Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pendekar Dalam Legenda Bangkit Kembali


__ADS_3

"Biarkan aku masuk". Ucapan Mentari mengagetkan semua orang termasuk Sabrang. Walaupun dia pengguna racun namun air kehidupan jelas berbeda.


"Kita cari jalan lain saja, aku akan mencoba menghancurkan batu itu menggunakan Naga api". Sabrang terlihat tidak setuju dengan rencana Mentari.


"Aku akan baik baik saja". Mentari memperlihatkan tangannya yang sudah basah oleh air kehidupan. Air kehidupan terlihat meresap kedalam kulitnya dengan cepat.


"Ajian pelebur sukma mampu mengikat racun dan roh air kehidupan? bagaimana bisa?". Ciha mengernyitkan dahinya. "Sepertinya jurus yang berasal dari Dieng memiliki keterkaitan satu sama lain". Gumam Ciha dalam hati sambil menatap dua pasang pendekar itu terus berdebat.


Sabrang terus berusaha mencegah Mentari namun Ciha memotong ucapannya.


"Walau aku kurang setuju dengan rencananya namun nona ini satu satunya orang yang bisa menyelam kedasar Danau".


"Kau hanya ingin mengeringkan danau ini bukan? aku yakin masih banyak cara lain". Sabrang bersikeras dengan pendiriannya.


Saat Sabrang terus berdebat dengan Ciha, Mentari terlihat mendekati Lingga.


"Harus kuapakan batu itu". Ucap Mentari pelan, dia tidak ingin suaranya terdengar oleh Sabrang.


"Kau yakin akan turun kesana? Kita tidak tau apakah racun air ini sama dengan racun lainnya".


"Jika memang Iblis petarung benar benar ada di gerbang kegelapan, kita harus menyegel tempat ini selamanya bukan? aku akan mengambil resiko untuk menyegel tempat ini".


Lingga menatap Mentari sesaat, dia kemudian berjongkok dan menggambar susunan batu yang dia lihat di sendang pemandian raja Malwageni.


"Kau lihat batu itu?". Lingga menunjuk batu didasar danau. "Harusnya batu itu menghadap kesamping".


Setelah mengingat gambar itu Mentari mengangguk pelan. Dia menatap Sabrang sesaat sebelum melompat masuk danau, namun saat Mentari hendak melompat tiba tiba gempa bumi terjadi lagi. Kali ini getaran terasa lebih besar sehingga meruntuhkan tumpukan batu yang menyumbat gua yang tadi dihancurkan Sabrang.


Puluhan pendekar bermata hitam bermunculan dari balik batu dan melesat menyerang mereka.


"Gempa itu meruntuhkan batu penghalang yang kubuat". Sabrang terlihat menggenggam api yang perlahan berubah menjadi sebuah pedang saat bergerak menyerang mereka.


Namun Sabrang menghentikan serangannya tiba tiba saat mendengar sesuatu jatuh keair. Dia menoleh dengan wajah khawatir dan melihat Mentari sudah menyelam kedasar danau.


"Sial! aku harus menyusulnya". Sabrang melompat mundur dan bersiap masuk kedanau namun tiba tiba Wulan sari muncul dihadapannya.


"Berhenti bertindak bodoh! nona itu melakukannya karena ingin menyegel tempat ini selamanya dan kau ingin mengacaukannya?. Lihat dia, Ajian pelebur sukma melindunginya. Yang harus kita lakukan saat ini menghabisi mereka sebelum nona itu naik kembali".


Raut wajah Sabrang terlihat tidak puas namun dia memutuskan mengikuti perintah Wulan sari saat melihat Lingga sedikit kewalahan menghadapi para pendekar itu yang sepertinya tak ada habisnya.


"Siapa mereka sebenarnya". Sabrang mendengus kesal. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya kali ini karena suasana hatinya sedang buruk. Dia ingin melampiaskan kekesalannya pada para pendekar itu.


"Apa dia sudah gila?". Lingga merasakan aura Sabrang menekannya, dia benar benar menggunakan semua kekuatannya.

__ADS_1


Sabrang tiba tiba muncul ditengah puluhan pendekar yang kerasukan. Dia memutar pedangnya sambil melompat diudara.


Lingga tersentak kaget ketika mengenali gerakan pedang Sabrang.


"Pedang tunggal terbang kelangit". Sabrang memutar pedangnya, terlihat kobaran api hitam menghantam kerumunan pendekar itu. Beberapa pendekar yang berdiri cukup jauh bahkan terpental ke dinding tebing.


"Dia bahkan meniru jurusku dengan mudah". Lingga mengumpat saat dalam hati saat punggungnya beradu dengan Wulan sari. Mereka berdua dikepung puluhan pendekar lainnya.


"Ingat yang kukatakan, menyerang secara efektif agar tenaga dalamu tidak terkuras habis. Kita tidak seperti anak itu yang memiliki kekuatan tak terbatas". Wulan sari bersiap menyerang dengan jurus andalannya.


"Aku tau, Akan kutunjukan jurus pedang tunggal yang sesungguhnya". Lingga menarik pedangnya kedepan dengan lengan kiri berada dipunggung pedang.


Sabrang terus menggila, setiap dia melangkah semua yang didekatnya terbakar menjadi abu. Sabrang tidak sadar jika efek serangannya membuat beberapa dinding tebing retak dan semakin membesar.


Dia baru menyadari ketika dinding tebing mengeluarkan suara dentuman keras dari dalam tebing.


"Apa lagi sekarang?". Ucap Sabrang kesal.


Bersamaan dengan hancurnya dinding tebing ratusan pendekar bermata hitam pekat muncul dan langsung menyerang.


"Tuan Yaga? tuan Tungga?". Wulan sari tersentak kaget melihat dua orang yang dikenalnya ada diantara ratusan pendekar bermata hitam itu.


"Kau mengenalnya?". Tanya Lingga penasaran.


"Sepertinya tidak akan mudah". Lingga tersenyum kecut, walau belum pernah bertemu langsung karena berbeda generasi namun Lingga sering mendengar kehebatan sekte Racun selatan saat dipimpin oleh Tungga. Mereka menjadi sekte yang ditakuti saat itu sebelum Tungga menghilang tiba tiba.


"Jadi para pendekar yang dirasuki air kehidupan selama ini terkurung didalam sana. Gempa tadi membuka semua rahasia Dieng". Gumam Ciha dalam hati. Dia terus mengawasi Mentari yang terus mencoba menggeser batu didasar Danau.


"Nek, mereka seperti tak pernah habis, kita harus cepat keluar dari sini dan mengurung mereka disini". Ucap Sabrang sambil terus memutar pedangnya. Ratusan pendekar kembali muncul dari retakan dinding tebing saat Sabrang berhasil membakar puluhan Pendekar lainnya.


"Tunggulah sebentar, aku akan membantu nona itu". Wulan sari berlari mendekati danau.


"Mereka lebih kuat dari yang menyerang kita di gua tadi". Sabrang melompat mundur setelah melepaskan jurus badai api neraka. Sabrang mengatur nafasnya yang mulai tersenggal. Kecepatan dan kekuatan para pendekar bermata hitam itu mau tidak mau membuat Sabrang mengeluarkan seluruh kekuatannya.


"Hei kau bisa menahan mereka sebentar? aku akan mencoba menutup celah di dinding itu".


"Pergilah, pastikan celah itu tertutup atau kita akan kehabisan tenaga". Ucap Lingga sambil terus menyerang kerumunan pendekar itu.


"Lingga sudah hampir mencapai batasnya, aku harus cepat menutup celah itu". Sabrang melesat cepat kearah dinding tebing itu. Dia merapal jurus api abadi saat melompat diudara, Sabrang ingin menghancurkan celah itu seperti dia menutup gua ketika pertama datang.


Ketika Sabrang mengayunkan pedangnya tiba tiba sesosok tubuh melesat kearahnnya. Gerakannya yang sangat cepat bahkan membuat Sabrang tak bisa bereaksi. Pedang berwarna hitam pekat itu menghantam punggung Sabrang.


"Cepat sekali". Sabrang melompat mundur untuk mengatur ulang pertahanannya namun pendekar itu sudah muncul dihadapan Sabrang.

__ADS_1


Pendekar itu memutar tubuhnya saat Sabrang mencoba mengeluarkan jurus api abadinya. Dia bergerak lincah sebelum muncul disisi kanan dengan tebasan pedangnya. Tubuh Sabrang terpental dan membentur dinding tebing.


"Jurus api abadi? siapa dia?". Sabrang tersentak kaget ketika mengenali jurus yang digunakan pendekar itu.


Wulan sari bahkan hanya mematung dan berkali kali menggelengkan kepalanya. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sesosok tubuh berdiri tegak dengan pedang terhunus dan aura yang meluap dari tubuhnya.


"Bagaimana mungkin tuan Madrim belum mati? bagaimana dia ada disini". Ucap Wulan sari pelan.


"Madrim? maksud anda Madrim yang dijuluki pendekar dalam legenda? bukankah tubuhnya sudah hancur ratusan tahun lalu?". Lingga tak kalah terkejut setelah mendengar Wulan sari menyebut nama Pendekar terkuat yang pernah mengalahkan Mahendra dan menghancurkan Lembah siluman.


"Kali ini kita dalam masalah besar, dia terpengaruh air kehidupan dan kita tak mungkin mengajaknya bicara". Wulan sari menunjuk mata Madrim yang berwarna hitam pekat.


"Pantas saja kau lebih banyak diam saat kita masuk gua ini Naga api. Kau sudah tau jika tuanmu ada disini". Ucap Anom tiba tiba.


"Aku tidak pernah mengakui manusia sebagai tuan". Suara Naga api meninggi.


"Jadi dia benar benar pendekar dalam legenda?". Tanya Sabrang.


"Aku sempat merasakan auranya saat kita masuk gerbang kedua namun tak kusangka dia terkurung disini selama ratusan tahun".


Sabrang menggeleng pelan, tenaganya sudah banyak terkuras saat menghadapi pendekar lainnya dan kini pendekar terkuat berdiri dihadapannya.


"Sebaiknya kita harus cepat mengalahkannya, waktu yang tersisa tinggal 2 hari lagi sebelum Dieng kembali tertutup". Sabrang kembali mengeluarkan kedua pusakanya.


"Kau siap Naga api?". Ucap Sabrang sesaat sebelum tubuhnya melesat kearah Madrim.


"Tentu saja". Kobaran api hitam yang menyelimuti Sabrang membesar dengan cepat.


Madrim tersenyum dingin menapat kobaran api hitam mendekatinya. Dia merapal jurus api abadi dan menyambut serangan Sabrang.


***


Mentari terus berusaha memutar batu yang ada didasar danau namun tak semudah yang dia bayangkan. Aura ditubuhnya makin pekat karena Ajian lebur sukma terus mengikat racun air kehidupan.


"Aku harus cepat". Mentari memusatkan tenaga dalamnya di kedua tangannya dan mendorong batu itu sekuat tenaga. Batu itu bergeser perlahan sampai berhenti disebuah cekungan seukuran batu itu.


Setelah berhasil menggeser batu sesuai dengan gambar Lingga, Mentari bergerak cepat kepermukaan.


Betapa terkejutnya Mentari ketika melihat Sabrang terpojok dalam pertarungan dengan pendekar berbadan besar. Rasa terkejut Mentari dapat dipahami karena semenjak Sabrang mendapatkan keris penguasa kegelapan hampir tidak pernah ada pendekar yang mampu membuatnya terpojok dalam pertarungan.


"Hei, bisakah kau membantuku?". Suara Ciha mengagetkan Mentari. Ciha terlihat dikepung puluhan pendekar bermata hitam, sedangkan Lingga dan Wulan sari sibuk bertarung dengan ketua sekte Lembah tengkorak dan racun selatan.


Mentari segera merapal segel bayangan untuk menahan beberapa pendekar yang menyerang Ciha.

__ADS_1


"Carilah tempat persembunyian, aku akan mencoba menahan mereka". Ucap Mentari saat berhasil menahan sementara pendekar yang menyerang Ciha.


__ADS_2