulisan kecil pada sarung pedang.
(Penebus kesalahan, Naraya Dwipa).
"Pedang ini sangat tajam dan jauh lebih berat dari pedang naga api," Sabrang memejamkan matanya sesaat sebelum pedang itu diselimuti kobaran api dan menyatu dengan tubuhnya.
"Yang mulia," suara Wardhana mengangetkan Sabrang, dia membuka matanya dan menoleh kearah Wardhana.
Wardhana menyerahkan gulungan catatan lusuh pada Sabrang.
"Sepertinya ini pesan Naraya pada keturunannya," ucap Wardhana.
"Bacakan paman," balas Sabrang.
Wardhana mengangguk pelan dan mulai membacanya.
"Jika kalian membaca gulungan ini artinya aku sudah mati, besok aku akan mencoba melarikan diri dan menyegel para pemimpin dunia. Mereka sudah sangat jauh tersesat dan harus kuhentikan walau harus membunuh dua sahabat terbaikku.
Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan, Yang pertama, saat kutulis catatan ini mereka sedang mengembangkan sebuah ruang dimensi yang dapat saling terhubung antar sesama pendekar Masalembo. Ini akan jauh lebih mengerikan daripada dimensi mata bulan trah Dwipa karena mampu memindahkan sebuah daratan sekaligus, aku berharap mereka tidak berhasil, bakar seluruh tubuh para pemimpin dunia karena mungkin kekuatanku hanya mampu menyegelnya.
Yang kedua tak mudah berurusan dengan Masalembo. Kepintaran, ilmu pengetahuan mereka jauh lebih dari yang kuperkirakan. Aku meninggalkan beberapa catatan ilmu pengetahuan yang kuketahui, jika gagal menghentikan mereka satu satunya cara adalah bangun peradaban tandingan dengan apa yang kutinggalkan. Pelajari semua sampai kalian mampu dan memiliki kesempayan seperti Masalembo.
Kuharap tugas berat ini tak berhenti sampai mereka benar benar hancur.
Terakhir, Masalembo dibangun dengan sistem paralel yang rumit untuk memudahkan daratan itu dihancurkan jika harus pindah karena tak boleh ada bukti keberadaan mereka. Disalah satu sudut daratan ada sebuah bangunan khusus para pemimpin dunia, disanalah tempat tuas penghancur berada, jika kalian telah berhasil masuk, hancurkan daratan itu dan jangan ada yang tersisa karena apa yang ada didalam masalembo akan jauh lebih berbahaya jika jatuh ketangan banyak orang."
"Aku tak ingin gagal kali ini, paman harus menemukan tempat mereka menyembunyikan tubuh para pemimpin dunia itu secepatnya," Sabrang terlihat bereaksi berlebihan dan tidak seperti biasanya.
Hal ini dapat dipahami mengingat ayah dan leluhurnya sudah banyak berkorban, dia tidak ingin gagal kembali dan mengulangi kesalahan.
__ADS_1
"Yang mulia, hamba sedang...," Wardhana tak melanjutkan kata katanya ketika Sabrang tiba tiba mengalungkan pedang barunya keleher Wardhana.
Semua tersentak kaget dengan reaksi Sabrang namun tak ada yang berani bicara.
"Kita tak boleh gagal paman, kuharap paman ingat kata kataku," ucap Sabrang dingin.
"Hamba mengerti perasaan anda Yang mulia, hamba sedang berusaha memecahkan petunjuk Arjuna," balas Wardhana terbata bata.
Suasana seketika mencekam ketika kobaran api mulai menyelimuti tubuh Sabrang, dia benar benar lepas kendali. Sabrang tak ingin ketika mereka sudah sangat dekat justru kembali menjauh.
Saat suasana semakin mencekam tiba tiba Ciha memberanikan diri bicara.
"Tuan Lingga sepertinya memberi tanda, ada kejutan tenaga dalamnya tak jauh dari sini."
Sabrang menarik pedangnya dengan cepat, dia langsung melesat kearah yang ditunjukkan Ciha.
Wardhana langsung mencabut pedangnya dan memberi komando.
"Semua pasukan ikuti aku, Yang mulia sedang marah dan tidak berfikir jernih. Lindungi beliau dengan sekuat tenaga, bahkan jika harus dengan nyawa sekalipun," ucap Wardhana sambil menyusul Sabrang.
Semua bergerak sesuai perintah Wardhana, Tungga dewi dan Mentari melesat lebih dulu menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Dua pendekar wanita itu bergerak cepat diantara bangunan megah Masalembo, dalam beberapa tarikan nafas mereka sudah melihat tubuh Sabrang.
Saat Mentari dan Tungga dewi sudah berada didekat Sabrang, tiba tiba tubuh mereka kaku tak dapat digerakkan.
"Apa yang terjadi dengan tubuh kita?," ucap Mentari heran.
Wajah Tungga dewi menjadi buruk saat menyadari tenaga dalam Sabrang Lah yang membuat tubuh mereka tak bisa bergerak.
"Yang mulia lah yang menekan kita, aku tidak tau apa yang terjadi namun ini tidak baik," balas Tungga dewi sambil menelan ludahnya.
"Apa maksud kalian menghilang? kalian gagal menghentikan mereka?," tanya Sabrang penuh amarah.
Aura Sabrang memang menekan seluruh area Masalembo, Lingga bahkan harus bersusah payah menggerakkan tubuhnya.
"Kami sudah berusaha namun mereka tiba tiba menghilang, bahkan beberapa bangunan ikut menghilang," jawab Lingga pelan.
"Sebaiknya kita mundur dulu nak, aku tau bagaimana perasaanmu saat ini namun bergerak dengan tergesa-gesa hanya akan merugikan kita. Jurus yang mereka gunakan berbeda dengan mata bulanmu, kita harus mencari tau kekuatan mereka sambil mengobati para tetua yang terluka parah. Mereka bisa mati jika terlambat diobati," Brajamusti mencoba menenangkan Sabrang.
Sabrang menggeleng pelan, "Ini satu satunya kesempatanku menghancurkan dewa Kumari kandam dan aku tak akan mundur, sudah banyak pengorbanan ayah dan ibu untuk hari ini. Kalian pergi saja dulu, aku akan menyusul," balas Sabrang dingin.
Brajamusti menarik nafas panjang, dia sadar Sabrang tak bisa dihentikan, dia sudah diselimuti amarah.
"Lalu kemana kau akan mencari mereka?," tanya Brajamusti kemudian.
Sabrang terdiam mendengar pertanyaan Brajamusti, diapun tidak tau kemana harus mencari mereka namun tak ada sedikitpun dia pergi sebelum benar benar menghancurkan Masalembo.
"Yang Mulia," Wardhana yang baru datang mencoba bergerak mendekati Sabrang.
"Jangan mendekat paman, aku akan membunuhmu jika menghalangiku."
Wardhana tak perduli dengan ancaman Sabrang, dia terus berusaha mendekat untuk menenangkan rajanya walau harus mati namun Mentari memberi tanda untuk berhenti.
"Apa anda akan membunuh hamba juga," ucap Mentari tiba tiba, dia mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya untuk berjalan mendekat
"Mundur," ancam Sabrang.
"Jika membunuh hamba bisa meredakan amarah anda, hamba akan sangat bahagia mati ditangan anda. Hamba tau Yang mulia raja dan ratu sudah banyak berkorban selama ini namun anda salah jika mereka berkorban demi menghancurkan Masalembo, mereka berkorban demi anda Yang mulia.
Mereka ingin anda hidup sesuai dengan apa yang anda putuskan, bukan demi membalas Malalembo. Tubuh anda sudah terluka sangat parah, kembalilah bersama tuan Wardhana untuk memulai kembali mengejar mereka, bunuhlah hamba demi menghilangkan amarah anda," Mentari terus memaksa bergerak mendekat, darah segar sudah mulai keluar dari hidung dan telinganya akibat tak mampu menahan tekanan aura Sabrang.
"Kau selalu keras kepala, aku bahkan tak bisa melawan ucapanmu," Sabrang menarik aura dari tubuhnya sebelum tubuhnya roboh ketanah dan tak sadarkan diri.
Pendekar terkuat itu telah mencapai batasnya, sekuat apapun tubuh istimewa trah Dwipa tetap tubuh manusia yang memiliki batas.
Brajamusti segera memeriksa tubuh Sabrang, dia menggeleng pelan setelah memeriksa nadinya.
"Aliran tenaga dalamnya sangat kacau, jika terus dipaksa dia akan kehilangan nyawanya. Kau harus segera memutuskan langkah kita selanjutnya tuan Wardhana, Memaksa mencari dewa kumari kandam dengan pasukan yang tersisa atau mundur dan menyelamatkan rajamu terlebih dahulu," ucap Brajamusti.
"Arung, periksa ruang para pemimpin dunia, ada sebuah tuas untuk menghancurkan daratan ini. Tarik tuas itu dan segera pergi, berhati hatilah," ucap Wardhana sambil memejamkan matanya sesaat.
"Aku tak berniat mundur sedikitpun, sepertinya aku tau bagaimana menemukan mereka, setelah Yang mulia pulih akan kuhancurkan mereka" lanjut Wardhana, ini untuk pertama kalinya dia melawan perintah Rajanya.
Wardhana menyadari sesuatu saat melihat bekas beberapa bangunan yang hilang bersamaan dengan tiga dewa Kumari kandam. Dia berniat meminta bantuan Tungga dewi untuk menguji coba sesuatu menggunakan jurus ruang dan waktu sambil menunggu Sabrang pulih.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sekali lagi, jika anda merasa PNA menarik, maka berikan Vote....
terima kasih
__ADS_1