
Ledakan ledakan besar terdengar setiap kedua pedang pusaka itu beradu. Terlihat dua sosok pendekar terkuat saat ini saling bertukar jurus tidak perduli semburan lahar panas disekitarnya.
Tanah tempat mereka berdiri kini sudah diselimuti lahar panas, mereka terpaksa berdiri di atas batu yang masih belum terendam lahar panas. Sabrang terlihat jauh lebih kuat dan cepat namun tubuh Ajisaka seolah abadi, setiap luka sabetan pedang Sabrang akan langsung tertutup beberapa saat kemudian.
"Bagaimana dia bisa sekuat ini? bukankah Ajian panca geni adalah ilmu tertinggi dunia persilatan? Harusnya tak ada yang bisa mengalahkanku". Ajisaka mengumpat dalam hati. Dia terus ditekan oleh jurus jurus aneh Sabrang.
Sabrang tak memberi waktu Ajisaka beristirahat, dia melompat dari satu batu kebatu lainnya saat Ajisaka mencoba menjaga jarak darinya.
"Mendekatlah! aku akan menguburmu di tempat ini". Ajisaka bergumam dalam hati. Dia memang sengaja memancing Sabrang untuk terus mengejarnya.
Benar saja saat Sabrang berhasil mendekat Ajisaka diam diam mengalirkan tenaga dalam ke pedang Pusaran anginnya. Dia berubah sedikit posisinya sebelum menancapkan pedangnya sebagi pijakan.
Sabrang yang menyadari telah masuk perangkap berusaha menarik pedangnya namun terlambat. Tubuh Ajisaka menghilang sebelum muncul didekatnya dan langsung menyerang.
"Energi pedang Pancageni". Serangan cepat Ajisaka sebenernya mampu dibaca mata bulan namun Sabrang terlambat bereaksi karena tidak memiliki pijakan. Dia terpaksa sedikit melambat untuk mengayun tubuhnya mendekat ke batu pijakan.
Tubuh Sabrang terpental jauh, dia berusaha mencari pijakan diantara lahar panas untuk mendarat namun tiba tiba tubuhnya merasakan hawa dingin sebelum darah menetes dari perutnya.
Kedua tangan Sabrang membentuk bongkahan es untuk menjadi pijakan sementara sebelum melompat kebatu tak jauh darinya.
"Serangan ini?". Sabrang melihat perutnya sedikit berlubang.
"Bagaimana bisa dia menyerang dari jarak sejauh ini?". Sabrang terlihat bingung.
Aji saka kembali bergerak menyerang, dia tidak berniat memberikan kesempatan Sabrang untuk berfikir. Pertarungan ditengah lautan lahar itu kembali terjadi, tak ada satupun yang berhenti melepaskan jurus terkuatnya.
Ajisaka melompat mundur setelah serangan Sabrang bertubi tubi menghantam tubuhnya. Sabrang sempat melihat gerakan tangan aneh yang dilakukan Ajisaka sebelum menjaga jarak.
Ketika merasa mendapat kesempatan kembali menekan dan menemukan pijakan yang cukup kokoh Sabrang melompat diudara, dia memutar pedangnya membentuk lingkaran namun belum sempat dia mengayunkan pedangnya tubuhnya kembali terkena serangan tidak terlihat. Namun kali ini Sabrang sempat membuat perisai api disaat terakhir sebelum serangan tak terlihat itu menghantam tubuhnya.
Sabrang terdorong mundur sebelum kembali berpijak pada batu didekatnya.
"Serangan itu lagi". Gumam Sabrang dalam hati. Dengan mata bulannya dia sempat melihat energi tak terlihat keluar dari tubuh Ajisaka.
__ADS_1
"Apa kau melihatnya?". Tanya Sabrang pada Anom.
"Melihat?". Anom mengernyitkan dahinya.
"Jadi kau tidak melihatnya ya, walau samar mataku ini melihat sesuatu keluar dari tubuhnya saat kedua tangannya membentuk simbol aneh. Sesuatu yang keluar dari tubuhnya itu yang melukaiku".
Anom masih bingung dengan penjelasan Sabrang, dia memang merasakan sesuatu menghantam tubuh Sabrang namun setajam apapun penglihatannya dia tidak melihat apapun.
"Kau sudah paham jika kekuatanku jauh diatasmu? Lebih baik kau menyerah sebelum aku mengubur tubuhmu di lautan lahar ini". Ancam Ajisaka.
"Ancamanmu tak akan pernah membuatku takut, semakin kau mengancamku semakin terlihat kelemahanmu dimataku". Sabrang mengeluarkan keris penguasa kegelapan di tangan kirinya dan kembali menyerang.
Aji saka menyambut serangan itu dengan percaya diri. Ada sesuatu yang dia sembunyikan yang membuatnya begitu percaya diri walaupun kalah kecepatan dari Sabrang.
Gerakan pedang Sabrang semakin bervariasi saat dia menggunakan jurus Api abadi milik ken Panca yang memang khusus diciptakan untuk menaklukan Panca geni. Tubuh Ajisaka hampir terbelah menjadi dua andai dia tidak melindungi dengan tameng Panca geni.
Sabrang menggunakan jurus pedang pemusnah raga ketika mata bulannya menemukan celah yang ditinggalkan Ajisaka namun lagi lagi gerakan tangan aneh Ajisaka terlihat oleh matanya. Kali ini Sabrang memaksa mata bulannya untuk menajamkan penglihatan.
"Jadi seperti itu, ruhnya keluar dari tubuhnya dan menyerangku". Gumam Sabrang dalam hati. Dia mengatur nafasnya perlahan. Tubuhnya terasa sakit akibat lubang diperutnya yang terus mengeluarkan darah.
"Naga api, kau bisa menekan rasa sakitku? aku butuh beberapa menit untuk memastikan sesuatu. Tubuhku menjadi kaku karena rasa sakit ini, belum lagi serangannya selalu mengincar luka ini". Ucap Sabrang pelan.
"kau perlu waktu berapa lama?". Tanya Naga api.
"Lima ah tidak 3 menit saja". Sabrang kembali menggunakan Cakra manggilingan untuk menarik sisa tenaga dalamnya. Dia sudah banyak menggunakan tenaga dalam untuk menekan luka diperutnya.
"Baik, Lakukan sesukamu". Naga api memejamkan matanya dan mengalirkan energi Banaspati keseluruh tubuh Sabrang.
"Anom, ikuti gerakan tangan kiriku, munculah disaat aku menjentikan tangan kiriku. Bersiaplah".
"Baiklah". Jawab Anom pelan, dia masih belum mengerti rencana Sabrang. Namun satu yang Anom sadari saat ini, anak muda ini berhasil mengeluarkan kekuatannya secara maksimal, sesuatu yang belum pernah terjadi pada penggunannya sebelumnya.
Ketika aura Banaspati menyelimuti tubuh Sabrang, dia melesat cepat dengan pedangnya.
__ADS_1
"Berapa kali kau coba hasilnya akan sama". Ajisaka tersenyum penuh percaya diri.
Keduanya kembali bertukar jurus diudara tanpa memperdulikan keadaan disekitarnya. Ledakan ledakan gunung api bawah laut semakin membesar di sekitar mereka. Alam seolah menjadi saksi dua pendekar terkuat itu mempertahankan prinsipnya masing masing. Dua pendekar yang secara tidak sadar dibentuk oleh tempat itu akan mengadu Ilmu kanuragannya dan mungkin salah satunya tidak akan keluar dari Dieng.
Sabrang terus menekan Ajisaka, Mata bulannya mampu membaca setiap gerakan yang sudah maupun akan dilakukan Ajisaka. Ketika dia menggunakan jurus api abadi tingkat akhir, Ajisaka tersentak kaget karena gerakan pedang Sabrang seolah menghancurkan setiap serangan panca geni.
"Aku menguasai jurus api abadi secara sempurna namun gerakan ini sepertinya tidak pernah kupelajari". Ujar Ajisaka kesal. Dia benar benar tidak diberi kesempatan menyerang.
Namun sebenarnya bukan itu saja yang membuat Ajisaka kesal. Gerakan Sabrang yang terus mendekat saat dia akan merapal jurus Sukma Panca geni. Sebuah jurus yang bisa mambuatnya keluar dari raganya dan menyerang tanpa terlihat.
"Kau sepertinya terlalu meremehkan mata bulanku, tidak ada gerakan yang tidak terlihat oleh mata ini". Sabrang menajamkan matanya untuk serangan terakhirnya. Tetesan darah dikedua matanya menadakan Mata bulan sudah hampir mencapai batasnya. Semakin keras mata itu bekerja semakin banyak tenaga dalam yang dikonsumsi mata bulan.
Sabrang memanfaatkan kecepatannya untuk mendekat dengan cepat. Tebasan pedangnya berusaha meraih tubuh Ajisaka namun Ajisaka tak membiarkannya. Dia menangkis serangan itu dengan pedang pusaran angin.
Ajisaka tersenyum penuh kemenangan ketika tubuhnya terpental mundur, kini dia lepas dari tekanan Sabrang. Kedua tangannya merapal jurus Sukma Panca geni namun tiba tiba Sabrang sudah berada didekatnya dan mengayunkan tangannya.
"Percuma saja, jika pedangmu tak mampu melukaiku bagaimana kau pikir tangan lemahmu mampu melukaiku?". Ajisaka membiarkan tangan Sabrang menghantam tubuhnya karena dia yakin hanya luka luar yang dia dapatkan. Ajisaka fokus menyelesaikan jurusnya. Namun tiba tiba Keris terbentuk ditangan Sabrang setelah dia menjentikan jarinya.
Sabrang memutar tangannya sedikit dan menghujamkan keris itu ketubuh Ajisaka.
Rasa sakit ditubuh Ajisaka membuat konsentrasinya buyar, dia menangkap keris itu dan mencoba mencabutnya. Saat perhatian Ajisaka teralihkan pada Keris yang mulai berubah menjadi aura hitam, Sabrang memutar tubuhnya dan menggunakan jurus Api abadi tingkat 17 untuk mengakhiri serangannya.
Kejadian yang begitu cepat membuat Ajisaka tak sempat berfikir, yang dia rasakan selanjutnya hanya rasa sakit yang sangat ditubuhnya. Ajisaka masih berusaha mencari pijakan saat tubuhnya melayang diudara namun raut wajahnya berubah saat melihat keris penguasa kegelapan berputar diudara.
"Energi keris penghancur".
Aura besar tiba tiba menyelimuti seluruh area Dieng sesaat sebelum ribuan energi hitam berbentuk keris dari atas meluncur cepat kearah Ajisaka dan membenamkan tubuhnya kedalam lautan Lahar panas.
Sabrang mematung diatas satu satunya batu yang belum terendam lahar panas. Dia mengatur nafasnya dan menatap sekelilingnya yang sudah hampir semua tempat terendam lahar panas. Pandangannya terhenti saat menatap gua kabut yang sudah terendam Lahar panas.
"Pada akhirnya kau tidak pernah membuat perjanjian dengan siapapun Naga api". Sabrang tersenyum kecut.
"Apa itu penting sekarang? kau bisa mati jika tidak segera pergi dari sini". Ucap Naga api kesal.
__ADS_1