Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Tekad Mentari


__ADS_3

"Kadipaten Sukasari?" Sabrang mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Wardhana.


Wardhana mengangguk pelan, kemudian menceritakan kesepakatannya dengan Lingga Maheswara beberapa hari lalu.


"Kita akan menyelamatkan tuan Kertapati yang ditahan di sana Pangeran sebelum bertemu dengan tuan Mada di Rogo geni".


Sabrang terlihat mengangguk sambil mencerna perkataan Wardhana.


"Tuan Kertapati adalah komandan pasukan Angin selatan yang bertugas menjaga keselamatan Yang mulia raja. Dia tertangkap saat Malwa geni diserang Majasari, kita membutuhkan pengaruhnya untuk mengumpulkan kembali beberapa pasukan angin selatan yang selamat saat penyerangan itu. Namun ada beberapa masalah Pangeran.....". Wardhana terdiam sejenak, dia kembali mengingat kesepakatan yang dibuatnya dengan Lingga.


( Flashback )


"Dia ditahan di Kadipaten Sukasari dengan penjagaan beberapa pendekar Iblis hitam dan prajurit kerajaan. Semua tergantung padamu, aku tidak memiliki akses ke sana namun aku bisa membantumu menarik beberapa pendekar kelas tinggi yang berjaga sana.


Sisanya kalian sendiri yang berusaha, jika kau setuju ayo kita lakukan namun jika tidak aku akan mencari sendiri murid sekte Elang putih itu tanpa bantuanmu" Lingga menatap tajam Wardhana


Wardhana tersenyum kecut mendengarnya namun dia dapat memahami apa yang ditawarkan Lingga karena membebaskan tahanan Majasari taruhannya adalah nyawanya.


"Baik aku setuju" Wardhana mengulurkan tangannya dan disambut oleh Lingga Maheswara.


"Tapi ingat pesan ku, bergeraklah dengan senyap dan jangan sampai ada korban dari pendekar Iblis hitam yang berjaga disana. Jika aku mendengar ada orangku yang tewas, kesepakatan ini batal dan aku akan mengejarmu sampai kapanpun".


"Baik aku sepakat".


***


"Apakah dia bisa dipercaya paman?" Sabrang mengernyitkan dahinya. Dia sudah sering mendengar kekejaman Iblis hitam selama ini.


Wardhana menggelengkan kepalanya "Hamba belum tau Pangeran namun dia bisa saja membunuhku saat kami menemukan murid Elang putih di Kediri. Semoga dia menepati janjinya, kali ini aku sedikit bertaruh". Wardhana berbicara pelan sambil menundukan kepalanya, dia menunggu persetujuan Sabrang untuk menjalankan rencananya.


Sabrang terlihat berfikir sejenak.


"Baiklah paman aku menyetujuinya namun jika keadaan tidak memungkinkan kita akan pergi dari sana secepatnya".


"Baik Pangeran". Wardhana kemudian menjelaskan rencana membebaskan Kertapati pada Sabrang.


***

__ADS_1


Kumbara terlihat berjalan cepat memasuki ruangan ketua sekte Kelelawar hijau, tak lama Bahadur menyambutnya di depan pintu dan mempersilahkan masuk.


"Ada apa tetua? sepertinya ada hal penting yang ingin kau sampaikan?" Kumbara berbicara setelah duduk diruangan.


Bahadur terlihat ragu untuk mengatakannya, wajahnya menampakan kekhawatiran.


"Ini mengenai nona Mentari tuan" Bahadur terdiam sesaat.


Kumbara memejamkan matanya, dia seperti mengetahui apa yang akan dibicarakan Bahadur. Kumbara merasa jika racun Kelelawar hijau tak semudah itu dinetralkan.


Kelelawar hijau dikenal sebagai sekte pengguna racun terbaik dibawah sekte Racun selatan.


"Bagaimana keadaannya?" Kumbara bertanya pelan, dia tidak bisa membayangkan reaksi Sabrang jika terjadi sesuatu pada Mentari akibat racun Kelelawar hijau.


"Jurus tapak beracun milik Kelelawar hijau merupaka jurus tingkat tinggi yang menggunakan racun ular hitam. Sebuah racun mematikan yang sangat sulit dicari penawarnya.


Aku sudah meminumkan penawarnya pada nona itu namun sedikit terlambat karena racun sudah menyebar hampir diseluruh tubuhnya. Jika saja saat itu aku bisa sedikit cepat mungkin keadaannya tidak seperti ini". Bahadur menunduk tak berani menatap Kumbara. Walaupun ini perbuatan Lembah siluman namun dia merasa bertanggung jawab karena muridnya lah yang menyerang Mentari.


"Apa tidak ada jalan lain?".


"Sebenarnya ada satu cara tuan namun ini akan sangat merepotkan".


"Anda pernah mendengar tentang Nyi Sumbi?" Bahadur menatap Kumbara menunggu reaksinya setelah mendengar nama Sumbi.


"Kau tidak bermaksud meminta bantuan pada wanita penunggu gua surupan itu bukan?". Wajah Kumbara tiba tiba berubah kesal.


Bahadur tersenyum kecil melihat reaksi Kumbara. Dia sangat mengerti jika semua pendekar enggan berurusan dengan Sumbi.


Pendekar wanita ini memang memiliki perangai yang aneh, dia tidak suka dengan kehadiran siapapun di tempatnya. Beberapa pendekar yang mencoba berguru dengannya berakhir dengan meregang nyawa ditangannya.


Sifat kejamnya terhadap siapapun yang mencoba mengusiknya membuat hampir semua pendekar enggan berurusan dengannya.


"Hanya itu harapan kita tuan" Bahadur berkata pelan.


"Maksud anda?".


"Anda pernah mendengar ajian Lebur sukma?. Sebuah ilmu kanuragan tingkat tinggi yang hanya dikuasai oleh nyi Sumbi ini dapat mengikat segala macam racun dalam tubuh dan mengeluarkannya melalui tenaga dalam. Itulah kenapa para pendekar yang dibunuh olehnya tewas dalam seketika karena tenaga dalam nyi Sumbi mengandung racun mematikan".

__ADS_1


Kumbara menarik nafas panjang "Yang menjadi masalah apakah dia mau menurunkan ilmunya pada nona itu, kau tau sendiri dia tidak pernah mau menerima murid".


Bahadur mengangguk pelan, dia juga tidak terlalu yakin Sumbi mau menerima Mentari sebagai muridnya namun hanya itu satu satunya cara yang dia tau untuk menyelamatkan Mentari.


"Berapa lama waktu yang dimiliki nona itu?" Kumbara terlihat putus asa namun dia akan mencoba menemui Sumbi.


Kumbara berfikir akan lebih mudah menghadapi Sumbi daripada Naga api yang ada didalam tubuh Sabrang.


"Dua purnama tuan sebelum racun itu merusak organ tubuhnya".


"Semoga Sumbi bisa merubah pikirannya atau Iblis itu akan benar benar menguasai anak itu".


***


"Ikutlah denganku sementara waktu" Kumbara berkata sambil menatap Mentari yang duduk dihadapannya.


"Tapi kek" Mentari terlihat ragu menjawab ajakan Kumbara.


"Dengarlah, racun di tubuhmu hanya bisa disembuhkan oleh ajian yang hanya dikuasai seorang pendekar wanita dari gua surupan. Aku akan mencoba untuk membujuknya mengajarimu jurus itu.


Tuanmu akan selalu dikelilingi bahaya karena itu sudah takdirnya sebagai Pangeran Malwageni, jika kau ingin mengikutinya kau harus memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni agar tidak menjadi bebannya".


Mentari terdiam mendengar perkataan Kumbara. Dia menyadari selama ini hanya menjadi beban Sabrang namun keegoisannya untuk selalu mengabdi pada Sabrang membuatnya menutup mata atas kelemahannya selama ini.


"Aku sudah katakan berkali kali saat di Wanajaya bahwa anak itu sangat berbahaya, ada Iblis api dalam tubuhnya yang setiap saat bisa merebut kesadarannya dan saat itu terjadi dia akan menjadi bencana bagi dunia persilatan. Naga api memanfaatkan kemarahan anak itu untuk berusaha merebut tubuhnya.


Kejadian kemarin membuka mataku jika kau bisa menjadi pemicu Naga api bangkit. Aku tidak melarangmu mengikutinya namun kau harus menjadi lebih kuat agar kejadian kemarin tidak terulang lagi".


"Apakah aku bisa menguasainya?" Mentari sedikit ragu dengan kemampuannya.


"Setiap manusia mempunyai bakat terpendam dalam tubuhnya dan kau pun memilikinya. Kau hanya perlu mengenali bakatmu dan menyatukannya dengan ilmu yang kau pelajari. Orang yang kau panggil Pangeran itu contohnya, dengan bakat yang dia miliki seharusnya saat ini dia bisa menjadi pendekar terkuat di tanah nusantara namun dia belum menyadari bakatnya sepenuhnya.


Aku akan mengajarimu dasar ilmu kanuragan selama perjalanan ke gua surupan agar kau mempunyai dasar untuk mempelajari ajian lebur sukma".


Mentari terlihat berfikir sejenak sebelum mengangguk pelan menandakan dia setuju untuk ikut Kumbara ke gua surupan.


Kumbara tersenyum lega melihat reaksi Mentari.

__ADS_1


"Besok pagi pagi sekali kita berangkat, persiapkanlah segala keperluanmu". Kumbara bangkit kemudian melangkah keluar meninggalkan Mentari sendirian.


"Pangeran, aku pasti akan menjadi lebih kuat untuk membantumu merebut kembali Malwageni".


__ADS_2