
Suasana keraton yang sempat tenang setelah pengangkatan pangeran Pancaka sebagai ketua pejabat pemeriksa kembali bergejolak setelah ada kabar bahwa Sekar Pitaloka akan meminta semua catatan penggunaan keuangan kerajaan.
Adiwilaga jelas yang paling menentang rencana ini, dia langsung mengumpulkan para menteri yang mendukungnya untuk melakukan perlawanan saat Sekar Pitaloka nanti membacakan keputusannya. Dia menghasut para menteri bahwa keputusan Sekar adalah bentuk ketidakpercayaan dan melanggar aturan keraton yang memberi kewenangan setiap menteri untuk mengelola uang kerajaan demi kepentingan raja.
Pandita yang ikut hadir hanya mengangguk setuju atas ucapan Adiwilaga, dia memilih untuk tidak bersebrangan pendapat di dalam pertemuan itu.
Pandita telah menyusun rencana untuk mempengaruhi beberapa menteri yang dekat dengannya di luar pertemuan.
Adiwilaga bahkan menemui Pancaka langsung dan meminta bantuannya untuk ikut menentang keputusan Sekar Pitaloka yang menurutnya bentuk ketidakpercayaan pada para menteri yang selama ini setia pada Malwageni.
"Raja tidak akan bisa menjalankan pemerintahan sendiri tanpa bantuan para menteri, tapi yang dilakukan Gusti ratu saat ini adalah bentuk ketidakpercayaan. Hamba mohon anda ikut mengembalikan aturan seperti semula pangeran.
Bukankah Malwageni sudah memiliki pejabat yang memeriksa laporan penggunaan keuangan para menterinya? hamba mohon maaf pangeran, jika terus seperti ini suatu saat kedudukan anda sebagai ketua tim pemeriksa hanya sebagai simbol," ucap Adiwilaga pelan.
"Bukankah itu baik? mungkin gusti ratu hanya ingin memastikan badan pemeriksa bekerja," jawab Pancaka pelan.
"Hamba mengerti maksud baik Gusti ratu tapi jika kebaikan itu melanggar aturan keraton yang sudah lama ditetapkan oleh para leluhur maka akan merusak tatanan yang sudah dibentuk sejak lama dan itu bisa membuat keraton kacau. Semua hamba lakukan untuk anda dan Malwageni," balas Adiwilaga.
"Untukku?" Pancaka mengernyitkan dahinya.
"Mohon ampuni hamba pangeran tapi sejak awal pengangkatan gusti ratu sudah sedikit menyalahi aturan keraton. Dalam aturan Malwageni memang disebutkan jika yang berhak menjadi raja adalah keluarga inti raja dan keturunan trah Dwipa namun jika melihat keadaan saat ini seharusnya anda yang berhak naik tahta karena anda adalah satu satunya keturunan Yang mulia Arya Dwipa setelah Yang mulia memutuskan tapa brata," Adiwilaga mencoba menghasut Pancaka yang memang terkenal berambisi menjadi raja.
"Menurutmu begitu?" tanya Pancaka pelan.
"Kedudukan anda sama dengan Yang mulia, mungkin yang membedakan adalah..." Adiwilaga sengaja menggantung ucapannya untuk memancing Pancaka.
"Anak dari seorang selir?" jawab Pancaka dingin.
"Hamba tidak berani berfikir seperti itu pangeran tapi kemungkinan itu ada," jawab Adiwilaga hati hati.
Kedua tangan Pancaka tampak mengepal menandakan dia menahan amarah.
"Lalu menurutmu aku harus bagaimana?"
"Seperti yang hamba katakan, apa yang dilakukan gusti ratu saat ini akan merusak semua tatanan keraton, hamba hanya ingin mengembalikan semua seperti semula termasuk kedudukan anda," jawab Adiwilaga.
"Jadi kau memintaku melawan Gusti ratu?" tanya Pancaka pelan.
"Hamba tidak berani mengatakan itu pangeran, tapi hamba hanya ingin Malwageni tetap berpegang teguh pada aturan leluhur," balas Adiwilaga.
Pancaka terlihat berfikir sejenak sebelum mengangguk pelan.
"Kapan Gusti ratu akan mengumpulkan semua pejabat untuk membacakan keputusannya?"
"Kemungkinan besok pagi Pangeran," jawab Adiwilaga sambil tersenyum, dia merasa Pancaka mulai terhasut olehnya.
"Baik, aku akan memikirkan masalah ini terlebih dahulu. Pergilah, aku akan membuat keputusan besok," jawab Pancaka.
"Baik Pangeran, mohon pikirkan semua ucapan hamba," Adiwilaga bangkit dari duduknya dan memberi hormat sebelum melangkah pergi.
Pancaka menarik nafasnya panjang sambil menatap kepergian Adiwilaga, masih terlihat amarah di wajahnya.
"Jika kedudukan selir tidak terlalu penting mengapa ayah menikahi ibu, paman?" tanya Pancaka pada Mandaka yang berdiri disampingnya.
"Pangeran mohon jangan terhasut oleh ucapannya, melawan Gusti ratu akan..." Mandaka tidak melanjutkan ucapannya saat tangan Mandaka memintanya untuk diam.
__ADS_1
"Aku tau dia sedang menghasutku tapi apa yang dikatakannya benar, seharusnya aku memiliki hak yang sama dengan kakang Sabrang," balas Pancaka pelan.
"Pangeran..." ucap Mandaka pelan.
"Paman, aku tidak ingin diganggu oleh siapapun hari ini, dan tolong sampaikan pesanku pada paman Wardhana besok aku akan datang ke pertemuan itu," ucap Pancaka sebelum meminta Mandaka pergi.
"Baik pangeran," jawab Mandaka sambil memberi hormat.
"Ibu, apa yang harus aku lakukan?" ucap Pancaka dalam hati.
***
"Benar apa yang anda perkirakan tuan, aku baru saja melihat Adiwilaga keluar dari ruangan pangeran," ucap Lembu Sora saat menemui Wardhana di ruangannya.
"Bagus, dia sudah masuk perangkapku, sekarang tinggal menunggu Pandita dan Pangeran bekerja untuk menuntunnya ke tiang gantungan," jawab Wardhana lega.
"Maaf tuan, hamba tidak meragukan tuan Pandita yang kini memihak anda tapi bagaimana jika Pangeran terhasut oleh Adiwilaga dan berbalik menentang Gusti ratu. Posisinya saat ini dan beberapa menteri yang mendukungnya membuat dia bisa menentang titah Gusti ratu," ucap Lembu Sora sedikit khawatir.
"Aku sudah memperhitungkan semuanya Sora, saat aku meminta pangeran menjadi ketua pejabat pemeriksa aku sudah tau jika ini akan menjadi pertaruhan terbesarku.
Namun aku bukan orang yang membuat keputusan tanpa persiapan apapun, itulah kenapa aku meminta gusti ratu membuka kembali kasus pemberontakan nyonya selir dulu. Jia pangeran mau mendukung gusti ratu maka aku akan membersihkan namanya tapi jika besok dia melawan, akan kuhancurkan dia dengan semua tuduhan pemberontakan," ucap Wardhana dingin.
"Tuan apakah anda sadar dengan apa yang anda ucapkan? beliau adalah pangeran Malwageni yang juga keturunan Yang mulia Arya Dwipa," balas Lembu Sora terkejut, dia tidak menyangka Wardhana memiliki rencana untuk menghancurkan Pancaka.
"Apa kau masih ingat sumpah setia prajurit Malwageni, Sora? ucap Wardhana meninggi.
"Menyerahkan seluruh jiwa dan raga pada tanah kelahiran Malwageni dan setia pada Raja yang dipilih dewa untuk memimpin," jawab Lembu Sora cepat.
"Dan kau tau siapa raja kita saat ini? Yang mulia Sabrang Damar. Sebagai seorang prajurit, aku akan melakukan apapun untuk melindungi Yang mulia dan keturunannya termasuk jika tanganku harus berlumuran darah. Ingat ucapanku ini Sora!" balas Wardhana.
"Sekarang pergilah dan temui Arung, katakan padanya untuk memulai rencana berikutnya, aku akan menemui gusti ratu untuk mempersiapkan pertemuan besok," ucap Wardhana sambil melangkah pergi.
"Baik tuan," Lembu Sora mengangguk pelan.
***
Sabrang terus berlatih meningkatkan kekuatan otot pergelangan tangannya setiap hari setelah percakapan terakhirnya dengan Wahyu Tama. Dia bahkan berlatih siang malam dengan mengangkat air dalam jumlah banyak.
Sabrang seolah melupakan dan tidak berusaha menjawab pertanyaan itu. Hal inilah yang membuat Wahyu Tama bingung, dia merasa Sabrang tidak benar benar ingin menjawab pertanyaannya.
"Apa anak ini sama saja dengan para pendekar lainnya yang mengatasnamakan perdamaian untuk membenarkan ambisinya?" ucap Wahyu Tama yang dari tadi memperhatikan Sabrang menumpahkan air yang dia bawa dari sungai ke tempat penyimpanan air di dekat gubuk mereka.
"Apa kau tidak ingin berusaha menjawab pertanyaanku kemarin nak?" tanya Wahyu Tama saat melihat Sabrang hendak mengambil air kembali.
Sabrang menghentikan langkahnya dan menaruh wadah air dikedua tangannya di tanah sebelum berjalan mendekati Wahyu Tama dan duduk dihadapannya.
"Apa yang bisa ku jawab dengan pertanyaan aneh seperti itu kek," ucap Sabrang pelan.
"Pertanyaan aneh? apa kau begitu memandang pertempuran dan pertumpahan darah sangat penting dalam menciptakan perdamaian?" tanya Wahyu Tama sinis.
"Aku tidak tau apakah ini adalah sebuah bentuk ambisi pribadiku namun tidak semua bisa diselesaikan dengan bicara. Aku mungkin bisa mengerti prinsip kakek tapi tidak semua pendekar memahaminya karena kebenaran itu memiliki makna sangat luas.
Beberapa pendekar yang pernah aku bunuh pun rela mati demi kebenaran yang mereka yakini dan itu bertentangan dengan kebenaran menurutku.
Perang atau pertarungan memang akan selalu terdengar mengerikan, karena akan ada banyak hal yang dikorbankan tapi peperangan adalah pilihan terakhirku. Jika aku bisa memilih jalan lain, akan kupastikan aku memilih jalan yang tenang dan damai tanpa pertumpahan darah.
__ADS_1
Aku tidak bisa menjamin, dunia persilatan suatu saat akan damai, karena akan selalu ada percikan yang terjadi karena manusia selalu mempunyai ambisi, tapi setidaknya aku telah berusaha mewujudkan impian semua orang untuk hidup damai, meskipun itu berarti aku harus melumuri tanganku dengan darah," jawab Sabrang pelan.
"Jadi menurutmu tindakanku untuk bersembunyi di tempat ini salah?"
"Aku tidak mengatakan itu salah kek, setiap orang memiliki cara sendiri dalam memandang suatu masalah dan aku menghargai keputusan kakek. Salah satu guruku pernah mengatakan jika didalam kekuatan besar mengandung tanggung jawab yang besar, aku hanya berusaha mewujudkan kebenaran menurutku.
Aku sangat berterima kasih atas tawaran kakek untuk mengajariku ilmu pedang yang ada di kitab Sabdo Palon tapi jika aku harus diam melihat kekacauan dunia persilatan untuk menjadi lebih kuat maka aku akan memilih mati dengan ilmu yang kumiliki saat ini untuk membantu mereka yang membutuhkanku," ucap Sabrang pelan, dia bangkit dari duduknya dan bersiap kembali mengambil air.
"Perang adalah pilihan terakhirmu ya? kau benar benar anak yang menarik," ucap Wahyu Tama dalam hati, dia kemudian mengambil sebuah kitab di sakunya dan melemparkannya pada Sabrang.
"Ambilah ini, dan biarkan kakek tua yang pernah dijuluki Dewa Pedang Timur ini mengajarimu sedikit ilmu pedang padamu," ucap Wahyu Tama sambil tersenyum lembut.
"Kakek?" Sabrang menangkap kitab itu dengan wajah bingung.
"Aku melihat pergelangan kakimu masih sangat lemah, untuk meningkatkan kecepatan seranganmu dan mempelajari pedang Sabdo Palon, kekuatan kakimu harus sama kuat dengan tanganmu, itulah sebenarnya inti ilmu kanuragan menurut kitab Sabdo palon.
Aku bukan tidak berniat mempelajari kitab itu tapi aku merasa tubuhku tidak mampu, sepertinya hanya pemilik tubuh istimewa yang bisa menguasainya dan kau memiliki itu," Wahyu Tama berjalan kearah salah satu wadah penampungan air yang cukup besar dan melubangi sedikit dengan jarinya yang telah dialiri tenaga dalam.
Sabrang mengernyitkan dahinya bingung, dia tidak mengerti apa yang sedang direncanakan Wahyu Tama dengan melubangi bak penampungan air itu.
Air yang sudah terisi penuh itu perlahan berkurang, Wahyu Tama menoleh kearah Sabrang sambil tersenyum.
"Aku ingin kau mengisi air ini sampai penuh kembali, berlari lah sekuat tenaga dan gunakan kakimu untuk bergerak secepat mungkin atau air di dalam penampung ini akan habis," ucap Wahyu Tama.
"Mengisi penuh bak penampung air yang berlubang? apa itu mungkin?" tanya Sabrang kesal.
"Tidak akan mungkin jika kau terus berdiri dan mematung seperti itu, kali ini kau hanya berhadapan dengan air bagaimana jika suatu saat lawanmu jauh lebih cepat? apa kau hanya akan mengumpat?" bentak Wahyu Tama.
Sabrang terpaksa melesat pergi dan bergerak secepat mungkin untuk sampai ke sungai, dia bahkan menggunakan energi Naga Api untuk menambah kecepatannya.
"Latihan yang aneh, pantas saja dia mengurung diri ditempat ini," umpat Sabrang.
"Aku mendengarnya nak, sebagai hadiah atas keberanian mengejekku akan kubuat lubang kecil kedua," teriak Wahyu Tama sambil terkekeh.
Wajah Sabrang langsung lemas seketika saat mendengar ucapan Wahyu Tama, bagaimana dia bisa lebih cepat dari air yang keluar dari dua lubang itu.
"Hanya kau yang bisa menentukan masa depanmu nak, apakah akan menjadi penyelamat dunia persilatan atau justru menghancurkannya karena kau mungkin tidak menyadari bahwa didalam tubuhmu terdapat ibis api yang sangat senang bertarung. Semoga kau bisa mengendalikan kekuatan Dewa Api," ucap Wahyu Tama pelan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam minggu (Salah satu Mantra ajian pura pura bahagia di KITAB TUNA ASMARA)
Inilah malam dimana yang Jomblo nelen ludah, sedangkan yang pacaran main lidah.
Inilah malam dimana yang Jomblo hatinya penuh luka, sedangkan yang pacaran lehernya penuh tanda.
Inilah malam dimana yang Jomblo lagi peluk guling, sedangkan yang pacaran lagi pelukan sambil guling-gulingan belah duren
Inilah malam dimana seorang Jomblo yang hina menjadi pengamat kolom komentar novel PNA dan berharap terselip jodoh diantara komentar di novel ini.
Inilah malam dimana yang Jomblo sibuk mencet remote tv, sedangkan yang pacaran sibuk mencet... ah sudahlah ntar di sensor MT
pokoknya selamat malam minggu, bonus chapter kemungkinan minggu besok saat libur panjang.... terima kasih...
Jangan pelit vote, udah jomblo, pelit, jelek lengkap amat lu wkwkwkwkw
__ADS_1