Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Rakiti Sang Pertapa Aneh


__ADS_3

Sabrang dan yang lainnya mulai memasuki lereng bukit Cetho. Pemandangan alam yang indah berupa hutan dengan pepohonan menjulang tinggi seolah menyambut mereka.


Samar samar Gemercik air terdengar ditelinga mereka menandakan tak jauh dari mereka berada terdapat sebuah air terjun.


Raut wajah Mentari terlihat bersemangat membayangkan air yang begitu sejuk di tenggorokan.


Lingga menggelengkan kepalanya dan meningkatkan kewaspadaannya. "Alam yang begitu indah biasanya menyembunyikan sesuatu yang sangat mengerikan". Dia bergumam dalam hati.


Setelah mereka masuk cukup jauh tiba tiba sikap Sabrang tiba tiba waspada dan menarik Mentari kebelakang punggungnya.


Begitupun dengan Lingga, tangannya telah memegang gagang pedangnya.


"Ada yang memperhatikan kita cukup lama sejak masuk ke hutan ini". Lingga berbicara pelan.


"Tak kusangka dunia persilatan sudah berkembang begitu pesat, kalian terlihat masih muda namun ilmu kanuragan yang kalian miliki cukup tinggi". Seorang kakek tua berambut putih terlihat muncul dari salah satu pohon yang tinggi dan melayang di udara.


"Tuan muda.....". Mentari berbisik pada Sabrang.


"Aku tau". Sabrang mengatur nafasnya, aura yang muncul dari tubuh kakek tua itu benar benar menakutkan.


"Tenaga dalam satadanawa, kau harus berhati hati". Anom tiba tiba berbicara.


"Satadanawa?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Satadanawa adalah ilmu tenaga dalam tingkat tinggi yang diciptakan Ken Panca sebelum dia menciptakan 5 pusaka Dieng. Satadanawa menyerap energi alam dan merubahnya menjadi tenaga dalam, pemilik ilmu ini akan memiliki tenaga dalam yang tak terbatas karena sumber tenaga dalamnya berasal dari alam disekitarnya".


"Hei nak, kau tau seberapa berbahaya pedang yang kau bawa itu?". Kakek tua itu bertanya pada Sabrang.


"Hampir semua orang mengatakan demikian kek". Sabrang tersenyum kecut, semua orang yang bertemu dengannya selalu mengatakan jika Naga Api sangat berbahaya.


"Lalu kenapa masih kau bawa kemana mana?". Suara kakek itu mulai meninggi.


"Karena ini pedangku".


Kakek tua itu terkekeh mendengar jawaban Sabrang "Nak, banyak pedang dengan kualitas terbaik di dunia persilatan, aku yakin kau akan menemukan yang cocok untukmu. Berikan pedangmu padaku, aku akan menyegelnya di tempat rahasia, kau bisa percaya padaku karena jika aku memang menginginkannya aku bisa merebutnya dari mu saat ini".


"Maaf kek sepertinya aku tidak bisa menyerahkannya pada anda". Sabrang berkata pelan.


Kakek tua itu menggeleng pelan "Sangat disayangkan kau terlalu keras kepala nak, aku terpaksa merebutnya darimu".


Tiba tiba aura biru meluap dari tubuh kakek itu membuat Sabrang terdorong beberapa langkah.


"Sudah lama aku tidak merasakan sensasi tenaga dalam Satanadawa". Naga api menyeringai.

__ADS_1


Tak lama kobaran api merah darah menyelimuti tubuh Sabrang membuat Kakek itu sedikit terkejut.


"Pedang itu memilihmu? Menarik". Ketika kakek itu bersiap menyerang tiba tiba Lingga melesat maju.


"Tetua mohon bersabar, Ketua Kertasura memintaku menemuimu".


"Kertasura? siapa kau?".


"Namaku Lingga tetua, aku pendekar Iblis hitam. Hormat pada tetua pertapa Cetho Tuan Rakiti". Lingga menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Lalu bocah ini?". Kakek itu menatap Sabrang.


"Dia murid Suliwa dari Sekte Pedang Naga api". Lingga menjelaskan.


Kakek tua itu terlihat mengernyitkan dahinya "Aliran putih dan hitam bergerak bersama? apakah aku terlalu lama meninggalkan dunia persilatan?". Perlahan aura biru ditubuh kakek itu menghilang.


"Hei beri hormat pada tetua Rakiti". Lingga berbicara pada Sabrang.


"Rakitii? Ah maaf kek aku tidak mengenali kakek"?. Sabrang menundukkan kepalanya. Aura ditubuhnya pun sudah menghilang.


"Kau mengenalku?".


"Bibi memberitahuku untuk menemui anda jika ingin bertanya tentang Dieng". Sabrang tersenyum canggung.


"Dia ketua sekte Tapak es utara kek". Jawab Sabrang.


"Ah Mantili, sudah lama aku tidak mendengar kabarnya. Ayo ikut denganku, ada yang ingin aku bicarakan pada kalian". Rakiti melesat cepat di antara pepohonan diikuti Sabrang dan lainnya.


***


"Jadi bagaimana bisa Kertasura dan Suliwa kini berkerja sama?". Rakiti terkekeh pelan.


"Semua karena kebangkitan kembali Lembah siluman tetua". Lingga berkata pelan.


"Lembah siluman ya". Ucap Rakiti pelan.


"Benar tetua, Saat ini mereka telah bangkit kembali dan kami yakin mereka mengincar Pusaka terakhir milik Ken Panca Suling raja setan yang disegel didalam gerbang kegelapan.


Ketua bersama tuan Suliwa memutuskan menghentikan perselisihan sementara waktu untuk menghentikan Lembah siluman". Lingga menjelaskan.


"Menghentikan perselisihan sementara waktu?". Rakiti tertawa mengejek sebelum melanjutkan ucapannya.


"Kau tau kenapa aku mundur dari dunia persilatan?. Aku sangat muak dengan segala kepalsuan di dunia persilatan, Kalian membentuk aliran putih dan hitam atas nama kebenaran yang kalian yakini namun sebenarnya hanya kedok untuk menutupi hasrat kalian berkuasa.

__ADS_1


Kalian membuat pembenaran atas tindakan dan ambisi kalian akan sesuatu dengan membentuk sebuah aliran. Apakah semua aliran putih baik? Banyak kelompok mengaku sebagai aliran putih namun kelakuannya seperti Iblis begitu juga sebaliknya.


Kertasura dan Suliwa merupakan simbol dari dua aliran yang mereka pimpin namun apakah kalian yakin di dalam hati mereka tidak mempunyai ambisi pribadi? Kalian hanya dijadikan alat untuk ambisi mereka. Jawab aku!". Rakiti membentak mereka berdua.


Sabrang dan Lingga saling tatap namun tidak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan Rakiti. Bahkan Mentari yang duduk agak jauh dari mereka ikut terdiam.


Apa yang dikatakan Rakiti semua benar, dia pernah hampir mati ditangan ketua sekte aliran putih karena tidak mau menuruti keinginan ketua sekte itu.


"Aku tidak pernah membenarkan ambisi Lembah siluman untuk menguasai pusaka Suling raja setan ataupun keinginan mereka untuk menguasai dunia persilatan namun menurutku dunia persilatanlah yang menciptakan Lembah siluman. Aturan dunia persilatan saat ini adalah siapa yang menang maka dia yang berkuasa dan siapa yang kuat maka dialah yang menentukan benar atau salah.


Akhirnya semua pendekar termasuk Lembah siluman berlomba lomba menjadi kuat apapun caranya termasuk mencari keberadaan Dieng.


Yang maha memberi hidup menegur kita semua untuk bisa mengendalikan ambisi kita dan lebih perduli pada sesama dengan mengirimkan Lembah siluman di dunia persilatan. Jika kalian terus berkubang dengan ambisi dan mengatasnamakan kebenaran, saat nanti kalian berhasil menghancurkan Lembah siluman maka kalian akan menjadi Lembah siluman yang baru. Semua akan terus berputar seperti itu".


"Aku semakin bingung". Sabrang menggaruk kepalanya membuat Rakiti tersenyum melihat tingkahnya.


"Kau masih sangat muda nak namun dianugerahi bakat yang sangat tinggi, Ikuti kata hatimu dan kendalikan ambisimu. Semua manusia pasti punya ambisi namun bagaimana kita mengendalikannya. Aku tidak mengatakan Kertasura dan Suliwa adalah orang jahat, aku hanya ingin kau memikirkan suatu masalah dengan sudut pandangmu sendiri dan gunakan hatimu, apalagi kau membawa pusaka yang dapat mengendalikan pikiranmu. Jangan biarkan dia mengendalikanmu ".


"Lalu apa tujuan kalian kemari?".


"Aku ingin mencari sekte Bintang langit kek". Jawab Sabrang.


"Sekte bintang langit? ada perlu apa kalian dengan mereka?". Rakiti mengernyitkan dahinya.


"Untuk menghentikan Lembah siluman".


"Kau yakin ingin pergi ke Dieng? Saat aku berhasil masuk ke Dieng aku baru menyadari kenapa Ken Panca berusaha sekuat tenaga menyembunyikan tempat itu. Urungkan niat kalian sebelum terlambat, jika kau ingin menghentikan Lembah siluman aku akan membantumu".


"Tapi kek....". Belum selesai Sabrang berbicara Rakiti telah memotong ucapannya.


"Sudah kubilang lupakan!". Tiba tiba Rakiti membentak Sabrang.


Saat Sabrang berusaha menjelaskan maksudnya Lingga menahannya.


"Beristirahatlah, aku akan mencari makan malam untuk kalian". Rakiti menatap dingin Sabrang sebelum pergi meninggalkan mereka.


"Kenapa kau mencegahku untuk meyakinkannya?" Sabrang mendengus kesal saat Rakiti sudah pergi.


"Kau tidak melihat raut wajahnya berubah saat dia bicara tentang Dieng?. Ada sesuatu yang sangat menakutkan yang dilihatnya disana".


"Kau takut?". Sabrang tersenyum sinis.


"Aku sudah lupa rasanya takut saat Ketua mengajariku ilmu kanuragan dengan sangat keras namun seperti yang dikatakan tetua Rakiti, gunakan kepala dan hatimu saat memutuskan sesuatu. Masih banyak waktu untuk kita berfikir dan menyakinkannya, jadi jangan terlalu memaksakan kehendakmu".

__ADS_1


__ADS_2