
Jagratara melihat kesekelilingnya, terlihat para pendekar bertopeng mematung setelah melihat teman mereka tewas seketika hanya dalam satu serangan. Satu serangan cepat yang dilancarkan Lingga membuat semangat bertarung mereka runtuh.
"Siapa pendekar ini sebenarnya". Gumam Jagratara dalam hati.
"Tuan bukankah ini sangat berlebihan? aku hanya ingin menegakkan aturan sekte kami dan tak ada niat sama sekali mengusik anda". Jagratara berusahan bersikap sopan pada Lingga.
Dia sangat mengerti kecepatan para pendekar bertopeng yang dilatih Daniswara. Mereka dilatih dengan sangat keras puluhan tahun untuk rencana hari ini namun mereka seperti tak berdaya dihadapan Lingga.
"Aku akan membunuh jika aku ingin membunuh dengan atau tanpa alasan". Lingga tersenyum dingin.
Senyum ramah Jagratara hilang seketika saat melihat aura hitam meluap dari tubuh Lingga, tak terlihat sedikitpun sikap Lingga yang menunjukan akan mengakhiri pertarungan ini.
Jagratara menghela nafas panjang, dia menyilangkan pedang kembarnya di depan dan siap menyerang Lingga.
"Begitu lebih baik". Lingga bergerak dengan kecepatan tinggi dan melepaskan beberapa tebasan pedang kearah Jagratara yang juga bergerak maju menyambut serangan Lingga.
Melihat keduanya bertukar jurus dengan cepat pendekar bertopeng yang tersisa bergerak mengepung Mentari. Mereka merasa masih memiliki kesempatan menang jika berhadapan dengan Mentari.
"Sepertinya memang tidak ada waktu beristirahat". Mentari mulai merapal jurusnya.
Suara benturan pedang terdengar keras saat keduanya beradu jurus. Setelah bertukar belasan jurus mulai terlihat kecepatan Lingga lebih unggul.
Lingga berhasil mendaratkan beberapa tebasan di tubuh Jagratara.
"Pelindung tenaga dalam?". Lingga mengernyitkan dahinya sesaat sebelum mengambil jarak dari Jagratara. Tebasan pedang Lingga tidak mampu melukai tubuh Jagratara yang dilindungi serat pelindung bintang langit.
"Apa kau sudah sadar perbedaan kekuatan kita?". Jagratara tersenyum angkuh setelah serangan Lingga tidak mampu menembus serat pelindungnya.
Lingga tidak menjawab ejekan Jagratara, dia kembali menyerang dan terus meningkatkan kecepatannya. Kali ini serangan Lingga fokus disatu titik, dia selalu menebas dibagian perut Jagratata.
Seperti menyadari sesuatu Jagratara melompat mundur dengan tangan memegang bagian perutnya.
Walaupun tubuhnya dilindungi serat pelindung namun efek serangan Lingga yang berkali kali mengenai tempat yang sama membuat perutnya merasakan sakit.
"Kurang ajar dia menyerangku di titik yang sama".
"Mungkin pelindung tenaga dalammu bisa melindungi tubuhmu dari tajamnya pedangku namun tidak dari efek kejut seranganku". Lingga tersenyum dingin sesaat sebelum kembali menyerang Jagratara.
***
Ciha terlihat mengetuk ngetuk dinding gua dengan batu ditangannya. Dia merasa ada yang aneh dengan goresan yang dibuatnya didinding.
"Apa kau menemukan sesuatu?". Sabrang yang duduk bersila tak jauh darinya bertanya pelan.
Ciha menggeleng pelan "Aku tidak yakin namun guratan ini sepertinya berubah, setiap kali kita berjalan dan kembali ketempat ini aku merasa guratan ini bergeser".
"Maksudmu batu ini bergeser sendiri?". Sabrang hampir tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Ada sebuah segel kuno yang digunakan leluhur kami untuk menyamarkan tempat persembunyian dari musuh".
"Apa ilmu seperti itu benar benar ada?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Apakah kau akan percaya jika manusia bisa hidup ratusan tahun sebelum bertemu denganku?". Ciha terus mengetuk ngetuk dinding gua.
Sabrang menghela nafas panjang. Sejak masuk ke sekte Bintang langit dia memang selalu bertemu dengan hal hal aneh yang tidak masuk akal.
"Lalu apa rencana kita? Sudah lama kita berdiam diri disini".
"Kau dengar ini". Ciha mengetuk dinding itu lebih keras. "Hanya dibagian ini saja ketukan terdengar lebih keras, ini menandakan lapisan batu ini tipis dan aku yakin pintu keluar tersembunyi dibalik batu ini. Kita hanya perlu mencari cara untuk membuka segel ini".
"Kau yakin di sana pintu keluar?". Sabrang terlihat antusias.
"Itu kemungkinan terbesar menurutku, aku hanya perlu memikirkan bagaimana membuka segel ini".
"Jika batu itu kusingkirkan apa kita bisa keluar?". Tanya Sabrang pelan.
"Apa yang kau rencanakan?". Ciha bertanya dengan wajah khawatir seolah tau isi kepala Sabrang.
Beberapa saat kemudian firasatnya menjadi menyataan saat suhu udara naik dengan cepat.
"Sial". Ciha melompat sejauh mungkin dari dinding gua.
"Jurus api abadi tingkat 14 : Energi Naga api".
Ledakan besar terjadi saat api itu menghantam dinding gua dan membuat sebuah lubang besar menganga.
"Seharusnya dari tadi kau katakan jika dibalik batu ini adalah pintu keluarnya". Sabrang melangkah masuk kelubang yang dibuatnya diikuti Ciha yang menatap ngeri lubang itu.
"Sepertinya segel seperti ini tidak berlaku untuknya". Ciha bergumam dalam hati.
***
Jagratara kembali terpental setelah terkena serangan telak Lingga.
"Sepertinya pelindung tenaga dalammu mulai menipis, sebentar lagi kau akan merasakan tajamnya pedangku". Lingga mengangkat pedangnya keatas, tak lama aura hitam menyelimuti pedangnya,
Jagratara menelan ludahnya merasakan tekanan aura dari pedang Lingga. Dia kembali menyilangkan pedangnya dan mengalirkan tenaga dalam ke pedang yang digenggamnya.
Jagratara berusaha menangkis serangan yang semakin cepat mengarah padanya namun tetap saja ada beberapa tebasan yang mengenai perutnya. Dia terlihat terpojok menghadapi jurus pedang Lingga yang pola serangannya selalu berubah. Jagratara benar benar dibuat bertahan tanpa bisa menyerang.
Tiba tiba Lingga melompat mundur ketika memiliki kesempatan untuk terus menekan Jagratara.
"Apa yang direncanakannya?". Jagratara memanfaatkan kesempatan itu untuk mengatur nafasnya kembali.
Lingga memutar pedangnya kedepan, tangan kirinya memegang punggung pedang sedangkan tangan kanannya menarik gagang pedang tepat di depan matanya seperti sedang membidik Jagratara.
__ADS_1
Lingga terlihat tersenyum sesaat sebelum tubuhnya menghilang dari pandangan. Jantung Jagratara sesaat berhenti saat melihat senyum dingin terbentuk di bibir Lingga.
"Pedang tunggal terbang ke langit tingkat II". Lingga menyerang dengan cepat sesaat setelah dia muncul dibelakang Jagratara.
Jagratara berusaha menghindari serangan itu dengan sekuat tenaga namun rasa sakit yang luar biasa dipunggungnya membuat dia sadar jika dia terlambat menghindar.
Tubuh Jagratara terlempar keudara akibat serangan Pedang tunggal terbang kelangit milik Lingga.
"Kau beruntung merasakan jurusku untuk pertama kalinya. Jurus ini kupersiapkan untuk melawan anak itu".
Lingga menyarungkan pedangnya setelah tubuh Jagratara jatuh ke tanah.
Jagratara mencoba menggerakan tubuhnya namun tidak berhasil, seluruh tubuhnya terasa kaku. Jika dia tidak menggunakan serat pelindung mungkin tubuhnya telah terbelah dua.
Lingga menoleh kearah Mentari yang masih bertarung dengan pendekar bertopeng. Lingga terlihat kagum dengan kemajuan pesat ilmu kanuragan Mentari. Tidak mudah mendesak pendekar bertopeng itu karena Lingga tau seberapa cepat mereka saat menebas salah satu pendekar itu.
Saat Lingga memutuskan untuk membantu Mentari tiba tiba sebuah bayangan melesat cepat kearahnya. Serangan tiba tiba itu membuat Lingga terlambat bereaksi. Sebuah pukulan tepat mengenai dadanya, beruntung disaat terakhir dia sempat membuat pelindung tenaga dalam. Tubuh Lingga terdorong beberapa langkah akibat serangan tersebut.
"Panca geni?". Lingga merasakan dadanya terbakar.
"Aku benar benar terkejut tubuhmu bisa menerima tenaga dalamku". Daniswara menatap kagum Lingga, tak semua pendekar bisa menerima serangan ilmu Panca geni. Tak lama puluhan pendekar muncul dan mengepung Lingga.
Lingga tersentak kaget saat melihat seorang pria paruh baya berdiri disebelah Daniswara.
"Kau!". Lingga mengepalkan tangannya menahan amarah menatap pria yang tersenyum dingin padanya.
"Kau terkejut melihatku masih hidup?". Pria tua itu tersenyum puas.
"Harusnya dulu kucabik cabik tubuhmu saat kuhancurkan Sekte jati merahmu". Lingga menatap tajam pria yang telah membunuh keluarganya. Jika dadanya tidak terluka akibat ilmu Panca geni milik Daniswara sudah dari tadi dia mengambil kepala Pandya.
Dia cukup terkejut melihat Pandya masih hidup, dia ingat betul sebuah tebasan pedangnya mengakhiri perlawana Pandya.
"Deg". Sesaat Jantung Lingga berdegub kencang dan nafasnya tersenggal ketika merasakan sebuah energi besar mendekati mereka.
"Apa kau takut?". Pandya tertawa mengejek Lingga.
"Kalianlah yang harusnya takut, seluruh tubuhku bahkan bereaksi terhadap kekuatannya". Raut wajah Lingga berubah seketika, dia seperi sedang ketakutan pada sesuatu.
Insting dan pengalaman bertarungnya membuat tubuhnya peka dan bereaksi pada kekuatan besar.
Pandya mengernyitkan dahinya tak mengerti apa maksud ucapan Lingga namun tidak dengan Daniswara. Ilmu Panca geni membuat tubuhnya bisa merasakan tenaga dalam seseorang dan kali ini dia merasakan kekuatan yang sangat besar mendekati mereka.
"Sepertinya aku belum terlambat". Suara Sabrang mengagetkan semua yang ada di area pertempuran.
Butuh waktu bagi Mentari untuk mengenali sosok pemuda yang diselimuti kobaran api merah itu.
"Syukurlah anda selamat tuan muda". Mentari berkata lirih.
__ADS_1