Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pengguna Segel Terbaik


__ADS_3

"Kau yakin akan mengikuti pendekar muda itu nak? Ibu tau kita berhutang besar padanya namun bisakah kau pikirkan lagi masalah ini, kita bahkan tidak tau latar belakangnya selain bahwa dia adalah pendekar dari Malwageni," ucap Gayatri pelan.


"Ini sudah menjadi keputusanku, kuharap ibu mengerti," balas Elang sambil memijat kaki ibunya.


"Nak, jika kau melakukan ini hanya karena merasa berhutang janji pada pendekar muda itu sebaiknya lupakan. Ibu akan mencoba bicara padanya mengenai masalah ini."


"Tidak bu, ini bukan hanya soal janji seroang pendekar. Aku telah membunuh banyak orang tak berdosa hanya demi bertemu ibu dan aku ingin menebusnya dengan melindungi banyak orang seperti tuan Damar melindungi kita," ucap Elang.


Gayatri menarik nafasnya panjang sebelum mengangguk pelan, "Melindungi banyak orang dan meninggalkan ibumu sendiri di sini?"


"Ibu, jangan bicara seperti itu, aku akan sering datang berkunjung untuk bertemu ibu," rengek Elang serba salah.


Gayatri terkekeh melihat wajah bersalah anaknya, "Ibu hanya bercanda nak, pergilah dan temukan sendiri jalan hidupmu. Ibu sangat bangga padamu," jawab Gayatri lembut.


"Terima kasih....ibu," Elang membuka matanya saat mendengar Sabrang memangilnya.


"Yang mulia.. ah maksudku tuan, anda seharusnya tidak perlu membawakan aku makanan," ucap Elang canggung saat melihat Sabrang membawa beberapa buah buahan ditangannya.


"Tak perlu sungkan, kita sudah melakukan perjalanan selama beberapa hari berjalan sejak meninggalkan sekte Pedang Iblis dan belum menemukan makanan. Perutmu pasti lapar, makanlah," Sabrang melempar beberapa buah buahan pada Elang.


"Maaf tuan, sepertinya ini bukan arah menuju keraton, sebenarnya kemana tujuan kita selanjutnya?" tanya Elang bingung sambil memakan buah buahan.


"Gunung Semeru, itu tujuan kita selanjutnya. aku ingin menemui seseorang dan melihat dari dekat danau Ranu Kumbolo yang melegenda itu," jawab Sabrang sambil tersenyum.


"Menemui seseorang? apakah dia juga pendekar yang akan bergabung dengan Hibata?" tanya Elang penasaran.


"Kita akan mendapatkan jawabannya setelah tiba di danau itu tapi sebelumnya aku ingin kau melakukan satu hal untukku," Sabrang berbisik pada Elang.


"Anda yakin ingin aku melakukan itu?" Elang mengernyitkan dahinya.


"Sepertinya kali ini kita akan menghadapi penolakan darinya, dan melawan pengguna segel akan selalu sulit karena mereka mampu menipu mata kita, bergeraklah sesuai perintahku untuk mencari dimana dia bersembunyi selama aku memancingnya," balas Sabrang pelan.


"Baik tuan, aku mengerti," jawab Elang cepat.


"Aku akan meminjamkan pedang ini padamu, jika kau sudah menemukan dimana letak persembunyiannya, lemparkan ke udara sekuat tenaga tapi ingat jangan sekalipun memegang gagangnya karena pedang ini akan membakar siapapun yang tidak diakuinya sebagai tuan," ucap Sabrang sambil memunculkan pedang Naga Api di tangannya.


"Inikah Pedang Naga Api itu? jadi benar kabar yang kudengar jika pedang ini memilih tuannya sendiri," ucap Elang dalam hati, dia menerima pedang itu hati hati.


"Tak perlu khawatir, selama kau tidak memegang gagang pedang maka Naga Api tak akan bereaksi."


"Aku hanya perlu melemparnya di udara?" tanya Elang kembali.


"Benar, sisanya biar aku yang mengurusnya," Sabrang kemudian menatap langit yang mulai gelap dan turun hujan.


"Sepertinya malam akan datang lebih cepat, sebaiknya kita melanjutkan perjalanan karena aku ingin sampai di danau itu tengah malam. Jika yang dikatakan Satrio benar, harusnya tak lama lagi kita akan sampai di kaki gunung Semeru," ucap Sabrang sambil berkemas dan bersiap pergi.


"Tapi tuan, bukankah sebaiknya kita bergerak saat pagi hari? akan sangat berbahaya bergerak dalam gelap di tempat yang belum pernah kita datangi sebelumnya," jawab Elang cepat.

__ADS_1


"Tidak, justru bertarung pada malam hari adalah kesempatan terbaik jika ingin mengalahkan musuh yang menggunakan segel, dan aku cukup yakin dengan mataku," balas Sabrang pelan.


Sabrang dan Elang kembali melanjutkan perjalanan, mereka bergerak membelah gelapnya malam, dan sesuai perkiraan Sabrang, mereka akhirnya sampai di sebuah danau indah tepat saat tengah malam.


Sabrang dan Elang langsung meningkatkan kewaspadaannya, suasana gelap disekitar danau karena sinar bulan tertutupi awan hitam, ditambah hujan yang terus turun membuat suasana menjadi sangat mencekam.


"Apa ini tempatnya tuan?" bisik Elang sambil memperhatikan sekitarnya.


"Jika melihat sambutan yang dia berikan, sepertinya memang inilah danau itu," jawab Sabrang pelan.


"Sambutan?" Elang mengernyitkan dahinya bingung.


"Lupakan, sebaiknya kita segera mencari tempat untuk berteduh dan membuat perapian di sekitar sini karena suhu udara semakin dingin," balas Sabrang sambil menunjuk pohon rindang yang berada tak jauh darinya.


Saat Sabrang melangkah mendekati pohon besar itulah sesuatu yang aneh terjadi, kabut putih pekat tiba tiba muncul disekitar mereka.


"Elang! jangan jauh dariku," teriak Sabrang sambil melepaskan energi Anom untuk menekan kabut itu namun tidak ada jawaban dari Elang.


Dan ketika kabut putih itu menghilang, Elang sudah hilang dari pandangan Sabrang.


"Gawat!" Sabrang kemudian melepaskan energi Naga Api untuk membuat tubuhnya di selimuti api sehingga suasana di sekitar danau menjadi terang.


"Elang!" teriak Sabrang sambil mengaktifkan mata bulannya untuk mencari keberadaan Elang namun tiba tiba kabut putih tebal kembali muncul mengganggu penglihatan Sabrang.


"Aku tau kau bisa mendengar suaraku, tolong jangan salah paham, aku hanya ingin bicara baik baik denganmu," Sabrang tiba tiba bergerak mundur saat sepasang tombak melesat kearahnya dengan kecepatan tinggi.


"Sial!" Sabrang memutar tubuhnya dan menangkis belasan tombak yang mengarah padanya dengan cepat dan disaat bersamaan memunculkan belasan energi keris yang berputar di udara untuk mendeteksi pemilik tombak kembar itu.


"Anom, cari dimana pengguna segel ini bersembunyi dengan energi milikmu, kita tidak bisa terus bertarung dalam kabut tebal seperti ini," Sabrang mengarahkan tangannya ke udara sebelum energi keris penguasa kegelapan bergerak menyebar ke segala arah.


Sabrang kembali dipaksa menghindar saat belasan tombak lainnya muncul dan menyerangnya terus menerus.


"Tarian Iblis pedang," Sabrang melompat di udara sambil mengayunkan pedangnya kearah belasan tombak yang terarah padanya.


Tombak tombak itu menghilang bagai asap saat pedang Sabrang menyentuhnya dan muncul kembali dari arah yang tidak terduga.


Sabrang terus menghindari serangan itu dengan lincah, walau kabut putih yang menyelimuti danau Ranu Kumbolo semakin pekat namun mata bulan Sabrang masih mampu melihat gerakan tombak yang bergerak semakin cepat.


"Aku merasakan energi batu Satam saat tombak tombak itu mendekat, sepertinya pusaka itu memiliki ruh," ucap Naga Api tiba tiba.


"Aku tau, tapi bukan itu yang membuatku cemas. Saat ini aku terpaksa menggunakan mata bulan secara terus menerus untuk dapat melihat dalam kabut tebal ini dan itu cukup menguras tenaga dalam, kita harus cepat menemukan dimana pengguna segel ini bersembunyi," Sabrang kembali memaksakan mata bulannya saat belasan tombak yang bergerak kearahnya seolah menyatu dengan kabut tebal.


"Kau harus cepat menemukan dimana dia bersembunyi, Elang!" ucap Sabrang kesal.


***


"Tuan Damar?" Elang menajamkan pandangannya saat melihat seorang pria berdiri di pinggir danau.

__ADS_1


"Pergilah, kita harus cepat meninggalkan danau ini sebelum terlambat," jawab Sabrang tanpa menoleh sedikitpun.


"Meninggalkan danau ini? bukankah..."


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, cepat pergi! aku akan menyusul setelah membereskan pengguna segel tanah ini," balas Sabrang cepat.


Elang tampak berfikir sejenak sebelum tersenyum kecil.


"Begitu ya...baiklah tuan tapi sebelum itu aku ingin mengembalikan pedang yang anda pinjamkan padaku tadi," balas Elang sambil berjalan mendekat.


"Berhati hatilah tuan, aku akan menunggu di kaki gunung," Elang menyodorkan pedang itu pelan.


"Terima kasih, sekarang pergilah, biar aku yang mengatasi semuanya sendiri," jawab Sabrang sambil memegang gagang pedang yang diberikan Elang padanya.


Namun betapa terkejutnya dia saat pedang itu tiba tiba mengeluarkan kobaran api dan membakar tangannya dengan cepat.


Pria itu langsung membuang pedang Naga api ketanah dan disaat bersamaan sebuah tebasan pedang menghantam tubuhnya cukup keras yang membuat dia terlempar kedalam danau.


"Kau mungkin bisa membohongi mataku tapi tidak dengan pusaka Naga Api, dia akan membakar siapapun yang tidak diakui sebagai tuannya," ucap Elang sambil menatap pria yang berdiri di atas danau.


"Aku memberimu kesempatan untuk pergi tapi kau justru menyerangku seenaknya, jangan salahkan aku jika hari ini kau terbunuh," pendekar itu memunculkan sepasang tombak kembar sebelum bergerak menyerang.


"Ternyata dunia persilatan jauh lebih menarik dari yang kupikirkan," Elang melepaskan aura dari tubuhnya dan melesat menyambut serangan lawannya.


Saat pusaka mereka hampir berbenturan, Sabrang tiba tiba muncul dan mencengkram kedua pusaka itu sambil melepaskan jurus ledakan tenaga dalam yang membuat tubuh kedua pendekar itu terpental beberapa langkah.


"Bagaimana mungkin?" pendekar itu tampak terkejut saat melihat Sabrang bisa menembus segel tanah sekaligus meredam benturan dua pusaka yang sama sama dialiri tenaga dalam cukup besar.


"Iblis api, dialah tuan Iblis api, kita dalam masalah besar kali ini," balas Kirana panik.


"Dasar bodoh, apa kalian ingin saling bunuh?" bentak Sabrang kesal.


"Maaf tuan, dia yang menyerang lebih dulu, aku hanya membela diri," jawab Elang pelan.


"Jadi kau pemuda yang dijuluki pendekar tanpa bayangan? ada yang ingin aku bicarakan denganmu," tubuh Sabrang tiba tiba menghilang sebelum muncul kembali dengan tapak es utara di sisi kanan pendekar itu.


"Cepat sekali..." pemuda itu membentuk perisai tenaga dalam dengan cepat untuk menahan serangan Sabrang namun sekuat apapun dia menahan, tubuhnya masih terdorong beberapa langkah.


"Ingin bicara denganku tapi menyerang tiba tiba? sepertinya kau sama saja dengan para pendekar dunia persilatan lainnya," balas pemuda itu sinis.


"Kau boleh menganggapnya seperti itu tapi jika aku mau, saat ini kau sudah mati di tanganku," jawab Sabrang pelan.


"Apa kau ber...." belum selesai pendekar itu bicara, tubuhnya tiba tiba terhuyung dan jatuh dalam posisi berlutut.


"Lama tak berjumpa Kirana," kobaran api tiba tiba menyelimuti tubuh Sabrang dan membentuk sebuah naga yang menjulang tinggi ke atas.


"Iblis api, apa kau pikir aku takut pada ancaman mu?" balas Kirana cepat.

__ADS_1


"Mengancam? aku tak perlu mengancam mahluk lemah sepertimu, jika aku ingin, detik ini juga kau dan seluruh area danau ini bisa kubakar dengan mudah," balas Naga Api sambil melepaskan energi api dalam jumlah besar.


__ADS_2