Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Ancaman Sabrang Damar


__ADS_3

Wardhana tampak menarik nafasnya panjang saat melihat coretan coretan di gulungan yang dibuatnya. Dia terus berusaha mengingat sesuatu namun tak berhasil.


Udara malam yang sangat dingin dan menusuk tulang tak dihiraukannya sama sekali.


"Aku yakin pernah melihat formasi seperti ini, tapi dimana?" ucapnya dalam hati sambil memijat keningnya.


"Tuan Patih, dingin seperti ini tidak baik untuk kesehatan, sebaiknya anda masuk dan beristirahat," ucap Wijaya pelan sebelum duduk disebelah Wardhana.


"Kakang...kau belum tidur?" jawab Wardhana pelan.


"Bagaimana aku bisa tidur saat Patihku masih bekerja sampai larut malam seperti ini," balas Wijaya sambil tersenyum.


Wardhana hanya tersenyum sambil terus memperhatikan gulungannya, dia tau jika Wijaya sedang berusaha membujuknya untuk beristirahat.


"Kakang jangan khawatir, aku akan segera beristirahat setelah menyelesaikan semua ini. Masih ada yang ingin aku pastikan terlebih dahulu mengenai tempat ini," ucap Wardhana pelan.


"Apa itu tentang udara hangat yang terkadang muncul pada malam hari di tempat ini?" tanya Wijaya cepat.


"Apa kakang juga pernah merasakannya? aku sudah cukup lama duduk di tempat ini belum merasakan apapun," jawab Wardhana tertarik.


"Jika anda beruntung tak lama lagi kita akan merasakannya," balas Wijaya pelan.


"Jika aku beruntung? jadi maksud kakang udara hangat itu tidak terjadi setiap malam?"


"Aku tidak terlalu yakin tuan karena hampir setiap malam hujan selalu turun di tempat ini tapi jika langit sedang cerah dan hujan tidak turun udara pasti menghangat saat tengah malam," jawab Wijaya cepat.


"Suhu udara selalu menghangat saat tengah malam dan langit cerah?" kejar Wardhana.


"Awalnya aku tak terlalu memperhatikan semua kejanggalan yang kurasakan karena sejak awal tempat ini memang sudah aneh namun setelah beberapa hari aku berlatih sampai larut malam bersama tuan Rubah Putih keanehan itu mulai terasa. Udara pada malam hari di tempat ini memang turun tajam akibat tidak pernah terkena sinar matahari tapi jika anda memperhatikan, di waktu waktu tertentu suhu udara akan menghangat tiba tiba seolah seseorang sedang mengendalikannya dari jauh," jawab Wijaya pelan.


"Begitu ya..."


"Aku juga sempat merasa ada yang aneh dengan tempat ini tapi seperti yang dikatakan tuan Rubah Putih, hukum alam seolah tidak berlaku di sisi gelap alam semesta ini jadi aku tidak terlalu memikirkannya lagi."


"Beberapa tempat yang pernah aku datangi seperti markas sekte Api dan angin memang terbentuk secara alami walau dibeberapa beberapa bagian memang sengaja dibuat untuk menyembunyikan tempat itu tapi tempat ini terlalu aneh jika dianggap alami.


"Suhu udara yang tiba tiba menghangat di waktu waktu tertentu seperti yang kau ceritakan jelas seperti sebuah sistem pengendali suhu udara. Sistem seperti ini pernah pernah kulihat di ruang bawah tanah Nagari Siang padang dan Wentira, yang walaupun sudah terkubur lama tapi suhu udaranya masih terjaga dengan baik bahkan tidak ada sedikitpun kelembaban yang terlihat. Namun yang masih belum bisa aku mengerti adalah bagaimana membangun sistem pengendali udara di tempat terbuka seperti ini?"


"Jadi maksud anda, tempat ini?"


"Sisi Gelap alam semesta sepertinya bukan terbentuk secara alami, ada yang membuatnya untuk tujuan tertentu," jawab Wardhana pelan.


"Bukan terbentuk secara alami? tapi bagaimana mungkin tempat seluas ini...?" balas Wijaya terkejut.


"Untuk saat ini hanya itu yang bisa kukatakan, terlalu banyak misteri yang menyelimuti tempat ini dan aku masih bingung dari mana harus mengurainya," jawab Wardhana pelan sambil menghela nafas panjang. Dia masih memikirkan posisi gunung dan dinding tebing yang seperti pernah dilihatnya di suatu tempat.


"Kekuatan terbesarmu terletak pada ketenangan dalam berfikir dan aku mengakui itu tapi kau terkadang terlalu memaksakan diri yang justru membuatmu semakin jauh dari semua jawaban yang sedang kau cari. Kau mungkin memiliki kepintaran yang luar biasa dan bisa melakukan hal yang dianggap orang mustahil tapi harus di ingat jika kau juga manusia biasa yang memiliki banyak keterbatasan.


"Ken Panca sudah menceritakan semuanya padaku tentang kemungkinan keterkaitan sisi gelap alam semesta dengan peradaban terlarang dan jika ada orang yang bisa membongkar semuanya aku yakin kau orangnya. Beristirahatlah malam ini dan lupakan semua keanehan yang ada sini karena sepertinya kau sudah mencapai batasnya setelah perang besar dengan Arkantara. Aku yakin saat besok kau terbangun, Wardhana yang kukenal selama ini akan kembali," ucap Rubah Putih sambil berjalan mendekati Wardhana.


"Begitu ya... mungkin anda benar aku sudah mencapai batasnya tapi apa kita punya pilihan lain? kemunculan pendekar misterius dan juga hilangnya Mandala jelas bukan suatu kebetulan dan aku yakin semua berhubungan dengan peradaban terlarang. Jika sampai mereka menemukan rahasia itu lebih dulu, aku takut tak ada lagi yang bisa menghentikan mereka," jawab Wardhana pelan.


"Bukankah selama ini kita selalu bisa memenangkan pertarungan walau musuh telah unggul satu langkah di depan? Pertempuran dengan Arkantara adalah bukti paling nyata bagaimana ketenangan yang kau tunjukkan mampu membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, jadi jangan sampai kau kehilangan ketenangan dan fokus saja pada apa yang menjadi tugasmu, serahkan Mandala dan pendekar misterius itu padaku," balas Rubah Putih cepat.


"Apa yang dikatakan tuan Rubah Putih benar, anda baru saja sampai di tempat ini, jadi sebaiknya istirahatkan tubuh anda terlebih dulu sebelum memulai untuk mengurai semua rahasia ditempat ini," sahut Wijaya pelan.


Wardhana terdiam saat tersadar hampir melakukan kesalahan besar. Setelah perang besar yang membuat namanya melambung tinggi, dia seolah merasa menanggung semua beban sendirian dan melupakan jika dalam perang kemarin kunci utama justru terletak pada kekuatan Rubah Putih dan pergerakan pasukan yang dipimpin Tungga Dewi.

__ADS_1


"Aku benar benar bodoh dan hampir melakukan kesalahan untuk kedua kalinya," ucap Wardhana sambil bangkit dari duduknya dan memberi hormat pada Rubah Putih.


"Anda benar tuan, terima kasih sudah mengingatkanku."


Saat Wardhana akan melangkah masuk ke gubuk kecil untuk beristirahat, suhu udara disekitar mereka tiba tiba mulai menghangat.


"Tuan, suhu ini?..." ucap Wardhana cepat.


"Sesekali memang sering terjadi seperti ini dan aku menganggap jika itu hanya satu dari sekian keanehan sisi Gelap alam semesta, tapi jika kau menganggap ini ada hubungannya dengan peradaban terlarang aku akan mengantarmu ke pusat hawa panas ini berada," jawab Rubah Putih cepat.


"Apa letaknya jauh dari sini?" kejar Wardhana.


"Kalau aku tidak salah ada lima titik dan titik terdekat berada di dekat sini," balas Rubah Putih.


"Lima titik? apa semuanya berada di dekat sungai yang mengelilingi tempat ini?" tanya Wardhana.


"Bagaimana kau bisa tau? hampir semua titik panas itu berada di dekat sungai."


"Sudah kuduga tempat ini memang berhubungan dengan Lemuria dan jika perkiraan ku tepat kita akan menemukan petunjuk di titik panas itu. Tuan tolong hantarkan aku ke titik terdekat sebelum udara panas ini menghilang kembali," ucap Wardhana cepat.


"Berpegangan yang kuat, ini mungkin akan sedikit membuat nafas mu sesak," ucap Rubah putih sebelum menyambar tubuh Wardhana dan melompat tinggi kesebuah pohon dan bergerak cepat di dalam gelap.


Darah Wardhana seolah naik keatas kepala dan nafasnya mulai berat, bergerak dengan kecepatan tinggi di udara yang cukup tipis membuatnya sedikit kesulitan bernafas.


Saat tubuh Rubah Putih kembali melompat tinggi untuk melihat dimana letak sungai terdekat, wajah Wardhana tiba tiba berubah ketika melihat posisi gunung dan tebing pembatas dari udara.


"Posisi ini? aku ingat... ini Gerbang ketiga dan Lembah merah Dieng...apa mungkin...." Wardhana semakin terkejut saat melihat air sungai yang mengeluarkan gelembung gelembung panas.


***


Situasi semakin rumit bagi Tantri karena saat ini Wulan sedang pergi bersama Ageng ke keraton untuk bertemu dengan Mentari.


Tantri awalnya mengira mereka sedang berlatih tanding karena Wulan sebelum pergi berpesan untuk berlatih sendiri sementara waktu sampai semua anggota baru Hibata berkumpul namun setelah melihat serangan dan tenaga dalam yang digunakan, dia sadar kedua pendekar muda itu benar benar sedang berusaha saling membunuh.


Apa yang ditakutkan Ageng sepertinya benar benar terjadi, para pendekar muda berbakat yang diutus sekte aliansi lebih mementingkan diri sendiri dan sulit disatukan karena mereka sudah terbiasa mendapatkan perlakuan berbeda di sekte masing masing akibat bakat yang dimiliki.


Jika Minak Jinggo suka berbuat semaunya sendiri yang terkadang membuat situasi menjadi kacau, Wicaksana yang sedang dipersiapkan Wardhana dan Brajamusti terlalu mudah tersinggung dan menganggap dirinya paling hebat.


Sedangkan beberapa pendekar muda yang diutus Cakra tumapel, Rajawali emas dan beberapa sekte kecil aliran putih terlihat tidak ingin ikut campur dan lebih memilih melihat pertarungan dari jauh. Hanya Tantri yang merupakan murid kesayangan Teratai Merah yang terlihat dewasa.


"Kau pikir bisa mengalahkan aku dengan jurus itu? tanpa Yang mulia, sekte Pedang Naga Api tak akan pernah terdengar di dunia persilatan," ejek Wicaksana sambil melepaskan jurus jurus andalan Angin Biru.


"Aku paling membenci orang sepertimu yang terlalu mengandalkan nama besar, akan aku buktikan seberapa kuat sekte Pedang Naga Api walau tanpa dia sekalipun," Minak Jinggo yang tersulut emosinya karena ejekan Wicaksana langsung melepaskan jurus andalannya.


Melihat pertarungan makin berbahaya, Tantri terpaksa ikut campur, dia tidak ingin dua pendekar muda harapan aliran putih saling bunuh dihadapannya.


"Sial! kalian benar benar Seperti anak kecil," umpat Tantri sebelum bergerak masuk kedalam pertarungan.


Minak Jinggo dan Wicaksana tampak terkejut saat melihat Tantri tiba tiba bergerak mendekat, beberapa pendekar muda yang sejak awal hanya melihat pertarungan pun bahkan berusaha mencegahnya namun terlambat karena dalam sekejap gadis itu sudah masuk pertarungan.


Masuk kedalam pertarungan dua kekuatan besar secara tiba tiba sangat berbahaya karena benturan tenaga dalam dari tiga arah bisa melukai mereka bertiga tapi Tantri tidak punya pilihan lain, yang ada dalam pikirannya saat ini hanya menghentikan pertarungan itu.


"Apa dia sudah gila? kita semua bisa terluka akibat kebodohannya," ucap Minak Jinggo terkejut, dia berusaha menarik kembali jurus pedang Api abadi yang digunakannya namun sudah terlambat.


Sedangkan Wicaksana juga tak bisa berbuat banyak, dia sudah mengerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya untuk menyerang Minak Jinggo.


Aura yang meluap dari tubuh ketiga pendekar itu mulai bergesekan di udara yang membuat tubuh ketiganya semakin sulit bergerak.

__ADS_1


"Hentikan!" teriak Tantri sekuat tenaga saat melihat dua pusaka Wicaksana dan Minak Jinggo hampir berbenturan.


Suasana semakin tegang dan mencekam, belasan pendekar yang sedang menonton pertarungan tampak mulai menjauh karena sadar tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk menghentikan pertarungan itu.


Saat semua sudah pasrah dan kedua pedang hampir berbenturan, sesosok tubuh muncul ditengah pertarungan dan mencengkram pedang keduanya.


"Dasar bodoh! jika ingin mati bukan di sini tempatnya!" bentak pendekar itu sambil menyerap seluruh tenaga dalam di kedua pedang Wicaksana dan Minak Jinggo.


"Tenaga dalam milikku terhisap dengan cepat? bagaimana mungkin?" Wicaksana berusaha menarik pedangnya sekuat tenaga tapi tak berhasil.


Minak Jinggo tak kalah terkejut, energi yang mengalir di dalam pedangnya bukan sembarangan dan sangat panas tapi pendekar muda itu menghisapnya seolah tidak merasakan apapun.


"Gendis!" teriak Sabrang sebelum menancapkan kedua pedang di tangannya ke tanah untuk menyalurkan ledakan energi kedalam tanah.


"Yang mulia?" Tantri tersentak kaget saat mengenali suara dari balik topeng itu, dia kemudian berusaha menggerakkan tubuhnya untuk melompat mundur namun tak berhasil, gesekan tenaga dalam disekitar area pertarungan menjadi semakin kuat karena tekanan aura Sabrang.


"Apa kau akan diam saja bodoh?" Gendis tiba tiba muncul dan menyambar tubuh Tantri sebelum melompat sejauh mungkin.


Sebuah ledakan besar disertai getaran tanah tiba tiba terdengar di udara saat Sabrang melepaskan semua energi yang diserapnya kedalam tanah.


Tubuh Wicaksana dan Minak Jinggo terlempar cukup jauh sebelum Elang dan Winara menahan tubuh mereka berdua dan membuat perisai pelindung dengan tenaga dalam.


"Kekuatan ini? apa dia manusia?" ucap Minak Jinggo saat melihat aura yang meluap dari tubuh Sabrang.


"Jurus Pedang Api abadi tingkat Lima, apa kau tau seberapa berbahaya jurus itu," tubuh Sabrang tiba tiba menghilang dari pusat ledakan dan muncul kembali tepat dihadapan Minak Jinggo.


"Cepat sekali," Minak Jinggo berusaha melompat mundur namun terlambat karena lengan Sabrang sudah mencengkram lehernya.


Minak Jinggo tidak tinggal diam, dia mengalirkan tenaga dalam ke tangan kanannya dan berusaha memukul wajah Sabrang.


"Tapak peregang sukma? bagaimana murid sekte Pedang Naga Api bisa menguasai jurus tapak Iblis hitam? kau jauh lebih menarik dari yang kupikirkan," Sabrang memutar tubuhnya dan membanting Minak Jinggo ke tanah sebelum mengunci lengan kanan lawannya dengan bongkahan es.


"Jurus tapak itu sangat berbahaya, kau harus menggunakannya dengan hati hati," ucap Sabrang sambil melepaskan cengkeramannya.


"Benarkah? bagaimana jika kau merasakan sendiri kekuatannya," Minak Jinggo memindahkan jurus tapak peregang sukma ke tangan kirinya dengan sangat cepat sebelum menempelkan lengannya di dada Sabrang.


"Yang mulia!" teriak Tantri khawatir saat energi hitam menyelimuti lengan kiri Minak Jinggo.


"Sepertinya banyak hal yang harus aku ajarkan padamu agar kau lebih bertanggung jawab dan tidak menggunakan kekuatanmu hanya untuk bersenang senang," Sabrang mencengkram lengan kiri Minak Jinggo tepat sebelum dia melepaskan jurus tapaknya.


Wajah Minak Jinggo berubah seketika saat energi panas masuk ke tubuhnya dengan cepat dan mengacaukan seluruh tenaga dalamnya. Dia menjerit kesakitan sambil berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Sabrang.


"Jadi dia adalah murid yang sering diceritakan guru...kekuatannya benar benar mengerikan," ucap Minak Jinggo sebelum hilang kesadaran.


Semua terdiam dan tidak ada yang berani bergerak sedikitpun setelah melihat kekuatan Sabrang, sebagian pendekar muda termasuk Winara bahkan sampai menahan nafasnya.


"Kalian aku kumpulkan bukan untuk saling membunuh, jika ada yang merasa lebih kuat dari yang lainnya majulah, akan aku tunjukkan apa itu kekuatan!" ancam Sabrang dingin.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kemarin sempat terjadi demo besar besaran karena PNA tidap Update dan sebagai permintaan maaf hari ini saya kasih chapter yang lebih panjang.


Mohon maaf jika kalian menunggu dan sedikit kecewa karena kemarin ada pekerjaan yang benar benar tidak bisa saya tinggalkan.


Terakhir Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan selama masa pandemi ini...amin...


Vote nya jangan lupa...

__ADS_1


__ADS_2