
"Bagaimana mungkin dua penampung air ini bisa terisi penuh secara bersamaan saat lubang di keduanya tidak sama dan kemampuan si bodoh ini jauh di bawahku, dia hanya mencari cari alasan untuk menghukum kami," umpat Minak Jinggo kesal sambil membanting ember yang terbuat dari kayu ditangannya sampai hancur.
Sudah dua hari Minak Jinggo dan Wicaksana tidak ikut berlatih bersama yang lainnya karena belum bisa menyelesaikan hukuman yang diberikan Sabrang.
"Jadi kau merasa lebih kuat dariku? bagaimana jika kita buktikan?" Wicaksana tiba tiba melepaskan aura yang cukup besar dan memasang kuda kuda bertarung.
"Kau yang memintanya, jangan salahkan aku jika kau terluka," Minak Jinggo yang sedang kesal merasa menemukan pelampiasan, kedua tangannya diselimuti tenaga dalam yang cukup besar menandakan siap menggunakan tapak peregang sukma.
"Dasar bodoh, apa kalian sudah merasa paling kuat?" Sekar Pitaloka yang awalnya diam mulai tersulut emosinya karena melihat tingkah kekanak-kanakan dua pemuda itu.
Tubuh Sekar Pitaloka tiba tiba menghilang dan muncul beberapa detik kemudian dihadapan mereka sebelum melepaskan tapak es utara tepat diperut keduanya.
Minak Jinggo dan Wicaksana yang tidak menyangka akan mendapat serangan tiba tiba tak mampu menghindar, tubuh mereka menjadi kaku saat rasa sakit dengan cepat menjalar di seluruh tubuh sebelum terjatuh dengan posisi berlutut.
"Nenek ini? apa keluarga kalian mempunya kekuatan menakutkan seperti ini?" ucap Minak Jinggo terkejut.
"Kau panggil aku apa?" sebuah bongkahan es kembali terbentuk di tangan kanan Sekar Pitaloka.
"Ibu ratu... maksudku...." Minak Jinggo langsung meralat ucapannya karena menyadari dirinya dalam bahaya.
"Mulutnya memang tajam ibu ratu, sebaiknya anda menghukumnya lebih berat," balas Wicaksana sinis.
"Dan kau merasa tidak bersalah?" Sekar Pitaloka menoleh cepat kearah Wicaksana bersamaan dengan terbentuknya pisau es di lengan kirinya.
"Aku..." Wicaksana langsung menunduk sebelum menoleh kearah Minak Jinggo.
"Dia lebih menakutkan dari Yang mulia," ucap mereka dalam hati bersamaan.
"Apa kalian pikir dengan bakat besar yang dimiliki suatu saat pasti akan menjadi pendekar hebat? aku sudah banyak melihat pendekar muda dengan bakat besar mati dalam pertarungan bahkan sebelum dia mampu memaksimalkan kelebihannya," bentak Sekar Pitaloka.
Wicaksana dan Minak Jinggo terdiam, tak ada yang berani membantah ucapan Sekar Pitaloka.
"Anakku memberi kalian hukuman dengan mengisi air itu bersamaan karena ingin mengajarkan jika bakat saja tidak cukup bagi seorang pendekar, selain berlatih dan terus berlatih juga diperlukan kerja sama. Saat ini Yang mulia mungkin adalah pendekar terkuat tapi apa kalian pikir dia mendapatkannya hanya dari berlatih sendiri? orang orang disekitarnya yang membuat dia menjadi kuat, bodoh!
"Sebesar apapun bakat dan ilmu kanuragan yang kalian pelajari tetap membutuhkan bantuan orang lain, tapi kalian justru merasa paling hebat dan seolah tidak membutuhkan bantuan orang lain. Jika isi kepala itu tidak segera di rubah cepat atau lambat kalian akan mati mengenaskan," ucap Sekar Pitaloka melanjutkan.
"Maaf ibu ratu, aku tidak pernah berfikir seperti itu tapi apa salah jika aku..."
"Salah! aku sudah mendengar dari ki Ageng tentang bakat yang kau miliki, apa kau merasa suatu saat bisa melampaui Sabrang? jika menangkis seranganku yang hanya menggunakan sedikit tenaga dalam saja kalian tidak mampu maka jangan pernah bermimpi untuk mengejarnya," Sekar Pitaloka menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya, dia seolah ingin mengatur emosinya terlebih dahulu.
"Apa kalian tau inti dari ilmu kanuragan? sekte pedang naga api dan angin biru adalah dua kekuatan besar dunia persilatan yang menjunjung tinggi makna dari ilmu kanuragan, kalian seharusnya malu mengaku sebagai murid dari kedua sekte itu," Sekar Pitaloka tiba tiba mengambil tiga buah ranting pohon dan melempar dua buah ranting pada mereka.
"Tunjukkan padaku apa yang sudah kalian pelajari selama berada di sekte, berhati hatilah karena suasana hatiku sedang buruk saat ini," Sekar Pitaloka melepaskan aura besar dari tubuhnya yang membuat Wicaksana dan Minak Jinggo menelan ludahnya.
Minak Jinggo dan Wicaksana saling berpandangan, mereka terlihat ragu untuk menyerang Sekar Pitaloka.
"Jika kalian tidak ingin menyerang lebih dulu, maka aku yang akan memulainya," Sekar Pitaloka langsung bergerak menyerang membuat kedua pemuda itu terpaksa menyambut serangannya.
"Sebaiknya lupakan dulu permusuhan diantara kita jika tidak ingin mati konyol," ucap Minak Jinggo cepat.
"Aku setuju, Ibu ratu benar benar kuat," balas Wicaksana khawatir.
Tekanan udara disekitar mereka langsung naik akibat gesekan tenaga dalam ketiganya, walau Sekar Pitaloka mengatakan jika dia hanya ingin melihat kemampuan mereka tapi aura dan serangan yang ditunjukkannya seolah ingin membunuh kedua pemuda itu.
"Kekuatannya terus meningkat," Minak Jinggo tampak terkejut saat Sekar Pitaloka mampu mendesak mereka berdua dengan cepat.
Minak Jinggo bahkan terpaksa mengeluarkan jurus api abadinya untuk mengimbangi Sekar Pitaloka sedangkan Wicaksana tampak sedikit menahan kekuatannya karena ingin mempelajari gerakan Sekar Pitaloka terlebih dahulu.
Ilmu kanuragan Wicaksana mungkin sedikit dibawah dari Minak Jinggo tapi dia memiliki kemampuan untuk membaca arah pertarungan.
Sekar Pitaloka yang sadar dengan bakat yang dimiliki Wicaksana terus merubah gerakannya agar pemuda itu sulit membaca arah serangannya.
"Sekarang," ucap Wicaksana cepat sambil mengayunkan ranting ditangannya dan disaat bersamaan Minak Jinggo melepaskan jurus pedang api abadi.
"Hanya ini yang bisa kalian pelajari dan sudah merasa paling kuat? kalian bahkan lebih lemah dari para pendekar muda di luar sana," Sekar Pitaloka meningkatkan kecepatannya untuk menghindari semua serangan kedua pemuda itu dan disaat bersamaan memusatkan konsentrasinya untuk mencari celah menyerang balik.
"Ilmu pedang bukan hanya soal besarnya tenaga dalam dan kecepatan kalian, ada alasan kenapa dalam jurus pedang apapun selalu menggabungkan kelembutan dan kekuatan. Ilmu pedang kalian benar benar masih mentah."
Tubuhnya berputar seolah mengikuti kemana arah serangan kedua pemuda itu dan saat celah keduanya terbuka dia langsung melakukan serangan balik.
__ADS_1
"Jurus pedang Serbuk Bunga penghancur Iblis," Sekar Pitaloka mengayunkan rantingnya sekuat tenaga kearah Minak Jinggo saat berhasil memaksa Wicaksana mundur beberapa langkah.
Minak Jinggo tidak tinggal diam, dia bukannya mengikuti Wicaksana mundur tapi justru menyambut serangan itu dengan penuh percaya diri.
Namun betapa terkejutnya Minak Jinggo saat Sekar Pitaloka merubah jurusnya disaat terakhir, hal yang tak pernah dia perkirakan sebelumnya.
"Ilmu pedang yang sesungguhnya tidak digunakan untuk menyombongkan diri apalagi demi kesenangan kalian sendiri, tapi untuk melatih disiplin dan kepatuhan pada aturan yang telah dibuat dan disepakati bersama karena inti dari ilmu kanuragan adalah perjuangan untuk hidup lebih baik tanpa merugikan orang lain," sabetan ranting Sekar Pitaloka menghantam tepat di perut Minak Jinggo yang membuatnya terlempar beberapa langkah.
"Perjuangan untuk hidup lebih baik tanpa merugikan orang lain?" ucap Minak Jinggo sambil menahan rasa sakit ditubuhnya.
"Apa kau mengerti yang aku katakan?" Sekar Pitaloka mengarahkan ranting pohon kearah Wicaksana.
"Aku mengerti ibu ratu," Wicaksana langsung membuang ranting ditangannya sebagai tanda menyerah.
"Tanpa memahami prinsip itu, sebesar apapun bakat yang miliki, kalian hanya akan menjadi pendekar lemah sampai kapanpun," ranting di tangan Sekar Pitaloka tiba tiba hancur menjadi debu.
"Anda harus lebih bersabar ibu ratu, mereka hanya anak kemarin sore yang kebetulan dianugerahi bakat yang besar," ucap Wulan melangkah mendekati mereka.
"Nenek guru, syukurlah anda datang tepat waktu," balas Wicaksana dan Minak Jinggo hampir bersamaan.
Dan yang terjadi berikutnya adalah sebuah pukulan penuh tenaga dalam menghantam tubuh mereka dan mematahkan beberapa tulang rusuk.
"Apa kita melakukan kesalahan lagi?" wajah memelas Minak Jinggo yang menahan rasa sakit tampak bingung.
"Jangan pernah memanggil seorang wanita dengan sebutan itu bodoh!" umpat Wulan kesal.
"Bukankah beberapa detik lalu kau mengatakan untuk bersabar menghadapi anak kemarin sore yang dianugerahi bakat besar?" sindir Sekar Pitaloka sambil terkekeh.
"Kutarik kembali ucapan itu, mereka berdua memang pantas di bunuh!" balas Wulan cepat.
"Apa wanita selalu menakutkan seperti ini? sepertinya Yang mulia memang pendekar terkuat karena bisa hidup bersama tiga wanita diwaktu bersamaan," ucap Wicaksana dalam hati sambil membayangkan betapa menderitanya hidup Sabrang bersama tiga wanita yang sama sama memiliki ilmu kanuragan tinggi.
"Ibu ratu, aku akan pergi ke keraton selama beberapa hari untuk menemui tuan Wardhana, bisakah anda jaga mereka selama aku pergi," ucap Wulan sopan.
Sekar Pitaloka tersenyum kecil saat melihat raut wajah Wulan yang malu malu ketika menyebut nama Wardhana.
"Pergilah, temui dia dan katakan untuk segera menikahimu, dia adalah tipe pria yang harus dipaksa karena yang ada dipikirannya hanya Malwageni," goda Sekar Pitaloka.
"Wajahmu mengatakan sebaliknya, kau jauh lebih tua dariku dan sudah saatnya memikirkan menikah dan memiliki keturunan," potong Sekar Pitaloka.
Wajah Wulan semakin memerah, dia tidak tau harus menjawab apalagi karena sebenarnya hal itu yang selama ini ingin didengarnya dari Wardhana.
"Apa tidak sebaiknya kita pergi?" bisik Wicaksana saat melihat situasi sudah mulai membaik.
"Kali ini aku setuju denganmu, mereka berdua adalah wanita paling berbahaya yang pernah kutemui," balas Minak Jinggo cepat sambil melangkah perlahan.
"Berani kalian pergi saat sedang dihukum, akan kubunuh kalian," ucap Sekar Pitaloka tiba tiba.
"Kami hanya ingin beristirahat sebentar ibu ratu," jawab Minak Jinggo pelan.
"Apa kau lupa aturannya? kalian hanya boleh beristirahat setelah berhasil mengisi bak penampungan air itu atau saat tengah malam," balas Sekar Pitaloka.
"Dia kejam sekali," umpat Minak Jinggo dalam hati sambil mengambil ember baru dan melangkah pergi.
"Apa tida sebaiknya kita bekerja sama?" ucap Wicaksana sambil berlari mengejar Minak Jinggo.
"Bekerja sama?" Minak Jinggo terlihat mulai tertarik, saat ini dia akan melakukan apapun asalkan bisa beristirahat secepatnya.
Wicaksana kemudian menjelaskan rencananya agar kedua wadah air itu bisa terisi penuh secara bersamaan.
"Apa mereka akan berhasil? tanya Wulan pelan.
"Aku tidak tau karena semua tergantung pada mereka, aku sebenarnya tidak ingin mengakuinya tapi mereka berdua saat ini adalah pendekar paling berbakat yang dimiliki dunia persilatan. Semoga mereka secepatnya bisa mengatasi kelemahan terbesar yang selama ini menghambat perkembangannya," jawab Sekar Pitaloka pelan.
"Tuan Wardhana?" ucap Wulan tiba tiba saat melihat Wardhana di kejauhan berjalan mendekati mereka.
"Sepertinya kalian sudah saling terikat," Sekar Pitaloka kembali menggoda Wulan.
"Hormat pada Ibu ratu," ucap Wardhana sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kebetulan sekali kau muncul, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu," jawab Sekar pelan.
"Hamba siap menerima perintah Ibu ratu," balas Wardhana cepat.
"Apa kau akan mengikuti semua perintahku, Wardhana?" tanya Sekar Pitaloka.
"Ibu ratu, mohon jangan bicara seperti itu, apapun perintah anda akan hamba lakukan."
"Begitu ya..." Sekar Pitaloka menoleh kearah Wulan sambil tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya.
"Nikahi nona Wulan, sudah saatnya kau mulai memikirkan masalah ini Wardhana."
"Menikah?" wajah Wardhana dan Wulan berubah seketika saat mendengar permintaan Sekar Pitaloka.
"Apa kau menolak perintahku?" tanya Sekar kembali.
"Hamba tidak berani Ibu ratu tapi...." Wardhana tidak dapat melanjutkan ucapannya.
"Maka lakukan secepatnya, aku akan meminta Sabrang untuk menyiapkan semuanya," balas Sekar Pitaloka.
"Ibu ratu..." Wardhana menoleh kearah Wulan seolah meminta penjelasan atas sikap Sekar itu yang hanya dibalas dengan gelengan kepala.
***
Sabrang tampak terkejut saat mendapati dirinya berasa di sebuah ruangan yang cukup besar dengan gambar gambar aneh di dindingnya.
"Tempat apa ini? bukankah seharusnya aku berada di Trowulan bersama Tari?" ucapnya bingung sambil menatap sekitarnya.
"Naga api, apa kau tau dimana ini?" tanya Sabrang cepat, dia berusaha memunculkan pedangnya saat seorang pria berumur delapan puluh tahun yang mengenakan pakaian serba hitam muncul dihadapannya.
"Iblis lemah itu tak akan pernah bisa menembus dimensi milikku," ucap pria itu pelan.
"Rabing? bagaimana kau bisa..." Sabrang berusaha memunculkan pedang Naga Api namun tak berhasil, dia merasa seluruh tenaga dalamnya ditekan oleh sesuatu.
"Percuma kau melawan, Iblis api itu tak akan bisa membantumu," gelembung gelembung air mulai muncul disekitar Rabing.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku? sudah mengatakan padamu jika aku tidak tertarik padamu," balas Sabrang.
"Pusaka Bilah gelombang tak pernah meminta persetujuan tuannya, ketika aku menginginkanmu maka akan kudapatkan," jawab Rabing sambil berjalan mendekati Sabrang dan mencengkeram lehernya.
"Lepaskan aku," teriak Sabrang sambil mencoba berontak.
"Sebentar lagi kita akan menyatu dan kau akan menjadi pendekar terkuat, tapi ada sesuatu yang harus aku persiapkan sebelum kita menyatu," lengan kiri Rabing menyentuh kepala Sabrang dan perlahan, gelembung gelembung air itu masuk ke tubuh Sabrang.
Sabrang menjerit kesakitan saat merasakan tubuhnya hampir meledak, dia dapat melihat bagaimana air itu masuk dan menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Tubuh sembilan Naga benar benar menakjubkan, tak terlihat efek apapun saat energi milikku masuk ketubuhmu," ucap Rabing kagum, dia kemudian mengeluarkan sebuah pisau yang terbuat dari air di lengan kirinya yang menandakan persiapan terakhirnya hampir selesai.
"Dengan bersemayamnya mustika air ini, aku hanya tinggal menunggu kau membangkitkan aku," Rabing mengayunkan tangannya untuk menancapkan mustika itu di tubuh Sabrang.
Namun betapa terkejutnya dia saat sebuah aura tiba tiba muncul dari dalam tubuh Sabrang dan melindunginya yang membuat Rabing dan mustika nya terdorong mundur beberapa langkah.
"Aura siapa ini? tidak mungkin...bagaimana bisa ada aura yang mampu menembus dimensi milikku," ucap Rabing terkejut.
Rabing kembali bergerak mendekati Sabrang dan berusaha menancapkan mustika air tapi tubuh Sabrang seolah terhisap oleh aura misterius itu dan menghilang.
"Tidak!!!" teriak Rabing kesal. "Siapa yang melakukannya? aku yakin itu bukan milik Iblis api ataupun keris itu.
"Yang mulia?" suara khawatir Mentari terdengar sesaat sebelum Sabrang terbangun dari tidurnya.
"Tari? apa yang terjadi?" tanya Sabrang sambil mengatur nafasnya.
"Anda tertidur cukup lama Yang mulia dan tubuh anda mengeluarkan aura aneh," jawab Mentari pelan.
"Tertidur?"
"Hei nak, apa yang sebenarnya terjadi? kupikir kau sudah mati karena aku tidak merasakan sedikitpun hawa kehidupan," tanya Anom tiba tiba.
"Aku..."
__ADS_1
"Apa Iblis air itu yang melakukan ini? walau sangat lemah tapi untuk sesaat aku merasakan energinya," timpal Naga Api cepat.