
Suara ledakan yang sangat keras terdengar bersamaan dengan serpihan es yang beterbangan di udara, tubuh Ajidarma tampak terlempar setelah dinding es kebanggaannya tak mampu menahan serangan Rubah Putih.
Ajidarma memutar tubuhnya di udara dan menciptakan bongkahan es dan menancapkan di tanah untuk menahan tubuhnya terlempar terlalu jauh. Wajahnya terlihat pucat dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Tidak mungkin, dengan ilmu kanuragan yang susah payah aku pelajari dari kitab Sabdo Loji seharusnya tidak berakhir seperti ini," umpat Ajidarma dalam hati.
"Untuk menjadi lebih kuat terkadang kekalahan diperlukan agar bisa mengetahui dimana kelemahan kita selama ini. Kau terlalu yakin dengan jurus es dewa abadi dan merasa paling kuat karena tak pernah merasakan pertarungan hidup mati. Kau sangat menyedihkan," ejek Rubah Putih sambil bersiap menyerang kembali.
Tubuh Ajidarma bergetar menahan amarah, rasa frustasi dan tidak berdaya untuk pertama kalinya dia rasakan. Semua ilmu yang dia miliki sudah dikerahkan namun sia sia, pendekar berambut putih itu bagai dinding kokoh yang tak bisa dia hancurkan.
"Aku tidak boleh berakhir di sini, sudah banyak hal yang aku korbankan untuk mencari keberadaan peradaban terlarang itu, tak akan kubiarkan kalian merebutnya begitu saja. Akan aku tunjukkan padamu seberapa kuat pertahanan es abadiku," Ajidarma mengumpulkan sisa sisa tenaganya dan bersiap dengan serangan terakhirnya.
Rubah Putih menggeleng pelan, dia kembali mengalirkan energi Suanggi kedalam pedangnya.
"Kau harusnya bisa membunuhnya sejak awal tapi tidak kau lakukan, apa terkurung di dimensi ruang dan waktu membuatmu lemah?" ucap Suanggi sinis.
"Pantas saja kau tidak pernah bisa melampaui Iblis api, yang bisa kau lakukan hanya bertarung dan membunuh tanpa berfikir," balas Rubah Putih sebelum mulai bergerak.
"Kau! jangan pernah sebut nama itu di hadapanku, aku bisa mengalahkannya kapan saja jika ingin," bentak Suanggi kesal.
"Lalu kenapa tidak kau lakukan sejak dulu? kau benar benar bodoh, aku sudah mengatakan jika ada yang bisa mendekati kekuatan Naga Api maka kau adalah orangnya tapi kesombongan dan sifat haus darah menutup semua potensi itu.
Kau mungkin memiliki energi yang sangat besar tanpa perantara tubuhku, kau hanya sebuah besi berbentuk golok yang tidak berguna. Naga Api menjadi sangat kuat karena telah menyadari itu, dia membiarkan Sabrang menggunakan kekuatannya sesuka hati karena menganggapnya sebagai tuan!
Selama ini hubungan kita hanya saling memanfaatkan, kau menginginkan pertarungan dan aku membutuhkan energi milikmu dan jika terus seperti ini kau hanya akan dipandang sebelah mata oleh Naga Api sampai kapanpun. Ini adalah kesempatan terakhir untukmu menjadi yang terkuat, berikan kekuatanmu dan akulah aku sebagai tuan!" Rubah Putih kembali merubah gerakannya saat bongkahan es terus muncul di udara dan melesat kearahnya.
"Sial! walau telah kuhancurkan berkali kali, bongkahan es itu terus bermunculan seolah tak pernah habis. Sepertinya satu satunya cara menghentikan jurus itu dengan melumpuhkan penggunanya," Rubah Putih bergerak cepat diantara serangan pisau es, dia berusaha mendekati lawan.
"Ledakan tenaga dalam iblis," Rubah Putih mengayunkan Goloknya nya saat Ajidarma dalam jangkauannya.
Dinding es itu langsung hancur seketika namun saat Golok Rubah Putih hampir mengenai tubuh Ajidarma, dinding es lainnya muncul menahan serangan itu sehingga memberi waktu Ajidarma menghindar.
"Aku menemukannya, celah pertahanannya terbuka saat dia menggunakan jurus itu, jika aku bisa mengincar celah itu maka aku akan menang," wajah Ajidarma kembali bersemangat, dia kemudian membentuk ratusan dinding es yang berputar cepat disekitarnya.
Sebuah jarum beracun terselip di tangan kanannya yang sebagian tertutup es, Ajidarma terus meningkatkan kecepatan untuk mengimbangi gerakan Rubah Putih.
"Jadi ini serangan terakhirmu? baik, kita lihat apa yang masih kau sembunyikan sebagai serangan terakhir."
Keduanya terus bertukar jurus di udara, bongkahan es lain terus bermunculan saat Rubah Putih berhasil menghancurkannya.
Ajidarma terlihat memancing Rubah Putih mendekat sambil bersiap melempar jarum beracun di tangannya.
Saat celah itu terbuka, Ajidarma langsung melempar jarum beracun diantara bongkahan es yang terus berputar mengelilingi tubuhnya.
Rubah Putih terus bergerak menyerang, dia tidak menyadari diantara serpihan es yang hancur akibat serangannya ada sebuah jarum tipis yang melesat kearahnya.
Ketika jarum itu hampir mengenai tubuhnya, aura hitam pekat tiba tiba keluar dari tubuhnya dan menghancurkan jarum itu menjadi abu.
"Kekuatan ini?" Rubah Putih tersentak kaget saat tubuhnya merasakan energi besar yang selama ini tidak pernah dia rasakan.
"Cepat habisi dia atau kau yang akan aku bunuh jika terlihat lebih lemah dari tuan Iblis bodoh itu," ucap Suanggi tiba tiba.
Rubah Putih tersenyum kecil sambil menghindari serangan pisau es yang seolah tak pernah habis.
"Jadi kau sudah memutuskannya Suanggi? baik, kita lihat seberapa besar kekuatanmu," tubuh Rubah Putih tiba tiba berhenti sebelum menghilang tiba tiba.
"Dia masih bisa lebih cepat?" Ajidarma tersentak kaget saat merasakan tubuhnya seperti tertimpa batu besar.
Ajidarma yang mencoba menggerakkan tubuhnya, kembali terkejut saat merasakan sakit yang luar biasa sebelum pandangannya mulai pudar.
Dia masih sempat melihat semua bongkahan es yang sangat dia banggakan hancur oleh sesuatu yang tidak terlihat sebelum benar benar hilang kesadaran dengan tubuh terbelah dua.
Rubah Putih terlihat melayang di udara dengan wajah takjub, dia tidak menyangka kekuatan Suanggi sebesar ini.
"Jadi ini kekuatanmu yang sebenarnya?" ucap Rubah Putih.
"Simpan rasa terkejut itu terlebih dulu karena yang baru kau gunakan tadi hanya separuh kekuatan yang kumiliki," balas Suanggi cepat.
***
__ADS_1
Sebuah cahaya merah tampak melesat membelah gelapnya langit malam Jawata, tak ada yang menyangka jika cahaya yang berasal dari salah satu hutan di dekat keraton itu adalah tanda untuk memulai penyerangan.
Puluhan ribu pasukan Saung Galah di bawah pimpinan Agam mulai bergerak setelah melihat cahaya merah itu untuk menaklukkan kadipaten kadipaten terdekat, mereka memanfaatkan situasi Malwageni yang semakin terdesak.
Tungga Dewi terpaksa menarik sebagian pasukan yang menjaga kadipaten kadipaten di wilayah Malwageni ke Ibukota untuk membantu mempertahankan keraton.
Keputusan ini bukan tanpa resiko, melemahnya penjagaan di setiap kadipaten akan memudahkan musuh menaklukkan dan merebut wilayah Malwageni perlahan dan Tungga Dewi tau itu tapi dia tidak memiliki pilihan lain.
Dengan perbedaan kekuatan yang cukup jauh dan di serang dari berbagai arah, kadipaten kadipaten itu tetap akan jatuh walau dia tidak menarik pasukan ke ibukota. Atas saran Arina, Tungga Dewi akhirnya memutuskan untuk melepas kadipaten kadipaten itu demi menjaga simbol terakhir sebuah kerajaan tetap kokoh berdiri.
Tungga Dewi hanya meminta para Adipati di setiap kadipaten untuk bertahan selama mungkin jika terjadi penyerangan dan mengungsikan seluruh penduduk ke tempat yang aman.
Kadipaten Rogo geni menjadi yang pertama tumbang, Agam dan pasukannya mampu menaklukkan kadipaten paling penting bagi Malwageni itu dengan serangan cepat di malam hari.
Puluhan prajurit yang berada di kadipaten Rogo Geni tak mampu melawan pasukan Saung galah dan beberapa pendekar Kuil suci yang berjumlah hampir enam kali lipat dari mereka.
Agam kemudian memutus satu satunya jalur pasokan bahan makanan menuju ibukota dengan menutup semua akses para pedagang.
Pancaka yang berhasil melarikan diri dan bergabung dengan Agam bahkan memerintahkan untuk membunuh siapapun yang berani membawa bahan makanan kearah Ibukota.
Situasi Tungga Dewi semakin terjepit karena selain pasokan makanan berhenti total, pasukan Arkantara yang bertugas membuka jalan bagi Pasukan Agam sudah semakin dekat ke Ibukota.
Sedangkan pasukan Utama yang di pimpin Saragi sudah mulai bersiap, panji panji kebesaran Arkantara sudah berkibar diantara ratusan ribu pasukan yang menunggu Saragi keluar dari tenda.
"Jelaskan situasinya?" ucap Saragi sambil memakai jubah perang kebanggaannya.
"Cahaya merah sudah di lempar ke udara oleh Barapati Yang mulia, itu menandakan mereka sudah mendekati Ibukota. Jika mereka semua mengikuti semua rencana hamba, seharusnya beberapa kadipaten penting yang menjadi jalur pasokan makanan Malwageni sudah mulai ditaklukkan.
Kita akan menutup semua jalur makanan untuk menurunkan semangat tempur pasukan mereka karena makanan adalah hal yang paling penting dalam peperangan selain senjata dan strategi. Andai mereka memaksa bertahan di ibukota itupun akan percuma karena mereka akan mati kelaparan.
Kita akan mulai menyerang untuk menarik pasukan mereka keluar sementara di saat bersamaan tuan Agam dan Barapati akan langsung masuk ibukota begitu ada kesempatan. Saat ini mereka sudah sangat terjepit Yang mulia dan mungkin perang ini tidak akan memakan waktu lebih dari lima hari," ucap Rengga sambil menunjuk jalur pergerakan pasukannya.
"Kau yakin mereka akan menunggu di sekitar sini?" tanya Saragi pelan.
"Hamba cukup yakin Yang mulia, pengalaman berperang selama ini mengajarkan hamba jika manusia mulai panik dan terjepit mereka akan mencoba membuat pertahanan sejauh mungkin dari Ibukota untuk memberi waktu melarikan diri dan hamba yakin mereka akan menggunakan jalur ini sebagai medan perang.
Jika perkiraan hamba tepat, mereka akan memilih taktik berperang secara sembunyi sembunyi untuk menyiasati kekalahan jumlah pasukan, tapi anda jangan khawatir Yang mulia, hamba sudah mempersiapkan taktik perang di dalam hutan," jawab Rengga dengan penuh percaya diri.
"Bagus, aku selalu bisa mengandalkan mu, lalu kapan kita akan bergerak?" tanya Saragi puas.
"Sebaiknya kita tunggu sebentar lagi Yang mulia, mereka pasti sudah melihat sinar merah yang dilemparkan oleh Barapati tadi dan mengira kita sudah mulai bergerak. Kita tunggu sampai besok pagi saat kewaspadaan mereka mulai mengendur akibat kelelahan," balas Rengga cepat.
Saragi mengangguk takjub setelah mendengar strategi Rengga yang sangat detail, dia bahkan bisa merubah rencana dengan sangat cepat sambil mengikuti pergerakan yang dilakukan oleh lawan.
***
Seorang prajurit terlihat berlari kearah tenda Tungga Dewi dengan wajah pucat, dia kemudian berbicara sesuatu pada para penjaga sebelum diperbolehkan masuk.
"Gusti ratu, hamba mohon maaf jika tengah malam begini meminta bertemu," prajurit itu berlutut dihadapan Tungga Dewi yang sedang duduk disebuah kursi sambil memejamkan matanya.
Wajah Tungga Dewi terlihat lelah karena hampir tidak tidur selama beberapa hari. Arina yang duduk di sudut langsung bangkit dan berjalan mendekat.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Tungga Dewi cemas.
"Kadipaten Rogo Geni sudah takluk Gusti ratu, dan mereka menutup semua jalur pasokan makanan, tidak ada satupun pedagang yang diperbolehkan lewat," jawab Prajurit itu terbata bata.
Tungga Dewi terdiam sambil memejamkan mata, apa yang dia takutkan selama ini benar benar terjadi. Satu persatu wilayah kekuasaan Malwageni takluk karena sebagian prajurit terpaksa di tarik ke Ibukota.
Namun Tungga Dewi tidak menyangka jika mereka akan mengincar Rogo Geni terlebih dahulu untuk memutus logistik bagi pasukannya.
Arina yang mendengar laporan itu tak kalah panik, dia menyambar gulungan bergambar wilayah Malwageni dan menunjukkan pada prajurit tadi.
"Dimana posisi kadipaten Rogo Geni berada?" tanya Arina cepat.
Prajurit itu menunjuk satu titik yang cukup jauh dari ibukota.
Arina tampak terkejut melihat pergerakan pasukan Saung Galah yang sedikit tidak biasa. Mereka seperti sengaja mengambil jalur yang memutar.
"Mereka bergerak diluar perkiraan, apa yang sebenarnya kalian rencanakan?" ucap Arina sambil berfikir.
__ADS_1
"Kirim orang lagi ke bukit setumbu dan katakan pada paman Wardhana untuk segera kembali," perintah Tungga Dewi cepat.
"Baik Gusti ratu," ucap prajurit itu.
Wajah Arina tiba tiba berubah, dia terlihat menggambar sesuatu di gulungan itu sebelum bicara.
"Maaf Gusti ratu, sebaiknya tarik kembali pasukan yang dipimpin Arung ke Ibukota, hamba merasa pergerakan mereka sedikit aneh karena menyerang Rogo Geni yang jaraknya cukup jauh. Jika rencana mereka ingin memutus jalur bahan makanan seharusnya titik ini yang mereka kuasai," ucap Arina cepat.
"Menarik Arung dan pasukannya ke Ibukota? jika Arkantara menyerang dari sana mereka akan cepat sampai di Ibukota," jawab Tungga Dewi bingung.
"Kita tidak punya pilihan lain Gusti ratu, semua jalan keluar telah di tutup rapat dan yang bisa kita lakukan saat ini adalah bertahan selama mungkin sambil menunggu tuan Wardhana dan Yang mulia kembali membawa keajaiban. Gerakan tidak biasa mereka kali ini adalah taktik untuk menarik pasukan kita menjauhi keraton," balas Arina lemas.
"Keajaiban? apa kau sudah menyerah?" tanya Tungga Dewi dingin.
"Hamba tidak berani Gusti ratu dan hamba sudah bertekad untuk mati bersama anda tapi situasi kali ini benar benar sulit dan hanya tinggal menunggu kita takluk," jawab Arina lirih.
"Jika kau memang sudah memutuskan mati untuk Malwageni maka teruslah melawan walaupun nanti hanya menyisakan dirimu sendiri, mati dalam medan perang karena mepertahankan apa yang kita yakini benar jauh lebih terhormat dari pada menyerah," balas Tungga Dewi tegas.
"Tapi Gusti ratu..." belum selesai Arina bicara seorang prajurit kembali masuk.
"Gusti ratu, ada ratusan prajurit mendekat dari sisi barat keraton," ucap Prajurit itu panik.
Tungga Dewi dan Arina tampak terkejut, mereka benar benar tidak menyangka ada pasukan lain yang mendekat dari jalur yang tidak mereka diperkirakan.
"Arina, dengarkan aku baik baik. Tari baru saja melahirkan dan tubuhnya masih lemas jadi dia tidak akan aku izinkan ikut berperang, saat ini hanya kau yang bisa aku andalkan. Teruslah berfikir dan cari cara untuk bertahan selama mungkin sampai paman patih muncul.
Andai aku tidak kembali, kau akan memimpin perang ini sementara waktu. Percayalah pada dirimu sendiri, seperti aku yang masih percaya jika Yang mulia akan membawa keajaiban," Tungga Dewi menyambar pedangnya dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Arina.
Tungga Dewi memerintahkan dua orang untuk menjemput Arung dan meminta mereka kembali ke ibukota secepatnya. Dia kemudian membawa beberapa puluh pasukan untuk menghadang musuh yang bergerak dari arah barat.
"Gusti ratu, bagaimana anda masih begitu percaya padaku setelah semua kesalahan yang aku lakukan?" ucap Arina pelan sambil menatap kepergian Tungga Dewi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Sikil
Ada beberapa hal yang akan saya sampaikan terkait gambaran perang dua kerajaan terbesar di Nuswantoro yang sempat ditanyakan oleh reader setia PNA
Pertama ada yang bertanya tentang jumlah pastinya pasukan kedua kerajaan agar bisa membayangkan seberapa sulit sih situasi Malwageni saat ini.
Saya jelaskan sedikit perbandingan jumlah pasukan saat ini :
Arkantara : 180.000 pasukan + 70 pendekar Kuil Suci
Malwageni : 50.000 pasukan + 100 pendekar berbagai aliran.
Saung Galah : 60.000 pasukan
Saat ini Saung Galah masih berpihak pada Arkantara, hanya sebagian kecil yang sudah bergabung dengan Sabrang.
Anggap saja pasukan yang ditaklukkan Sabrang berjumlah 20.000 dengan asumsi dibagi rata di tiga tim yang di pecah oleh Pancaka.
Jadi ini pertempuran antara 60.000 pasukan dengan 220.000.
Timpang? Banget tapi disinilah nanti Wardhana akan mencapai "Puncak" Seperti Lingga dengan Kemamang dan Rubah Putih dengan Suangginya.
Yang kedua ada yang memperkirakan perang kali ini akan terjadi cukup panjang.
Okee seperti yang saya katakan di awal, perang kali ini jauh berbeda dari sebelumnya karena ketimpangan pasukan yang cukup jauh dan kali ini Malwageni di serang oleh dua kerajaan secara bersamaan, belum lagi urusan Mandala dan peradaban Lemuria.
Chapter perang kali ini jelas akan panjang karena ada strategi perang yang akan dimainkan Wardhana untuk mengatasi ketimpangan kekuatan.
Saat ini Arkantara dan Pasukan Kuil Suci secara tidak sadar sedang melakukan kesalahan besar dengan memaksa Wardhana berevolusi menjadi ahli strategi terbaik di Nusantara.
Kan gak mungkin lawan dua kerajaan dengan pasukan yang jauh lebih besar perang cuma sehari. Emang dipikir Wardhana ngedipin mata musuh langsung mati semua?
Jadi kalo saya ditanya, Thor kok judulnya sudah Perang besar V tapi belum perang perang nih, gua dengan gaya pejabat VOC akan menjawab santai Masih mending cuma perang besar V, tadinya dari chapter pertama mau gua buat perang besar judulnya dan di chapter ini judulnya perang besar 457. Puyeng kan lu wkwkwkw
Terakhir, dengan rumitnya cerita kali ini agak sulit memberi bonus chapter karena jika saya paksakan takutnya ending perang kali ini akan jelek dan tidak nendang jadi chapter bonus masih saya usahakan tapi setiap chapter akan jauh lebih panjang.
__ADS_1
VOTE