Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sekte Api dan Angin


__ADS_3

"Aku ingin ikut denganmu kakang, berjuang bersama merebut tanah Malwageni dari tangan Majasari". Ucap Pancaka pada Sabrang.


Sabrang nampak terdiam sambil memejamkan matanya. Dia masih belum percaya jika ternyata memiliki Saudara tiri yang masih hidup.


"Ijinkan aku bergabung dengan pasukan angin selatan kakang". Pancaka masih merengek.


"Kau yakin ingin bergabung dengan pasukan angin selatan? pasukan angin selatan adalah pasukan tempur yang selalu berada di garis depan. Aku tak mungkin membiarkanmu dalam bahaya".


"Atau kakang bisa menyerahkan posisi Adipati padaku? aku janji akan berjuang sekuat tenaga merebut Malwageni". Pinta Pancaka.


Sabrang menggeleng pelan "Dengar Pancaka, saat ini yang paling pantas menduduki posisi Adipati adalah paman Wardhana. Pengalamannya, kepintarannya sangat dibutuhkan oleh kita untuk merebut Malwegin. Jika kau memang ingin membantuku, bantulah paman Wardhana".


Raut wajah Pancaka berubah seketika setelah mendengar jawaban Sabrang. Dia benar benar tidak habis pikir dengan kakaknya itu yang lebih memilih orang lain daripada saudaranya sendiri.


"Bagaimana jika suatu saat dia mengkhianati kita? Apa kakang tidak tau dia dulu melarikan diri saat Ayah bertarung mempertahankan Malwageni? Bagaimana jika kali ini dia kembali berkhianat".


"Ayah yang meminta paman Wardhana pergi saat Malwageni tak lagi memiliki kesempatan menang. Dan ayah ingin paman Wardhana membantu kita seperti saat ini. Percayalah padaku, dia beberapa kali mengorbankan nyawanya demi melindungiku". Ucap Sabrang pelan.


Pancaka sudah tidak bisa menahan amarahnya terhadap sikap kakaknya yang terus melindungi Wardhana.


"Aku hanya mengingatkan sebagai saudara tapi semua keputusan ada di tanganmu kakang". Pancaka beranjak dari duduknya, dia menundukan kepalanya memberi hormat sebelum melangkah pergi.


Sabrang menatap kepergian adik tirinya itu sambil menggeleng pelan.


Pandangan Sabrang berhenti disudut ruangan, dia mengernyitkan dahinya sebelum kembali menggelengkan kepalanya.


"Masuklah, mau sampai kapan kau bersembunyi disana". Sabrang tersenyum kecil sambil menatap kesudut ruangan.


Mentari keluar dengan wajah canggung, dia benar benar kehilangan muka.


"Ma..Maaf tuan muda". Mentari menundukan kepalanya.


"Tak perlu sungkan, apa ada yang ingin kau katakan?". Sabrang mendekatkan wajahnya membuat Mentari salah tingkah.


"Bagaimana anda....". Mentari semakin salah tingkah karena Sabrang bisa membaca pikirannya.


"Kita sudah mengembara bersama untuk waktu yang lama, Sekarang katakanlah". Sabrang tersenyum hangat.


Mentari terlihat sedikit ragu untuk mengatakannya namun akhirnya dia memberanikan diri.


"Maaf yang mulia, aku tau pangeran Pancaka adalah saudara tiri anda yang juga keturuan Yang mulia raja namun aku merasa dia merencanakan sesuatu". Mentari menundukan kepalanya tak berani menatap Sabrang.

__ADS_1


"Terima kasih". Ucap Sabrang tersenyum.


"Anda tidak tersinggung?". Tanya Mentari sedikit takut. Dia sempat berfikir jika Sabang akan marah ketika Mentari menyinggungnya.


"Aku sudah tau dia sedang merencanakan sesuatu namun bagaimanapun dia adalah saudara tiriku. Aku akan meminta paman Wardhana untuk mengawasinya dengan ketat. Semoga apa yang kita takutkan tidak terjadi".


***


Disebuah hutan tersembunyi di Pulau Hujung tanah, Sepasang pendekar langit terlihat melesat cepat diantara pepohonan rimbun yang sepertinya tidak pernah terkena sinar Matahari.


Aura hitam pekat yang sangat menekan ditambah beberapa tanaman yang sangat beracun sepertinya tak mengganggu langkah mereka sama sekali. Mereka seolah sudah terbiasa dengan lingkungan yang sangat berbahaya itu.


Langkah mereka terhenti ketika menemukan sebuah hamparan Danau berwarna warni. Pemandangan Indah yang menyambut mereka selalu membuat mereka takjub setiap kali pulang dari mengemban tugas.


Air terjun yang berada disisi kiri dan Kanan Dauan berwarna itu seolah menjadi bingkai terindah tempat itu.


"Tempat ini selalu membuatku takjub". Ucap Candrakurama, salah satu dari sepasang pendekar Langit.


"Kau terlalu berlebihan kakang, kita hanya meninggalkan tempat ini selama satu purnama". Mahawira terlihat mengejek kakak seperguruannya itu.


"Kau memang tak pernah mendukung kakang mu Wira". Candrakurama sedikit mengumpat pada Mahawira yang hanya dibalas tawa mengejek dari Mahawira. "Ayo kita temui guru".


Mahawira terus tertawa melihat tingkah kakak seperguruannya. Sampai detik ini Mahawira masih belum paham sifat kakak seperguruannya itu. Candrakurama adalah murid paling berbakat di Sekte Api dan angin, bahkan guru mereka langsung menghadiahi pedang Petir hitam pada Candrakurama sebagai hadiah karena Candrakurama menguasai ilmu tahap akhir Sekte Api dan angin dalam usia yang sangat muda.


Setelah Candrakurama menyentuh Danau warna warni itu dan merapal sebuah segel, tiba tiba air danau itu berubah jadi sangat jernih. Tampak sebuah tangga dan pintu didasar danau warna warni.


Candrakurama dan Mahawira melompat kedalam danau itu dan membuka pintu air untuk masuk kedalamnya.


Setelah beberapa lama menyelam, mereka muncul di sebuah sungai yang sangat tenang. Hiasan lempengan lempengan batu yang di pahat indah menyambut mereka dipinggir sungai itu.


"(Sabdo palon - Kitab paraton - Kebangkitan pedang Penakluk dunia). Entah sudah berapa juta tahun batu peringatan itu berada di sungai ini dan sampai saat ini tidak ada yang tau siapa yang memahat peringatan itu". Mahawira tersenyum kecut. Setiap dia dan Candrakurama mendapat tugas dari gurunya dan keluar dari sekte Api dan angin dia selalu membaca tulisan itu. Tulisan itu seperti sengaja dibuat tepat dipintu masuk seke untuk memperingatkan kebangkitan sesuatu yang sangat mengerikan.


"Kau masih mengkhawatirkan tentang peringatan itu?". Suara Candrakurama membuyarkan lamunan Mahawira.


Mahawira hanya menganguk sambil tersenyum canggung. Selain pendekar yang kuat, kakak seperguruannya itu seolah bisa membaca pikirannya.


"Kau tenang saja, selama kita bisa menjaga kitab paraton ini tetap di sekte kita maka tak akan ada yang bisa menemukan Telaga khayangan api".


"Tapi apa harus dengan membunuh banyak orang kita mengambil kitab ini? bukankah kakang yang mengatakan kalau semua yang kita lalukan ini demi dunia persilatan". Ucap Mahawira lirih. Dia masih tidak bisa menerima Candrakurama membantai habis seluruh sekte kelelawar hijau padahal bukan hal sulit bagi mereka untuk mencuri kitab itu diam diam tanpa membunuh.


"Wira, apa kau sudah lupa apa yang sering guru katakan. Kitab ini bisa merubah orang menjadi iblis dan menghancurkan dunia persilatan termasuk tempat kita yang jauh tersembunyi di dalam perut bumi ini. Aku sama sekali tidak menikmati pembunuhan itu namun kita harus memastikan agar tidak ada satupun orang yang tau tentang keberadaan kitab Paraton ini atau akan banyak suku suku Hwuang ho bermunculan". Ucap Candrakurama pelan.

__ADS_1


"Maksud kakang suku Iblis petarung yang kemarin terkubur di Dieng?". Tanya Mahawira.


Candrakurama mengangguk pelan. "Suku Hwuang ho adalah suku yang paling lemah di Benua sungai kuning. Mereka terusir dari tanah kelahirannya dan menemukan daratan Nusantara ini. Kau lihat sendiri bagaimana mereka bisa menjadi sangat kuat karena kitab Paraton ini. Aku akan melakukan apapun agar dunia ini tetap damai termasuk membunuh banyak orang untuk menutup informasi kitab ini".


"Lalu bagaimana dengan anak pengguna Naga api itu?. Bukankah kitab Paraton juga menyebut pedang Naga api akan muncul sebagai peringatan awal dari beberapa kejadian besar lainnya sebelum pusaka terkuat Megantara muncul?. Apa kakang akan membunuhnya juga?".


Candrakurama menggeleng pelan "Aku tidak tau, akan sangat sulit menghadapi pengguna energi Banaspati itu namun jika terpaksa aku akan melakukannya. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah menjauhkan kitab Paraton dari dunia persilatan terutama dari Pengguna Naga api itu".


"Kalian sudah kembali?". Seorang pria sepuh menyambut mereka didepan gerbang yang sangat besar. Terlihat puluhan bangunan megah dan besar dibalik gerbang itu. Tempat itulah yang menjadi markas Sekte Api dan Angin, sebuah sekte yang tersembunyi jauh didalam hutan di Pulau Hujung Tanah dengan segala misterinya.


"Hormat pada Guru". Candrakurama dan Mahawira menundukan kepalanya bersamaan memberi hormat pada ketua sekte Api dan Angin.


"Apa kalian berhasil mendapatkan kitab itu?". Tanya Krisna lembut.


"Kami mendapatkannya guru, seperti yang guru katakan Suku Iblis petarung yang selama ini menyimpan kitab ini". Jawab Candrakurama sambil mengeluarkan kitab Paraton dan menyerahkannya pada Krisna.


"Semoga Iblis petarung belum menemukan petunjuk mengenai letak Telaga Khayangan api". Indra menggeleng pelan.


"Apa telaga itu benar benar ada guru?". Tanya Mahawira penasaran.


"Guru tidak tau, namun yang pasti semua kejadian selama ini dari munculnya suku bermata biru sampai bangkitnya Naga api semua sudah tertulis di kitab Paraton sebagai pertanda akan bangkitnya Pusaka terkuat Megantara. Semoga semua hanya kebetulan". Krisna menarik nafas panjang. Dia hanya berharap semoga Telaga Khayangan api benar benar tidak ada atau kekacauan besar akan terjadi di bumi nusantara ini.


"Ayo ikut aku, aku akan menunjukan sesuatu pada kalian mengenai hubungan tempat ini dengan pedang Naga api". Krisna melangkah masuk gerbang itu diikuti dua muridnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan Autor


Pulau Hujung tanah adalah nama lain dari Pulau Kalimantan saat jaman Nusantara dahulu sebelum terkenal sebagai Pulau Borneo pada Abad ke 15.


Seting kali ini akan ada 2 tempat. Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan atau Hujung Tanah.


Halo Reader PNA yang dari Kalimantan, Angkat Tangan.


Yang kedua ada kabar yang sedikit tidak enak...


Mulai hari Senin besok Autor resmi dirumahkan dari pekerjaan yang selama ini Saya geluti. Jadi untuk beberapa waktu kedepan PNA akan tetap Update namun Hanya 1 Chapter sehari. Mohon dimaklumi karena Autor sedang berusaha mencari pekerjaan lainnya. Jika semua sudah stabil PNA akan update 2 kali sehari seperti biasa.


Jadi PNA akan tetap Update Tiap hari namun hanya 1 Chapter


Terima kasih atas pengertiannya dan dukungannya.

__ADS_1


Terima Kasih....


__ADS_2