Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Keputusan Sabrang Damar


__ADS_3

Suasana keraton Malwageni tampak berbeda hari ini, penjagaan dibeberapa titik jauh lebih ketat. Kabar mengenai Mentari yang melarikan diri dan membunuh puluhan prajurit sudah menyebar didalam keraton.


Namun mulai hari itu, tak ada yang berani membicarakan Mentari karena Sabrang mengeluarkan titahnya untuk menghukum siapapun yang kedapatan berbicara mengenai Mentari.


Situasi keraton menjadi sedikit tegang, sudah beberapa hari Sabrang mengurung diri dikamar dan tidak ingin ditemui siapapun.


Lembu Sora tampak berdiri didepan pintu ruangan Wardhana sesaat, dia terlihat ragu untuk mengetuk pintu.


"Tuan patih, hamba mohon menghadap," ucapnya kemudian setelah memberanikan diri mengetuk ruangan itu.


"Masuklah," balas Wardhana dari dalam.


Lembu sora melangkah masuk dan menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Apa kau sudah membawa yang aku mimta?" tanya Wardhana pelan.


"Hamba sudah meminta keterangan dari beberapa prajurit yang melihat kejadian saat itu dan juga nona Airin sebagai pelayan nyonya selir, semua ada di gulungan ini," balas Lembu Sora sambil menyerahkan gulungan ditangannya.


"Terima kasih Sora," jawab Wardhana.


"Apa Yang mulia masih belum bisa ditemui?" tanya Sora hati hati.


Wardhana menggeleng pelan sambil menulis catatan yang dibuat Sora.


"Arung mengatakan Yang mulia masih tidak ingin ditemui, bahkan latihan beliau bersama Rubah Putih tertunda karena masalah ini. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kerajaan ini, masalah selalu datang silih berganti," ucap Wardhana sambil menarik nafas panjang.


"Tuan... bagaimana jika nyonya selir benar benar bersalah?" ucap Sora setengah berbisik.


"Jaga ucapanmu Sora, apa kau sadar kepalamu taruhannya?" suara Wardhana tiba tiba meninggi.


"Hamba mohon maaf tuan, namun masalah ini benar benar berdampak pada kondisi keraton. Jika ketegangan dan tekanan ini terus terjadi hamba khawatir keraton akan kacau. Pengkhianatan sangat dilarang di Malwageni, dan saat ini nyonya selir dianggap pengkhianat,“ balas Sora pelan.


Wardhana terdiam sesaat, dia menatap Lembu Sora yang menunduk dihadapannya. Wardhana mengerti, apa yang disampaikan Sora demi kebaikan Malwageni.


"Aku belum bisa berbuat apa apa, titah Yang mulia jelas, dilarang membicarakan apapun mengenai nyonya selir. Yang mulia sangat mencintai nyonya Mentari lebih dari apapun, beliau tak akan segan membunuh siapapun yang berani menyentuhnya termasuk diriku.


Yang bisa kita lalukan saat ini adalah menyelidiki semua kebenaran dibalik semua masalah ini, hanya itu," jawab Wardhana.


"Lalu jika terbukti tuan?"


"Lakukan saja apa yang ku perintahkan padamu, sisanya biar aku yang mengurusnya. Aku sudah meminta Hibata dan Lingga untuk melacak keberadaan nyonya selir, semoga mereka menemukannya," jawab Wardhana pelan.


"Baik tuan," balas Sora pelan.


"Tunggu dulu, apakah tugas pelayan selir sampai malam? bukankah ada pergantian saat matahari tenggelam?" tanya Wardhana tiba tiba.


"Hamba kurang paham tuan, karena semua pelayan kerajaan di atur oleh nyonya Daritri sekalu kepala pelayan kerajaan," jawab Sora.


"Siapa saja yang ada di paviliun nyonya selir saat penyusupan itu terjadi?" tanya Wardhana kembali.


"Enam orang prajurit Angin selatan yang pada saat itu sedang bertugas dan nona Airin tuan," jawab Sora bingung.


"Airin? nama ini seolah selalu muncul dalam masalah ini," ucap Wardhana.


"Hamba juga sempat mencurigainya tuan, namun semua yang berkaitan dengannya tidak ada yang ganjil. Tak ada yang tau malam itu akan ada penyusup yang bertepatan dengan saat dia tugas, dan semua jadwal yang mengaturnya adalah nyonya Daritri," jawab Sora.


"Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan Sora, sesuatu yang terlalu mulus biasanya sudah direncanakan dengan sangat matang. Aku hanya khawatir jika benar Airin terlibat, dia akan dibunuh oleh Yang mulia ataupun orang yang memberi perintah padanya," ucap Wardhana.


"Maksud anda?" Lembu Sora mengernyitkan dahinya.


"Jika benar anak itu terlibat, aku yakin ada yang memberi perintah padanya. Untuk seorang gadis muda, apa kau pikir dia memiliki keberanian menentang selir kesayangan Yang mulia?"


Lembu Sora terdiam, dia menatap Wardhana sesaat. Apa yang dikatakan Wardhana benar, dia pun akan berfikir ribuan kali untuk membahayakan Mentari mengingat posisinya sebagai selir kesayangan.


"Tolong panggilkan Daritri kemari, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan," pinta Wardhana.


"Baik tuan," jawab Sora pelan.


***


"Aku akan menemui tuan patih sebentar, ingat perintah Yang mulia, jangan ada yang boleh menemuinya sampai beliau yang mengizinkan," ucap Arung pada prajuritnya.


"Baik tuan," jawab salah satu prajurit sambil menundukkan kepalanya.


Saat Arung hendak meninggalkan paviliun raja, dia melihat Tungga Dewi dan beberapa dayang berjalan kearahnya.


"Hormat pada gusti ratu," Arung berlutut dihadapan Tungga Dewi.


"Aku akan menemui Yang mulia, umumkan kedatanganku," pinta Tungga Dewi.

__ADS_1


Wajah Arung tampak berubah seketika, dia sudah diperintahkan Sabrang untuk tidak mengizinkan siapapun menemuinya.


"Maaf Gusti ratu, sepertinya hamba tidak bisa mengizinkannya," balas Arung pelan.


Tungga Dewi tersenyum lembut sambil menatap orang kepercayaan Sabrang itu.


"Tak perlu khawatir, aku akan mengatakan pada Yang mulia jika aku memaksa masuk," balas Tungga Dewi sambil melangkah.


Arung hanya bisa pasrah, dia memberi tanda pada prajuritnya untuk memberi jalan pada Tungga Dewi.


Tungga Dewi tampak menatap pintu mewah yang terbuat dari emas itu sebelum melangkah masuk.


"Maaf jika hamba lancang Yang mulia, namun pangeran dari kemarin seolah gelisah ingin bertemu anda," ucap Tungga Dewi sambil mengelus perutnya yang mulai membesar.


Sabrang yang sedang duduk bersila di atas tempat tidurnya mulai membuka matanya. Sabrang tersenyum lembut berusaha menutupi kegelisahannya.


"Maaf, aku belum sempat mengunjungimu," balas Sabrang pelan.


"Mohon jangan meminta maaf Yang mulia," balas Tungga Dewi.


"Duduklah kemari," ucap Sabrang.


Tungga Dewi berjalan mendekat dan duduk tepat di sebelah Sabrang.


Mereka terdiam beberapa saat, tak ada yang terlihat berusaha membuka percakapan.


"Dia begitu polos saat aku pertama kali bertemu disebuah desa kecil, saat itu dia dalam cengkraman perampok kalajengking hitam. Sama sepertimu, aku yakin dia tidak akan mengkhianati ku.


Namun hukum tetaplah hukum, seperti ayah yang dulu mengasingkan selirnya saat terbukti bersalah. Aku sudah memutuskan untuk memerintahkan paman Wardhana mengejarnya, aku akan menanyakan sendiri apa yang sebenarnya terjadi," ucap Sabrang lirih.


"Saat hamba mendengar kabar itu, hamba adalah orang pertama yang tidak mempercayainya, Tari tak mungkin melakukan itu. Kami sempat bersaing sebelum dia meminta hamba mendampingi anda.


Yang mulia, izinkan hamba terlibat dalam masalah ini," pinta Tungga Dewi.


"Dewi, aku tidak dapat mengizinkannya, kau sedang mengandung pangeran. Aku tidak akan mengizinkan kau membahayakan pangeran," jawab Sabrang pelan.


"Hamba memohon atas nama pangeran Yang mulia, dia seolah meminta hamba membantu Tari," Tungga Dewi tiba tiba berlutut dihadapan Sabrang.


Sabrang terdiam, ada rasa haru dalam dirinya saat melihat sikap Tungga Dewi.


"Kau semakin pandai memaksaku. Baik, temui paman Wardhana dan sampaikan perintahku untuk membuka semua penyelidikan dari awal," Sabrang mengambil sebuah batu lempeng kecil dan menyerahkannya kepada Tungga Dewi.


"Dengan memegang batu itu, semua tindakan yang kau ambil sudah berdasarkan titah Raja Malwageni. Aku harus pergi menemui kakek Rubah putih di suatu tempat. Selain itu aku berusaha menjauhkan diriku dari penyelidikan ini, agar tidak ada kesan aku melindungi pengkhianat.


"Terima kasih Yang mulia, hamba akan pastikan Tari tidak bersalah," balas Tungga Dewi Cepat.


"Terima kasih, tapi kau harus tetap menjaga kandunganmu," ucap Sabrang yang dibalas anggukan oleh Tungga Dewi.


***


"Maaf hamba tidak bisa melakukannya tuan," Daritri menundukkan kepalanya.


"Apa katamu? kau berani membangkang perintah tuan Patih?" bentak Lembu sora saat Daritri tak mau menjawab beberapa pertanyaan Wardhana.


"Maaf tuan, hamba bukan bermaksud membangkang anda namun beberapa hari lalu bukankah Yang mulia mengeluarkan titah untuk tidak membuka penyelidikan kasus nyonya selir dan membicarakannya. Hamba hanya kepala pelayan biasa, hamba takut melanggar titah Yang mulia yang akan berujung dengan kematian," jawab Daritri.


"Kau!" Lembu Sora tampak menahan amarah.


Wardhana tersenyum kecut sambil menatap Daritri, dia tau wanita dihadapannya itu menyembunyikan sesuatu namun tidak bisa berbuat apa apa untuk menekannya.


Beberapa hari yang lalu, Sabrang memang mengeluarkan titah untuk menutup semua penyelidikan mengenai pengkhianatan Mentari dan melarang siapapun bicara yang berhubungan dengan kejadian itu


Wardhana tidak akan bisa memaksa Daritri bicara karena sama saja menentang Sabrang.


"Aku mengerti keputusan anda nona dan tak akan memaksa namun jika seorang patih sedang bertanya tentu kau harus menjawabnya karena aku yang bertanggung jawab dengan keamanan keraton.


Salah satu titah Yang mulia mengatur tentang hukum Malwageni, semua kemananan keraton berada dibawah garis perintahku, ku harap kau mau menjawab pertanyaan ku yang tidak bertentangan dengan titah Yang mulia," ucap Wardhana pelan.


Daritri tampak terdiam sesaat, sebelum mengangguk pelan.


"Jika tidak bertentangan dengan titah Yang mulia hamba akan mencoba menjawabnya," balas Daritri sambil tersenyum.


"Baik, penyerangan yang kemarin dilakukan di kediaman nyonya selir menandakan lemahnya penjagaan keraton. Aku akan bertanya sesuatu yang hanya berhubungan dengan keamanan keraton.


Semua yang ada ditempat kejadian akan ku periksa termasuk pelayan selir yang ada di sana. Ada beberapa pertanyaan yang harus aku ajukan padamu," ucap Wardhana pelan.


Wajah Daritri berubah seketika, dia tidak menyangka Wardhana masih memiliki celah untuk memeriksanya setelah keluarnya titah Raja.


"Silahkan tuan," jawab Daritri pelan.

__ADS_1


"Apa kau yang bertanggung jawab dalam perekrutan pelayan baru?" tanya Wardhana.


"Secara aturan memang hamba namun hamba melaporkannya pada gusti ratu," jawab Daritri.


"Melaporkan? jadi yang menentukan siapa yang menerima mereka sepenuhnya di tanganmu?"


"Hamba membentuk tim tuan, jadi keputusan ditangan tim," jawabnya cepat, dia mulai merasakan Wardhana mengincar sesuatu.


"Tim? kau yang memilihnya?"


Daritri mengangguk pelan, wajahnya tampak mulai gelisah.


"Tapi tuan...," belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Wardhana sudah memotong kembali.


"Jawab saja apa yang kutanyakan," bentak Wardhana tiba tiba.


"Ba..baik tuan, maafkan hamba."


"Aku ingin semua orang tim yang kau bentuk menghadapku sekarang termasuk pelayan nyonya selir yang saat kejadian berada di sana," ucap Wardhana tegas.


"Hamba akan usahakan secepatnya tuan, karena seluruh pelayan kerajaan berada di bawah perintah Gusti ratu, hamba perlu menghadap beliau.


Namun untuk Airin hamba mohon maaf tidak dapat mengabulkannya, karena berhubungan dengan nyonya selir, hamba takut melanggar perintah Yang mulia kecuali ada perintah langsung dari Yang mulia," jawab Daritri.


"Kau seolah berlindung dibawah titah Yang mulia," sindir Wardhana.


"Maaf tuan, hamba hanya melaksanakan titah raja."


"Berikan semua yang diinginkan tuan Patih," Tungga Dewi tiba tiba muncul dari balik pintu.


"Hormat pada Gusti ratu," mereka semua menundukkan kepala.


"Gusti ratu...," ucap Daritri pelan.


"Apa kau tidak mendengar perintahku?" suara Tungga Dewi meninggi.


"Tapi Gusti, hamba takut menentang titah Yang mulia," jawab Daritri pelan.


Tungga Dewi mengeluarkan sebuah batu lempengan yang diberikan Sabrang padanya.


"Batu perintah?" Wardhana tampak terkejut melihat Tungga Dewi memegang batu itu.


"Aku bicara atas perintah Yang mulia melalui simbol ini, Yang mulia sudah memerintahkan ku untuk membuka semua penyelidikan atas perbuatan selir beberapa hari lalu.


Batu ini memberiku kekuasaan untuk memutuskan sesuatu tanpa meminta izin Yang mulia. Berikan semua yang diminta tuan Patih atau aku harus mengembalikan batu ini karena sepertinya tidak terlalu berguna dihadapan kalian," ucap Tungga Dewi tajam.


"Didalam titah raja mengenai hukum Malwageni yang mengikat seluruh rakyat mengatakan, melawan perintah raja hukumannya matu, dengan memegang batu itu, Gusti ratu bicara atas nama Yang mulia, kuharap tak ada yang harus dihukum mati hari ini," timpal Wardhana.


"Hamba menerima perintah Yang mulia," jawab Daritri pelan, wajahnya mulai sedikit pucat.


"Panggil mereka semua sekarang karena aku tidak suka menunggu," perintah Tungga Dewi.


"Baik Gusti Ratu," ucap Daritri sambil menundukkan kepalanya dan melangkah pergi.


"Jadi Yang mulia sudah mengizinkan penyelidikan mengenai masalah nyonya selir?" tanya Wardhana pelan.


Tungga Dewi mengangguk pelan, "Aku akan memimpin langsung penyelidikan ini, dan akan aku buktikan Tari tidak bersalah. Tuan tolong jelaskan padaku apa yang sudah kau temukan?"


"Hamba mencurigai Airin terlibat dan mungkin juga Daritri, namun sepertinya mereka hanya sebagai pesuruh, ada yang jauh lebih besar dibelakang mereka yang ingin membuat keraton kacau, dan hanya satu nama yang ada dipikiran hamba, Gusti ratu," jawab Wardhana pelan.


"Saung Galah," Paksi tiba tiba muncul, dia menundukkan kepalanya dihadapan Tungga Dewi.


"Hormat pada Gusti ratu," ucap Paksi sopan.


"Saung Galah?" tanya Tungga Dewi bingung.


"Itu baru perkiraan kamu Gusti Ratu, semua akan terjawab setelah mendengar keterangan mereka semua. Jika benar Saung Galah melakukannya, ini yang kedua kalinya mereka mencari masalah dengan Malwageni setelah perebutan batas wilayah.


Hamba tidak tau apa yang akan diputuskan tuan Patih setelah ini namun jika boleh memberi saran kita harus memberi pukulan keras pada mereka kali ini," ucap Paksi pelan.


"Baik, lakukan apa yang perlu dilakukan tuan, aku hanya ingin Tari kembali ke keraton apapun caranya. Masalembo bukan lawan yang mudah, kehilangan Tari yang memiliki ilmu kanuragan tinggi akan mengurangi kekuatan kita.


Aku ingin semua perkembangan masalah ini dilaporkan padaku secepatnya," perintah Tungga Dewi.


"Baik Gusti Ratu," ucap Paksi dan Wardhana bersamaan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari ini saya akan beri sedikit bonus untuk kalian dengan catatan PNA kembali ke sepuluh besar...

__ADS_1


Ada 4 Chapter yang akan saya rilis yang digabung menjadi 2... Chapter kedua akan saya rilis pukul 8 malam...


VOTE


__ADS_2