
"Kemampuan pedang mu sudah meningkat pesat, kau hanya perlu meningkatkan tenaga dalam mu kembali". Lasmini menyarungkan pedangnya. Ada rasa bangga pada Tungga dewi melihat perkembangan kanuragannya yang maju pesat.
"Semua berkat bimbingan bibi guru" Tungga dewi memberi hormat pada gurunya. "Berlatihlah dengan tekun jika kau tak ingin jauh tertinggal dari dia". Lasmini tersenyum penuh makna.
"Siapa yang bibi maksud dia? Sudah kukatakan jangan membahasnya terus" Wajah Tungga dewi memerah. Dia tau jika gurunya sedang menggodanya.
Lasmini tersenyum mengejek melihat muridnya salah tingkah. "Siapa lagi jika bukan pemuda dari Sekte Pedang Naga Api itu? bukankah kau yang selalu membahasnya terus".
"Kudengar dia sudah kembali ke Sekte Pedang Naga Api setelah lama menghilang dan kemampuannya meningkat pesat. namun yang bibi tak mengerti adalah bagaimana dia bisa mendapatkan Pedang Naga Api". Lasmini masih tak habis pikir bagaimana Sabrang bisa mendapatkan Pedang itu. Bukankah pedang itu telah hilang puluhan tahun.
Tungga dewi memang mendengar atau lebih tepatnya mencuri dengar pembicaraan kakeknya dengan beberapa tetua Rajawali Emas tentang munculnya kembali Pedang Naga Api di dunia persilatan. Dan yang mengejutkan adalah Pedang itu ada di tangan Sabrang. Sejak terakhir kali dia diselamatkan oleh Sabrang dari pendekar Racun selatan timbul rasa kagum pada pemuda itu.
Lasmini melangkah pergi setelah selesai berlatih dengan Tungga Dewi, dia baru ingat jika Tetua Sekte memanggilnya. Dia harus bergegas karena sepertinya sesuatu yang penting yang akan dibicarakan.
Malam itu setelah selesai berlatih tenaga dalam Tungga Dewi duduk bersandar di bawah pohon. Dia memandangi langit malam, tubuhnya terasa sangat lelah setelah berlatih tanding dengan gurunya. Angin malam membuat dirinya enggan beranjak dari tempat dia bersandar.
"Aku menemukan seorang anak kecil" Tungga dewi mengernyitkan dahinya memandang kearah sumber suara. Dia merasa tidak mengenal beberapa orang yang muncul dihadapannya.
"Siapa kalian? Kalian bukan murid Sekte Rajawali Emas". Tungga Dewi menunjukan sikap siaga sambil memegang pedang.
"Sepertinya dia salah satu murid di sini, tangkap dia". Salah satu Pendekar memberi perintah. Tungga dewi mundur beberapa langkah dia mengeluarkan pedangnya.
"Berani mencari masalah di Sekte Rajawali Emas, kalian akan menyesal". Tungga dewi menyambut serangan yang diarahkan padanya. Tiga orang mengepungnya dengan cepat mereka menyerang bersamaan.
"Jurus tarian Rajawali tingkat II" beberapa pendekar yang mengepungnya terpukul mundur. Salah satu pendekar ambruk ke tanah meregang nyawa.
"Kau lumayan juga nona, aku meremehkanmu" Pendekar yang memberi perintah tadi melesat ke arah Tungga dewi dengan cepat. Pedang mereka beradu di udara.
"Levelnya berbeda dengan yang menyerangku pertama tadi" Gumam Tungga dewi merasakan tangannya gemetar setelah menangkis pedang pendekar tersebut.
Serangan pendekar tersebut makin kuat membuat Tungga dewi terpental mundur beberapa langkah. Wajahnya berubah melihat lawan yang dihadapinya jauh diatasnya. "Aku harus memberitahukan guru dan kakek". Tungga dewi mengambil jarak dengan pendekar tersebut.
__ADS_1
"Nona siapa mereka?" Tungga dewi menoleh ke arah suara, terlihat beberapa orang murid Rajawali emas muncul.
"Cepat beritahu bibi, ada penyusup di sekte kita". Salah satu murid memgangguk dan berlari ke arah aula pertemuan sedangkan lainnya langsung membantu Tungga Dewi.
"Kita harus cepat membuka jalan untuk tim penyerang". Pendekar itu kembali menyerang Tungga dewi dengan sekuat tenaga. Beberapa murid yang mencoba membantu Tungga dewi sudah bersimbah darah di tanah.
"Ilmunya sangat tinggi, apa yang harus kulakukan". Wajah Tungga dewi memucat. Pikirannya kembali saat Sabrang menyelamatkannya. Dia hanya bisa mematung saat itu karena diselimuti rasa takut.
"Jika aku selalu kalah oleh rasa takut maka aku tidak akan pernah bisa mengejarnya". Semangat tungga Dewi kembali, dia meningkatkan kecepatannya menyerang pendekar misterius itu.
"Ohhh, kau belum mengeluarkan kemampuan terbaikmu ya? Menarik". Pendekar itu sedikit terkejut melihat kemampuan Tungga dewi meningkat.
Tungga dewi menyerang dengan seluruh kemampuannya. Setiap serangannya mampu membuat pendekar itu sedikit kerepotan.
"Ku dengar pedang Tarian rajawali adalah salah satu jurus terbaik di dunia persilatan. Hari ini akupun mengakuinya". Pendekar itu kembali meningkatkan kecepatannya membuat Tungga dewi tidak siap.
Terlihat celah yang sangat besar di pertahanan Tungga dewi. Pendekar itu tidak menyianyiakan kesempatan dan menyerang Tungga dewi dengan sekuat tenaga.
"Berani sekali kau mencari masalah di sini. Aku pastikan kau menerima balasan yang setimpal". Lasmini muncul dihadapan Tungga dewi tepat waktu.
Lasmini mengamati pendekar yang ada dihadapannya. Dia mengenali pakaian yang mereka kenakan
"Mundurlah nak, biar bibi yang menghadapinya" Tungga dewi mengangguk kemudian mundur beberapa langkah.
Lasmini menyerang tiba tiba dengan cepat. setiap gerakannya tidak dapat diprediksi dengan mudah. Beberapa pendekar menyadari kemampuan yang dimiliki Lasmini, mereka mundur beberapa langkah mereka sadar level Lasmini jauh di atas Tungga dewi.
"Tarian Rajawali tingkat III" tubuh Lasmini melesat dengan cepat menyerang para pendekar tersebut. Dalam hitungan menit seluruh pendekar tersebut roboh ke tanah meregang nyawa.
"Kau tidak apa apa nak?" Lasmini memeriksa Tungga dewi.
"Aku baik baik saja, siapa sebenarnya mereka ?".
__ADS_1
Lasmini menggeleng pelan "Aku tidak tau siapa mereka tetapi firasatku mengatakan ini bukan hal baik. Ikutlah denganku, kita akan melaporkan ini pada tetua. Sepertinya malam ini akan sangat panjang".
...............................
Wajah Sabrang memerah seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Dia merasakan sakit dihampir setiap jengkal tubuhnya. Suliwa terlihat mencoba membantu meredakan rasa sakit yang di rasakan Sabrang dengan mengalirkan tenaga dalam yang tersisa di tubuhnya.
Wulan sari terlihat menatap penuh rasa cemas. Dia berjalan mendekat kemudian menjauh kembali.
"Kenapa Naga Api tidak bereaksi terhadap Pil Bintang Emas? Apa aku salah perhitungan". Suliwa menatap Pedang Naga Api tak jauh dari tempatnya duduk bersila.
Darah mulai mengalir dari hidung Sabrang, Suliwa kembali menotok beberapa bagian tubuh Sabrang. Dia mencoba sekuat tenaga mengumpulkan sisa tenaga dalamnya dan mengalirkannya ketubuh Sabrang.
"Pil ini sangat mengerikan, aku bisa merasakan tenaga dalam meningkat pesat ditubuh anak ini. Jika aku tidak bisa mengendalikan tenaga dalam ini urat nadinya akan hancur. Kurang ajar kau Naga Api mau sampai kapan kau diam" Suliwa mengumpat dalam hati.
Suliwa telah mencapai batasnya tubuhnya terasa lemas " Celaka aku salah perhitungan, aku terlalu berharap pada Naga Api. Apa yang harus kulakukan sekarang? Tubuh anak ini bisa hancur".
Wulan sari mendekat dia sudah melihat Suliwa sudah mencapai batasnya. Dia bersiap mengalirkan tenaga dalamnya untuk membantu Suliwa. Saat Wulan sari menempelkan tangannya di tubuh Sabrang untuk membantu mengalirkan tenaga dalamnya Tiba tiba tubuh Sabrang kembali diselimuti kobaran api, sontak hal ini membuat Suliwa dan Wulan sari melepaskan tanganya dari tubuh Sabrang.
"Kau selalu merepotkanku tua bangka!!! Jika kau tidak menyegel separuh kekuatanku aku akan membakarmu sampai habis". Suliwa tersenyum memandang tubuh Sabrang tertutup kobaran api yang sangat panas.
"Lama sekali kau muncul Naga Api".
Wulan sari menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana Sabrang bisa begitu tenang saat api membakar seluruh tubuhnya. Dia memandang Suliwa meminta penjelasan.
"Api itu tidak akan membakar seseorang yang dianggap sebagai tuannya. Monster itu menepati janjinya".
Perlahan kobaran api itu mengecil dan kemudian menghilang dari tubuh Sabrang. Suliwa mendekat dan memeriksanya. "Hampir saja terlambat" Suliwa menggeleng pelan. Dia menoleh menatap Wulan sari yang masih mematung di tempatnya.
"Semua sudah selesai nona, kekuatan Naga Api telah menekan efek Pil Bintang Emas". Wulan sari mengernyitkan dahinya, ada rasa takut dalam dirinya kepada Naga Api setelah melihat apa yang terjadi.
Sabrang membuka matanya perlahan, dia merasakan tubuhnya penuh dengan tenaga dalam.
__ADS_1