
Lingga melesat cepat membelah rimbunnya hutan Swarnadwipa diikuti Wardhana dan yang lainnya. Dia terlihat berhenti sejenak saat menemukan sebuah pohon yang paling tinggi.
Lingga menarik nafas panjang sebelum mulai melompat naik keatas pohon itu. Dia bergerak lincah dan dalam waktu singkat sudah berada diatas pohon. Dia mulai menajamkan matanya dan menoleh kesegala arah mencari tanda tanda keberadaan Sabrang.
Raut wajahnya berubah ketika melihat sesuatu dikejauhan.
"Kau menemukan Yang mulia?". Tanya Wardhana ketika melihat perubahan wajah Lingga.
Lingga menggeleng pelan sambil terus mengingat letak beberapa buah bangunan yang tersembunyi dilereng gunung.
"Aku tidak menemukan tanda tanda keberadaannya namun sepertinya aku tau siapa yang menyebabkan anak itu menghilang". Lingga turun perlahan dan menjelaskan pada Wardhana jika dia melihat sebuah pemukiman aneh.
"Pemukiman aneh?". Wardhana mengernyitkan dahinya.
"Beberapa bangunan terlihat terlalu kecil untuk ukuran manusia, sebaiknya kita memeriksa tempat itu untuk memastikannya".
Mereka bergerak sesuai petunjuk Lingga namun Wardhana meminta Lingga begerak didepan karena tidak tau sambutan apa yang akan mereka terima, sementara Arung bertugas sebagai kartu as yang akan menyerang tiba tiba jika keadaan tak terkendali. Arung melompat dari satu pohon kepohon lainnya menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Lingga tiba tiba mencabut pedangnya dan mengeluarkan jurus tarian iblis pedang ketika dua buah pohon tiba tiba roboh dan hampir mengenainya. Gerakan pedangnya membuat pohon besar itu hancur berkeping keping.
"Sebaiknya kalian berhati hati, sambutan mereka tidak bersahabat".
Wardhana memberi tanda pada Arung yang bersembunyi diatas pohon untuk bersiap ketika puluhan pendekar kerdil muncul dan mengepung mereka.
Ciha yang tidak menguasai ilmu kanuragan apapun memilih mundur dan mengamati dari jauh pertarungan Lingga dan para pendekar kerdil itu.
Jurus pedang tunggal terbang kelangit milik Lingga benar benar membuat pendekar hutan dalam kocar kacir. Kecepatan, variasi gerakannya yang semakin mematikan tak mampu dihentikan mereka.
Ditambah serangan kejutan dari atas pohon dan ilmu kanuragan Wardhana yang terus meningkat membuat para pendekar Huta dalam kewalahan.
Dari pertarungan ini Lingga akhirnya mengerti mengapa dia tidak merasakan tenaga dalam saat masuk kehutan ini. Para pendekar hutan darah mengandalkan kekuatan fisik dalam bertarung.
Lingga bergerak cepat dan mencengkram salah satu pendekar Hutan dalam yang melompat kearahnya sambil memutar pedangnya untuk menyerang pendekar lainnya.
"Hentikan!". Teriak Lenny sambil melepaskan aura membunuhnya saat muncul dari udara. Dia terlihat melayang sebelum mendarat tepat dihadapan Lingga.
Para pendekar Hutan dalam serentak mundur setelah mendengar perintah ketuanya.
"Siapa kau?". Tanya Lingga dingin, lengannya masih mencengkram leher salah satu pendekar Hutan dalam.
"Aku ketua suku Hutan dalam, Emmy. Apa kita memiliki masalah tuan? kulihat anda bukan berasal dari Swarnadwipa". Ucap Lenny sopan.
"Tak penting siapa kami, aku hanya ingin bertanya apa kalian menangkap teman kami?". Ucap Lingga sambil menyebutkan ciri ciri Sabrang dan Emmy.
Lenny tersentak kaget mendengar pertanyaan Lingga namun berusaha menutupinya. Dia kembali teringat laporan Parbo jika ada sepasang pendekar yang jatuh kedalam sumur tanpa dasar.
"Aku tidak mengerti tuan, kami tidak melihat ada orang baru beberapa hari ini".
Wardhana dan Arung mendekat untuk menenangkan Lingga karena tiba tiba Lingga melepaskan aura hitam pekat untuk mengancam Lenny.
Lenny menelan ludahnya saat menerima tekanan Lingga namun dia berusaha tetap tenang.
"Anda mengancamku diwilayah kekuasaanku?". Lenny menggertak Lingga, dia masih ingin menghindari pertarungan dengan pendekar dihadapannya itu mengingat kemampuan Lingga yang sedikit diatasnya.
__ADS_1
"Bukan sifatku berbasa basi seperti itu, jika kukatakan bunuh maka aku akan membunuh siapapun yang mencoba menghalangiku". Lingga tiba tiba menggerakan pedangnya dan dalam hitungan detik pendekar Hutan Dalam yang berada dalam cengkraman nya meregang nyawa saat kepalanya terpisah dari tubuhnya.
Cipratan darah menyembur kewajah Lingga membuat wajahnya makin menyeramkan.
Semua pendekar Hutan Dalam terdiam melihat kekejaman Lingga termasuk Lenny. Dia tidak menyangka Lingga membunuh orang dengan sangat mudah sambil tersenyum seolah menikmatinya.
"Aku tanya sekali lagi walau aku yakin kalian gak akan mampu melawannya, apa kalian melihat orang yang kucari?".
Lenny menggeleng pelan, dia sadar kali ini pertempuran tak bisa terelakan lagi. Dia harus melindungi Parbo dari orang seperti Lingga. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, Lingga pasti membunuh Parbo.
Lenny mencabut pedang bersiap menerima serangan. Melihat reaksi wanita itu Wardhana dan Arung juga bersiap.
"Baiklah, kalian yang memilihnya". Lingga mulai merapal jurusnya namun tiba tiba Parbo berteriak.
"Tunggu tuan, aku melihat temanmu". Ucap Parbo bergetar, dia sadar ucapannya bisa membunuhnya namun dia tidak ingin ketua dan teman temannya tewas karena melindunginya.
"Parbo". Lenny berusaha mencegah namun Parbo tetap melangkah mendekati Lingga.
"Aku harus mengatakannya ketua atau akan banyak korban jatuh". Parbo berhenti didepan Lingga dan menundukan kepalanya.
"Maaf tuan, kemarin malam aku melihat teman anda jatuh kesumur tanpa dasar". Parbo masih sedikit berusaha menutupi bahwa dia yang menyerangnya.
"Sumur tanpa dasar?". Lingga mengernyitkan dahinya.
"Sumur tanpa dasar adalah sebuah sumur tua yang kami gunakan untuk membuat jebakan, aku minta maaf jika teman kalian sampai jatuh kedalam jebakan kami namun bukan kami yang menyebabkannya jatuh tuan. Harap anda mengerti". Lenny berusaha membela anak buahnya.
Mendengar penjelasan Parbo membuat Lingga sedikit mengendurkan kuda kudanya, dia cukup yakin sumur itu tak akan mampu membunuh Sabrang karena Sabrang pernah jatuh kedalam jurang yang lebih dalam di sekte Bintang langit.
"Tunjukan dimana sumur itu berada, jika nanti dia mengatakan kalian yang menyerangnya maka saat itu akan kupastikan kalian semua menjadi mayat". Ucap Lingga dingin.
"Apa yang dikatakan nona ini benar, aku yakin Yang mulia baik baik saja". Wardhana ikut meyakinkan Lingga untuk menundanya.
"Jika kalian tidak keberatan, singgahlah ditempat kami sementara waktu. Besok saat matahari terbit aku akan mengantar kalian".
Lingga berfikir sejenak sebelum mengangguk pelan. Mereka berjalan mengikuti Lenny menuju markas suku Hutan dalam.
***
Sabrang terlihat bersila sambil menutup matanya, dia berusaha memulihkan tenaga dalamnya. Menahan tubuh Emmy dan menancapkan ribuan keris sebagai pijakan membuat tenaga dalamnya terkuras.
Emmy duduk tak jauh darinya sambil memperhatikan wajah pemuda itu. Dia madih mengingat pernah hampir membunuh pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya berkali kali.
"Ayah, aku menemukan orang yang sangat mirip dengan mu. Dia orang yang sangat baik walau sedikit bodoh".
Emmy mengernyitkan dahinya saat melihat tubuh Sabrang mulai diselimuti kobaran api, dasar sumur yang sedikit gelap kini menjadi sangat terang akibat kobaran api itu.
"Apa kau tidak memiliki cara untuk naik keatas Anom?". Tanya Sabrang pelan.
"Jika hanya membawamu aku tak terlalu pusing namun gadis itu jelas akan menguras tenaga dalammu karena beban akan menjadi dua kali lipat namun jika kau ingin mencobanya aku ada satu cara".
"Katakan".
"Gunakan Cakra manggilingan untuk menyerap seluruh energi alam disekitar hutan ini namun kau harus bisa mengatur kekuatanmu karena energi alam memiliki daya hancur yang luar biasa. Jika kau terlalu menggunakan kekuatanmu saat menancapka energi keris aku takut dinding lubang ini akan runtuh dan kita akan terkubur selamanya".
__ADS_1
"Apa Cakra manggilingan bisa menyerap energi alam?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Kau pernah menggunakannya secara tidak sadar saat berada di Dieng, kau menyerap seluruh energi Dieng bahkan energi Banaspati. Tak ada salahnya mencoba saat genting seperti ini.
Pusatkan pikiranmu pada satu titik dan cobalah merasakan energi disekitarmu, saat kau mulai merasakannya serap perlahan kedalam tubuhmu. Itulah Cakra manggilingan tingkat akhir : Ajian Cakra alam".
Sabrang terlihat berfikir sejenak, dia mencoba mencerna kata kata Anom dan mempraktekannya.
"Pusatkan pikiran pada satu titik". Gumamnya dalam hati.
***
Lingga mengernyitkan dahinya saat melihat beberapa pendekar Hutan dalam berlarian panik dipagi buta.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?". Gumamnya dalam hati.
Dia berjalan cepat saat melihat Lenny berlari sambil membawa pedang bersama Wardhana dan Arung. Ciha tampak mengikuti dibelakangnya.
"Apa terjadi seusatu?" tanya Lingga penasaran.
"Sekte Gunung batu membawa ratusan pendekarnya mendekati lereng gunung, mereka sepertinya datang untuk Gua emas itu". Ucap Lenny.
"Gua emas?". Wardhana mengernyitkan dahinya.
"Aku tak sempat menjelaskannya tuan, maaf aku belum bisa mengantar kalian kesumur tanpa dasar".
"Gua itu yang kami cari". Ucap Wardhana tiba tiba. Lenny menghentikan langkahnya saat mendengae ucapan Wardhana.
"Kalian juga menginginkan gua itu?".
Wardhana mengangguk pelan lalu menjelaskan situasi yang dihadapi Lenny.
"Kalian tak punya pilihan selain menerima tawaranku. Aku telah mengetahui kemampuan kalian dan satu satunya cara menghadapi serangan ini adalah dengan bantuan kami. Kau tunjukan letak gua emas setelah mengalahkan Gunung batu maka aku akan membantu kalian".
"Maaf tuan, aku tak meragukan ilmu kanuragan kalian namun Gunung batu berbeda. Mereka salah satu sekte terkuat di Swarnadwipa". Belum selesai Lenny menyelesaikan ucapannya tiba tiba suasana menjadi mencekam. Tubuh mereka bergidik tanpa tau apa penyebabnya. Sesuatu seolah sedang menyerap energi alam dalam jumlah besar.
"Kini sekte Gunung batu dalam masalah besar". Lingga tersenyum kecut. Walau sebenarnya dia enggan mengakuinya namun dia yakin energi alam saat ini sedang diserap oleh Sabrang.
Wardhana yang langsung mengerti ucapan Lingga ikut tersenyum.
"Anda terima tawaranku, maka dia akan membantu menghancurkan Gunung batu berkeping keping".
"Dia?". Lenny mengernyitkan dahinya.
Ditempat lain, tepatnya digunung tanpa dasar tampak dua sosok tubuh keluar dengan kecepatan tinggi dan melayang diudara.
Sabrang menoleh kesekelilingnya sebelum bergerak dengan kecepatan tinggi kearah markas Hutan dalam bersama Emmy.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Untuk Chapter kedua PNA hari ini kemungkinan akan terbit malam hari karena Author ada sedikit perkerjaan...
Mohon dimengerti.....
__ADS_1
Api Di Bumi Majapahit yang merupakan novel kedua dari Trilogi Naga api sudah terbit 15 Chaper... jika teman teman ingin melihat sudut pandang berbeda mengenai Naga api silahkan baca novel ABM. Kalian tenang saja karena tidak ada sedikitpun Spoiler penting tentang jalan cerita PNA.