
"Kau sedang mencari Kitab Energi bumi?" Kumbara tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar Sabrang mengatakan Kitab Energi bumi.
"Benar kek itulah kenapa aku sedang mencari letak keberadaan Dieng" Sabrang bicara pelan.
Raut wajah Kumbara berubah dingin.
"Jauhi Dieng, kau tidak tau bahaya besar yang menunggumu di sana. Dengan bakat dan kemampuanmu yang besar kau hanya akan menjadi bencana bagi dunia persilatan jika pergi ke sana".
Sabrang mengernyitkan dahinya, "Maksud kakek?".
"Ada tempat yang seharusnya tidak kita datangi demi kebaikan kita sendiri. Kumbara menoleh ke arah Brajamusti dan mendapat anggukan dari Brajamusti.
"Lalu untuk apa kau ingin mempelajari Energi bumi?" Brajamusti bertanya penasaran.
"Sebenarnya jurus pedangku tidak cocok dengan Naga api, kakek guru melarangku menggunakan Kitab api abadi bersamaan dengan pedang ini sebelum aku menemukan Kitab energi bumi".
"Apa yang kau maksud dengan tidak cocok?" Kumbara masih mencerna perkataan Sabrang.
"Kakek guru mengatakan jika Naga api membutuhkan tenaga dalam yang sangat besar dan seketika untuk menggunakannya, namun Kitab Api abadi sebaliknya jurus ini menitikberatkan pada penggunaan tenaga dalam yang dialirkan ke setiap sendi tubuh secara teratur dan perlahan untuk memaksimalkan kekuatannya".
"Jangan jangan......" Raut wajah Kumbara berubah seketika "Ulurkan tanganmu" Kumbara memeriksa denyut nadi dan beberapa bagian tubuh Sabrang.
"Apa kau menemukan sesuatu?" Brajamusti memandang wajah Kumbara heran.
"Jika perkiraanku benar....." Kumbara menarik nafas perlahan sebelum melanjutkan pembicaraannya.
"Kitab Energi Bumi selama ini dianggap sebagai mitos dan dongeng dunia persilatan karena sampai hari ini belum ada yang pernah melihat kitab itu bahkan mempelajarinya.
Sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa menemukan Kitab itu karena Kitab Energi Bumi memang tidak ada sejak awal".
Brajamusti dan Bahadur tersentak kaget mendengar penjelasan Kumbara.
"Lalu ilmu yang digunakan anak ini?" Brajamusti masih belum mengerti, dia yakin anak ini menggunakan Jurus energi bumi setelah memeriksa tenaga dalamnya yang saling berbenturan di dalam tubuhnya. tidak ada ilmu lain yang mempunyai ciri khas seperti ini selain Energi bumi.
"Bagaimana jika Kitab energi bumi adalah Gabungan kekuatan Naga api dan jurus Api abadi?. Menurut cerita yang turun temurun tersebar di dunia persilatan bukankah Seorang pertapa sakti menciptakan Jurus api abadi untuk dipasangkan dengan Naga api?. Bagaimana mungkin dia menciptakan sepasang pusaka jika tidak bisa digunakan karena perbedaan karakter kekuatannya? apakah tidak aneh?".
"Jadi menurut anda....." Bahadur mulai mengerti penjelasan Kumbara.
"Benar Sejak awal kitab energi bumi tidak ada itulah kenapa belum pernah ada yang melihat langsung Kitab itu. Gabungan kekuatan Naga Api dan Jurus Api abadi itulah Energi bumi yang selama ini dicari seluruh pendekar di dunia persilatan.
Butuh tubuh khusus untuk dapat menggabungkan kekuatan Naga api dan api abadi. Itulah kenapa beberapa pendekar meregang nyawa saat mempelajari Energi bumi. Jadi mereka selama ini bukan belajar kitab Energi bumi namun berusaha menggabungkan dua kekuatan ini.
Dan tubuh anak ini dapat menahan efek benturan tenaga dalam, itulah kenapa dia tidak sadar telah menguasai Energi bumi".
Kumbara menatap Sabrang "Dari mana kau bisa mendapatkan tubuh itu? Ayahmu adalah seorang Raja Malwageni bahkan kau bukan keturunan Pendekar hebat, bagaimana ini bisa terjadi". Kumbara berkata dalam hati.
__ADS_1
"Jadi maksud kakek?"Sabrang yang dari tadi terdiam bertanya pelan.
"Aku belum yakin itu hanya perkiraanku, ikut denganku kita akan lihat apakah perkiraan ku benar". Kumbara bangkit dari duduknya dan melangkah keluar diikuti Sabrang dibelakangnya yang masih kebingungan.
"Singa emas kau?" Brajamusti menatap tajam Kumbara.
"Tetua, anda sudah melihat tanda tanda Lembah siluman mulai bangkit kembali. Kekuatan iblis hanya dapat dikalahkan dengan kekuatan iblis juga, Aku ingin bertaruh untuk dunia persilatan ini" Kumbara mengangguk memberi hormat.
***
"Gunakan cakra Manggilingan untuk menarik sedikit energi tenaga dalam yang ada dalam tubuhmu. tubuhmu masih belum pulih jadi jangan terlalu banyak menarik energi itu".
Kumbara duduk dihadapan Sabrang kemudian menotok beberapa bagian tubuh Sabrang untuk membuka sumbatan aliran energinya yang terluka akibat dikuasai Naga api.
"Salurkan secara acak ke seluruh sendi tubuhmu, ingat pesanku jangan gunakan terlalu banyak tenaga dalam karena tubuhmu belum terlalu siap".
Kumbara menatap Sabrang yang mulai diselimuti kobaran api namun kali ini api tersebut tidak terlalu besar.
"Energi Naga api yang ditariknya sedikit sekali, mungkin efek Segel 4 unsur sehingga kekuatan Naga api tersegel".
Kumbara bangkit sambil memegang pedangnya "Cukup, bangunlah sekarang kita liat seperti apa Energi bumi yang dicari semua orang selama ini".
Sabrang membuka matanya dan bangkit dengan pedang naga api ditangannya.
"Gunakan Jurus api abadi dan jangan terlalu sungkan, aku akan menyerangmu dengan sekuat tenagaku".
Kumbara menghilang dari pandangan Sabrang dan muncul di atas dengan pedang terhunus.
Sabrang melompat mundur namun Kumbara lagi lagi muncul dibelakangnya "Cakar Besi Pheonix" Serangan Kumbara mengenai perisai Es yang muncul beberapa saat sebelum mengenai tubuh Sabrang.
Sabrang terpental mundur "Kau masih belum bisa menggunakan Energi bumi. Gunakan Api abadi mu" Kumbara kembali menyerang Sabrang dengan cepat.
Beberapa serangan Kumbara nyaris mengenai Sabrang, terlihat Sabrang mulai terdesak.
"Gunakan instingmu" Kumbara menyerang dengan cepat.
"Cakar besi Pheonix" tubuh Sabrang terpental terkena serangan Kumbaran.
Kumbara kembali menghilang dari pandangan Sabrang.
"Apa ini? Tenaga dalamku seperti meledak ledak, apa ini yang dinamakan Energi bumi?" Sabrang bergumam tepat sebelum Kumbara menyerangnya.
"Kau masih kurang cepat" Sesaat sebelum jurus Kumbara mengenai sasarannya tiba tiba Sabrang menghilang dari pandangan Kumbara.
"Tidak mungkin".
__ADS_1
"Cakar es Utara" Sabrang tiba tiba menyerang dari belakang. Kumbara terpental mundur dengan Es menyelimuti tangannya.
"Jangan jangan....." Kumbara kembali meningkatkan kecepatannya namun lagi lagi Sabrang dapat menghindari dengan mudah.
"Jurus pedang api abadi tingkat II : Tarian pedang api" Sabrang muncul di udara.
Terlihat api berbetuk Naga melesat cepat ke arah Kumbara.
"Gawat luka dalam ku belum sembuh" Kumbara melompat mundur menghindar.
"Duaaarrr" Ledakan api abadi membentuk lubang yang besar di tanah.
Kumbara terpental mundur terkena efek ledakan jurus Api abadi. beberapa serpihan batu melesat cepat ke arahnya.
"Tidak sempat" Kumbara berusaha menghindar namun terlambat, dia memejamkan matanya siap menerima serpihan batu yang melesat cepat ke arahnya.
"Tameng Dewa Perang" Brajamusti muncul dihadapan Kumbara, aura biru menghalangi serpihan batu yang hampir mengenai Kumbara.
"Kekuatan ini" Brajamusti merasakan tekanan besar dari ledakan jurus Api abadi.
Brajamusti menoleh ke arah Kumbara "Kau terlalu memaksakan diri Singa emas, tubuhmu masih terluka akibat bertarung dengan naga api kemarin".
Kumbara terlihat tersenyum kecil "Inilah jurus yang selama ini dicari semua pendekar tetua, Energi Bumi".
Brajamusti menggeleng pelan melihat jurus mengerikan dihadapannya.
"Dia bahkan hanya menggunakan 20% kekuatan naga api. Selama ini aku menghabiskan hampir separuh hidupku untuk mencari Kitab Energi bumi bahkan sampai membunuh orang ternyata Energi bumi bukan sebuah kitab" Kumbara menertawai dirinya sendiri.
Sabrang mendekat ke arah Kumbara "Kakek, anda baik biak saja? maaf kek aku tidak tau, tenaga dalam itu hampir meledak di dalam tubuhku dan keluar begitu saja melalui pedang ini"
"Tidak apa apa nak, aku hanya sedang terluka" Kumbara menatap Sabrang sesaat.
"Semoga kelak kau tidak menggunakan ilmu yang kau miliki untuk keburukan karena aku yakin sangat sulit untuk menghentikan mu jika kau berubah menjadi Iblis".
"Aku ingin kau berjanji sesuatu padaku" Kumbara tiba tiba berbicara.
"Apa kek?".
"Jauhi Dieng, kau sudah menemukan apa yang kau cari selama ini. Kau tidak mengerti betapa mengerikannya kekuatan tersembunyi dalam dirimu jika dia bangkit".
Sabrang terdiam sejenak "Baik kek aku berjanji".
Kumbara tersenyum kemudian menoleh kearah Brajamusti "Semoga kelak aku tidak menyesali apa yang kulakukan hari ini".
Brajamusti mengangguk pelan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca