Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Bantuan Dewanto


__ADS_3

"Cahaya Surga?" tanya Rubah Putih bingung saat mendengar penjelasan Sedayu tentang sekte kuil suci.


"Dulu, aku memiliki seorang sahabat yang dijuluki Dewa Pedang timur karena bakat besarnya dalam memainkan pedang. Dengan ilmu pedang pencakar langitnya, dia mengguncang dunia persilatan.


Tak ada yang tau siapa dan dari mana dia berasal, Wahyu Tama seolah dewa yang tiba tiba diturunkan ke dunia ini. Kekuatannya seolah tak akan ada yang mampu menandinginya saat itu, hingga di suatu hari aku menemukannya terluka parah di lereng bukit menoreh saat sedang mencari kayu bakar.


Aku sangat terkejut sekaligus takut saat itu, ketika seluruh dunia persilatan takut padanya tiba tiba dia terluka parah. Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar kekuatan lawan yang melukainya. Aku bahkan butuh beberapa purnama untuk mengobatinya karena hampir seluruh urat nadinya hancur.


Saat dia tersadar, aku memberanikan diri bertanya tentang luka yang didapatkannya dan dia hanya menjawab jika pendekar kuil suci sudah muncul di Cahaya surga. Hanya kata kata itu yang keluar dari mulutnya sebelum dia menghilang esok harinya dan sampai saat ini aku tidak tau dimana keberadaannya," ucap Sedayu.


"Jadi guru mengenalnya?"


"Aku hanya mengenalnya sebagai seorang pendekar sama seperti yang lainnya, tak ada yang tau masa lalunya," jawab Sedayu.


Rubah Putih mengangguk pelan, "Itu penyebabnya dia mundur dari dunia persilatan."


"Sepertinya bukan, dia memang terluka parah tapi aku yakin bukan itu alasan sebenarnya karena dengan tubuh istimewanya dia bisa dengan mudah mengembalikan ilmu kanuragannya. Seperti masa lalunya yang misterius, keputusannya mundur dari dunia persilatan saat masih berada di puncak kejayaan juga membingungkan," balas Sedayu.


"Cahaya Surga? apa guru tau di mana tempatnya?" tanya Rubah Putih pelan.


"Hanya Wahyu Tama yang tau karena dia tidak menjelaskannya secara detail tapi sebelum ditemukan terluka parah, dia pernah bercerita jika akan mendatangi suatu tempat yang berada di pusat Jawata yang lokasinya seolah dijaga oleh tujuh pusaran angin."


"Tujuh pusaran mata angin?" tanya Rubah Putih bingung.


"Hanya itu yang aku ketahui tapi seumur hidupku aku tidak pernah mendengar nama itu, entah hanya julukan sebuah tempat yang diberikan oleh Wahyu Tama atau bukan aku tidak tau," jawab Sedayu.


"Cukup sulit mencari tempat itu dengan petunjuk sekecil itu," ucap Rubah Putih lemas.


"Bukan tempat itu yang harus kau khawatirkan nak, jika benar suku hutan dalam Swarna Dwipa dibunuh oleh pendekar kuil suci berarti ucapan Wahyu Tama saat itu benar, dan kau bisa bayangkan seberapa besar kekuatan mereka jika mampu mengalahkan sang Dewa Pedang Timur?"


"Guru benar," balas Rubah Putih, walau dia tidak mengenal siapa Wahyu Tama karena saat itu masih terkurung di dimensi ruang dan waktu tapi jika gurunya sudah memuji seseorang itu artinya Dewa Pedang Timur bukan pendekar sembarangan.


"Ah, aku ingat sesuatu, ada satu yang menarik saat aku menemukan Wahyu Tama terluka. Ketika aku membuka pakaiannya, aku menemukan sebuah kitab pedang aneh," ucap Sedayu tiba tiba.


"Kitab pedang aneh?" Rubah Putih mengerutkan dahinya.


"Kitab Pedang Sabdo Palon, aku ingat betul nama kitab itu tapi saat aku membukanya, semua gerakannya sangat aneh. Berbeda dari kitab pedang lainnya, kitab itu terlalu menitikberatkan pada perubahan arah pedang yang sangat rumit dan tenaga dalam di kedua tangan dan kakimu.


Kau bisa bayangkan bagaimana jika kau bermain pedang dengan seluruh tenaga dalam di dua titik itu? serangan mu akan kaku dan mudah terbaca lawan karena tenaga dalam besar akan menjadi beban tubuh saat bergerak. Dan satu lagi yang paling kuingat, (Saat semua mulai menyatu dalam jalan pedangmu, setiap tebasan akan menghancurkan pusaka lawan menjadi debu) Apa mungkin ada tenaga dalam sekuat itu yang mampu menghancurkan pedang menjadi debu?" jawab Sedayu.


"Kitab Sabdo Palon? guru yakin tidak salah membacanya?" wajah Rubah Putih berubah seketika, dia kembali teringat tulisan yang dia temukan di makam kuno juga menyinggung tentang kitab pedang Sabdo Palon.


"Aku sangat yakin karena aku membacanya sendiri, apa kau mengetahui tentang kitab itu?"


Rubah Putih terdiam, dia mulai sedikit mengerti hubungan pasukan Kuil suci dengan kitab Sabdo Palon.


"Catatan yang menyebut kitab Sabdo Palon berada di makam kuno dan Dewa Pedang Timur juga terakhir kali terlihat di sana, lalu kitab itu berada di tangannya. Apa sejak awal Wahyu Tama sudah mengetahui mengenai pasukan Kuil Suci? siapa dia sebenarnya? aku sangat yakin selama hidup tidak pernah mendengar nama itu," ucap Rubah Putih dalam hati.


***


"Jurus pedang pencakar langit tingkat IV," Wahyu Tama tiba tiba merubah arah pedangnya sebelum melepaskan semua energi yang terpusat di pusaka nya.


Sebuah ledakan besar terdengar di gunung Ciremai saat energi pedangnya menghantam sebua pohon besar.


"Sial, luka itu masih belum pulih," Wahyu Tama menancapkan pedang di tanah dan menggunakannya sebagai tumpuan tubuhnya saat dadanya terasa sakit.

__ADS_1


"Kekuatan para pendekar kuil suci benar benar mengerikan, bahkan pedang pencakar langit pun tak mampu melukai mereka sedikitpun. Semoga dia mau membimbing Sabrang berlatih ilmu pedang Sabdo Palon karena jika mereka benar benar bangkit, hanya dia harapannya," Wahyu Tama menarik nafasnya dan mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh.


Dia kembali teringat saat pertama kali bertemu dengan para pendekar kuil suci di Cahaya Surga, saat itu dia baru menyadari jika ilmu kanuragan mereka tak bisa dijangkau.


Sejak saat itulah dia bertekad mundur dari dunia persilatan untuk menyembunyikan kitab pedang Sabdo Palon sampai dia menemukan orang yang tepat sebagai pewaris kitab pedang itu.


Wahyu tama tidak bisa membayangkan bagaimana jika Kitab itu jatuh ke tangan pendekar kuil suci.


"Sepertinya mereka telah menguasai semua jurus tersembunyi di kitab Sabdo Loji, dunia persilatan benar benar dalam bahaya jika Sabrang tidak cepat menguasai pedang Sabdo Palon," Wahyu Tama menggeleng pelan.


Wahyu Tama bukan tidak berusaha menguasai jurus itu tapi tubuhnya tidak mampu menahan efek jurus Sabdo Palon walau hanya berlatih jurus tingkat satu.


Jurus pedang Sabdo Palon yang membutuhkan energi dalam jumlah besar tidak bisa diimbangi oleh tubuhnya. Itulah yang membuat Wahyu Tama terkejut saat melihat Sabrang mampu menguasai jurus itu sampai tingkat III tanpa menimbulkan efek apapun pada tubuhnya.


"Semoga keputusanku kali ini tepat, karena jauh di dalam tubuhnya ada aura jahat yang terus berusaha menguasai tubuhnya, semoga Naga Api terus melindunginya."


***


Sebuah desa kecil tampak dari kejauhan setelah Sabrang dan Emmy menyusuri hutan seharian.


" Yang mulia, sepertinya desa itu yang dimaksud tuan Dewanto," ucap Emmy sambil berlari kecil.


Sabrang tersenyum kecil melihat tingkah Emmy padanya, tak ada lagi sikap kaku seperti yang biasa di tunjukkan di keraton.


Emmy seperti begitu menikmati perjalanan kali ini yang jauh dari aturan ketat keraton.


"Berhati hatilah, kau bisa tergelincir nanti," ucap Sabrang sambil menggeleng pelan.


Emmy menoleh kearah Sabrang dan memonyongkan mulutnya sebelum kembali berlari meninggalkan Sabrang.


"Tuan Dewanto," teriak Emmy saat melihat seorang pria sedang berjalan sambil membawa barang dagangannya.


"Nyonya?" Dewanto tampak terkejut, dia menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Hormat pada Yang mulia," ucap Dewanto sopan.


"Tuan, tolong jangan panggil Yang mulia, kami tidak ingin mereka tau siapa kami sebenarnya," bisik Emmy cepat.


"Tapi nyonya, mana mungkin aku...,"


"Tidak apa apa paman, panggil saja aku tuan, ada sesuatu yang harus aku pastikan di sini dan tidak ada yang boleh tau siapa aku," ucap Sabrang sopan.


"Baik Yang... maksud hamba tuan," jawab Dewanto terbata bata.


Dewanto kemudian mengajak mereka ke sebuah rumah yang mereka sewa selama berdagang di tempat itu.


Kehadiran Sabrang membuat mereka semua sibuk, walaupun Emmy sudah meminta untuk tidak terlalu berlebihan agar tidak menarik perhatian warga desa namun Dewanto dan pedangan lainnya tetap mempersiapkan semua kebutuhan Sabrang. Selain karena orang dihadapannya adalah seorang raja, Sabrang jugalah yang menyelamatkan mereka dari cengkraman perampok Elang hitam.


"Paman terlalu berlebihan," ucap Sabrang saat melihat banyak makanan enak dihadapannya.


"Mohon jangan terlalu sungkan Yang.. tuan," balas Dewanto yang masih belum terbiasa memanggil Sabrang tuan.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Emmy mulai bicara.


"Paman, sebenarnya aku ingin meminta sedikit bantuan pada paman."

__ADS_1


"Bantuan?" tanya Dewanto bingung.


"Sebenarnya kami aku bersama Yang mulia ingin mengunjungi ibukota Arkantara, apa paman bisa tunjukkan jalannya?" tanya Emmy pelan.


"Arkantara?" Dewanto tampak bingung sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Sebenarnya hamba bisa saja membantu anda nyonya tapi sepertinya akan sulit masuk ke kerajaan itu. Sejak Pangeran Saragi naik tahta, situasi Arkantara menjadi mencekam. Setiap orang asing yang ingin masuk akan diperiksa dengan sangat ketat nyonya."


"Pangeran Saragi?" tanya Emmy bingung.


"Pangeran Saragi adalah anak dari selir raja yang baru beberapa tahun ini naik tahta, sejak munculnya pasukan kuil suci, perangainya mulai berubah dan haus kekuasaan. Hamba beberapa kali berdagang di ibukota Arkantara dan menurut kabar yang hamba dengar, pangeran Saragi bahkan mengusir kakak tirinya yang sebenarnya adalah pewaris sah tahta Arkantara.


Sejak saat itulah, penjagaan di setiap perbatasan Arkantara diperketat bahkan para pedagang pun tak lepas dari pemeriksaan berlapis nyonya," jawab Dewanto.


"Pasukan kuil suci?" Emmy menoleh kearah Sabrang yang dibalas anggukan.


"Tuan, bisakah kau gambarkan letak kerajaan itu?" Emmy mengambil gulungan dari balik pakaiannya dan memberikan pada Dewanto.


"Gambar ini?" Dewanto tampak terkejut setelah melihat gambar daratan Swarna Dwipa.


Dewanto tampak berfikir sejenak sambil mengingat ingat sebelum melingkari beberapa titik pada gulungan itu.


"Hamba kurang ingat letak pastinya tapi sepertinya di dekat sini," ucap Dewanto pelan.


"Tak apa paman, aku akan mencari letak pastinya, terima kasih atas bantuannya," Emmy menggulung kembali gulungan itu.


"Maaf nyonya, jika anda berhasil masuk ibukota, ada kenalanku disekitar ibukota yang juga seorang pedagang bernama Arsenio. Berikan ini padanya dan katakan namaku, dia akan membantu anda selama di sana," Dewanto menyerahkan sebuah batu ukir kecil pada Emmy.


"Terima kasih tuan," jawab Emmy.


"Mohon berhati hati nyonya, kudengar pasukan Kuil suci sangat kejam," balas Dewanto khawatir.


"Paman tenang saja, kami akan baik baik saja," jawab Sabrang lembut.


"Sebaiknya anda bermalam di sini tuan, beberapa hutan yang akan anda lewati terkenal dengan hewan buasnya dan akan sangat berbahaya jika melewatinya pada malam hari."


Sabrang terlihat berfikir sejenak sebelum mengangguk setuju, dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sebelum melakukan perjalanan panjang di Swarna Dwipa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Vote vote


Goa Jomblang atau beberapa orang juga menyebutnya sebagai Cahaya Surga adalah satu yang fenomenal di Kabupaten Gunung Kidul Jogja. Goa Jomblang memiliki berbagai daya tarik dan keistimewaan tersendiri dibandingkan beberapa Goa lainnya seperti Goa Gelaatik yang terdapat di Gunung Kidul.


Goa ini terbentuk karena amblesnya tanah dan vegetasinya ke dasar bumi selama ribuan tahun. Reruntuhan tersebut membentuk lubang seperti sumur yang menjadi mulut gua kira-kira sebesar 50 meter. Dalam bahasa Jawa luweng berarti sumur.


Keindahan alam yang menjadi daya tarik wisatawan adalah hutan purba yang berada di dasar goa. Hutan tersebut dinamakan hutan purba karena jenis tanaman yang berada disana tidak dapat ditemukan di permukaan. Anda bisa menyaksikan hijaunya hutan purba yang masih tetap tumbuh subur dan terjaga keasliannya.


Foto Goa Jomblang Gunung Kidul




__ADS_1


__ADS_2