
Tidak terasa malam telah berakhir, ayam mulai berkokok dan sang surya telah menampakan pesonanya, semburat kuning jingga muncul dari ufuk timur. Kehangatan mulai menjalari seluruh permukaan bumi. Burung-burung yang mengicau menambah damainya sejuk pagi hari.
Tungga dewi perlahan membuka kedua kelopak matanya saat mendengar suara Sabrang beranjak dari peraduan. Dia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Wajah Tungga dewi memerah karena belum terbiasa dengan hal baru seperti itu, untuk beberapa saat dia terdiam sambil memandang punggung Sabrang yang duduk disebuah kursi.
Tungga dewi memberanikan diri bangkit dan mendekati Sabrang.
"Yang mulia," Tungga dewi menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Kau sudah bangun? duduklah," balas Sabrang hangat.
Tungga dewi mengangguk pelan, dia duduk perlahan disebelah Sabrang dengan wajah tertunduk.
"Kau telah dinobatkan menjadi ratu Malwageni namun aku belum bisa memberimu singgasana ratu, kuharap kau tidak kecewa dewi," ucap Sabrang lembut.
"Mohon jangan berkata seperti itu Yang mulia, hamba tak pernah meminta apapun dari anda, berada disisi anda sudah melebihi sebuah singgasana Yang mulia," jawab Tungga dewi pelan sambil sesekali menarik selimut yang menutupi tubuhnya.
Sabrang tersenyum kecil saat melihat Tungga dewi beberapa kali membetulkan posisi selimut ditubuhnya.
"Mendekatlah," ucap Sabrang pelan.
"Yang mulia," Wajah Tungga dewi kembali memerah.
"Apa aku harus meminta dua kali agar kau mendekat?" goda Sabrang.
Tungga dewi menggeleng pelan, dia mendekatkan kursinya dengan wajah tetap menunduk.
Sabrang melepas kalung pemberian Tungga dewi dan memakaikan kembali padanya.
"Kalung yang kau berikan padaku ternyata milik Naraya, ayah memberikannya pada ibu sebagai hadiah penobatan sebagai ratu. Kini aku memberikannya padamu sebagai hadiah atas penobatanmu," Sabrang memeluk Tungga dewi dari belakang.
"Jadilah Ratu seperti ibu yang selalu mendampingi ayah, jadilah kekuatanku saat aku bingung Dewi," ucap Sabrang pelan.
"Yang mulia," balas Tungga dewi pelan, air mata mulai menetes dari mata indahnya.
Sabrang melepaskan pelukannya tiba tiba saat merasakan tenaga dalam melesat diatasnya.
"Yang mulia..." Tungga dewi menghentikan ucapannya ketika jari telunjuk Sabrang menempel di bibirnya.
"Ada penyusup," bisik Sabrang sambil memakai pakaiannya.
Tungga dewi mengernyitkan dahinya, dia tidak merasakan energi apapun.
"Melihat mereka bisa menyusup dengan mudah ke sekte ini, aku yakin bukan pendekar sembarangan. Tunggulah, aku akan membereskannya," ucap Sabrang sebelum menghilang menggunakan jurus ruang dan waktunya.
Lima pendekar yang memakai topeng di wajah dan caping tampak berhenti disebuah atap bangunan, gerakan cepat mereka menandakan ilmu kanuragannya cukup tinggi.
"Kau yakin ini ruangannya?" tanya salah satu pendekar.
"Menurut mata mata tuan Tunggul umbara, disinilah kamar Wardhana," balas temannya.
"Baik, masuk dan habisi dengan cepat, aku tak ingin pengguna Naga api itu menyadarinya. Akan sulit jika harus berhadapan dengannya," perintah pendekar satunya.
"Sepertinya masih terlalu pagi jika kalian ingin berkunjung," suara Sabrang mengagetkan lima pendekar misterius itu.
Mereka langsung mengambil jarak karena sadar pemuda dihadapannya bukan orang sembarangan.
"Aku bahkan tidak menyadari kehadirannya, bagaimana mungkin tenaga dalam seperti itu bisa disembunyikan dengan sempurna," salah satu pendekar bergumam dalam hati.
Sabrang mengernyitkan dahinya saat melihat topeng yang mereka gunakan, ada gambar bintang tiga buah diantara lubang mata kirinya.
"Organisasi Bintang kegelapan? aku pernah mendengar kelompok pembunuh bayaran dari daratan Swarnadwipa yang terkenal kejam, tak kusangka akan bertemu langsung dengan kalian," Sabrang mulai melepaskan aura dari tubuhnya.
Organisasi Bintang kegelapan adalah kelompok pembunuh bayaran yang terkenal kejam dari daratan Swarnadwipa. Beberapa tahun terakhir ini mereka berkembang pesat karena berhasil merekrut para pendekar hebat.
Mereka tak segan membunuh siapa saja asal ada yang membayar dalam jumlah besar.
"Kekuatannya benar benar mengerikan," ucap pendekar Bintang kegelapan.
"Seingat ku Malwageni tak pernah memiliki masalah dengan Bintang kegelapan, jika kalian benar benar mengincar paman Wardhana itu artinya ada yang membayar kalian, tak sabar mengetahui siapa yang membayar kalian," ucap Sabrang sambil tersenyum.
"Yang mulia?" Wardhana keluar dari kamarnya sambil menatap heran lima pendekar bertopeng.
"Paman menjauh," teriak Sabrang memperingatkan namun terlambat.
Salah seorang pendekar Bintang kegelapan tiba tiba sudah berada didekatnya dan langsung menyerang.
"Cepat sekali," Wardhana berusaha mencabut pedangnya namun terlambat, pedang pendekar itu telah lebih dulu menjangkau tubuhnya.
"Mati kau," Pedang pendekar itu menghujam tubuh Wardhana sesaat sebelum Wardhana menghilang.
"Menghilang?" ucap pendekar itu bingung.
__ADS_1
"Menjauhlah paman, katakan pada yang lainnya untuk menjauh dari area ini, mereka bukan pendekar sembarangan.
Perintahkan Hibata untuk melacak keberadaan Bintang hitam, aku sendiri yang akan memimpin Hibata menghancurkan mereka," ucap Sabrang penuh amarah.
"Baik Yang mulia," Wardhana bergerak menjauh.
"Kalian benar benar membuatku marah, menyerang Patih ku sama saja menghinaku, hari ini tak ada yang bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup," Sabrang bergerak menyerang.
Para pendekar Bintang kegelapan langsung membentuk formasi, mereka sadar Sabrang tak bisa dihadapi dengan sendirian.
"Pertahankan formasi, serang secara bergantian sementara lainnya mendukung pertahanan," teriak salah satu pendekar itu.
"Tarian iblis pedang," Sabrang menyerang cepat, setiap gerakan pedangnya semakin cepat dan mematikan namun Bintang langit tampak kokoh dengan formasinya. Walau sesekali terdesak, pendekar lainnya mampu menutup lubang dengan cepat.
Belasan jurus dilancarkan oleh Sabrang, ditambah serangan energi keris yang sesekali mencoba merusak formasi mereka namun masih gagal, ritme gerakan para pendekar itu benar benar sempurna dan menyatu dalam formasi.
Merseka bahkan bisa menyerang balik sesekali, walau terlihat Sabrang jauh lebih kuat dari mereka namun formas Bintang kegelapan benar benar sempura.
"Setiap gerakannya semakin cepat dan mematikan, jika kami tak menggunakan formasi tempur mungkin sudah dari tadi nyawa kami melayang. Aku harus mencari cara melarikan diri," umpat pendekar itu kesal.
Dia benar benar tak habis fikir, Sabrang bisa begitu kuat.
Sabrang terlihat melompat mundur saat serangannya belum mampu menembus pertahanan formasi musuh.
"Tak heran kenapa kalian begitu terkenal, kemampuan ilmu kanuragan Bintang kegelapan membuatku terkejut," Sabrang mengusap kedua matanya dengan satu tangan, dan tiba tiba matanya bersinar kebiruan.
"Aku ingin lihat apa formasi kalian bisa lepas dari mataku," Sabrang kembali menyerang, kini dia menggunakan hampir separuh kekuatannya.
Sabrang memang menahan kekuatannya dari awal pertarungan, dia tidak ingin bangunan sekte tapak es utara hancur.
"Mata itu?"
Pendekar Bintang kegelapan kembali membentuk formasi andalannya namun kali ini semua gerakannya terbaca oleh Sabrang.
Sabrang sengaja masuk kedalam formasi, dia menarik salah satu lawannya sambil mengayunkan pedangnya kearah pendekar lainnya.
Lengan kiri Sabrang dengan cepat merapal jurus tinju kilat hitam yang membuat pendekar itu terpental dan keluar dari formasi.
Pendekar itu berusaha kembali mendarat namun tiga energi keris yang tiba tiba menghujam tubuhnya membuat dia roboh.
"Sudah kukatakan tak ada yang akan keluar dari sini dalam keadaan hidup."
Pendekar lainnya tersentak kaget saat melihat Sabrang bisa dengan mudah menghancurkan formasi dan membunuh salah satu teman mereka.
Mereka sadar Sabrang bukan lawan yang bisa dikalahkan, selain itu formasi tempur Bintang hitam hanya bisa dilakukan oleh lima orang. Tanpa formasi itu mereka akan dengan mudah dibunuh.
"Mau melarikan diri? kalian terlalu menganggap remeh kemampuanku," Sabrang menarik pedangnya sesaat sebelum melesat menembus gumpalan asap putih yang menutup pandangannya.
"Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma" Sabrang muncul dari balik asap dengan mata yang sedikit memerah.
Para pendekar Bintang kegelapn tersentak kaget saat melihat Sabrang menyerang, bom asap yang mereka gunakan mengandung tenaga dalam yang cukup besar. Walaupun bisa ditembus, biasanya pendekar yang masuk dalam asapnya akan melambat gerakannya akibat efek bom asap namun Sabrang seperti tidak terpengaruh, gerakannya justru semakin cepat.
Tiga pendekar roboh ketanah tanpa bisa menghindari jurus pedang jiwa, saat pedang Sabrang hampir mengenai kepala pendekar terakhir, dia merubah gerakan pedangnya dan menggunakan punggung pedang untuk menghantam tubuh pendekar itu.
Pendekar tersebut terpental dan membentur salah satu bangunan dengan luka patah tulang hampir di seluruh tubuhnya.
Sabrang berjalan mendekat sambil menarik kembali pedang naga api kedalam tubuhnya.
Dia mengeluarkan keris penguasa kegelapan sebagai ganti pedangnya.
"Siapa yang membayar kalian untuk menyerangku?" tanya Sabrang dingin.
"Apa aku harus menjawab? kau bahkan akan membunuhku setelah aku menjawab," ucap pendekar itu terbata bata.
"Aku memang akan membunuhmu apapun jawabannya namun kau masih bisa memilih mati tanpa rasa sakit," Sabrang menancapkan keris penguasa kegelapan di kaki pendekar itu.
Suara teriakan pendekar itu terdengar sangat keras, dia berusaha mengalirkan tenaga dalam untuk menekan rasa sakitnya.
"Apa kau bisa membayangkan rasa sakit saat sebuah tenaga dalam masuk ke tubuhmu dan merusak organ tubuh perlahan? Energi Naga api bukan tenaga dalam biasa, saat api mulai masuk tubuhmu, rasa sakitnya akan terasa begitu menyiksa hingga kau akan lebih memilih bunuh diri jika bisa," lengan kanan Sabrang mulai diselimuti kobaran api, dia menyentuh keris penguasa kegelapan dan siap mengalirkan perlahan.
"Majasari... Majasari yang membayar kami untuk kepala Wardhana," jawab pendekar itu cepat, wajahnya tampak menggambarkan rasa takut yang sangat.
"Majasari?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Lalu bagaimana kau bisa tau posisi kamar paman Wardhana?"
"Aku benar benar tidak tau bagaimana tuan patih Majasari bisa memasukkan mata mata di sekte Naga api namun sepertinya dia bekerja sama dengan pangeran Mawlageni untuk menghancurkan kalian dan Saung galah," jawabnya.
"Pancaka? kau sudah benar benar keterlaluan. Bagaimana kau bisa bekerja sama dengan kerajaan yang membunuh ayah dan menghancurkan Malwageni. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri," Sabrang menyentuh kepala pendekar itu dan beberapa saat kemudian pendekar itu tak lagi bergerak.
"Aku sudah menepati janjiku untuk membunuhmu tanpa rasa sakit," ucap Sabrang, dia bangkit dengan wajah menahan amarah.
***
__ADS_1
Penyerangan kelompok Bintang hitam merubah semua rencana Wardhana, Majasari berhasil mencuri dengar rencana penyerangan melalui mata mata yang dari awal ada di tapak es utara berkat bantuan Pancaka.
Pancaka menyusupkan mata mata itu kedalam pasukan angin selatan sehingga memudahkan penyusupan. Wardhana mengetahui semua rencana itu setelah mengintrogasi Mandaka, orang kepercayaan Pancaka.
"Hamba pantas mati Yang mulia," Madaka menundukkan kepalanya, beberapa luka bekas siksaan terlihat di seluruh tubuhnya.
Pancaka dan Mandaka memang ditahan terpisah, sehingga Pancaka tidak mengetahui jika gurunya itu mengakui semua perbuatannya.
"Apa yang sebenarnya kalian inginkan? belum cukupkah hukuman yang ayah berikan?" tanya Sabrang pelan.
"Hamba memang bersalah Yang mulia, semua yang pangeran lakukan sama saja menjual Malwageni namun hamba tidak bisa berbuat banyak.
Hamba ditugaskan Yang mulia Arya dwipa untuk menjaga selir dan pangeran, tugas itu akan terus hamba lakukan walau nyawa taruhannya," jawab Mandaka pelan.
"Jadi kau melakukan semua ini karena titah Ayah?" Sabrang menggeleng pelan, walau dia tidak dapat memaafkan perbuatan Mandaka namun dia kagum pada kesetiaan yang ditunjukkan Mandaka.
"Aku sekarang adalah Raja Malwageni, apa kau akan setia padaku?"
Mandaka tampak terkejut dengan pertanyaan Sabrang.
"Hamba hidup dan mati untuk Malwageni," jawab Mandaka.
"Baik, bunuh Pancaka untukku."
Mandaka dan Wardhana tampak terkejut, mereka tidak menyangka kata kata itu akan keluar dari mulut Sabrang.
"Yang mulia," Mandaka menundukkan kepalanya.
"Aku bisa saja membunuhnya dengan mudah namun bagaimanapun dia adalah adikku. Pengkhianat tetap pengkhianat, dan tindakan dia bisa membunuh banyak orang tak bersalah. Apa kau sanggup?"
Mandaka terdiam sesaat sebelum menganggukkan kepalanya.
"Hamba menerima perintah Yang mulia," jawabnya pelan.
"Yang mulia", Wardhana mencoba bicara namun Sabrang langsung memotongnya.
"Kita telah memberinya kesempatan berkali kali paman, namun tindakannya kali ini sangat membahayakan Malwageni. Jika semua informasi kita bocor berapa banyak nyawa yang akan melayang?
Mungkin paman akan mengatakan aku kejam namun aku harus melakukannya, tak boleh ada pengkhianat yang dapat membahayakan nyawa banyak orang lagi. Bukankah paman sendiri yang mengatakan pengkhianat lah yang membuat Malwageni hancur? berapa banyak nyawa yang saat itu melayang termasuk ayah dan ibu."
Wardhana terdiam sambil mengangguk pelan, dia kembali teringat ratusan nyawa melayang saat penyerangan Majasari. Selain karena dia memang melakukan kesalahan strategi perang kala itu, salah satu mentri yang berkhianat membocorkan semua kekuatan Malwageni.
"Bawa dia pergi dan berikan pakaian yang layak untuknya, aku akan memberitahukan kapan kau harus membunuh Pancaka," ucap Sabrang pelan.
"Baik Yang mulia," jawab Mandaka pelan, dia menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi dengan pengawalan ketat.
"Apa rencana ini akan berhasil paman?" tanya Sabrang setelah Mandaka pergi.
"Hamba akan memastikannya Yang mulia, kita butuh tangan pangeran Pancaka untuk menangkap siapa mata mata yang dia susupkan di pasukan Angin selatan.
Kesetiaan Mandaka bukan pada Malwageni tapi pangeran Pancaka, hamba sudah membaca itu dari awal. Setelah ini Mandaka akan mencoba menyelamatkan pangeran Pancaka bersama si penyusup itu. Setelah itu andalah yang menentukan apa hukuman bagi mereka."
"Aku tak mungkin membunuh adikku sendiri, penjara mereka seumur hidup tanpa ada pengampunan," ucap Sabrang pelan.
"Baik Yang mulia, akan hamba sampaikan pada Sora untuk mengatur hukumannya," jawab Wardhana.
Sabrang mengangguk pelan, ada rasa kecewa dalam dirinya terhadap adiknya.
"Lalu bagaimana rencana penyerangan pada Majasari paman? apa tidak sebaiknya kita undur?" tanya Sabrang pelan.
"Itu yang mereka inginkan Yang mulia, memundurkan waktu penyerangan agar mereka bisa menghimpun kekuatan terlebih dahulu. Rencana hamba pasti berubah namun bukan memundurkan perang.
Saat mereka berfikir rencananya berhasil dan lengah, kita akan bergerak senyap".
" Maksud paman?," Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Jika anda mengijinkan hamba ingin memajukan waktu penyerangan, lima hari lagi kita akan menyerang," ucap Wardhana.
"Lima hari lagi? paman yakin?" Sabrang tersentak kaget mendengar ucapan Wardhana.
"Tak ada yang berfikir kita akan menyerang mereka saat rencana bocor dan Majasari akan memikirkan hal yang sama. Itu satu satunya kesempatan kita merebut kemenangan Yang mulia."
"Paman yakin semua persiapan akan selesai tepat waktu dalam lima hari?."
"Malam ini hamba dan Arung akan menghadap patih Jaladara dan menyampaikan seluruh rencana penyerangan. Mulai besok seluruh pasukan akan mulai digerakkan perlahan agar tidak ada kecurigaan. Ada beberapa jalur strategis Majasari yang bisa kita putus agar suplai makanan mereka terganggu," Wardhana tiba tiba berlutut dihadapan Sabrang.
"Yang mulia, inilah saat yang tepat untuk merebut apa yang kita miliki, merebut harga diri kita, merebut Malwageni tercinta dan menunjukkan pada dunia seberapa kuat api api Malwageni. Mohon berikan titah perang anda Yang mulia," teriak Wardhana berapi api.
Sabrang tersenyum bangga melihat orang yang hampir setiap hari menemaninya itu.
"Terima kasih paman, kesetiaan paman pada Malwageni akan kuingat walau raga ini membusuk," Sabrang memejamkan matanya sesaat sebelum melanjutkan ucapannya.
"Patih Wardhana dengarkan titahku, rebut kembali apa yang menjadi hak kita dan hancurkan Majasari," jawab Sabrang sedikit meninggi.
__ADS_1
"Patih Wardhana menerima titah Yang mulia," jawab Wardhana tegas.