Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kesalahan Masa Lalu Naraya Dwipa


__ADS_3

Emmy dan Mentari tampak cemas menatap Brajamusti yang sedang memeriksa Tungga dewi yang terbaring di tempat tidurnya.


"Apa terjadi sesuatu tetua?" tanya Mentari pelan.


Brajamusti menggeleng pelan, dia tersenyum kecil sebelum melepaskan lengan Tungga dewi.


"Selamat gusti ratu, anda sedang mengandung," ucap Brajamusti sambil menundukkan kepalanya.


"Mengandung?" wajah Tungga dewi tampak berbinar, begitu juga dengan Emmy dan Mentari.


"Selamat gusti ratu," ucap mereka berdua bersamaan.


Tungga dewi mengangguk sambil tersenyum bahagia, selain Malwageni berhasil direbut, kehamilannya adalah kado terindahnya sebagai ratu.


"Apa terjadi sesuatu?" Sabrang muncul tiba tiba dengan wajah cemas.


Mentari, Emmy dan Brajamusti langsung berdiri dan menundukkan kepalanya.


"Selamat Yang mulia, gusti ratu sedang mengandung," ucap Mentari.


"Dewi mengandung?" wajah Sabrang tampak bersemangat.


"Benar Yang mulia, rasa mual dan pusing yang dirasakan gusti ratu kemungkinan efek kehamilannya, selamat Yang mulia," ucap Brajamusti.


"Terima kasih kakek," balas Sabrang sambil menatap Tungga dewi yang tersenyum padanya.


"Maaf Yang mulia, ada yang ingin hamba bicarakan sebentar," ucap Brajamusti pelan, wajahnya sedikit berubah walau dia berusaha menutupinya.


Sabrang mengernyitkan dahinya sebelum mengangguk pelan, dia mengajak Brajamusti keruangan nya.


"Dewi, aku akan segera kembali setelah bicara dengan kakek. Beristirahatlah, kau harus menjaga kandunganmu," ucap Sabrang pelan sambil dia menoleh kearah Emmy dan Mentari.


"Tolong jaga dewi sebentar," ucap Sabrang lembut.


"Baik Yang mulia," jawab mereka berdua bersamaan.


Jarak antara Paviliun ratu dan ruangan raja tak terlalu jauh, hanya dipisahkan oleh beberapa bangunan.


Sabrang mempersilahkan Brajamusti masuk kedalam ruangannya setelah berjalan beberapa saat.


"Masuklah kek," Sabrang mempersilahkan Brajamusti duduk.


"Apa ada yang begitu penting kek?" tanya Sabrang penasaran.


"Ini mengenai kondisi gusti ratu Yang mulia," jawab Brajamusti.


"Kondisi Dewi?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Kondisi gusti ratu sudah membaik, luka dalamnya juga mulai pulih namun kondisi kandungannya sedikit lemah Yang mulia. Hamba memeriksanya beberapa kali, perkiraan hamba mungkin akibat benturan pertarungan sebelumnya".


Wajah Sabrang berubah seketika setelah mendengar penjelasan Brajamusti.


"Apakah akan baik baik saja?" tanya Sabrang cemas.


Brajamusti menggeleng pelan, "Maaf Yang mulia, jika terus seperti itu hamba tak yakin kandungan gusti ratu akan selamat. Hamba sudah meminta pada pelayan untuk membuatkan ramuan kesehatan, semoga bisa sedikit membantu."

__ADS_1


"Apa tak ada cara lain kek?"


"Kondisi kandungannya sangat lemah, hamba tidak yakin," jawab Brajamusti pelan.


Sabrang terdiam, ada rasa menyesal dalam dirinya saat mengizinkan Tungga dewi ikut berperang, dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Tungga dewi jika mendengar kabar ini.


"Apa Dewi tau masalah ini?"


"Hamba memutuskan tidak memberitahukan siapapun tentang masalah ini Yang mulia, jika gusti ratu mengetahui kabar ini hamba takut akan memperburuk kondisi kandungannya".


"Terima kasih kek, ku mohon carilah cara untuk menyelamatkan kandungannya," ucap Sabrang pelan.


"Hamba akan berusaha sekuat tenaga Yang mulia. Hamba mohon diri, ada beberapa tanaman obat yang harus hamba cari untuk membuat ramuan kesehatan," Brajamusti menundukkan kepalanya sebelum melangkah keluar ruangan.


Sabrang membenamkan wajahnya dikedua tangannya, dia benar benar tidak dapat membayangkan bagaimana sedihnya Tungga dewi jika tau masalah ini.


"Apa yang harus kulakukan?" ucapnya pelan.


"Andai dia masih hidup mungkin dia bisa membantumu," ucap Eyang wesi tiba tiba.


"Dia?"


"Seperti yang aku katakan kemarin, aku pernah mendengar nama Rubah putih dan seingatku dia dulu terkenal dengan julukan sepasang pendekar penghancur langit bersama seorang wanita.


Wanita itu tidak hanya memiliki ilmu kanuragan yang tinggi namun juga ahli dalam ilmu pengobatan dan juga racun. Walau sempat dijuluki dewi obat karena ilmu pengobatannya namun dunia persilatan akhirnya menjulukinya dewi kematian karena lebih banyak orang yang dibunuhnya."


"Maksudmu Dewi kematian bisa mengobati ratuku?" tanya Sabrang pelan.


Eyang wesi mengangguk pelan, "Namun sepertinya dia sudah mati, dia menghilang sebelum Rubah putih terperangkap dalam dimensi ruang dan waktu."


"Sudah kukatakan Rubah putih tak mungkin bisa selamat dari kurungan dimensi ruang dan waktu, mungkin seseorang mengaku sebagai Rubah putih untuk merencanakan sesuatu," jawab Eyang wesi.


"Seseorang? bahkan seluruh dunia persilatan tak ada yang mengenalinya termasuk kakek Brajamusti, bagaimana mereka bisa mengaku sebagai seseorang yang tidak dikenal?"


"Andaikan Dewi kematian masih hidup, kusarankan kau tidak menemuinya, aku memang tidak tau siapa dia namun aku tau sejarah permusuhan antara Naraya dengannya, kau akan langsung dibunuhnya jika menampakkan wajahmu didepannya."


"Tak perlu mengkhawatirkan nyawaku, kau hanya perlu mengatakan dimana aku bisa mencarinya? saat ini nyawa anakku sedang terancam dan dia mungkin satu satunya harapanku" tanya Sabrang kembali.


Eyang wesi terdiam sesaat, dia bukan tidak ingin mengatakan dimana Dewi kematian berada namun jika benar dia masih hidup maka Sabrang hanya akan mengantarkan nyawanya.


"Sebuah tempat tersembunyi disekitar hutan larangan, hanya itu yang ku tau tentang keberadaannya."


"Hutan larangan? bukankah itu pintu masuk Telaga khayangan api?"


"Tak pernah ada yang benar benar tau dimana dia tinggal, sesaat sebelum Rubah putih terkurung di Dimensi ruang dan waktu kudengar mereka sempat bertengkar dan sejak saat itu dia menghilang."


Sabrang mengangguk pelan, dia kemudian meminta salah satu prajurit yang berjaga di luar untuk memanggil Arung.


"Katakan pada Arung untuk menemaniku, aku harus pergi ke suatu tempat malam ini. Rahasiakan kepergianku kali ini, paman Wardhana yang akan mengurus semuanya selama aku pergi," perintah Sabrang pada prajuritnya.


"Hamba menerima perintah Yang mulia," ucap prajurit itu sambil menundukkan kepalanya.


"Aku sudah memperingatkanmu nak betapa berbahayanya Dewi kematian," ucap Eyang Wesi.


"Seorang pendekar selalu hidup diantara bahaya, aku sudah mengetahuinya saat memutuskan mempelajari ilmu kanuragan. Saat ini nyawa anakku yang paling penting, seribu dewi kematian pun tak akan membuatku mundur satu jengkalpun."

__ADS_1


***


"Dia tak pernah berubah, aku bahkan tidak ditinggalkan makanan sedikitpun" umpat Rubah putih sambil bangkit dari tidurnya, dia bergerak cepat dan melompat menaiki salah satu pohon besar untuk mengambil buah buahan. Sinar bulan malam itu memudahkan Rubah putih mengambil buah dan memakannya.


Rubah putih terlihat duduk disalah satu ranting sambil menatap bulan dilangit.


"Sudah lama sekali sejak saat itu, dunia persilatan benar benar telah berkembang."


Wajah rubah putih kembali pucat setelah merasakan sakit disekujur tubuhnya, dia melompat turun dengan cepat dan duduk bersila untuk mengalirkan tenaga dalamnya.


"Racun ini terus menggerogoti tubuhku, aku harus secepatnya meminum penawar atau aku akan mati," gumamnya pelan.


Setelah dia mengalirkan tenaga dalam keseluruh tubuhnya, perlahan wajahnya kembali berubah.


"Lalu apa yang harus kulakukan tiga hari ini? menunggu memang sangat membosankan," Rubah putih membuka topengnya perlahan.


Dia merebahkan tubuhnya sambil memejamkan matanya, tak lama dia tertidur pulas.


Sesosok tubuh mendekatinya perlahan, dia menatap wajah tampan yang selama ini ditutupi oleh topeng berwarna emas.


"Kadang aku sangat membencimu, kau lebih mementingkan mengejar Masalembo dan mengabaikan perasaanku. Kau mungkin yang terbaik dalam hal ilmu kanuragan namun kau bodoh jika berurusan dengan wanita," Wulan tampak mendekatkan tangannya kearah wajah Rubah putih, dia terlihat berusaha menyentuh rambut putih pendekar itu namun tiba tiba Rubah putih bereaksi, dia memegang tangan Wulan dan dengan cepat memakai topengnya kembali.


"Kau mempermainkan ku?" umpat Wulan kesal, dia berusaha melepaskan tangannya.


"Bukankah kau yang mempermainkan ku? kau sudah membuat penawar racun itu bukan? namun kau menahanku dan mengatakan butuh empat hari untuk membuatnya," goda Rubah putih sambil tersenyum.


Wajah Wulan memerah, dia mengambil sebuah gulungan kain dari tubuhnya dan melemparkan kearah Rubah putih.


"Minumlah penawar itu dan segera pergi dari tempat ini," bentak Wulan kesal sambil melangkah pergi.


"Lupakan kesalahan Naraya, dia melakukan itu karena ingin menghentikan Masalembo. Tujuan kita sama walau dia mengambil jalan yang sedikit berbeda," ucap Rubah putih yang menghentikan langkah Wulan.


"Kalian sama bodohnya dan terlalu terobsesi dengan lawan yang tak bisa dihancurkan, kematian Naraya dan terkurungnya kau di dimensi ruang dan waktu sudah membuktikan jika Masalembo tak bisa dikalahkan," jawab Wulan.


"Akulah penyebab terbentuknya Masalembo, ramuan Amrita dan soma yang ku buat menjadi pemicu ambisi mereka hidup abadi, hidupku tak akan tenang jika belum menghentikan mereka."


"Bukankah Naraya telah membakar semua catatan Amrita dan soma?,"


"Mereka akan terus mencari keturunan Naraya, aku memiliki tanggung jawab untuk melindungi keturunannya," jawab Rubah putih.


"Melindunginya? aku pernah bertaruh pada Naraya namun dia mengkhianati kita dan berakhir dengan kematian. Satu satunya cara menghentikan Masalembo adalah dengan membunuh keturunan Naraya.


Jika seluruh keturunannya mati maka ramuan itu hanya kau yang memilikinya. Mereka tidak akan menemukan tempat ini, dan mereka akan mati dengan sendirinya jika tidak meminum ramuan itu."


Rubah putih menggeleng pelan, "Mereka akan menemukan kita apapun caranya, kau yang paling tau seberapa pintar Masalembo. Bersembunyi bukan cara terbaik, ayahmu mengajarkanku jika melawan adalah pertahanan terbaik,"


"Dan dia tewas ditangan mereka?" jawab Wulan sinis.


Rubah putih menggeleng pelan sebelum wajahnya berubah tiba tiba ketika merasakan sebuah energi mendekat, dia menoleh kearah Wulan yang sudah melepaskan aura dari tubuhnya.


"Keturunan Naraya berada didekat sini, sepertinya dia ingin mengantarkan nyawanya padaku," ucap Wulan kesal.


"Hei bersabarlah, jika dia mendatangimu berarti Megantara yang menunjukkan tempatnya, mungkin ada sesuatu yang ingin dia bicarakan," ucap Rubah putih menenangkan.


"Bicara padaku? biarlah pusaka ini yang berbicara, jika kau berani menghalangiku maka aku tak segan menyerangmu," ucap Wulan sambil menarik pedang kecil berwarna hitam pekat dari sarungnya.

__ADS_1


__ADS_2