Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Situasi Genting Malwageni


__ADS_3

Kabar hilangnya Wardhana menyebar cepat di dunia persilatan, sebagian orang menganggap patih Malwageni itu telah tewas dan sebagian lagi menganggap jika Wardhana sedang merencanakan sesuatu.


Pihak Saung Galah yang mendengar berita inipun masih menjaga sikap karena takut jika ini adalah salah satu jebakan Wardhana. Mereka mengirim utusan ke Malwageni untuk menanyakan kabar tersebut.


Suasana keraton menjadi sedikit tegang, penjagaan mulai diperketat karena takut akan ada yang memanfaatkan situasi atas hilangnya Wardhana.


Sabrang kemudian memerintahkan Paksi dan Emmy untuk menggantikan Wardhana sementara waktu, dia juga meminta Wijaya untuk menyelidiki hutan yang dikatakan Candrakurama untuk mencari keberadaan Wardhana yang sudah hampir satu purnama tak ada kabar.


Beberapa gejolak mulai bermunculan di kadipaten kadipaten Malwageni, kelompok kelompok pemberontak mulai menyerang Sabrang karena dianggap tidak mampu memimpin kerajaan.


Para pemberontak yang didanai oleh Jaladara itu mulai menghasut rakyat Malwageni untuk meminta Sabrang bertanggung jawab atas hilangnya Wardhana, mereka terus memainkan isu untuk membuat kekacauan di Malwageni.


Paksi yang awalnya menahan gerakan karena ingin meredam gejolak terpaksa mulai bertindak, setelah menyelidiki dan mengetahui jika semua pemberontak mengarah pada Saung Galah, dia mulai menyusun siasat.


Emmy menjadi ujung tombak dalam rencana Paksi kali ini, karena Lingga dan Candrakurama sedang ditugaskan oleh Sabrang untuk suatu hal.


Awalnya Arung yang akan ditugaskan memimpin Hibata untuk menumpas para pemberontak namun karena kondisi keraton masih genting, akhirnya Arung tetap berada di keraton untuk memimpin pasukan.


Paksi memang meminta Hibata yang turun tangan untuk menghindari gejolak, dia tidak ingin rakyat semakin terhasut jika prajurit keraton yang datang.


Ketika Sabrang akan memilih Wijaya, Emmy mengajukan diri. Setelah Sabrang menimbang sisi baik dan buruknya akhirnya dia merestui Emmy untuk memimpin Hibata sementara waktu.


Rencana Paksi terlihat mulai berhasil, beberapa kelompok pemberontak mulai bertumbangan, mereka ditemukan tewas mengenaskan tanpa tau siapa pelakunya.


Kematian beberapa kelompok pemberontak membuat kelompok lainnya mulai khawatir, mereka sebenarnya tau jika dalang semua ini adalah keraton namun mereka tak bisa berbuat apa apa karena tak ada bukti sedikitpun yang mengarah ke keraton.


Dilain pihak Paksi mulai memainkan perannya, dia meminta Sabrang mengeluarkan titah untuk menangkap siapa pembunuh para pemberontak itu agar menghilangkan jejak jika mereka sendiri pelakunya.


Perlahan namun pasti situasi mulai membaik, sebagian kadipaten yang awalnya menjadi basis pemberontak mulai berfikir jika sebenarnya Keraton sedang melindungi mereka.


Situasi ini mulai membuat sang pemimpin tertinggi pemberontak gerah, selain semakin gencarnya serangan yang dilakukan Hibata, mereka mulai ditinggalkan Saung Galah ketika situasi tidak menguntungkan.


Kepanikan tampak terlihat di sebuah hutan yang berada dipinggiran kadipaten Labuan Ratu, yang merupakan kadipaten terluar wilayah kekuasaan Malwageni.


Beberapa orang terlihat berjaga di sekitar hutan saat beberapa petinggi pemberontak melakukan pertemuan di gubuk yang ada ditengah hutan.


"Sial! tak kusangka mereka bergerak begitu cepat saat kita mulai membangun kekuatan, kupikir hilangnya Wardhana akan memperlambat gerakan mereka, aku sama sekali melupakan Paksi," ucap Karto dengan wajah lesu setelah mendengar kabar satu kelompoknya kembali terbunuh tadi malam.


"Sebaiknya kita mundur dulu tuan, Ketua sudah melarikan diri menuju Saung Galah untuk meminta perlindungan, dia memerintahkan kita bersembunyi untuk sementara waktu sambil menunggu kabar bantuan tuan Jaladara," balas Bajradaka yang merupakan salah satu pemimpin tertinggi pemberontak yang menamai diri mereka Pasukan Perlawanan.


Karto terlihat berfikir sejenak, dia sebenarnya merasa inilah saatnya menggoyang Malwageni.


Kehilangan Wardhana membuat Malwageni kehilangan hampir separuh kekuatannya namun saat ini situasi justru menyudutkan mereka.


"Baik, perintahkan beberapa kelompok kita yang lain untuk bersembunyi di hutan sementara waktu sambil menunggu perintah selanjutnya, semoga ada kabar baik dari ketua," ucap Karto pelan.


Bajradaka mengangguk pelan sebelum melangkah pergi diikuti empat pendekar yang selalu menjaganya.


Wajahnya tampak kusut, rencana yang sebenarnya sudah di susun matang hancur karena kehadiran para pendekar misterius yang menyerang mereka.


***


Paksi yang sedang berfikir di ruangannya tersentak kaget ketika Sabrang masuk, dia langsung berlutut dihadapan Sabrang memberi hormat.


"Maaf Yang mulia, hamba baru akan melaporkan perkembangan Malwageni pada anda esok hari karena malam sudah larut," ucap Paksi pelan.


"Tidak apa apa paman, ada yang harus aku bicarakan mengenai paman Wardhana," balas Sabrang pelan, guratan khawatir tampak diwajahnya.


"Tuan Patih?" Paksi mengernyitkan dahinya.


"Sebenarnya rencana paman Wardhana bermula dari penemuan sesosok tubuh di hutan lali jiwo, saat itu Dewi kematian sedang mengunjungi makam keluarganya.


Harusnya paman Wardhana tidak menghilang selama ini. Semua salahku, andai saat itu aku tidak mengizinkan paman melakukan semua ini mungkin semua tidak akan terjadi," ucap Sabrang lirih


Sabrang benar benar merasa bersalah dengan semua kekacauan ini, seharusnya Wardhana sudah memberi kabar saat ini.


"Maaf Yang mulia, apa yang anda khawatirkan saat ini sama dengan apa yang hamba rasakan dulu," jawab Paksi pelan.


"Maksud paman?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Saat Yang mulia Arya Dwipa membawa Wardhana kecil padaku, aku tidak paham dengan pemikiran beliau, bagaimana Yang mulia meminta hamba mengajarkan seorang anak desa biasa untuk dipersiapkan menggantikan hamba kelak.


Namun perlahan aku mulai menyadari jika anak itu mempunyai potensi yang jauh lebih besar dari hamba. Dia dianugerahi kepintaran oleh alam yang alami, dia bisa membaca situasi dengan cepat hanya dari pengamatan matanya. Saat itu hamba sadar, Yang mulia sudah menyadari kelebihannya.

__ADS_1


Jika anda berkenan, hamba ingin mendengar rencananya Yang mulia. Dia adalah murid hamba, mungkin sedikit banyak hamba bisa memprediksi pergerakannya," balas Paksi pelan.


"Mendekatlah paman," pinta Sabrang.


Paksi tampak bingung dengan sikap Sabrang, bagaimana dia terlihat hati hati di keratonnya sendiri.


Sabrang kemudian membisikkan sesuatu yang membuat Paksi tersentak kaget.


"Dia benar benar gila," ucap Paksi dalam hati, kini dia paham mengapa Sabrang mendatanginya larut malam.


"Apa aku harus mendatangi hutan itu dan mencari keberadaan paman?" tanya Sabrang.


Paksi terlihat berfikir sejenak sebelum menggeleng pelan.


"Sebaiknya anda tetap mengikuti rencana Wardhana Yang mulia, hamba sangat mengenalnya. Dia tidak akan bertindak sejauh ini jika tidak memiliki celah memenangkannya.


Hamba akan mencoba membaca rencana Wardhana dan mencari tau mengapa sampai saat ini dia belum memberi kabar. Namun hamba perlu bertemu tetua Wulan untuk menanyakan situasi saat menemukan tubuh orang itu," jawab Paksi cepat.


Sabrang terlihat berfikir sejenak, dia kembali mengingat pesan Wardhana saat menemuinya diam diam.


"Yang mulia, mohon izinkan hamba menjalankan rencana ini," Wardhana tiba tiba berlutut dihadapan Sabrang.


Sabrang menggeleng pelan, "Rencana paman sangat berbahaya, bagaimana jika perhitungan paman salah? tidak paman, kita akan mencari cara lain, aku tidak akan mengorbankan orang di sekitarku hanya untuk menghancurkan Masalembo."


"Yang mulia, hamba mohon! anda tidak mengorbankan hamba, semua hamba lakukan karena Malwageni telah terukir di hati hamba.


Yang mulia Arya Dwipa telah mengajarkan arti kesetiaan pada Malwageni walau hamba adalah orang Majasari. Jika memang harus mati maka hamba akan mati sebagai ksatria Malwageni, sama seperti Yang mulia Arya Dwipa dan ratusan pasukan angin selatan yang dulu berkorban demi mempertahankan tanah ini.


Mohon izinkan hamba, satu nyawa tak akan berarti jika dibandingkan dengan ratusan nyawa yang akan melayang jika kita tidak menghentikan Masalembo," jawab Wardhana.


"Bagaimana jika rencana paman gagal? bukankah sama saja malwageni akan hancur?" tanya Sabrang.


"Hamba sudah mempersiapkan semua rencana cadangan Yang mulia, jika dalam satu purnama hamba belum memberi kabar, perintahkan guru Paksi untuk melanjutkan apa yang hamba rencanakan," jawab Wardhana.


"Jika aku menolak?"


"Hamba percaya anda adalah raja yang bijaksana, hamba berlutut bukan sebagai Wardhana atau patih Malwageni. Yang ada dihadapan anda saat ini adalah seorang ksatria Malwageni yang memohon untuk diizinkan melindungi tanah kebanggannya.


Jika tubuh lemah ini bisa mencegah kehancuran Malwageni maka walau tubuh ini hancur hamba tetap akan berlutut dihadapan anda sampai keluar titah raja.


Kedua tangan Sabrang mengepal, aura ditubuhnya mulai meluap, dia benar benar tak menyangka Wardhana akan sangat setia pada Malwageni yang bahkan bukan tanah kelahirannya sendiri.


"Pergilah dan pastikan kau selamat!" balas Sabrang pelan.


"Semua keberkahan semoga selalu menyertai anda Yang mulia," Wardhana terdiam cukup lama dalam posisi bersujud, dia sedang membulatkan tekadnya untuk menyerahkan nyawanya kali ini pada Malwageni.


"Apa paman bisa menahan rasa sakit sejenak?" tanya Sabrang pada Paksi.


"Maksud anda?" tanya Paksi bingung sesaat sebelum Sabrang menyentuh punggungnya dan menghilang tiba tiba.


Tubuh Paksi langsung terjatuh ketika muncul didekat air terjun Lembah Pelangi, dia hampir tak sadarkan diri, beruntung Sabrang langsung mengalirkan tenaga dalam ke tubuhnya untuk membuatnya tetap sadar.


"Jadi ini ilmu ruang dan waktu?" gumam Paksi dalam hati.


"Ayo paman, semua sudah menunggu didalam gua itu," ajak Sabrang.


Paksi mengikuti Sabrang dibelakang sambil menatap sekelilingnya, banyak hal sebenarnya yang ingin dia tanyakan pada Sabrang mengenai tempat itu namun dia memutuskan diam.


Mentari tampak menyambut Sabrang, dia menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Hormat pada Yang mulia," sapa Mentari pelan.


Sabrang hanya mengangguk pelan, wajahnya masih terlihat tidak bersemangat karena memikirkan keselamatan Wardhana.


"Paman masuklah, didalam sudah ada guru dan kakek Rubah, tanyakan apa yang paman ingin tau dan pastikan secepatnya menemukan paman Wardhana," ucap Sabrang.


"Baik Yang mulia," balas Paksi sambil melangkah masuk.


Ketika Mentari hendak mengikuti Paksi, Sabrang tiba tiba memegang lengannya.


"Temani aku sebentar, bulan malam ini sepertinya terlihat indah jika dilihat dari puncak air terjun," pinta Sabrang yang dibalas anggukan Mentari.


Ketika sudah berada diluar gua, Sabrang menatap puncak air terjun lembah pelangi sesaat sebelum menggenggam lengan Mentari dan memberi tanda untuk bersiap.

__ADS_1


Mentari mengangguk pelan, dia merangkul lengan Sabrang sebelum mereka berdua terserap jurus ruang dan waktu. Tak lama, mereka berdua muncul kembali di puncak air terjun itu.


Sabrang langsung duduk dan memandang air yang jatuh kebawah.


"Anda khawatir pada paman Wardhana?" tanya Mentari pelan.


"Paman Wardhana terlalu memaksakan diri, ada yang berbeda saat dia menghadapku kemarin, aku takut itu suatu tanda tidak baik," balas Sabrang.


"Yang mulia, apa yang dilakukan paman Wardhana pasti akan kulakukan juga jika hamba berada di posisinya. Anda telah mengajarkan pada kami apa itu kesetiaan pada Malwageni.


Sebaiknya anda tidak terlalu khawatir Yang mulia, kematian sudah menjadi resiko kita semua saat memutuskan terjun ke dunia persilatan. Aku yakin paman Wardhana sudah memikirkan semua termasuk segala resiko dari rencananya.


Yang bisa kita lakukan saat ini hanya mengikuti semua rencana yang dibuat paman Wardhana. Anda yang paling mengenal paman Wardhana, seharusnya anda percaya padanya," jawab Mentari pelan.


Sabrang tersenyum kecil setelah mendengar jawaban Mentari, kini perasaannya sudah sedikit lega. Sabrang merasa Mentari selalu bisa membuatnya tenang disaat dia mulai resah.


"Mendekatlah, aku ingin melihat wajahmu sebentar," pinta Sabrang sambil memberi tanda pada Mentari untuk menyandar di bahunya.


Mentari mengikuti semua perintah Sabrang tanpa membantah sedikitpun, dia memejamkan matanya saat tubuhnya sudah bersandar.


"Jangan pernah pergi lagi dariku, aku tidak tau harus bicara pada siapa di saat seperti ini," ucap Sabrang pelan.


"Hamba mengerti Yang mulia, mohon jangan terlalu khawatir," jawab Mentari.


Mentari perlahan mulai terlelap dalam tidurnya, tubuhnya terasa sangat lelah karena seharian berlatih ilmu Panca jiwa, sebuah ajian yang diciptakan Wulan untuk menangkal pelebur sukma.


"Terima kasih untuk semuanya," ucap Sabrang sambil menggenggam lengan Mentari.


***


Bongkahan es yang menyelimuti tubuh para pemimpin dunia tiba tiba hancur saat mata bulan Lakeswara bersinar terang.


Lima tubuh yang selama ini terkurung dalam bongkahan es itu terlihat melayang di udara.


Lakeswara bergerak cepat, dia melepaskan segel Matahari untuk merusak segel Naraya yang masih tersisa di tubuh mereka.


Aura merah terlihat keluar dari kedua tangannya dan menyelimuti tubuh para pemimpin dunia itu.


"Anak bodoh itu benar benar menyegel mereka dengan seluruh kekuatanya," umpat Lakeswara sambil terus melepaskan aura merah dari kedua tanganya.


Tak lama, tubuh mereka bergetar di udara, bersamaan dengan terbukanya mata mereka.


Perlahan namun pasti, tubuh mereka yang melayang di udara mulai turun dan mendarat di tanah.


"Selamat datang kembali para pemimpin Masalembo," sapa Lakeswara pelan.


Wajah para pemimpin dunia itu tampak terkejut setelah mendengar suara Lakeswara.


"Yang mulia? apakah ini sudah saatnya?" tanya salah satu pendekar itu bingung.


Lakeswara mengangguk pelan, "Pulihkan kondisi kalian, aku sudah mempersiapkan ramuan Amrita dan Soma. Setelah tubuh kalian pulih, kita mulai bergerak dan sasaran pertama kita adalah kerajaan milik keturunanku sendiri," jawab Lakeswara.


"Keturunan anda?"


"Ceritanya panjang, akan kuceritakan semuanya termasuk pengkhianatan Naraya anakku dan Arjuna setelah kalian pulih," balas Lakeswara.


"Baik Yang mulia," jawab mereka bersamaan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Menanggapi sedikit komentar salah satu pembaca setia PNA yang tidak terlalu percaya jika taktik dan kepintaran bisa mengalahkan kekuatan besar.


Ini hanya sharing ya kak... saya cuma mau sedikit menjelaskan dari sisi Author


Banyak kasus jika taktik perang yang matang bisa mengalahkan kekuatan besar...


Perang Vietnam adalah salah satu inspirasi saya...


Bagaimana Amerika yang merupakan negara dengan militer terbaik saat itu dengan segala senjata canggihnya kalah oleh negara kecil itu. Semangat juang mempertahankan tanah air, ditambah dengan strategi perang dengan memanfaatkan medan yang dikuasai mampu memberikan kekalahan besar negara adidaya itu.


Satu yang saya pelajari dari perang itu, semangat juang dan rencana matang mampu menutupi segala kekurangan mereka.


Apa yang dilakukan Wardhana hampir sama, dia menyadari ilmu kanuragan yang dimiliki tidak tinggi, maka dia memanfaatkan kelebihannya untuk membuat perbedaan.

__ADS_1


Terakhir Vote donk mbang untuk kebangkitan Masalembo.... masa posisi 14


__ADS_2