
Pertarungan di dalam gua terus berlanjut dan semakin sengit, serangan serangan cepat Lingga diluar dugaan mampu menyudutkan Naradipta yang beberapa detik lalu unggul segalanya.
"Ringan sekali," ucap Lingga dalam hati.
Lingga merasakan luapan energi tidak terbatas dari dalam tubuhnya yang membuat gerakannya semakin cepat.
"Kau harus berhati hati, aku merasa dia masih menyimpan sesuatu yang mengerikan, andai tubuhmu mampu menerima seluruh kekuatanku mungkin tubuh pendekar itu sudah terbelah menjadi dua," ucap Kemamang pelan sambil terus memperhatikan gerakan Naradipta.
"Maaf jika tubuhku tidak sekuat anak itu, tapi dalam pertarungan kecepatan tidak selalu menjadi sebuah ukuran," balas Lingga sinis.
"Kemamang?" Naradipta mengernyitkan dahinya saat melihat bola api mengelilingi tubuh Lingga.
"Tarian Iblis pedang," Lingga merubah gerakannya tiba tiba, dia memutar pedangnya saat Naradipta berusaha menghindar.
"Dia bisa membaca gerakanku?" Naradipta melepaskan energi yang cukup besar untuk menahan serangan cepat Lingga.
Benturan kedua pusaka kembali meruntuhkan sebagian dinding gua dan membuat keduanya terdorong mundur.
Lingga tampak tidak percaya dengan yang dilihatnya, bagaimana mungkin Naradipta masih mampu menghindar setelah dia yakin menyerang titik butanya.
"Benar dugaanku, dia masih menyimpan sesuatu. Ini akan menyulitkan kita saat tubuhmu sudah hampir mencapai batasnya," ucap Kemamang pelan.
Luka seperti sebuah sayatan pedang mulai bermunculan di tubuh Lingga akibat efek energi Kemamang menandakan dia sudah mencapai batasnya.
Kemamang sebenarnya cukup kagum pada Lingga yang mampu menahan energinya cukup lama, selain karena ini pertama kalinya dia menggunakan energi itu, Lingga tidak memiliki tubuh Istimewa seperti Sabrang.
"Tak perlu memikirkan hal sepele seperti itu, aku tau dimana batas tubuhku, saat ini yang terpenting adalah memberi dia pelajaran," balas Lingga sambil kembali menyerang.
"Apa kau selalu bertarung tanpa perhitungan? ucap Kemamang sinis.
"Jika semua lawan selalu kau hitung maka anak itu tidak akan pernah mengalahkan Lakeswara dan menaklukkan dewa api. Kau harus belajar pada Naga api, kekuatan besar akan datang justru saat kau berada diantara hidup dan mati. Dia memang kuat tapi mungkin belum pernah merasakan hampir mati sepertiku dan itu adalah kelemahan terbesarnya."
"Sial, tempat ini seperti mengekang gerakan tubuhku, aku harus keluar secepatnya," umpat Naradipta kesal sambil menoleh kearah pintu gua yang sebenarnya tidak terlalu jauh darinya namun Lingga berhasil menutup akses keluar dengan serangan serangannya.
"Aku harus menggunakan jurus itu," gumam Naradipta saat salah satu serangan Lingga berhasil mengenai tubuhnya, beruntung dia sudah mengeraskan kulit tubuhnya dengan tenaga dalam.
"Dia cepat sekali," Lingga terus menyerang dan tidak memberi kesempatan lawannya untuk berfikir.
Setiap serangan Lingga benar membuat Naradipta tersudut, kecepatan yang menjadi andalannya selama ini seolah tak berkutik saat dinding gua membatasi gerakannya.
"Jurus pedang tunggal terbang ke langit," Lingga kembali menyerang ketika lawannya meninggalkan celah besar, bola api yang mengelilingi tubuhnya tiba tiba terhisap pedang Langit dan membentuk api kecil yang menyelimuti pedangnya.
Saat pedang Langit hampir mengenai tubuh Naradipta, keanehan tiba tiba terjadi didepan mata Lingga.
Tubuh Naradipta mengeluarkan aura hijau dengan seluruh tubuh dipenuhi sisik ular, dia tiba tiba menghilang saat pedang langit menyentuh tubuhnya dan muncul di dekat Lingga.
"Aku kagum kau mampu mendesakku sejauh ini, tapi sudah saatnya kau kuberi pelajaran. Serahkan pedang itu padaku," Naradipta mencengkram leher Lingga dan mengalirkan tenaga dalam untuk merusak organ dalamnya.
Cepat sekali," ucap Lingga tersentak, dia bahkan tidak bisa bereaksi apapun.
Melihat Lingga terdesak, Emmy langsung bergerak. Dia menarik pedangnya dan langsung menyerang dengan jurus pedang Api abadi namun karena di dalam tubuhnya tidak lagi mengalir energi Naga Api, efek serangannya jauh lebih lemah.
Naradipta dengan mudah menangkis serangan pedang itu dan menendang tubuh Emmy sampai membentur dinding gua.
"Bagaimana dia bisa secepat itu," Emmy berusaha bangkit kembali namun tubuhnya terhuyung sebelum muntah darah.
"Kemamang, ikutlah denganku, orang lemah ini tidak akan bisa menggunakan seluruh kekuatanmu," ucap Naradipta pelan.
"Ikut denganmu? kau terlalu bermimpi, apa kau pikir dia lemah? aku tidak akan membantunya andai dia tidak berguna," balas Kemamang cepat.
Belum selesai Naradipta mencerna ucapan Kemamang, sebuah ledakan tenaga dalam menghantam tubuhnya.
"Tapak peregang Sukma," Lingga menyentuh tubuh Naradipta sambil tersenyum.
"Gawat!" Naradipta berusaha melindungi tubuhnya dengan tenaga dalam namun terlambat, tubuhnya lebih dulu merasakan sakit yang luar biasa sebelum terlempar cukup jauh.
"Semoga serangan itu melukainya, tubuhku benar benar tidak dapat digerakkan lagi" ucap Lingga sambil mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Sudah lama sekali aku tidak merasakan sakit seperti ini, kau benar benar menarik," Naradipta menjilat darah di bibirnya sambil tersenyum.
"Gawat, dia sudah mencapai batasnya," ucap Kemamang pelan.
"Tidak berhasil ya? aku benar benar lemah," Lingga menarik pedangnya dengan sisa sisa kekuatan dan mengarahkan pada Naradipta.
"Ah, sayang sekali aku harus membunuhmu," Naradipta yang bersiap menyerang tiba tiba menghentikan langkahnya saat tubuhnya merasakan sakit kembali.
"Aku terluka? bagaimana mungkin serangannya mampu menembus perisai tenaga dalam milikku?" Naradipta tampak terkejut.
Saat Naradipta sedang mengalirkan tenaga dalam untuk menekan rasa sakit ditubuhnya tiba tiba empat orang pendekar muncul. Mereka tampak terkejut melihat Naradipta sampai mengeluarkan ajian tertingginya.
"Sial, sepertinya situasi akan semakin rumit," umpat Lingga dalam hati.
"Tuan dia?" ucap salah satu pendekar sambil menatap Lingga.
"Pergilah! ini pertarunganku," bentak Naradipta kesal.
"Sesuatu sepertinya terjadi di Kuil Khayangan, ketua meminta kita pergi sekarang," balas pendekar itu.
Wajah Naradipta berubah seketika sebelum menarik semua aura yang menyelimuti tubuhnya.
"Kau beruntung karena aku harus pergi, lain kali aku pasti akan membunuhmu!" umpat Naradipta sebelum melesat pergi bersama empat pendekar kuil suci.
Wajah Emmy tampak lega setelah para pendekar kuil suci itu pergi, dia bergerak cepat mendekati Lingga dan memeriksanya.
"Apa kemarin Yang mulia mengatakan akan pergi ke kuil khayangan?" tanya Lingga tiba tiba.
Emmy mengangguk pelan sambil terus memeriksa luka di tubuh Lingga.
"Gawat, mereka sedang menuju ke kuil khayangan, kita harus membantu Yang mulia," ucap Lingga kemudian.
"Tapi luka anda?"
"Aku baik baik saja nyonya, kita harus cepat," balas Lingga.
"Apa kau bisa meringankan luka dalamku?" tanya Lingga dalam pikirannya.
"Itu sudah cukup, lakukanlah, kita harus cepat menuju kuil Khayangan," jawab Lingga cepat.
***
Sepuluh orang pendekar Kalang bersenjata lengkap tiba tiba menghadang jalan Hanggareksa dan yang lainnya di tangga teras pertama.
"Ketua, bukankah teras pertama adalah tempat terlarang yang hanya boleh di masuki oleh tuan Agung?"
"Lalu apa yang sedang kau lakukan di sini?" balas Hanggareksa sinis.
Wardhana menoleh kearah Sabrang yang dibalas dengan anggukan.
"Aku hanya ingin memeriksa sesuatu, selama tinggal di sini tak sekalipun kita masuk ke teras pertama, apakah kau tidak merasa aneh?"
"Bukankah Nuswantoro penuh dengan misteri dan keanehan? tidak semua harus kita ketahui ketua, apa yang dilakukan tuan Agung hanya untuk menyelamatkan bumi Nuswantoro dari kehancuran. Maaf aku tidak bisa mengizinkan anda lewat," balas pendekar itu.
"Yudha ucapanmu sudah sangat keterlaluan, apa kau lupa siapa orang yang kau ajak bicara?" bentak Cokro kesal.
"Ketua Kalang yang adiknya membawa lari kitab Sabdo Loji demi ambisi pribadi," ejek Yudha.
"Kau!" Cokro hampir mencabut pedangnya andai Hanggareksa tidak menahannya.
"Apa bedanya kau dengan Arda Sukma? kalian mengkhianati suku Kalang bukan karena setia pada Ajidarma tapi menginginkan sesuatu yang sedang di cari olehnya bukan?" Wardhana melangkah ke depan.
"Wardhana, sepertinya kau datang untuk melanjutkan leluhur mu menguasai peradaban terlarang," balas Yudha sinis.
"Bukankah kalian juga melakukan hal yang sama?" jawab Wardhana sambil tersenyum.
"Jangan samakan aku dengan kalian!" bentak Yudha cepat.
__ADS_1
"Ah iya kau berbeda, kau bukan mencari sendiri petunjuk itu tapi menjadi penjilat Ajidarma," ejek Wardhana sambil terkekeh.
"Kau!" Yudha mencabut pedangnya tiba tiba dan mengayunkan pedangnya sekuat tenaga kearah Wardhana.
Gerakan tiba tiba itu mengejutkan
Hanggareksa dan Cokro sampai mereka terlambat bereaksi. Saat pedang Yudha hampir mengenai tubuh Wardhana, Sabrang muncul di dekat Wardhana dan mencengkram pedang itu sebelum hancur menjadi debu.
"Cepat Sekali?" Yudha melompat mundur bersama para pendekar lainnya.
Hanggareksa yang sudah pernah bertarung dengan Sabrang pun dibuat terkejut karena gerakan yang diperlihatkan Sabrang jauh lebih cepat dari biasanya.
"Sepertinya mereka tidak bisa diajak bicara baik baik paman," ucap Sabrang sambil memunculkan pedang es di tangannya.
Yudha dan para pendekar lainnya menjadi waspada setelah melihat kecepatan Sabrang, mereka yakin cukup sulit melawan pemuda di hadapannya itu.
"Tuan," ucap Cokro khawatir.
"Kau tidak perlu khawatir, aku hanya berniat melumpuhkan mereka dan bukan membunuhnya," balas Sabrang pelan.
"Kau ingin melumpuhkan kami? aku memang terkejut dengan kecepatanmu tapi pertarungan bukan hanya soal kecepatan," ejek Yudha sambil diam diam menggunakan segel langit untuk mengacaukan gerakan Sabrang.
"Gawat, dia menggunakan segel langit, anak itu tak akan mampu menembusnya," ucap Hanggareksa dalam hati, dia menarik pedangnya dan bersiap menyerang.
Hanggareksa merasa perlu menghentikan Yudha menggunakan segel langit karena diapun tak yakin mampu menembus segel terkuat itu.
Segel Langit adalah segel terkuat yang pmampu menyembunyikan apapun termasuk tubuh manusia sehingga pengguna Segel kabut dapat menyerang siapa saja tanpa di ketahui oleh musuhnya.
"Kau mungkin pendekar hebat tapi akan menjadi percuma saat tak bisa melihat lawanmu, aku akan membunuhmu perlahan," tubuh Yudha perlahan menghilang bersamaan dengan munculnya kabut, dia mulai mencabut pedangnya dan bersiap menyerang.
"Tuan, cepat mundur, dia bisa menyerang dari mana saja," ucap Cokro panik.
"Pertarungan? kau salah sangka, aku hanya ingin melumpuhkan kalian bukan bertarung," mata bulan Sabrang bersinar sebelum waktu tiba tiba berhenti dan sedetik kemudian Yudha dan yang lainnya sudah terkurung dalam bongkahan es tanpa bisa bereaksi sedikitpun.
Gerakannya yang sangat cepat bahkan tidak bisa diikuti mata Hanggareksa sekalipun, yang terjadi selanjutnya adalah kabut itu perlahan menghilang dan Yudha bersama pendekar lainnya sudah membeku.
Hanggareksa menatap Sabrang yang sudah berada di tempat semula takjub, dia benar benar tidak menyangka Sabrang akan begitu kuat hanya dalam beberapa hari setelah pertarungan mereka.
"Mata itu tidak hanya mampu menghentikan waktu tapi juga seolah membentuk sebuah ruang dimensi untuk melumpuhkan segel Langit. Anak ini benar benar mengerikan, apa dia tidak memilki batas untuk terus berkembang?" ucap Hanggareksa dalam hati.
"Paman, apakah itu ruangannya?" tanya Sabrang pada Cokro.
"Sepertinya begitu tuan, kami belum pernah menginjakkan kaki di teras pertama karena tempat ini sangat terlarang," jawab Cokro terbata bata, dia masih kagum pada ilmu kanuragan yang dimiliki Sabrang.
"Paman?" Sabrang menoleh kearah Wardhana.
"Ba..baik Yang mulia," Wardhana melangkah kesebuah ruangan dengan wajah bingung. Dia tidak menyangka pendekar Kalang yang menurutnya cukup kuat mampu di lumpuhkan dalam satu serangan.
Wardhana menyentuh pintu ruangan yang terbuat dari batu itu.
"Susunan batunya hampir sama dengan lantai di kamar Ajidarma," Cukup lama Wardhana memandang pintu batu itu sebelum mulai menggeser beberapa batu.
"Kau tau cara membukanya?" tanya Hanggareksa bingung.
"Setiap peradaban selalu mempunyai ciri khusus tersendiri dan bangunan peradaban terlarang selalu berhubungan dengan air dan sinar bulan namun ada yang berbeda dengan kuil Khayangan karena terletak tepat di tengah danau.
Seperti yang kukatakan sebelumnya jika kuil ini bukan hanya sebagai tempat persembahan dewa matahari saja tapi juga kemungkinan sebagai penanda waktu dan gerbang utama menuju peradaban terlarang. Itulah alasan mereka membangunnya tepat di tengah danau.
Ruangan ini jelas bukan gerbang yang kita cari selama ini tapi ada alasan kuat mengapa mereka membangunnya dan jika perkiraanku tepat ini adalah benteng terakhir mereka jika terjadi sesuatu pada peradaban mereka," ucap Wardhana sambil terus menggeser batu sesuai arah mata angin.
"Benteng terakhir?" tanya Hanggareksa bingung.
"Sistem kunci ini dibuat hanya untuk beberapa kali kesalahan saja, pergerakan jalur batu yang cukup sempit akan menghancurkan batu ini perlahan jika batu digerakkan di tempat yang salah dan itu artinya ruangan ini tidak akan bisa di buka selamanya."
"Tidak bisa di buka selamanya? bukankah itu artinya bunuh diri? dia mungkin bisa selamat dari musuh tapi akan mati kelaparan di dalam sana," balas Hanggareksa bingung.
"Apa mungkin sebuah peradaban tertinggi yang bisa membangun kuil suci ini akan bunuh diri? mereka pasti menyimpan sesuatu di dalam sana."
__ADS_1
Tepat setelah Wardhana bicara, pintu batu itu bergetar sebelum terbuka perlahan.
"Ayo kita masuk dan membuktikan jika selama ini kalian hanya diperalat," ucap Wardhana sambil melangkah masuk.