
"Apa yang terjadi pada tuan muda?". Arkadewi terlihat berlutut, tubuhnya benar benar tidak dapat menahan aura yang keluar dari tubuh Sabrang. Nafasnya tersenggal dan wajahnya pucat pasi.
"Apapun yang terjadi dengannya didalam sana ini tidak baik". Lingga mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Arkadewi untuk membantunya tetap tersadar.
"Lari lah sejauh mungkin, aku akan menghadapinya". Lingga tersenyum kecut, walaupun dia cukup yakin dengan kemampuannya namun menghadapi seorang pengguna Naga api yang terlihat kerasukan jelas bukan perkara mudah.
Arkadewi mundur beberapa langkah namun tidak pergi seperti yang diperintahkan Lingga, bagaimanapun Sabrang adalah teman seperjalanannnya beberapa hari ini dia tidak ingin meninggalkan Sabrang saat seperti ini.
Saat Lingga hendak menyerang tiba tiba tubuh Sabrang kembali melayang diudara, Kobaran api muncul dari pedang yang berada di punggungnya dan menekan aura hitam ditubuh Sabrang.
Benturan dua kekuatan itu membuat tanah kembali bergertar. Lingga memutuskan melompat mundur menjauh, instingnya mengatakan keadaan ini tidak baik untuknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?".
"Mau sampai kapan kau seperti ini terus". Suara yang sangat dikenalnya sedikit membentak.
"Anom?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Kau terlalu lambat Anom". Naga api terlihat kesal sambil menatap Anom.
"Maaf Naga api, sudah lama aku tidak bersemayam di keris ini sejak Arya Dwipa menyegelku".
Anom kembali menoleh kearah Sabrang yang menatapnya tajam dengan mata hitam pekatnya.
"Ulurkan tanganmu dan terimalah seluruh kekuatanku, mulai saat ini sesuai perjanjian ku dengan Bratajaya Dwipa kau adalah Raja Malwageni yang baru".
Sesaat setelah tangan Sabrang menyentuh telapak tangan Anom Aura hitam terserap masuk kedalam tubuhnya.
Lingga mengernyitkan dahinya melihat aura yang menyelimuti tubuh Sabrang perlahan menghilang.
Saat mata Sabrang terbuka Lingga tersentak kaget tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Mata anak itu?". Tak lama raut wajah Lingga kembali tersenyum dan menoleh ke arah Arkadewi.
"Kau berhutang satu padaku nona, suatu saat akan kutagih hutangmu". Lingga tersenyum penuh makna kemudian tubuhnya melesat pergi meninggalkan Sabrang yang menatapnya dengan bola matanya yang kini berwarna biru muda.
__ADS_1
Arkadewi masih mengamati Sabrang dari kejauhan, dia belum mau ambil resiko dengan mendekatinya. Dengan bola mata Sabrang yang berwarna biru muda membuatnya sedikit takut.
Sabrang terlihat duduk bersila, dia masih merasakan tenaga dalamnya meledak ledak di dalam tubuhnya. Sabrang mencoba meredam ledakan tenaga dalam di tubuhnya.
"Kau harus segera membiasakan tubuhmu dengan energiku secepatnya nak". Anom berbicara pelan.
"Apa maksudmu?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Seiring dengan menyatunya kekuatanku ditubuhmu kau akan mengalami beberapa perubahan dalam tubuhmu". Anom menempelkan telapak tangannya ke kedua mata Sabrang.
"Matamu kini akan membantumu cepat berkembang namun sepertinya butuh beberapa waktu untuk menggunakannya. Kau mungkin sudah melihat Bratajaya Dwipa dalam penglihatanmu, kau memiliki tanggung jawab yang besar kelak. Teruslah bertambah kuat secepatnya nak, dengan bakat yang kau miliki perkembanganmu saat ini termasuk lambat. Aku bisa merasakan dia akan segera bangkit kembali, akan sangat berbahaya jika kau belum bertambah kuat".
"Jadi orang yang kulihat saat aku memegang keris itu....". Sabrang menghentikan ucapannya sesaat.
"Dia leluhurmu, pendiri kerajaan Malwageni. Dia adalah pendekar terkuat saat itu namun setelah kematiannya keturunannya tidak ada yang mewarisi bakatnya. Ada rahasia dan kutukan panjang dalam perjalanan trah keluargamu, suatu saat kau akan mengetahuinya seiring dengan bertambah kuat dirimu namun yang bisa kukatakan saat ini adalah bakat besar yang kau miliki bukan berasal dari trah ayahmu melainkan dari ibumu. Itulah yang menjadi alasanku memilihmu sebagai tuan".
Perlahan Keris penguasa kegelapan melayang di atas kepala Sabrang.
" Kau dapat memanggil keris itu kapanpun kau membutuhkannya hanya dengan memanggil namaku".
Sabrang membuka matanya perlahan, dia menatap sekitarnya. Pandangannya berhenti pada Arkadewi yang menatapnya tajam.
"Sepertinya semua sudah selesai nona, turunlah". Sabrang tersenyum lembut pada Arkadewi.
Arkadewi melompat turun dan mendekti Sabrang.
"Apa yang terjadi dengan matamu?". Ucap Arkadewi sambil menatap bola mata Sabrang yang berwarna biru muda.
"Aku tidak tau namun sepertinya sakit dikepalaku sudah benar benar hilang".
Sabrang bangkit dari duduknya kemudian bersiap pergi.
"Ayo kita pergi, masih banyak yang harus kukerjakan".
Arkadewi hanya mengangguk dan mengikuti Sabrang dibelakangnya. Arkadewi merasa ada yang berubah dari pancaran aura di tubuh Sabrang.
__ADS_1
***
Seorang pemuda terlihat sedang berlatih ilmu pedang disebuah hutan. Gerakannya cepat dan lincah menandakan ilmu kanuragannya tinggi. Dalam beberapa tarikan nafas pepohonan yang cukup besar tumbang terkena serangannya.
"Kau terlalu banyak berlatih Pangeran" Seorang pria tua menghampirinya sambil tersenyum.
"Aku harus menjadi kuat guru, akan kubalaskan penghinaan yang di terima mendiang ibuku". Suara pemuda tersebut meninggi menahan amarah.
"Bukankah Malwageni telah runtuh? siapa lagi yang ingin kau balas?". Pria tua itu menasehati pemuda yang di panggilnya pangeran.
"Ku dengar kakak ku berhasil selamat dari penyerangan Majasari. Aku tak akan puas jika tidak membunuhnya, dialah yang menyebabkan ibuku terusir dari keraton hingga meninggal di hutan ini".
Pria tua itu hanya menggeleng pelan. Sebagai seorang pengawal pribadi selir kerajaan, Mandaka mengikuti kemanapun Selir Anjani pergi termasuk di tempat pengasingan. Dia selalu ada di sisi Anjani selama pengasingan jadi dia mengetahui watak Pangeran Pancaka yang pendendam.
Dia tidak bisa berbuat banyak selain menuruti keinginan Pancaka mengajarinya ilmu kanuragan walaupun Ilmu yang diajarkannya tergolong ilmu tingkat rendah.
Itu yang dikhawatirkan Mandaka selama ini, Pancaka merasa jika ilmu kanuragannya sangat tinggi karena sejak kecil dia terkurung di hutan pengasingan dan tidak pernah melihat dunia luar. Dia tidak tau jika di luar sana jauh lebih banyak pendekar yang sangat kuat. Bahkan Mandaka tergolong pendekar tingkat rendah saat ini.
"Kapan guru akan mengijinkanku keluar dari hutan ini? bukankah Malwageni telah runtuh? tidak akan ada lagi prajurit yang berjaga diperbatasan hutan ini". Pancaka bertanya setelah menyelesaikan latihannya.
"Nanti jika saatnya tiba aku akan mengantarmu keluar dari hutan ini". Mandaka berkata demikian untuk kesekian kalinya. Dia terus mengulur waktu karena khawatir akan keselamatan Pancaka.
Terlihat Pancaka tidak puas akan jawaban gurunya namun dia memilih mengangguk karena dia merasa percuma berdebat dengan Mandaka.
"Lalu jika kau telah membalaskan dendam pada kakakmu apa yang akan kau lakukan? bukankah Malwageni kini telah menjadi daerah kekuasaan Majasari? kau tak akan bisa berbuat apa apa didepan kekuatan Majasari, bahkan ayahmu tak mampu melawannya".
"Dia bukan ayahku!!" Suara Pancaka meninggi.
"Tidak mungkin seorang ayah tega membuang putranya. Apa bedanya aku dengan kakakku? kami sama sama keturunannya hanya berbeda status ibu. Aku tidak pernah meminta dilahirkan menjadi anak raja dan aku tidak pernah berfikir untuk merebut tahta dari tangan kakakku namun mereka membuangku dan ibuku hanya demi berkuasa".
Mandaka hanya terdiam sambil menatap Pancaka. Dia tidak menyalahkan sikap Pancaka selama ini karena ibunyalah yang membuatnya seperti ini. Selir Anjani selalu menceritakan tentang Malwageni seolah olah mereka penjahat yang harus dibunuh padahal Mandaka tau jika ibunya lah yang haus kekuasaan dan mencoba memberontak.
Pancaka berjalan meninggalkan Mandaka dengan wajah masam, dia merasa jika gurunya itu selalu membela Malwageni.
"Aku hanya ingin kau hidup tenang Pangeran, jangan kau ambil jalan yang salah seperti ibumu ambil dulu. Wahyu keprabon tidak pernah salah memilih, dan tidak pernah bisa kau minta, semua sudah suratan dari yang memberi hidup". Mandaka menatap kepergian Pancaka sambil menarik nafas panjang.
__ADS_1