Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Gerbang menuju Tanah Para Dewa III


__ADS_3

"Jadi benar kabar yang ku dengar jika hanya diwaktu tertentu gerbang Dieng terbuka, ku pikir ada sebuah segel yang hanya terbuka sesekali dalam setahun ternyata alam yang menutupinya". Suliwa terlihat mengangguk mendengar penjelasan Wulan sari.


"Muridmu saat ini menuju ke bukit Cetho untuk mencari letak sekte Bintang langit. Hanya mereka yang bisa membantu kita memperkirakan kapan air laut surut".


"Sepertinya memang ada hubungan yang erat antara Dieng dengan sekte Bintang langit". Suliwa berkata pelan.


"Maksud anda?". Wulan sari mengernyitkan dahinya.


"Sejak aku mendapatkan Pedang Naga api puluhan tahun lalu, Aku jadi sangat terobsesi dengan Dieng . Sejak saat itu aku mencari tau segala informasi tentang Dieng. Ada beberapa fakta mengejutkan yang aku temukan saat itu salah satunya adalah saat kau berhasil masuk ke gerbang kedua, seluruh tempat itu diselimuti oleh segel kabut. Segel yang sama dengan yang melindungi Sekte Bintang langit. Apa kau berfikir jika kedua tempat itu dilindungi oleh segel yang sama adalah sebuah kebetulan?".


Saat aku selangkah lagi menemukan informasi tentang Bintang langit tiba tiba Naga api merasukiku. Satu hal yang menarik adalah hampir semua pengguna Naga api dirasuki saat mereka selangkah lebih dekat menemukan letak Bintang langit.


Naga api seolah menahan kita untuk tidak mendekati Sekte Bintang utara karena suatu alasan".


"Tapi jika cerita anda benar bukankah anak itu dalam bahaya jika Naga api merasukinya?". Wajah Wulan sari terlihat cemas.


"Anda tau kenapa aku bertaruh pada anak itu dengan memberikan Naga api padanya?. Saat aku menyegel Naga api dengan segel kegelapan abadi aku menyadari jika perhitungan ku salah. Kekuatan Naga api tidak akan bisa disegel oleh segel kegelapan abadi. Dia bisa saja membakarku saat itu namun dia lebih memilih berpura pura tidak berdaya dihadapan Segel itu. Anda tau apa artinya?".


"Jangan jangan....". Wajah Wulan sari tiba tiba beruhah setelah mendengar penjelasan Suliwa.


"Sejak awal Naga api memang menginginkan anak itu menjadi tuannya". Suliwa tersenyum penuh makna.


"Bagaimana bisa.....". Wulan sari menggelengkan kepalanya.


"Kita terlalu meremehkan Naga api dengan menganggap dia hanya iblis api yang haus darah, di balik itu semua ada rencana yang sepertinya dipersiapkan Naga api sejak lama dan Sabrang lah yang dia tunggu selama ini.


Untuk itu anda tidak perlu terlalu khawatir dengan anak itu, Aku yakin Naga api tidak akan mencelakai orang yang telah dipilihnya. Aku sedikit penasaran sebenarnya apa yang disembunyikan Sekte Bintang langit sampai harus menutupi tempatnya dengan segel kabut".


***

__ADS_1


Ketika matahari belum menampakan sinarnya Sabrang dan Mentari terlihat meninggalkan kadipaten Rogo geni.


Sabrang menoleh kearah pos penjagaan Rogo geni yang sudah terlihat kecil di matanya. Untuk pertama kalinya mereka berhasil merebut salah satu wilayah Malwageni dari tangan Majasari.


"Ayah suatu saat aku pasti akan merebut Malwageni dari tangan mereka".


"Tuan anda tak harus memaksakan untuk pergi ke Dieng, aku baik baik saja dengan kondisiku saat ini". Mentari berkata pelan setelah melihat Sabrang menoleh kearah Rogo geni seolah dia berat meninggalkan tempat itu.


Sabrang menggeleng pelan sambil menoleh kearah Mentari.


"Aku sudah berjanji untuk mengobatimu dan pasti akan kutepati. Lagipula kakek guru ingin menyelidiki sesuatu tentang Lembah siluman di sana".


Mentari hanya mengangguk mendengar jawaban Sabrang, dia sudah mendengar sedikit informasi dari Kumbara mengenai sebuah sekte kuno yang kini bangkit kembali.


Beberapa hari telah berlalu, perjalanan Sabrang kali ini cukup jauh. Bukit Cetho terkenal sebagai tempat para pendekar untuk menyepi dan memperdalam ilmu kanuragan. Bahkan beberapa pertapa sakti yang memutuskan untuk Moksa memilih tempat itu karena sebagian hutan di dalamnya belum terjamah manusia.


Sabrang memutuskan untuk menggunakan ilmu meringankan tubuhnya agar mempercepat langkahnya agar tiba leboh cepat di bukit Cetho. Dia merasa harus secepatnya menemukan sekte bintang langit. Mereka hanya berhenti untuk beristirahat dan mengisi perutnya selebihnya mereka terus bergerak ke arah bukit Cetho.


Seorang pelayan menyapa mereka dengan ramah dan membawa mereka pada sebuah meja di tengah ruangan.


Mentari memesan beberapa makanan untuk mereka berdua sedangkan Sabrang lebih tertarik mendengarkan pembicaraan para pendekar yang ada di penginapan itu.


Banyak informasi yang dia dapatkan dari pembicaraan para pendekar itu namun yang membuatnya agak terkejut adalah Lembah tengkorak sudah beberapa hari ini berhasil menaklukan Sekte pisau terbang. Praktis kini wilayah kadipaten Wareng etan dikuasai Lembah tengkorak.


"Secepat inikah Lembah tengkorak berkembang? ada yang tidak beres dengan mereka". Sabrang bergumam dalam hati.


"Bagaimana caranya kita mencari sebuah tempat yang dilindungi oleh segel kabut tuan?". Mentari membuyarkan lamunan Sabrang.


Sabrang tersenyum kecut, sampai saat ini dia memang belum mempunyai rencana bagaimana menemukan tempat itu. Sabrang pernah menghadapi pengguna segel kabut saat menyusup di Sekte kelelawar hijau dan itu cukup merepotkan.

__ADS_1


"Aku belum tau, yang terpenting kita sampai dulu di bukit Cetho". Ucap Sabrang sambil memakan makanan yang dipesannya.


Tak lama terlihat rombongan pendekar memasuki ruangan itu. Sabrang menjadi sedikit waspada karena merasakan aura tenaga dalam dari tubuh para pendekar itu walaupun mereka berusaha menekannya. Setelah kehadiran mereka terlihat suasana berubah hening.


Semua pendekar di penginapan itu seolah enggan mencari masalah dengan para pendekar itu.


"Mereka dari Lembah tengkorak". Mentari berkata setengah berbisik.


Sabrang tidak terlalu terkejut dengan banyaknya pendekar yang muncul di kadipaten Wareng etan karena satu satunya jalan terdekat menuju bukit Cetho adalah melalui jalur ini namun berbeda dengan Lembah tengkorak. Sejak mereka pecah aliansi dengan Iblis hitam Lembah tengkorak terkesan misterius dan agresif, sudah banyak sekte kecil dan menengah yang mereka serang.


"Cepat berikan kami makanan terbaik di penginapan ini". Salah satu pendekar itu membentak pelayan yang berjalan hati hari kearah mereka.


Sabrang menggeleng pelan "Lembah tengkorak memang harus segera di beri pelajaran. Setelah kembali dari Dieng akan kupastikan kalian hancur".


Salah satu pendekar itu menatap Mentari dengan senyum menyeringai sambil sesekali berbisik pada temannya. Mentari bukan tidak mengetahui dirinya menjadi pusat perhatian pendekar Lembah tengkorak namun dia tidak ambil pusing dan tetap melanjutkan makannya.


Saat Sabrang dan Mentari memutuskan melanjutkan perjalan setelah merasa cukup mengisi perut tiba tiba seorang pendekar Lembah tengkorak menghampiri meja mereka.


"Sepertinya kalian buru buru sekali". Pendekar itu menatap Mentari dengan senyum kecil.


Sabrang yang dari tadi hanya diam sedikit terganggu dengan kehadiran pendekar itu.


"Kau boleh pergi tapi nona ini biarkan tetap disini". Pendekar itu menatap tajam kearah Sabrang.


"Jangan ganggu dia". Suara Mentari tiba tiba meninggi.


"Lihatlah, nona ini mencoba melindungi kekasihnya". Pendekar itu tertawa keras.


Pendekar itu tidak menyadari jika ucapan Mentari demi kebaikan mereka sendiri. Kekuatan Sabrang yang dilihatnya saat bertempur dengan Majasari kadang masih membuatnya takut. Bukan hal sulit bagi Sabrang untuk mencabut nyawa mereka.

__ADS_1


"Pergilah sebelum aku berubah pikiran". Pendekar itu mencoba mencengram lengan Sabrang namun tiba tiba tangan kanannya sudah terpisah dari tubuhnya. Butuh waktu bagi pendekar itu menyadari jika aura hitam yang muncul tiba tiba dari tubuh Sabrang yang memotong lengannya.


Mentari menggeleng pelan "Kali ini kalian salah memilih lawan".


__ADS_2