
Keadaan dunia persilatan mulai tenang setelah Malwageni berhasil direbut kembali, para tetua sekte aliran putih yang tergabung dalam aliansi Malwageni mulai menata kembali sektenya.
Tapak es utara, Angin biru dan Rajawali emas yang kini menjadi kekuatan besar dunia persilatan mulai mundur dari urusan politik Kerajaan setelah Malwageni direbut. Bagaimana pun mereka adalah pendekar sejati yang sebenarnya tidak ingin terlibat urusan kerajaan.
Berbeda dari sekte lainnya yang tetap membuka diri dengan dunia persilatan, Tapak es utara memutuskan menarik diri dari dunia persilatan sementara waktu.
Mantili ingin membangun ulang kekuatan dan fokus mendidik salah satu murid kesayangannya untuk menjadi penerusnya kelak setelah Sabrang menolak memimpin Tapak es utara dengan alasan ingin fokus terlebih dahulu membangun Malwageni.
Saat seluruh murid sekte Tapak es utara sedang berlatih di halaman belakang sekte, tiba tiba muncul sembilan pendekar misterius yang menggunakan penutup wajah dan berpakaian serba hitam di atap salah satu bangunan.
"Jadi ini tempatnya?" tanya salah satu pendekar yang tampak mencolok dengan dua pendang terselip di punggungnya, dia menatap ratusan murid sekte sedang berlatih bersama Mantili.
"Benar ketua, tapak es utara adalah salah satu pendukungnya, mereka bahkan ikut menyerang Masalembo," ucap pendekar lainnya sambil menundukkan kepala.
"Berani melawan Masalembo berarti siap menanggung resikonya, bunuh semua orang yang ada disini, sudah saatnya Sorik Marapi menancapkan kembali pengaruhnya di dunia persilatan sebagai pelindung trah Dwipa," balas pendekar itu sambil memberi tanda untuk bersiap.
"Sudah lama aku tidak menggunakan jurus ini, semoga ketua sekte tapak es utara bisa memberiku hiburan," Pendekar itu menarik pedangnya sambil mengeluarkan aura dari tubuhnya, dia melompat diudara sambil mengayunkan pedangnya.
"Aura ini?" Mantili tersentak kaget saat tiba tiba merasakan tekanan aura yang cukup besar.
"Menghindar!" teriak Mantili sambil membentuk perisai es.
"Jurus es? kau pikir bisa menghadapiku dengan jurus itu," pendekar itu merubah gerakan tubuhnya di udara, pedangnya memancarkan aura merah saat diayunkan dengan kuat.
"Pedang merah membelah lautan," aura merah melesat keluar dari pedangnya dan dengan mudah menghancurkan perisai es kebanggaan Matili sebelum menghantam puluhan murid tapak es utara.
Suara ledakan mengisi seluruh area sekte, Mantili bahkan harus melompat mundur sambil membentuk perisai es berlapis untuk melindungi tubuhnya dari efek serangan.
"Tenaga dalamnya sangat besar," umpat Mantili kesal.
"Temani aku bermain sebentar," pendekar yang tadi melayang di udara tiba tiba muncul didekat Mantili dan langsung menyerang.
"Sial," Mantili dengan cepat membentuk perisai es untuk melindunginya, dia melompat mundur sambil mencabut pedang pusaka nya.
Pertarungan sengit kembali terjadi, dua pendekar dengan kekuatan besar tampak saling berusaha mengalahkan. Dalam waktu singkat puluhan jurus telah mereka keluarkan demi memenangkan pertarungan.
Mantili mulai terlihat terdesak, pendekar misterius itu unggul segalanya baik dari kecepatan maupun efektifitas serangan.
Wajahnya tampak tersenyum dingin saat berhasil menerobos dinding es Mantili, dia menarik pedang satunya yang masih terselip di punggungnya sebelum bergerak memutar menuju titik tuba Mantili.
"Pedang kembar pemusnah siluman,"
Mantili berusaha menghindar namun terlambat, dia terpaksa menangkis serangan untuk sedikit meredam efek serangan walau dia yakin tak mungkin dapat ditahan sepenuhnya.
Tubuhnya terpental beberapa langkah sebelum terhenti saat membentur sebuah bangunan.
Dia berusaha memanfaatkan kesempatan itu untuk mengatur nafasnya sambil melihat kesekelilingnya.
Wajahnya berubah seketika saat melihat puluhan murid tapak es utara meregang nyawa dengan kondisi tubuh yang tidak lagi utuh, sedangkan murid lainnya yang selamat dan hendak melarikan diri dibantai perlahan oleh delapan pendekar misterius lainnya.
Dalam waktu singkat, sekte pendukung utama Sabrang itu berubah menjadi lautan darah. Ketimpangan kemampuan yang cukup jauh membuat sekte tapak es utara yang selama ini ditakuti lumpuh dengan cepat.
"Bukan saatnya mengkhawatirkan orang lain," Pendekar misterius itu kembali menyerang, dia tidak memberi kesempatan sedikitpun pada Mantili untuk beristirahat.
"Siapa mereka sebenarnya?" ucap Mantili kesal, dia terpaksa menyambut serangan lawan yang semakin cepat
Mantili bukan tidak ingin membantu muridnya namun saat ini dia tidak bisa berbuat banyak karena terus ditekan pendekar misterius itu.
"Ilmu pedangnya sangat kuat dalam pertarungan jarak dekat, aku harus menjaga jarak," Mantili membentuk ratusan pisau es dan melemparkan kearah lawannya yang terus berusaha mendekatinya.
Dia terus berusaha menjaga jarak karena itu satu satunya cara bertahan dari serangan lawannya namun sekuat apapun Mantili berusaha, kecepatan lawannya jauh di atasnya.
Gerakan Mantili semakin melambat akibat luka di tubuhnya, rasa nyeri dan darah yang terus keluar menghambat pergerakannya.
"Kau membuatku sedikit terhibur namun aku harus cepat pergi karena seseorang yang tak ingin kutemui sedang bergerak ke arah sini," Pendekar itu tiba tiba meningkatkan kecepatannya, dia menyilangkan pedangnya sebelum melepaskan jurus pedangnya.
"Gawat, tenaga dalamnya meningkat pesat," Mantili kembali membentuk perisai es yang sangat tebal, dengan tenaga dalam yang tersisa tak mungkin baginya menghadapi langsung pendekar itu.
__ADS_1
"Pedang kembar kematian." tubuh pendekar itu melesat cepat kearah dinding es yang dibuat Mantili, dia menajamkan matanya sesaat sebelum tubuhnya menembus dinding es dan menghancurkannya dengan mudah.
Detik berikutnya, sabetan pedang pusakanya tepat mengenai Mantili tanpa bisa dihindari sedikitpun.
Serpihan es akibat hancurnya dinding es Mantili tampak beterbangan di udara dan membentuk pelangi yang sangat indah dengan hiasan cipratan darah milik ketua sekte Tapak es utara.
Keindahan itu seolah berbanding terbalik dengan kondisi sekte tapak es utara yang sudah hancur berkeping keping.
Tubuh Mantili roboh ketanah dengan luka yang menganga.
"Sekar, sepertinya sudah saatnya aku menemanimu di sana. Akan kuceritakan betapa hebatnya anakmu saat ini, dia telah menjadi raja yang kuat," ucap Mantili sebelum kesadarannya menghilang.
"Kita pergi sekarang! dia sedang menuju kemari, saat ini kita bukan lawannya akan sangat berbahaya jika bertemu disini," Pendekar itu menyarungkan pedangnya sesaat sebelum melesat pergi.
"Anggap ini sebagai salam pertemuan dari Sorik Marapi untukmu Rubah putih."
Tak lama setelah perginya para pendekar Sorik marapi, Rubah putih muncul dari arah hutan dan mendarat di atas sebuah bangunan.
Dia menggeleng pelan saat melihat tumpukkan mayat dihadapannya.
"Sial, aku terlambat," umpatnya dalam hati.
Rubah putih mengernyitkan dahinya saat melihat luka ditubuh Mantili, dia melompat dan mendekatinya.
"Pedang kembar kematian?" Rubah putih tampak tersentak kaget melihat luka khas yang ada ditubuh Mantili.
"Aku yakin dulu telah menghancurkan organisasi pelindung trah Dwipa, Sorik marapi, bagaimana mungkin mereka masih hidup?" gumam Rubah putih heran.
"Bukankah ini menarik Rubah putih? sudah lama kau tidak menggunakan kekuatanku," ucap sebuah suara dari goloknya.
"Suanggi? ku pikir kau sudah hancur saat kita terkurung di dimensi ruang dan waktu," balas Rubah putih.
"Kau meremehkan ku, aku bahkan bisa menghancurkan iblis api yang bersemayam didalam tubuh anak itu," balas Suanggi.
"Kau masih sombong seperti biasanya, kekuatan Iblis api tidak selemah itu, anak itu hanya belum bisa memaksimalkannya."
Sabrang terlihat mulai terdesak, dia mencoba memunculkan keris penguasa kegelapan di udara untuk membantunya memperlambat gerakan Wulan yang semakin cepat.
"Coba saja gunakan pusaka itu, aku akan menambah hukuman padamu," teriak Wulan sambil terus mendesak Sabrang.
Sabrang menarik kembali pusakanya sambil tersenyum kecut, dia terus berusaha sekuat tenaga menghindari serangan pedang Wulan yang sangat mematikan.
"Dia kejam sekali padaku, apakah ini latihan sekaligus balas dendam pada trah Dwipa umpat Sabrang saat serangan pedang hampir menghantam tubuhnya, beruntung dia masih sempat menciptakan perisai es.
Sabrang menggunakan bongkahan es sebagai pijakan untuk melompat menghindar namun gerakannya mampu dibaca oleh Wulan.
Wulan menghancurkan pijakan Sabrang yang membuat tubuhnya sedikit kehilangan keseimbangan, lengan kirinya dengan cepat menyentuh tubuh Sabrang dan melepaskan jurus cakar dewi kematian.
"Sial," Sabrang mencoba mencengkram lengan Wulan namun terlambat, tubuhnya terpental bagai dihantam sesuatu yang sangat besar.
"Apa pertarungan ini adil? kau bisa menggunakan pedang pusakamu namun aku dilarang," umpat Sabrang sambil meringis kesakitan.
"Apa aku melarangmu menggunakan senjata?" balas Wulan.
Sabrang memang dibolehkan menggunakan pusaka dan mata bulannya namun hanya boleh selama dua detik, jika dia menggunakan lebih lama maka hukumannya adalah berdiri sepanjang malam didekat air terjun dan sudah tiga hari ini Sabrang selalu mendapat hukuman.
"Kau memang tidak melarangku menggunakan pusaka Naga api namun tak lebih dari dua detik, apa yang bisa kulakukan dalam dua detik? jika aku sampai menggunakan Naga api lebih dari dua detik kau akan menghukum ku dengan berdiri semalaman tanpa tidur, itu sama saja dengan melarang," ucap Sabrang kesal.
"Bukankah dalam pertarungan harus seperti itu? kau selama ini terlalu banyak menggunakan tenaga dalam secara sia sia hanya karena kau memiliki tenaga dalam tak terbatas dan juga energi Iblis api, itulah yang membuat jurusmu tidak efektif.
Aku pernah melihat Naraya menggunakan pedang jiwa, apa yang kau perlihatkan saat bertarung dengan Rubah putih bagai sebuah jurus tiruan. Kau tau kenapa? karena energi yang seharusnya bisa kau maksimalkan saat menyerang terbuang percuma selama kau bergerak.
Rubah putih menjadi sangat kuat karena dia bisa mengatur tenaga dalamnya, kapan harus menekan tenaga dalamnya dan kapan harus melepaskannya. Itulah yang ingin kuajarkan padamu, gunakan waktu dua detik yang kau miliki untuk memaksimalkan seluruh tubuhmu tanpa bantuan iblis api."
Wulan kembali bergerak menyerang, pedangnya kini dialiri tenaga dalam yang sangat besar, membuat Sabrang sedikit bergidik, dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika pedang itu mengenai tubuhnya.
"Dia bahkan belum mengajariku ajian Inti lebur saketi, apa sebenarnya yang dia dipikirkan," ucap Sabrang pelan, dia bergerak menyambut serangan Wulan sambil mengalirkan energi murni dalam tubuhnya.
__ADS_1
Sabrang terus menghindar sambil sesekali berusaha menyerang dengan cakar dewa buminya.
"Apa tanpa mata bulan kau selemah ini? membaca gerakanku pun kau tak mampu," Wulan menarik pedangnya saat hampir mengenai tubuh Sabrang, dia menggunakan gagang pedang untuk menghantam tubuh pemuda itu.
"Sial," Sabrang terpaksa memunculkan pedang Naga apinya untuk menangkis serangan Wulan.
"Satu, Dua," Wulan menghitung sambil terus menekan.
Saat pedang Naga api kembali menghilang, Wulan bergerak menyamping dan menghantamkan punggung pedang ke tubuh Sabrang.
Sabrang memang sempat membuat perisai es namun tetap saja efek kejut serangan Wulan membuatnya kembali terdorong mudur.
"Hari ini kau sudah mati empat kali jika aku menggunakan mata pedangku," ejek Wulan sambil menyarungkan pedangnya.
"Konsentrasimu terpecah antara seranganku dan kapan kau harus menggunakan pedangmu selama dua detik. Kau begitu lambat dalam berfikir, entah kemana hilangnya kepintaran trah Tumerah dalam dirimu.
Bertarung dengan banyak pendekar hebat harusnya membuat insting dan reflek gerakanmu terlatih. Biarkan insting itu menuntun tubuhmu dan memaksimalkannya, kau hanya perlu percaya pada tubuhmu dan mengambil keputusan cepat disaat yang tepat.
Pikirkan ucapanku itu sambil beristirahat, aku akan kembali nanti dan kuharap pedangku tak akan melukaimu karena kali ini aku akan menggunakan mata pedang", ucap Wulan sambil melangkah pergi meninggalkan Sabrang yang masih terlihat bingung.
"Mengambil keputusan cepat di saat yang tepat? apa yang bisa kulakukan dalam dua detik? mengalirkan tenaga dalam ke pedang Naga api pun memakan waktu lebih dari dua detik," umpat Sabrang kesal, dia merebahkan tubuhnya ketanah dan mencoba memejamkan matanya sejenak, sudah tiga hari ini dia tidak tidur karena selalu mendapat hukuman.
"Apa kau sudah mengerti nak?" ucap Anom tiba tiba.
"Anom? aku sampai lupa kehadiranmu, kau akhir akhir ini terlalu pendiam," jawab Sabrang pelan.
"Sejak pertarungan di Hujung tanah, aku mulai menyadari jika kau terlalu bergantung pada mata bulan dan tubuh istimewa trah Dwipa, apa kau bisa membayangkan jika kau lahir bukan dari trah dwipa tanpa pusaka dan mata bulan?."
"Apa aku salah menggunakan kelebihanku?" tanya Sabrang pelan.
"Tidak ada yang salah kau ingin memaksimalkan apa yang menjadi kelebihanmu namun jika kau terlalu bergantung pada mata bulan maka instingmu akan tumpul tanpa mata itu.
Kau akan menutup bakat lainnya yang seharusnya bisa jauh lebih maksimal jika digunakan bersama mata bulan.
Tubuhmu memiliki insting alami yang sangat menakutkan melebihi mata bulan, kau tidak pernah lagi mengasahnya sejak memiliki mata itu, sepertinya itulah yang sedang dilatih wanita itu."
Sabrang terdiam setelah mendengar ucapan Anom.
"Kau tau nak? gerakanmu dulu jauh lebih bervariasi saat menerima serangan. Lupakan mata bulan selama latihan bersamanya dan percaya pada instingmu.
Jika kau mampu memaksimalkan insting alami dan digabungkan dengan mata bulan maka aku yakin tak ada yang bisa menandingimu," ucap Anom pelan.
"Dua detik ya, aku harus menggunakan instingku selama dua detik," gumam Sabrang dalam hati.
Sabrang tiba tiba melompat saat sebuah pedang melesat kearahnya dari udara.
"Ini?" ucap Sabrang bingung.
"Sepertinya kepalamu mulai mengerti, sekarang tinggal mengasahnya agar kau terbiasa," Wulan muncul dari ruang dan waktu, dia mencabut pedangnya dan bersiap menyerang.
"Jadi seperti itu cara kerjanya," gumam Sabrang dalam hati.
"Jika pertarungan kali ini seranganku tak ada yang mampu mengenai tubuhmu maka besok akan kuajarkan Ajian inti lebur saketi sesuai janjiku," Wulan melesat cepat dengan kekuatan penuh.
"Dia benar benar menggunakan hampir seluruh tenaga dalamnya," umpat Sabrang kesal.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ada pertanyaan menggelitik dari salah satu reader PNA
Thor gw udah yakin rubah putih di ABM adalah Rubah putih yang sama di PNA, eh sekarang lo bikin Sabrang rambut putih juga. kan gua jadi galau lagi...
Jawab :
Eh Bambang masih mending cuma Sabrang yang gw buat jadi putih rambutnya, kalo satu kerajaan Malwageni gw buat rambut putih juga stresss lo wkwkwkwkw
Siapa Rubah putih di ABM akan menjadi magnet baru di buku kedua itu, jadi mari kita nikmati dan tebak siapa sebenarnya Rubah putih.
__ADS_1