Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kenyataan yang Tersembunyi


__ADS_3

Setelah berjalan cukup lama, Mahawira menghentikan langkahnya disebuah danau kecil yang berada didekat air terjun.


Pemandangan indah dan percikan air terjun yang terbawa angin menciptakan pelangi yang sangat indah.


Wardhana mengambil gulungan dalam sakunya dan membukanya.


"Ini tempatnya" ucap Wardhana pelan.


Gambar yang ada di gulungannya sama persis dengan apa yang kini dilihatnya. "Apa kalian tau siapa yang membuat tempat ini?", tanya Wardhana pelan.


Mahawira menggelengkan kepalanya "Saat terjadi kekacauan di daratan Jawata, leluhur kami melarikan diri ke Hujung tanah dan menemukan tempat ini. Semua sudah seperti ini tanpa ada yang kami tambah atau kurangi".


Wardhana menoleh kearah Ciha yang dibalas anggukan oleh Ciha.


"Sepertinya memang tempat ini yang kami cari" ucap Wardhana pelan.


"Kalian mencari tempat ini? bukankah tujuan kalian adalah telaga khayangan api?".


Wardhana menggeleng pelan "Banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan gurumu, aku akan menceritakan semuanya pada kalian".


Mahawira kemudian menyentuh air danau dengan telapak tangannya dan merapal sebuah segel, tak lama sebuah keajaiban terjadi, air danau itu tiba tiba berubah jadi sangat jernih. Tampak sebuah tangga dan pintu didasar danau warna warni itu.


Ciha tersentak kaget setelah melihat segel yang di rapal Mahawira.


"Dari mana kau menguasai segel itu? segel kabut itu hanya dikuasai oleh kami, sekte Bintang langit".


"Anda mengetahui segel ini?", Mahawira tampak bingung, karena menurut cerita gurunya hanya seorang pendekar misterius yang membantu mereka melarikan diri yang menguasai jurus itu dan mengajarkan untuk melindungi tempat itu.


"Bagaimana kalian bisa menguasai jurus itu", ucap Ciha setengah berteriak.


"Hei, sabarlah, kau tak seperti biasanya", Wardhana menenangkan Ciha, dia cukup terkejut melihat reaksi tidak biasa Ciha.


Ciha yang dikenalnya sangat tenang dalam situasi apapun, kini terlihat panik.


"Saat kami melarikan diri dari tanah Jawata, seorang pendekar misterius membantu kami dan menemukan tempat ini, dia mengajarkan kami segel kabut untuk menyembunyikan markas kami. Apa ada yang salah?".


Raut wajah Ciha berubah seketika, dia terduduk di tanah karena kakinya tiba tiba lemas.


Wardhana yang mulai memahami situasi mendekatinya sambil menepuk pundaknya.


"Anda ingat ucapanku saat kita berada di Swarnadwipa?", ucap Ciha bergetar.


Wardhana terlihat berfikir sejenak, "Kau merasa ada yang mengawasi kita?".

__ADS_1


Ciha mengangguk pelan, "Sekte Bintang langit lah yang selama ini mengawasi kita".


Ucapan Ciha membuat semua orang terkejut termasuk Sabrang.


"Sebaiknya kau jaga ucapanmu Ciha, mereka telah banyak membantuku menemukan Dieng" Sabrang bereaksi, dia menarik baju Ciha dan menatapnya penuh amarah.


"Aku lahir dan besar di Bintang langit, jika ada orang yang sangat ingin melindungi Bintang langit maka akulah orangnya. Namun Segel kabut diciptakan oleh tuan Birawa bersama ketua lainnnya, apa kau pikir aku yang mengajarkan segel kabut pada Sekte Api dan angin?".


Sabrang terdiam setelah mendengar ucapan Ciha, wajahnya kini tampak ragu.


"Yang mulia, mohon anda bersabar, bukankah kita ingin mengungkap semuanya? anda harus berfikir dengan kepala dingin", Mentari mencoba menenangkan Sabrang.


Sabrang mulai terlihat tenang setelah mendengar ucapan Mentari.


"Teruskan", ucap Sabrang sambil melepaskan cengkraman tangannya.


"Tuan Birawa bukan membantu kalian menemukan Dieng, tapi dia harus mengarahkan kalian masuk Dieng untuk menemukan fakta Telaga khayangan api. Perjanjian Bintang langit dengan tuan Panca memiliki maksud terselubung, mereka bukan ingin menyembunyikan Dieng namun menyembunyikan suku iblis petarung sampai seseorang menemukan mereka dan secara sengaja mengungkap Telaga khayangan api.


Kita semua dijadikan pion olehnya agar Masalembo tak pernah ditemukan. Itulah kenapa ada larangan keras bagi Bintang langit untuk masuk ke gerbang ketiga Dieng".


"Jadi maksudmu Sekte Bintang langit bekerja sama dengan Masalembo?". tanya Wardhana.


"Kemungkinan besar seperti itu" Ciha menarik nafasnya pelan sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Aku sudah merasakan ada yang aneh sejak kembali dari Dieng, tuan Birawa seolah mengarahkan aku untuk membantu kalian menemukan Telaga khayangan api. Seperti yang anda perkirakan tuan, Telaga khayangan api diciptakan untuk menjauhkan kita dari Masalembo dan sekte ku melakukan itu dengan sempurna", ucap Ciha lirih.


Sabrang menatap Ciha sedih, ada rasa bersalah dalam hatinya. Ciha mungkin terlihat kuat menerima kenyataan ini namun Sabrang yakin jauh didalam hatinya dia merasakan kecewa pada Sekte Nya sendiri.


Mahawira yang masih belum mengerti apa yang mereka katakan memberanikan diri menyela.


"Sebaiknya kalian cepat ikut aku jika memang masalah kali ini cukup berat". Mahawira memberi tanda untuk menyelam.


Wardhana kembali menepuk pundak Ciha untuk menguatkannya. "Kita pikirkan nanti masalah ini, saat ini sebaiknya kita harus cepat menemui ketua Api dan angin untuk membicarakan masalah ini".


"Apa tidak sebaiknya kita kembali dulu ketanah Jawata? jika benar perkiraan ku maka saat ini mereka dalam bahaya karena tidak tau siapa musuh mereka".


Wardhana menggeleng pelan "Aku yakin Hibata mampu membongkar semuanya, itulah kenapa Yang mulia memilihnya sebagai ketua. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah membongkar semua ini secepatnya".


Setelah meyakinkan Ciha mereka akhirnya mengikuti Mahawira menyelami danau kecil itu. Mahawira menyelam lebih dulu diikuti yang lainnya namun tanpa mereka tau, beberapa pendekar Masalembo mengamati mereka dari jauh.


Setelah beberapa lama menyelam, mereka muncul di sebuah sungai yang sangat tenang. Lempengan lempengan batu yang di pahat indah berjejer rapih disekitar sungai.


Pandangan Wardhana berhenti disalah satu batu yang terlihat paling mencolok.


"(Sabdo palon - Kitab paraton - Kebangkitan pedang Penakluk dunia)".

__ADS_1


Wardhana meminta Ciha mencatatnya karena mungkin akan berguna.


"Sekteku tak jauh didepan sana" Mahawira menunjuk hutan yang ada dihadapannya namun langkahnya terhenti saat aura besar tiba tiba menekan mereka semua.


Mata bulan Sabrang bahkan langsung bereaksi, bola matanya tampak bersinar terang. Kedua lengan Sabrang reflek menciptakan puluhan energi keris di udara.


Suasana yang sempat cair kini kembali mencekam.


Sesosok tubuh tiba tiba muncul dan langsung menyerang Sabrang.


Sabrang langsung menarik energi keris untuk memperlambat gerak pendekar yang menyerangnya.


"Berani sekali kau masuk ketempat ini", gumam pendekar itu, tak lama sebuah energi pedang melesat kearah Sabrang.


Mentari yang berada disebelah Sabrang langsung membentuk perisai es untuk melindungi Sabrang.


Serangan pendekar itu langsung membentur perisai es yang dibuat Mentari. Ledakan tenaga dalam yang memekakkan telinga terdengar di udara akibat benturan energi pedang dengan perisai es Mentari.


Pendekar itu kembali bergerak namun kali ini sasarannya adalah Mentari. Kecepatan pendekar itu benar benar diluar akal manusia, dia tiba tiba berada didekat Mentari dan langsung menyerangnya.


Mentari yang telat bereaksi mencoba menghindar sekuat tenaga namun terlambat. Saat mata pedang itu hampir mengenai leher Mentari, Sabrang membentuk energi ruang dan waktu untuk menarik Mentari masuk.


"Dia menghilang?" pendekar itu tampak bingung. Belum selesai rasa terkejut pendekar itu, tiba tiba puluhan energi keris muncul entah dari mana dan langsung menyerangnya.


"Mata itu yang menghilangkan gadis tadi dan puluhan energi keris", ucap pendekar misterius itu sambil menatap mata Sabrang.


Saat dia mencoba menjaga jarak, tiba tiba hawa dingin terasa di punggungnya. Pendekar itu memutar pedangnya kebelakang namun sebuah pukulan dari arah berlawanan menghantam tepat diperutnya. Serangan keras itu membuat tubuhnya terpental jauh.


"Dia lebih cepat dariku?", umpat pendekar itu sambil berusaha mendarat.


"Tak ada yang bisa lepas dari mataku". Sabrang berpindah tempat menggunakan jurus ruang dan waktu, dia langsung menyerangnya dari belakang.


Pendekar itu hanya bisa pasrah saat Sabrang merapal jurus pedang pemusnah raga.


"Hentikan" teriakan Krisna membuat Sabrang menarik serangannya tiba tiba dan menggantinya dengan tinju kilat hitam.


Beberapa bagian tubuh pendekar itu terasa remuk saat terkena tinju kilat hitam, tubuhnya kembali terpental sebelum Krisna menyambar pendekar itu dan membawanya menjauh.


"Kekuatan pendekar ini jauh di atasku" gumam Krisna takjub melihat aura yang menyelimuti tubuh Sabrang.


Krisna menoleh kearah Mahawira dan menatapnya tajam.


"Bisa kau jelaskan siapa mereka?" ucap Krisna sambil memeriksa luka Candrakurama.

__ADS_1


Raut wajah Krisna berubah setelah memeriksa luka Candrakurama.


"Dia bisa terluka separah ini?", gumam Krisna terkejut. Dia tau betul kemampuan Candrakurama, tak banyak pendekar yang dapat mengimbangi Murid kesayangannya itu namun Sabrang mampu melukainya dalam waktu yang cukup singkat.


__ADS_2