Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Wardhana Mengendalikan Situasi


__ADS_3

Kemunculan Arung di medan perang mampu merubah keadaan dengan cepat, para pendekar Guntur api yang awalnya mampu mengimbangi pasukan pimpinan Wardhana mulai terdesak.


Perlahan namun pasti Guntur Api dipaksa mundur dan terus bertahan, Arung yang sudah beberapa kali berada dalam formasi Wardhana tidak terlalu sulit beradaptasi. Dia bersama Kuncoro menjadi kunci strategi Wukir Sagara Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera).


Wardhana mengatur pasukan angin selatan seperti ombak di samudera yang terus menekan dari segala arah, sedangkan Arung dan Kuncoro bertugas sebagai penyerang cepat yang bertugas memecah konsentrasi para pendekar Guntur api.


"Bagaimana mungkin hanya dengan tambahan satu orang mereka jadi sekuat ini?" umpat salah satu pendekar Guntur api yang merasakan serangan Malwageni semakin cepat dan bervariasi sejak kedatangan Arung.


Pandangan pendekar itu kemudian tertuju pada Wardhana yang bergerak lincah dan selalu merubah posisinya.


"Dia adalah kunci semua formasi ini, aku harus mengincarnya lebih dulu untuk menghancurkan semangat tempur mereka!" umpat Pendekar itu dalam hati. Dia merasa gerakan prajurit Malwageni yang selalu berubah dan menyulitkan mereka seolah dikendalikan Wardhana.


Pendekar itu mencoba melepaskan diri dari kepungan formasi dan bergerak kearah Wardhana.


Wardhana yang melihat pendekar itu bergerak kearahnya tampak tersenyum penuh makna. Dia memberi tanda pada prajuritnya untuk kembali berpindah posisi.


"Arung!" teriak Wardhana ketika posisi para prajurit kembali berubah.


Arung yang sudah sangat paham dengan formasi Wardhana langsung meningkatkan tenaga dalamnya.


"Jurus pedang kabut," tubuh Arung terlihat berubah menjadi aura hitam dan menyerang para pendekar Guntur Api.


"Kau pikir bisa menipuku? jurus itu hanya mengandalkan kecepatan, jika aku bisa mengimbangi kecepatan mu jurus itu tak ada artinya," Pendekar itu menajamkan matanya, dia bergerak cepat dan menebas salah satu aura yang terarah padanya.


Suara benturan pedang terdengar seiring dengan terlemparnya tubuh Arung beberapa langkah.


"Kau salah jika menganggap jurusku hanya mengandalkan kecepatan, Aura hitam itu bukan hanya sebagai pengalih perhatian tapi juga untuk menyembunyikan energi pedangku," sebuah energi pedang keluar dari aura hitam dan menembus tubuh pendekar itu.


"Kau?" pendekar itu berubah menjadi asap sebelum muncul kembali dan menyerang Arung membabi buta.


Arung bergerak mundur sambil menangkis serangan lawan. Terjadi pertukaran jurus di udara yang memaksa Arung terus mundur.


"Pusaka yang kau bawa sangat menarik, dengan kemampuanmu itu kau tak pantas membawanya," Pendekar itu terus menyerang dan tanpa sadar sudah bergerak jauh dari kelompoknya.


"Tugasku sudah selesai, saatnya menghadapi mu dengan seluruh kekuatanku," Wajah Arung tiba tiba berubah, dia mengalirkan tenaga dalam ke pusaka nya dan menyerang balik dengan cepat.


Kecepatan Arung yang meningkat tiba tiba membuat lawannya terkejut, dia terpaksa menarik serangannya demi menghindari serangan.


"Tugas?" pendekar itu tiba tiba menyadari sesuatu, dia menoleh kearah pasukannya yang sudah berada jauh darinya.


"Dia sengaja memancingku keluar dari formasi Guntur Api?" pendekar itu terlihat panik saat menyadari telah masuk perangkap Arung. Dia berusaha mendekati pasukannya lagi namun Arung tak membiarkannya, dia melancarkan serangan serangan cepat.


"Kini jauh lebih mudah," Wardhana memberi tanda pada pasukannya untuk merubah formasi menjadi Kannaya Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk lingkaran berlapis).


"Sora, jangan biarkan mereka lolos dan bergerak bebas," teriak Wardhana.


Sora mengangguk, dia kembali mengatur formasi pasukannya, sementara Kuncoro bergerak ke depan menggantikan posisi Arung. Perubahan formasi yang begitu cepat dan teratur ditambah serangan serangan kuncoro membuat para pendekar Guntur Api kebingungan, formasi mereka mulai hancur dan bergerak sendiri sendiri.


Situasi semakin rumit bagi Guntur Api karena di belakang mereka, pasukan Topeng Galah juga mundur kearah mereka akibat tekanan Tungga Dewi.


"Bagus, sekarang tinggal melakukan serangan terakhir," Wardhana mulai bisa tersenyum setelah rencananya mulai mencengkram lawan.

__ADS_1


Pasukan Saung Galah yang ditumpuk di tempat itu tak bisa berbuat banyak walau di topang pasukan elit Topeng Galah yang terkenal akan kehebatannya.


Di hujani anak panah dari atas secara terus menerus dan formasi Kannaya Wyuha  dibawah perintah Tungga Dewi membuat mereka terpojok.


Guntur Api maupun Saung Galah seolah dipermainkan habis habisan oleh Wardhana. Mereka bukan tanpa usaha untuk keluar dari jebakan itu namun formasi yang terus berubah dan pergerakan pasukan pemanah yang selalu berpindah tempat setelah beberapa kali menyerang membuat mereka tak mampu membaca arah serangan panah.


Wardhana memang memerintahkan pasukan panah untuk tidak diam di satu tempat, separuh pasukan akan berpindah tempat setelah menyerang dan sebagian lainnya tetap menyerang. Setelah pasukan pertama menemukan tempat baru dan kembali menyerang, pasukan kedua yang bergerak.


Formasi pasukan pemanah Malwageni begitu rapih dalam bergerak dan tanpa cela, usaha Lingga melatih mereka dengan keras membuat mereka terbiasa dalam tekanan dan tetap tenang.


Gerakan pasukan pemanah ini yang menjadi kunci strategi Wardhana kali ini, konsentrasi lawan menjadi terpecah, karena selain harus menghadapi lawan yang ada dihadapan, mereka juga harus menghindari anak panah yang datang dari dua arah.


Pertempuran di dekat Lembah Penghisap Sukma itu seolah menjadi panggung Wardhana untuk menunjukkan jika dirinya adalah ahli strategi terbaik Nuswantoro saat ini.


Pasukan Saung galah yang terkenal paling kuat setelah hancurnya Majasari dibuatnya bertarung dengan Guntur api terlebih dahulu untuk mengakali kekuatan Malwageni yang masih dibawah mereka.


Wardhana juga mampu berfikir cepat dengan meminta Arung memisahkan pemimpin pendekar Guntur Api saat mereka sulit ditekan. Dia juga sudah berhitung jika secara kekuatan Arung masih mampu mengimbangi pendekar itu.


Dalam situasi perang yang masih sengit, Wardhana masih mampu berfikir tenang dengan menghitung semua kerugian atau resiko dari rencana rencananya.


Dia menutup Akses ke arah lembah penghisap sukma untuk memutus komunikasi pasukan Saung Galah dengan Jaladara yang dia yakini bersembunyi di dalam hutan Lembah itu dengan menempatkan Tungga Dewi yang memiliki ilmu kanuragan di atas rata rata dan pasukannya untuk bergerak memutar tebing dan menghadang tepat di pintu masuk lembah.


Putusnya komunikasi dengan Jaladara membuat ratusan pasukan Saung Galah seperti hilang kendali, mereka tidak lagi bergerak dalam formasi saat pasukan Panah berhasil menghancurkannya. Hal ini memudahkan Wardhana memainkan strateginya.


Para pendekar Guntur api tak jauh beda, setelah tertekan diawal kedatangannya, Wardhana memutuskan bertahan sambil mencari celah kelemahan. Kedatangan Arung dan tertahannya Andini oleh Sekar Pitaloka di atas bukit memang membuat situasi Guntur Api sulit namun sebenarnya kecermatan Wardhana membaca situasi dan menggunakan dua formasi berbeda dalam waktu cepat untuk mengimbangi lawan yang memiliki ilmu kanuragan lebih tinggi adalah kunci utama Wardhana membalikkan situasi.


Walau jumlah korban di pihak Malwageni tidak sedikit namun semua terbayar, Wardhana dalam satu waktu berhasil menundukkan pasukan perang dan ilmu kanuragan, semua seolah tak berdaya dihadapannya.


Sementara itu pertarungan Sekar Pitaloka dan Andini yang sudah berjalan cukup lama masih berimbang dan sengit, mereka saling serang dan menekan dengan ilmu terbaiknya.


Sekar cukup terkejut melihat Andini menguasai jurus Serbuk bunga penghancur iblis. Sekar terlihat kesulitan saat Andini mampu merubah gerakan gerakan jurusnya dengan cepat.


"Kau sungguh merepotkan, mau sampai kapan kau menghindar?" Andini kembali merubah gerakan jurusnya yang membuat Sekar Pitaloka mati langkah.


Sadar serangan Andini tak mampu di hindari, Sekar Pitaloka menciptakan dinding es untuk menahannya.


Namun kehebatan jurus Serbuk bunga penghancur iblis masih terlalu kuat bagi dinding es Sekar walau sebenarnya Andini tidak menguasai sepenuhnya.


Serpihan es beterbangan di udara bersamaan dengan terpental nya tubuh Sekar Pitaloka.


"Sial, jadi seperti ini yang dirasakan lawanku selama ini," umpat Sekar sambil mengatur nafas.


Andini menoleh kebawah saat teriakan pasukan Malwageni semakin keras.


"Gawat, dia mulai mengendalikan keadaan, aku harus cepat mengalahkannya dan membunuh Wardhana," Andini menarik pedangnya dan bersiap menyerang.


Andini cukup yakin mampu mengalahkan Sekar Pitaloka dengan cepat karena sejak awal Sekar belum bisa menekannya, ditambah ilmu Serbuk bunga penghancur iblis membuatnya sangat percaya diri.


Sekar Pitaloka memang belum menggunakan jurus itu sejak awal bertarung sehingga Andini tidak mengetahui jika lawannya juga menguasai jurus yang sama.


Sekar bukan tidak ingin menggunakan jurus yang sama namun kondisi tubuhnya yang terus memburuk akibat terluka saat Malwageni dulu di serang membuatnya tak bisa menggunakan jurus Serbuk Bunga penghancur Iblis dengan leluasa.

__ADS_1


Jurus Serbuk bunga penghancur iblis yang membutuhkan banyak tenaga dalam bisa bisa memperparah luka dalamnya.


Melihat Wardhana dan pasukannya tertekan membuat Sekar takut setelah dia menggunakan jurusnya tidak bisa membantu Wardhana.


Sekar mengikuti arah pandangan Andini dan dia sangat terkejut melihat Wardhana mulai memegang kendali. Dia memang terkonsentrasi pada pertarungannya karena tak mudah menghadapi pengguna jurus Serbuk bunga penghancur iblis.


"Aku memang selalu bisa mengandalkan mu Wardhana, kuserahkan sisanya padamu. Aku tidak tau apakah tubuhku masih mampu menerima efek jurus ini," Sekar Pitaloka menarik pedang kedepan wajahnya.


Andini tampak terkejut melihat kuda kuda yang diperlihatkan Sekar Pitaloka.


"Jurus Serbuk bunga penghancur iblis menitikberatkan pada kecepatan kaki dan perubahan gerak dari setiap tingkatan, aku memang terkejut kau mampu menguasai jurus itu tapi gerakan mu masih kasar," aura besar mulai meluap dari tubuh Sekar Pitaloka.


"Kau bagaimana bisa?" Andini terlihat panik, dia tidak menyangka ada yang menguasai jurus rumit itu.


"Akan kutunjukkan jurus Serbuk bunga penghancur iblis yang sebenarnya," Sekar Pitaloka dan Andini bergerak bersamaan.


Luapan aura dari tubuh kedua pendekar wanita itu mampu menggentarkan tanah disekitarnya.


"Tidak mungkin, dia tidak mungkin menguasai jurus ini. Hanya aku satu satunya pendekar yang bukan keturunan trah Tumerah yang menguasai jurus ini, itupun karena aku berlatih ribuan tahun. Kau pikir jurus rumit ini bisa dikuasai dengan cepat? kau hanya meniru," ucap Andini dalam hati.


Wajah Andini berubah seketika saat melihat Sekar Pitaloka bergerak lebih cepat darinya walau menggunakan jurus yang sama. Gerakan yang sangat halus dengan perubahan arah pedang yang begitu cepat membuat Andini tak mampu mengimbangi.


Mereka melompat di waktu yang bersamaan.


"Jurus pedang Serbuk bunga penghancur iblis," kedua pedang mereka berbenturan sebelum berdiri saling membelakangi.


Tubuh mereka berdua diselimuti debu yang beterbangan sesaat setelah ledakan besar terjadi yang mengejutkan semua orang.


"Ibu Ratu?" Wardhana menoleh keatas dengan wajah khawatir.


Ketika debu itu hilang terbawa angin, Sekar Pitaloka tampak tumbang lebih dulu dengan posisi berlutut sambil memegang dadanya yang terasa sakit.


"Seranganku bahkan tidak berhasil mengenainya," ucap Andini lirih.


Wajah para pendekar Guntur Api terlihat lega saat melihat Andini masih berdiri tegak, namun wajah lega itu tidak bertahan lama ketika kepala Andini terlepas dari tubuhnya.


"Sepertinya tubuh ini tak lagi bisa menahan luka itu, apa aku akan berakhir disini?" pandangan mata Sekar mulai buram sebelum tubuhnya roboh ketanah.


Saat tubuhnya hampir menyentuh tanah, bongkahan es menahannya tetap dalam posisi berlutut. Tak Lama Mentari dan Wulan muncul dari dalam hutan, Mentari langsung melesat kearah Sekar Pitaloka sedangkan Wulan bergabung dengan Wardhana.


"Jurus pedang kegelapan tingkat II : Pelebur raga," serangan Wulan langsung menghabisi dua pendekar Guntur Api.


Mentari mendarat didekat Sekar dan langsung memeriksanya, wajahnya menjadi buruk saat mengetahui denyut kehidupan Sekar lemah.


"Ibu ratu bertahanlah, ibu ratu," teriak Mentari sambil mengalirkan tenaga dalammya.


"Percuma, lukanya terlalu dalam, tenaga dalam mu tak akan membantu," ucap Siren dalam pikiran Mentari.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? diam saja?" bentak Mentari.


"Ibu ratu anda harus bertahan, hamba melihat wajah Yang mulia sangat bahagia saat bertemu dengan anda, hamba mohon bertahanlah," ucap Mentari lirih, air mata mulai keluar dari mata indahnya.

__ADS_1


__ADS_2