
Setelah Sabrang dan kelompoknya berhasil menyegel Lakeswara di dimensi Ruang dan Waktu, kehancuran dunia persilatan kembali bisa diredam.
Namun tersegelnya Lakeswara harus dibayar mahal oleh Sabrang dan semua pengguna jurus ruang dan waktu, mereka tidak bisa lagi menggunakan jurusnya untuk sementara waktu.
Setelah memulihkan kondisi tubuh yang terluka, Sabrang bersama pasukannya kembali ke keraton untuk memulai menyusun rencana berikutnya. Sedangkan Rubah Putih, Wulan dan Ken Panca memilih kembali ke Air terjun Lembah pelangi untuk meningkatkan ilmu kanuragannya sambil menunggu rencana baru Wardhana.
Mereka semua sadar, segel kegelapan abadi milik Ciha tak akan mampu menahan pemimpin tertinggi Masalembo itu selamanya. Tak ada waktu bersantai karena segel itu pasti akan melemah dan dimensi ruang dan waktu bisa terbuka kembali.
Kembalinya Wardhana ke keraton bersama Sabrang tersebar dengan cepat di seluruh tanah Jawata termasuk kerajaan Saung Galah dan para pemberontak yang berada di bawah komando Jaladara.
Mereka mulai khawatir dengan kembalinya sang ahli siasat yang saat ini mungkin sudah menjadi yang terbaik di Nuswantoro itu ke Malwageni.
Dan apa yang mereka takutkan mulai menjadi kenyataan. Wardhana langsung bertindak setelah mendengar laporan dari Paksi dan para teliksandinya. Dia mulai menyusun gerakan untuk menekan semua pemberontak di Malwageni.
Seluruh akses perbatasan di tutup rapat untuk mencegah para pemberontak melarikan diri, mereka semua diburu dan dibunuh tanpa ampun.
Wardhana mengerahkan seluruh anggota Hibata untuk menghabisi para pemberontak tanpa sisa.
Saung Galah langsung memutus hubungan dengan para pemberontak untuk menghindari konflik dengan Malwageni setelah membaca gerakan Wardhana. Saung Galah bahkan mengirim utusan perdamaian untuk memberi selamat atas kembalinya Wardhana.
Wardhana bukan tidak tau jika mereka ingin cuci tangan atas apa yang mereka lakukan namun untuk sementara Wardhana akan mengikuti permainan Jaladara sambil menyusun kekuatan kembali.
Keadaan seolah sudah mulai membaik setelah Wardhana kembali bekerja sampai di suatu pagi Ciha datang menghadap tiba tiba.
"Kau ingin kembali ke bukit Cetho?" tanya Wardhana tak percaya setelah mendengar permintaan Ciha untuk mundur dari dunia persilatan maupun dari posisinya di keraton Malwageni.
"Maaf tuan patih, sebenarnya sudah lama hamba ingin bicara pada anda mengenai hal ini namun dalam beberapa purnama kebelakang kita selalu menghadapi masalah yang cukup besar.
Saat ini Lakeswara sudah tersegel di dimensi ruang waktu dan hamba merasa inilah saat yang tepat untuk mundur dari semuanya, hamba harap anda mengerti," balas Ciha pelan.
"Kau yakin alasanmu mundur karena ingin membesarkan kembali sekte Bintang langit? kita sudah bertarung bersama bahkan hampir mati bersama, apa kau pikir aku percaya dengan alasanmu itu?" tanya Wardhana pelan.
"Maaf tuan, hamba hanya merasa sudah tua dan ingin membesarkan kembali Bintang langit," jawab Ciha pelan.
Wardhana terlihat menatap Ciha cukup lama sebelum mulai bicara kembali.
"Apa yang sebenarnya kau lihat di di dimensi ruang dan waktu sebelum berhasil menyegelnya?" tanya Wardhana tiba tiba.
"Maaf tuan, apa maksud pertanyaan anda?" jawab Ciha terkejut.
"Sikapmu mulai berubah setelah berhasil menyegel dimensi ruang dan waktu, dan luka aneh di seluruh tubuh yang kau dapatkan selama berada di dimensi itu tak akan bisa membohongi pengamatan ku.
Aku sudah beberapa kali masuk kedalam dimensi ruang dan waktu, tempat itu memang aneh dengan auranya namun tidak akan sampai melukai seluruh tubuhmu. Apakah keinginanmu mundur berhubungan dengan luka ditubuhmu?" tanya Wardhana.
Wardhana sudah curiga dari awal ketika Ciha keluar dari dimensi ruang dan waktu, saat itu seluruh tubuh Ciha dipenuhi luka sabetan pedang.
Wardhana menunda untuk tidak bertanya mengenai luka itu karena ingin semuanya pulih dan kembali dibawah kontrolnya terlebih dahulu.
"Maaf tuan, hamba tidak mengerti apa yang anda katakan, hamba hanya bertugas menyegel tempat itu dan tidak menemukan atau melihat apapun," jawab Ciha sambil menundukkan kepalanya.
"Begitu ya?" jawab Wardhana sambil menatap tajam Ciha yang masih belum berani mengangkat wajahnya.
"Jika tidak ada yang ingin anda katakan lagi hamba mohon diri tuan patih, maaf jika selama ini hamba banyak mengecewakan anda dan tolong sampaikan permohonan maaf hamba pada Yang Mulia," Ciha bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
"Apa aku masih boleh mengunjungimu?" tanya Wardhana.
"Sekte Bintang langit selalu terbuka untuk Malwageni tuan," balas Ciha pelan.
"Dan Malwageni selalu terbuka untukmu," jawab Wardhana cepat.
Ciha hanya mengangguk pelan tanpa menoleh sedikitpun, dia seolah tidak ingin wajah takutnya dilihat oleh Wardhana.
Tak lama setelah kepergian Ciha, Candrakurama muncul bersama dua pendekar Hibata dan langsung masuk ruangan Wardhana.
__ADS_1
"Hamba mohon menghadap tuan," Candrakurama menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Duduklah," sapa Wardhana dengan wajah lesu, kehilangan Ciha jelas membuat kerugian besar karena tim Ilmu pengetahuan yang dibentuknya jadi kehilangan pemimpin.
"Apa terjadi sesuatu tuan?" tanya Candrakurama bingung saat melihat wajah Wardhana.
"Ciha sudah mundur dari posisinya sebagai ketua Api Malwageni karena ingin fokus membesarkan sekte Bintang Langit, aku terpaksa harus mencari gantinya," jawab Wardhana pelan.
"Mundur?" tanya Candrakurama terkejut.
"Kau ingat saat Ciha keluar dari dimensi ruang dan waktu dengan luka hampir di seluruh tubuhnya sesaat setelah menyegel tempat itu? sepertinya terjadi sesuatu selama dia menyegelnya.
Aku ingin kau mengirim beberapa anggota Hibata untuk memantau sekte Bintang Langit, aku takut terjadi sesuatu padanya," ucap Wardhana kemudian.
Candrakurama terdiam, dia kembali mengingat saat Ciha bicara telah berhasil menyegel tempat itu, luka di sekujur tubuhnya memang sedikit aneh.
Luka sayatan pedang sebanyak itu memang sulit dijelaskan karena Sabrang pun belum tentu bisa melalukan nya dalam waktu yang sangat singkat. Jeda antara Sabrang menarik masuk Ciha dan mengeluarkannya kembali hanya beberapa menit saja.
"Sayatan pedang itu bahkan belum tentu bisa dilakukan Yang mulia," ucap Candrakurama.
"Itulah yang menjadi ketakutanku saat ini, Ciha jelas menyembunyikan sesuatu. Aku akan meminta izin pada Yang mulia untuk menemui Rubah Putih di Air terjun Lembah Pelangi untuk membicarakan masalah ini.
Peringatkan anggotamu untuk berhati hati selama memata-matai Ciha karena dia menguasai segel udara, laporkan padaku setiap menemukan sesuatu yang mencurigakan," ucap Wardhana.
"Baik tuan," jawab Candrakurama pelan.
"Lalu apa ada yang ingin kau laporkan padaku?" tanya Wardhana.
"Ini mengenai para pemberontak itu tuan, aku sudah mengetahui dimana letak pemimpin tertinggi mereka bersembunyi," balas Candrakurama.
"Apa di wilayah Saung Galah?"
"Benar, letak pastinya di hutan dekat kotaraja Saung Galah tuan."
"Habisi mereka tanpa sisa dan jangan tinggalkan jejak apapun, saat ini Saung Galah sedang mendekati Malwageni, aku ingin keterlibatan mu tidak diketahui siapapun," balas Wardhana.
***
Sesosok bayangan tampak berhenti disalah satu pohon besar di bukit Angin biru atau dulu lebih dikenal sebagai hutan Glagah Wangi sebelum hancur saat pertarungan para dewa dengan Dewa Api.
Dunia persilatan kini memang lebih mengenalnya dengan sebutan Bukit Angin biru karena ditempat itu berdiri kokoh sebuah sekte besar aliran putih yang dipimpin Brajamusti bernama Angin Biru.
"Glagah Wangi benar benar sudah hancur," ucap Pemuda itu pelan.
Dia terlihat membuka sebuah gulungan yang diambilnya dari balik pakaian dan mengamati sekitarnya.
"Tempat ini sudah banyak berubah, akan sangat sulit mencari gerbang suci sesuai petunjuk gulungan ini, apa yang harus aku lakukan sekarang," umpatnya dalam hati sambil membaca tulisan kecil yang ada ditengah gulungan.
"Sinar bulan purnama akan menjadi awal penanda matahari kembar muncul di Glagah Wangi, dua pohon buah Maja atau yang lebih dikenal sebagai pohon kehidupan akan membuka gerbang suci saat matahari kembar saling menyinari."
"Seingatku dulu memang ada sepasang pohon Maja kembar yang berjajar di tempat ini namun aku lupa dimana letaknya," ucapnya dalam hati sambil menatap sekelilingnya yang sudah berubah menjadi sebuah bukit tandus yang hanya terdapat beberapa pohon saja.
Pemuda itu terlihat berfikir sejenak sebelum melihat dua orang murid Angin biru keluar dari padepokan.
Dia memegang gagang pedang dan bersiap menyerang sebelum kembali menyarungkannya, dan menyembunyikan pedang itu di atas pohon.
"Aku tak boleh menarik perhatian dunia persilatan sebelum menemukan gerbang itu," ucapnya dalam hati.
Pemuda itu segera memasukkan gulungannya dan melompat turun dengan cepat.
Dia berjalan menuju gerbang padepokan dan menundukkan kepalanya saat berpapasan dengan dua murid itu.
"Maaf tuan apa benar ini sekte Angin biru?" tanya pemuda itu sopan.
__ADS_1
"Benar, ada yang bisa ku bantu?" tanya salah satu murid Angin biru sambil menatap curiga.
"Syukurlah, aku sudah lama mencari sekte Angin biru, ayahku pernah berkata jika ingin menjadi pendekar hebat maka aku harus menjadi murid sekte angin biru. Apa yang harus aku lalukan untuk menjadi murid sekte ini?" tanya pemuda itu kembali.
"Menjadi murid Angin biru?"
"Namaku adalah Rakirawa, aku berasal dari desa Trowulan, jika anda curiga aku bisa menunjukkan dimana letak rumahku," ucap pemuda itu meyakinkan.
Dua murid sekte Angin biru itu tampak berfikir sejenak sebelum menjawab.
"Tak perlu sampai seperti itu, aku bisa mengantarmu menemui guru Jatmiko, dia yang akan memutuskan apakah menerimamu atau tidak."
"Terima kasih atas bantuannya," Rakirawa mengikuti dua murid itu masuk padepokan.
"Akan lebih mudah bagiku mencari gerbang suci tanpa dicurigai jika aku tinggal ditempat ini," ucap Rakirawa dalam hati.
***
Wardhana menundukkan kepala saat Rubah Putih menyambutnya di depan pintu gua air terjun lembah pelangi.
"Kau sepertinya sudah pulih," sapa Rubah Putih pelan.
"Semua berkat ramuan yang tetua Wulan berikan padaku," balas Wardhana.
Rubah putih kemudian mengajak Wardhana menuju ruang latihan Wulan, sebuah ruangan kecil yang berada di dalam gua dan saat ini digunakan mereka untuk merawat Lembu Sora yang masih belum sadarkan diri.
"Hormat pada tuan Ken Panca," Wardhana menundukkan kepalanya saat melihat Ken Panca sedang merawat Lembu Sora.
"Tuan Wardhana, lama tak bertemu, kebetulan sekali ada yang ingin aku tanyakan pada anda," balas Ken Panca pelan.
"Bertanya padaku?" Wardhana mengernyitkan dahinya.
"Apa anda pernah mendengar tentang Gerbang suci?" tanya Ken Panca.
"Gerbang suci? aku belum pernah mendengarnya sama sekali," jawab Wardhana bingung.
"Begitu ya, lalu dari mana dia mendengar nama Gerbang suci," gumam Ken Panca dalam hati.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Wardhana penasaran.
"Lembu sora tadi malam sempat siuman, dia seperti bermimpi sesuatu sambil bergumam dan menyebut Gerbang suci," ucap Rubah Putih menjelaskan.
"Gerbang suci? selama aku menyelidiki Masalembo aku tidak menemukan satupun catatan yang menyebutkan mengenai gerbang suci," jawab Wardhana bingung.
"Apakah mungkin itu salah satu gerbang dimensi atau apapun milik Lakeswara?" tanya Rubah Putih.
Ken Panca menggeleng pelan, "Tidak, aku cukup yakin sudah menyelidiki seluruh catatan mengenai Masalembo dan Lakeswara, benar apa yang dikatakan tuan Wardhana, tidak ada.satupun catatan yang menyebut Gerbang suci. Apa itu hanya mimpi biasa tuan Sora?" balas Ken Panca.
"Sepertinya hanya Sora yang dapat menjawabnya ketika dia sadar," ucap Wardhana sambil duduk disebuah batu di ruangan itu.
"Sebenarnya ada hal lain yang ingin aku bicarakan dengan kalian."
Wardhana kemudian menjelaskan mengenai mundurnya Ciha dari posisinya di keraton secara tiba tiba dan juga tentang luka aneh yang didapatkan Ciha di dalam dimensi ruang dan waktu.
"Apa mungkin ada hubungannya dengan orang itu tuan?" tanya Wardhana pada Rubah Putih.
"Orang itu?" Ken Panca mengernyitkan dahinya.
"Saat Naga Api menarik kami keluar, aku merasa ada seseorang yang ikut keluar dari ruang dimensi, aku tidak tau apakah aku salah tapi energinya benar benar kurasakan dan menghilang di trowulan," jawab Rubah Putih.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini, Api di Bumi Majapahit kembali udpate setelah pertarungan Lakeswara dan Sabrang berakhir....
__ADS_1
dan Mulai hari ini ABM akan sedikit rutin Update walau belum sebanyak Pedang Naga Api...
Terima kasih atas segala dukungannya.....