Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Rencana Besar Rubah Putih


__ADS_3

Kabar hancurnya sekte Tapak es utara yang menyebabkan seluruh anggota sekte tewas termasuk Mantili tersebar luas dan membuat dunia persilatan kembali bergejolak.


Kabar tersebut menimbulkan berbagai reaksi baik dari aliran putih maupun hitam, sebagian besar mencoba menancapkan pengaruh setalah selama ini berada dibawah bayang bayang tapak es utara dan sebagian lagi merasa cemas dengan masa depan dunia persilatan.


Belum diketahuinya siapa yang menghancurkan sekte milik Mantili itu menambah tegang suasana. Tak banyak yang berani dan dan bisa menandingi kekuatan Mantili di dunia persilatan, dan siapapun yang menghancurkan tapak es utara tanpa sisa, kekuatan mereka jelas di atas Mantili.


Usaha Wardhana untuk menekan kekacauan dunia persilatan dengan membentuk aliansi dan menjadikan Tapak es utara sebagai simbol kekuatan baru gagal total.


Malwageni menunjukkan rasa berkabungnya dengan mengirim Arung dan beberapa prajurit untuk memakamkan seluruh anggota tapak es utara yang tewas.


Wardhana yang memegang kendali kerajaan bersama Tungga dewi langsung memanggil Hibata dan meminta menyelidiki kejadian itu secepatnya.


Setelah melakukan pertemuan dengan Tungga dewi dan beberapa orang kepercayaan termasuk Mentari dan Emmy, Wardhana akhirnya memutuskan merahasiakan kabar ini sementara waktu dari Sabrang.


Mentari untuk sementara waktu menggantikan posisi Lingga memimpin pasukan menjaga keraton, hal ini dilakukan karena Lingga diminta membantu Hibata melacak pelaku yang menghancurkan Tapak es utara.


Wardhana ingin pelaku segera ditemukan dan dihabisi mengingat tapak es utara secara tidak langsung adalah simbol kekuatan Malwageni,


Dia tidak ingin pengaruh Malwageni yang sedang dibangunnya kembali hancur akibat masalah ini.


Wardhana terlihat sedang berbicara serius dengan Lingga di ruangannya saat Arung mengetuk pintu.


"Kau sudah kembali?" sapa Wardhana setelah mempersilahkannya masuk.


"Hamba menghadap tuan patih," ucap Arung sambil menundukkan kepalanya dan duduk di hadapan Lingga dan Wardhana.


"Bagaimana proses pemakamannya?," tanya Wardhana pelan.


"Semua sudah dikuburkan dengan layak tuan, dan sebagian prajurit hamba siagakan di sana," jawab Arung.


Wardhana mengangguk pelan, tampak gurat gurat khawatir diwajahnya.


"Bagaimana keadaannya?"


"Sangat mengerikan tuan, puluhan mayat bahkan tak lagi utuh. Kondisi tetua Mantili bahkan jauh lebih buruk, seluruh tubuhnya terluka bahkan hancur.


Aku tidak tau siapa yang melakukannya namun sepertinya ilmu kanuragannya sangat tinggi," jawab Arung.


Wardhana menutup matanya sambil menarik nafas panjang, dia terlihat berfikir sejenak sebelum kembali membuka matanya.


"Kejadian ini bagaimanapun akan sangat mempengaruhi Malwageni, kita harus benar benar mampu mengendalikan situasi. Sehari setelah kabar hancurnya tapak es utara, Saung galah mulai berulah.


Mereka berusaha mengklaim perbatasan di kadipaten Rogo geni yang masih dalam tahap perundingan, bahkan beberapa desa mereka akui sebagai wilayahnya.


Saat ini banyak yang bermain dengan memanfaatkan hancurnya tapak es utara dan Saung galah adalah salah satunya. Aku sudah mengutus Paksi untuk mengajukan keberatan atas sikap mereka.


Jika kita tak bisa mengendalikan situasi maka perang dengan Saung galah akan terjadi," ucap Wardhana menjelaskan situasi.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Lingga.


"Masalah kali ini sangat rumit, ada banyak kekuatan yang mengarah pada kita. Hancurnya tapak es utara sepertinya sebuah peringatan untuk kita.


Aku membagi masalah ini menjadi dua, urusan politik kerajaan dan dunia persilatan. Aku ingin anda membantu Hibata dan memimpin mengurus masalah tapak es utara karena aku takut ini berhubungan dengan Masalembo.


Sedangkan permasalahan batas dengan Saung galah aku yang akan mengurusnya sampai Yang mulia kembali. Dua masalah ini harus ditangani secara hati hati karena kita sepertinya berada ditengah pusaran kekuatan besar. Sampai Yang mulia kembali jangan bertindak apapun jika tidak sangat terpaksa," ucap Wardhana pada Lingga.


Lingga mengangguk setuju, dia bangkit dari duduknya dan menundukkan kepalanya.


"Aku harus pergi ke suatu tempat terlebih dahulu selama beberapa hari, setelah itu aku akan langsung melacak keberadaan mereka. Katakan pada Hibata untuk menemuiku di hutan dekat bangunan Iblis hitam dua minggu lagi."


"Berhati hatilah, aku mengandalkanmu," jawab Wardhana.


Lingga mengangguk sambil melangkah pergi.


"Apa tidak sebaiknya kita memberitahukan Yang mulia mengenai hancurnya tapak es utara?" tanya Arung setelah Lingga pergi.


"Jangan, saat ini Yang mulia sedang fokus berlatih sesuatu bersama Rubah putih, aku tidak ingin konsentrasinya terpecah.

__ADS_1


Penyerangan yang mereka lakukan terlihat sangat mencolok, mereka seolah memancing Yang mulia muncul. Kita harus meredam gerakan sementara waktu sampai Lingga dan Hibata menemukan petunjuk," jawab Wardhana.


"Lalu mengenai Saung galah, apakah kemungkinan perang sangat besar? akan sangat sulit berperang dengan dua musuh berbeda," tanya Arung lagi.


Wardhana menggeleng pelan, "Walau saat ini Saung galah sedang mencoba memancing amarah kita dengan mencaplok perbatasan namun aku yakin mereka tak punya nyali berperang untuk berperang.


Yang dilakukan mereka saat ini adalah melihat reaksi kita atas hancurnya tapak es utara dan mencari celah kelemahan. Selama kita mampu menguasai semua keadaan maka kemungkinan perang sangat kecil," Wardhana terlihat memberi tanda pada Arung untuk mendekat.


"Aku ingin kau melakukan sesuatu untuk sedikit memberi pelajaran pada Saung galah," Wardhana terlihat membisikkan sesuatu pada Arung.


"Tuan? bukan kah itu malah akan memicu perang?" jawab Arung terkejut setelah mendengar rencana Wardhana.


"Aku akan mengikuti permainan mereka, kita liat apa reaksinya nanti."


Arung terlihat ragu sesaat sebelum mengangguk pelan.


"Ingat, saat ini Malwageni secara tidak langsung dikepung musuh dengan segala kepentingannya, namun aku masih bersyukur musuh kita tidak saling mengenal sehingga tak ada kerjasama diantara mereka.


Lakukan dengan cepat, tanpa jejak sedikitpun dan limpahkan kesalahan pada orang itu," bisik Wardhana.


"Baik tuan, hamba akan berusaha sekuat tenaga," jawab Arung.


Arung tampak kagum dengan ketenangan dan rencana Wardhana. Saat ini Malwageni sebenarnya sedang terjepit oleh banyak musuh. Masalembo jelas mengincar mereka dan Saung galah masih berambisi menguasai wilayah bekas Majasari.


Dua musuh yang saling tidak mengenal itu seolah menatap Malwageni dari jauh, jika sampai pecah perang dengan salah satu pihak maka pihak lain akan memanfaatkan kesempatan menghancurkan Malwageni.


Saat ini Wardhana seolah dikepung oleh kekuatan besar, semua keputusannya mengandung resiko yang sangat besar.


Namun Arung melihat Wardhana bukannya gentar atau takut, dia justru memainkan rencananya dengan sangat tenang.


Wardhana kadang menjadi sangat baik namun bisa berubah kejam pada musuhnya. Tempaan hidup dalam pelarian membuatnya menjadi sangat matang.


Rencana yang dia siapkan secara mendadak saat mendengar kabar hancurnya sekte Mantili seolah mulai menjerat lawannya perlahan. Walau masih belum tau siapa lawan yang dihadapinya namun Wardhana seolah yakin dengan semua rencana yang dibuatnya hanya satu malam.


"Anda semakin matang tuan, sepertinya kini sulit mencari lawan sepadan dalan hal strategi perang. Anda mungkin lemah dalam ilmu kanuragan namun aku akan lebih senang memilih kawan yang sangat kuat sebagai musuh daripada harus berhadapan dengan anda," gumam Arung dalam hati.


***


Dia melangkah masuk perlahan sambil memperhatikan sekitarnya, terbayang kembali dalam pikirannya saat pertama menginjakkan kaki di sekte itu bersama Kertasura.


"Ketua, terima kasih untuk semuanya," gumamnya dalam hati.


Lingga terlihat memasuki sebuah ruangan yang merupakan tempat latihan pribadi bagi Kertasura.


Dia menatap kesekelilingnya sebelum pandangannya terhenti di sudut ruangan. Lingga berjalan mendekatinya dan merapa dinding itu. Sebuah tuas kecil ditekannya sekuat tenaga.


Tak lama, dinding bergetar sesaat sebelum sebuah celah kecil terbuka. Sebuah kitab lusuh terlihat dalam celah itu.


Lingga mengambilnya dan duduk dimeja yang berada tak jauh darinya.


Lingga memejamkan matanya sesaat sebelum membuka kitab itu.


"Maafkan kelancanganku ketua, awalnya aku ingin membiarkan kitab ini terkubur selamanya karena aku berniat mundur dari dunia persilatan namun situasinya memaksaku berubah pikiran.


Aku memutuskan mengabdi pada Malwageni bukan karena ingin kekuasaan. Aku ingin menebus masa kesalahan masa laluku dan berusaha sekuat tenaga melindungi orang orang tak bersalah, ku harap ketua mengerti keputusanku," ucap Lingga pelan sambil membuka kitab itu.


Cukup lama Lingga membaca kitab itu sebelum menutup dan memasukkannya dalam pakaiannya.


"Izinkan aku mempelajari kitab pedang langit ini ketua, saat ini aku merasa masih sangat lemah dan banyak yang ingin aku lindungi," Lingga menundukkan kepalanya didalam ruangan sebelum melangkah keluar.


"Apa yang bisa kau lakukan dengan jurus lemah itu?" suara seseorang mengagetkan Lingga, dia berusaha mencabut pedang langit yang terselip di pinggangnya namun terlambat.


Sesosok tubuh sudah lebih dulu mendekat cepat dan menotok tubuhnya yang membuat tubuh Lingga kaku tak bisa bergerak.


"Rubah putih?" ucap Lingga geram.


Pria itu tersenyum kecil sebelum mengambil kitab pedang langit dari dalam pakaian Lingga.

__ADS_1


"Jika tujuanmu Masalembo maka lupakan kitab ini, kau akan langsung tewas dihadapannya," Rubah putih berjalan kearah meja dan duduk dengan santai.


"Siapa sebenarnya dirimu? jika kau berani buka topeng aneh itu!" balas Lingga kesal.


"Siapa diriku tak penting, kau cukup memanggilku Rubah putih. Aku datang bukan untuk membunuhmu, setidaknya untuk saat ini. Musuh kita saat ini sama, Masalembo dan aku akan menawarkan sesuatu padamu.


Butuh banyak pasukan untuk melawan mereka yang menguasai ilmu kanuragan tinggi maupun ilmu pengetahuan dan aku membutuhkanmu," Rubah putih mengambil sebuah kitab dari dalam pakaiannya dan melemparkan kearah Lingga.


"Ilmu pedang penakluk Iblis kuciptakan sebagai turunan dari ledakan tenaga dalam iblis. Ada sepuluh jurus yang jika bisa kau kuasai dengan sempurna akan sangat mematikan. Pelajari itu dan mari kita hancurkan Masalembo bersama," ucap Rubah putih santai.


"Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan? aku tau beberapa hari lalu kau menemui nyonya selir bukan? jika niatmu adalah bekerja sama, kau harusnya menemui Yang mulia karena kamu semua berada dibawah perintahnya, tapi kau seolah sengaja menemui kami secara terpisah," tanya Lingga pelan.


"Tak perlu tau apa rencana besarku, kenyataan bahwa musuh kita sama sepertinya suah cukup untuk mengikat kerjasama diantara kita," jawab Rubah putih pelan sambil bersiap pergi.


"Jika kau berani menyentuh Malwageni maka aku bersumpah akan membunuhmu," ancam Lingga tiba tiba yang menghentikan langkah Rubah putih.


"Kau tenang saja, aku tak berniat menghancurkan kerajaan kalian, totokan itu akan hilang beberapa menit lagi, aku harus pergi karena banyak yang harus kupersiapkan," jawab Rubah putih.


"Apa yang sebenarnya sedang direncanakan olehnya? firasatku mengatakan dia memiliki rencana tersembunyi selain Masalembo," gumam Lingga yang menatap kepergian Rubah putih.


"Sepertinya semua semakin menarik," gumam Rubah putih sebelum melesat pergi.


***


Seorang pria tampak menghentikan langkahnya saat memasuki sebuah hutan diperbatasan Saung galah. Pria itu tampak terkejut karena tak banyak yang berani masuk hutan Lali jiwo.


Dia menatap seorang pendekar bertopeng khas Hibata yang melayang di udara.


"Apa aku pernah memiliki masalah dengan Hibata?" tanya pria itu pelan, dia masih tampak tenang walau musuh yang dihadapinya bukan orang sembarangan.


Nama Hibata memang semakin melambung akhir akhir ini setelah terus menghancurkan sekte yang pernah berhubungan dengan Masalembo.


"Apa kau tau mengenai hancurnya sekte tapak es utara?" tanya Candrakurama tiba tiba, tubuhnya mulai turun dan mendarat tepat dihadapan pria itu.


Pria itu terlihat terkejut walau berusaha tetap tenang.


"Sekte Lintang api sudah lama mundur dari dunia persilatan, kami sama sekali tidak ingin terlibat dalam dunia persilatan. Sepertinya anda salah menduga, kami memang mendengar kabar hancurnya tapak es utara dan aku sangat menyayangkan namun kami tidak terlibat sama sekali," jawab pria itu pelan.


"Aku terkejut wawasan anda sangat luas," jawab Candrakurama sambil tersenyum kecil, dia mulai mengalirkan tenaga dalam perlahan ke pedang pusaka miliknya agar tidak terlalu mencolok.


"Wawasanku?" pria itu mengernyitkan dahinya.


"Tuan Gentala, anda adalah salah satu wakil ketua termuda sekte Lintang api, aku yakin kemampuan anda sangat tinggi karena diusia muda sudah menduduki jabatan penting.


Namun yang membuatku terkejut anda mengenali Hibata, organisasi baru yang belum berumur setahun. Lintang api sudah mundur puluhan tahun lalu bukan? jika anda tak pernah terjun di dunia persilatan sejak saat itu tapi mengenali kami bukankah wawasan anda luas?" sindir Candrakurama.


Gentala terdiam, dia baru menyadari jika salah bicara.


Gentala jelas tau mengenai organisasi Hibata karena Lintang api selama ini bergerak senyap mengumpulkan kekuatan untuk membangun ulang sektenya sejak dihancurkan Iblis hitam.


"Apapun yang kau katakan percuma, kami tidak terlibat sama sekali dengan hancurnya tapak es utara. Kemampuan Mantili jauh di atas kami, mustahil Lintang api bisa menghancurkan mereka," jawab Gentala sambil berjalan kembali.


"Aku tak bisa membiarkanmu pergi," Candrakurama menarik pedangnya dan menghunuskan kearah Gentala.


"Bukankah sudah kukatakan kami bukan tandingan tapak es utara?"


"Sangat jarang orang berani masuk hutan lali jiwo dan akan dengan mudah mengamati pergerakan kalian. Setelah penyerangan tapak es utara, ada yang melihat beberapa orang masuk hutan ini, jangan katakan mereka anggota sekte Lintang api yang tidak sengaja berada di dekat tapak es utara," jawab Candrakurama meremehkan.


Gentala tersenyum kecut sambil mundur beberapa langkah dan mencabut pedangnya.


"Aku mengagumi gerakan Hibata namun jangan pikir kau bisa dengan mudah mengalahkanku," ucap Gentala.


"Suatu kehormatan bagiku mendapat pelajaran dari pendekar muda berbakat sepertimu. Aku memang tidak mengenalmu namun kau harus ikut denganku, ada yang ingin bertemu denganmu," Candrakurama langsung bergerak menyerang.


"Ikut denganmu? coba saja jika kau mampu" Gentala menyambut serangan Candrakurama dengan penuh percaya diri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Sore ini ada yang usil menurunkan rate bintang PNA dari 4,9 ke 4,7 jika berkenan bantu klik bintang PNA dan berikan penilaian bintang 5 agar kembali seperti semula...


Terima kasih atas dukungan Votenya....


__ADS_2