Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sekte Golok Setan II


__ADS_3

"Penglihatan itu kembali lagi". Sabrang terlihat mematung, dia merasa jika gerakan pendekar Golok setan begitu lambat dimatanya.


Melihat Sabrang mematung pendekar lainnya merasa mendapat kesempatan untuk menyerang langsung bergerak ke arah Sabrang. Sabrang kembali melompat mundur dan menangkis serangan yang terarah padanya dengan bongkahan es yang menyelimuti kedua tangannya.


Para pendekar Golok setan terlihat bergerak membentuk formasi dan mencoba menekan namun semua serangan dapat dihindari Sabrang.


"Bahkan formasi serangan golok setan tak mampu menekannya". Salah satu pendekar menyadari jika serangan mereka bahkan tak mampu menyentuh ujung baju yang dikenakan Sabrang.


Saat para pendekar itu terlihat mulai kelelahan Sabrang memutuskan menyerang balik. Dia melompat agak tinggi dan merapal sebuah jurus.


"Tinju kilat hitam" Tubuhnya melesat menyerang para pendekar itu dengan cepat dan dalam beberapa tarikan nafas semua pendekar golok setan terkapar terkena jurusnya.


Salah satu pendekar mencoba bangkit dan mengayunkan pedangnya namun gerakan tangan Sabrang lebih dulu mencengkram lengan pendekar itu. Perlahan es mulai menjalar di lengan pendekar tersebut.


"Katakan padaku apa yang kalian rencanakan di kadipaten Ligung".


Pendekar itu mengerang kesakitan saat Sabrang mencengram tangannya lebih kuat.


"Tu....tuan Paksi memerintahkan kami menyerang tempat persembunyian pemberontak Malwageni".


"Bagaimana kalian tau letak persembunyiannya?".


"Tuan Paksi berhasil menyusupkan mata mata kedalam pasukan mereka".


"Siapa orang itu?" Sabrang masih mencengkram lengan pendekar itu.


"Aku tidak tau tuan karena yang berhubungan dengan dia adalah tuan Darya".


"Siapa dia?" Sabrang terus mencecar pendekar itu.


"Tuan Darya adalah salah satu tetua Golok setan, dialah yang kini dipercaya yang mulai raja setelah Iblis hitam menarik diri. Hanya itu yang kuketahui tuan". Pendekar itu menunduk tak berani menatap Sabrang.


Sabrang melepaskan cengraman tangannya, perlahan lapisan es di tangan pendekar itu mencair.


Tubuh Sabrang tiba tiba menghilang membuat Arkadewi melompat turun dari atas pohon dan mencari kesekelilingnya.


"Apa yang kau liat?" Seorang pria yang dari tadi bersembunyi di balik pohon tersentak kaget ketika Sabrang tiba tiba muncul dibelakangnya.


"Apa? bagaimana mungkin". Bulu kuduk Pria itu berdiri seketika, dia cukup yakin jarak antara dia dan Sabrang tadi cukup jauh. Pria itu mencoba menyerang Sabrang dan berusaha melarikan diri namun pukulan Sabrang lebih dulu mengenainya.

__ADS_1


Pria itu seketika jatuh berlutut menahan rasa sakit diperutnya akibat pukulan cepat Sabrang. Telapak tangan Sabrang lembali diselimuti es membuat hawa disekitar semakin dingin.


"Ampun pendekar, aku tidak berniat jahat". Wajah pria itu pucat pasi menatap tangan Sabrang yang diselimuti es.


"Siapa kau? dan apa yang kau lakukan disini?". Sabrang menatap tajam pria dihadapannya.


"Aku... aku sedang mengikuti mereka tuan".


"Mengikuti? untuk apa?".


"Sepertinya dia bukan bagian dari Golok setan tuan muda, sebaiknya lepaskan dia bukankah kita harus bergegas menuju Kadipaten Ligung?". Arkadewi melangkah mendekati Sabrang.


"Ligung? Anda.. jangan jangan... Pangeran?". Pria itu seperti menyadari sesuatu dan memberanikan diri menatap Sabrang.


Arkadewi mengangguk mendengar perkataan pria itu. Tubuh pria itu langsung lemas setelah melihat Arkadewi mengangguk. Dia adalah prajurit yang baru bergabung dengan kesatuan Angin selatan tidak heran dia belum mengenali Sabrang. Namun dia sering mendengar jika pangeran Malwageni itu pengguna jurus es.


"Hamba mohon ampun Pangeran, hamba diperintahkan tuan Wardhana untuk memata matai Golok setan". Pria itu menundukan kepalanya memberi hormat.


Sabrang terlihat menggelengkan kepalanya, hampir saja dia melukai prajuritnya sendiri.


"Bangunlah, ku pikir kau bagian dari mereka".


***


"Apakah kekuatan mata ini memang muncul sesukanya". Sabrang bergumam dalam hati.


Sementara Arkadewi menghabiskan waktu perjalanannya berbicara kepada prajurit yang belakangan diketahuinya bernama Harsa.


Selama ini dia penasaran dengan pergerakan yang dikomandoi Wardhana, orang yang telah menjebaknya sehingga dia menjadi buronan Majasari. Bahkan hingga malam hari tiba Sabrang masih terdiam, dia memutuskan duduk bersila sambil memejamkan matanya saat Harsa membuat perapian untuk mereka beristirahat.


"Apakah Pangeran baik baik saja?". Harsa berkata setengah berbisik pada Arkadewi sambil memandang Sabrang yang duduk tak jauh darinya.


"Dia memang sering begitu, mungkin dia sedang berlatih tenaga dalam". Ucap Arkadewi.


Tak lama Sabrang membuka matanya perlahan sambi menarik nafas panjang.


Sabrang kemudian berjalan mendekati perapian dan tersenyum kepada Arkadewi.


"Jadi nona Mentari telah meninggalkan Sekte kelelawar hijau?". Sabrang berbicara pelan pada Harsa.

__ADS_1


Harsa mengangguk pelan "Itu yang dikatakan tuan Wardhana, nona itu pergi bersama tuan Kumbara sepertinya nona Mentari akan diajarkan ilmu kanuragan agar bisa menjaga dirinya".


"Syukurlah, aku sedikit lega mendengarnya".


"Lalu kenapa paman Wardhana memintaku memakai topeng ini?". Sabrang memegang topeng yang baru dilepas dari wajahnya.


"Hamba tidak tau Pangeran, tuan Wardhana hanya berpesan begitu selebihnya dia yang akan menjelaskannya".


Sabrang menoleh ke arah Arkadewi yang duduk tak jauh darinya.


"Jangan tanya aku, anak buahmu selalu punya siasat yang tidak masuk diakal". Arkadewi masih kesal jika mengingat Wardhana menjebaknya di pulau tengkorak.


Sabrang sedikit tersenyum melihat tingkah Arkadewi yang selalu cemberut saat mendengar nama Wardhana.


***


"Benar yang anda perkirakan tuan, mereka mulai bergerak ke sini". Ucap Lembu sora sesaat setelah dia duduk diruangan Wardhana.


"Ada berapa orang yang mereka bawa?".


"Sekitar tiga puluh orang tuan, namun sepertinya mereka pendekar dari sekte Gokok setan".


Wardhana mengangguk pelan "Benar tebakanku, mereka berhasil menyusupkan mata mata dalam pasukan kita".


"Lalu apa tindakan kita tuan?" Lembu sora terlihat khawatir.


"Bersikaplah seperti biasa, untuk menjalankan rencanaku aku memerlukan mata mata itu namun untuk beberapa hal penting cukup kita bertiga saja yang tau". Wardhana berkata setengah berbisik pada Lembu sora.


"Apakah tidak apa apa tuan? Sekte golok setan telah berkembang akhir akhir ini, jika mereka benar menyerang kesini aku takut kita akan kewalahan dan menjadi senjata makan tuan".


Wardhana memejamkan matanya sesaat "Sejujurnya aku tidak memperkirakan jika Golok setan yang akan dikirim Majasari kemari, gerakan Paksi benar benar sulit ditebak".


"Bagaimana dengan tuan Kertapati? apakah sudah terlihat memasuki Kadipaten Ligung?".


Lembu sora menggeleng pelan "Sampai aku menerima laporan hari ini para teliksandi kita belum melihat tuan Kertapati memasuki perbatasan Ligung tuan".


"Tetap pada rencana awal, semua harus terlihat wajar apapun resikonya aku tidak ingin melepaskan kesempatan memukul Majasari kali ini. Tidurlah lebih awal aku akan berjaga menggantikanmu, besok akan menjadi hari yang panjang". Wardhana tersenyum kecut, kali ini dia tertinggal selangkah dari Paksi. Keterlibatan Golok setan benar benar diluar perkiraannya. Setelah Iblis hitam menarik diri dari dunia persilatan Wardhana mengira seluruh aliran hitam akan mengikuti jejak Iblis hitam namun dia salah kali ini.


"Baik tuan". Lembu sora menundukan kepalanya sesaat sebelum dia meninggalkan Wardhana sendirian di ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2