Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pasukan Khusus Hibata


__ADS_3

Menghilangnya Prabaswara membuat semangat tempur para pendekar langit merah goyah. Banyak yang mulai berfikir untuk melarikan diri setelah melihat kekuatan Sabrang.


Kebanggaan dan latihan selama ribuan tahun seolah runtuh dihadapan pemuda yang namanya baru terdengar didunia persilatan beberapa tahun ini.


Namun melarikan diri dari Sabrang tak semudah yang dibayangkan. Ada energi aneh yang muncul tiba tiba disekitar mereka dan melempar tubuh mereka entah kemana.


Beberapa yang kurang beruntung terbunuh oleh keris penguasa kegelapan sebelum terhisap kedimensi lain.


Turunnya semangat tempur mereka dimanfaatkan dengan baik oleh Lingga dan yang lainnya. Mereka yang sebenarnya mulai kelelahan menggunakan sisa tenaga dalamnya untuk serangan terakhir.


Sabrang tiba tiba melempar pedang Naga api diudara sambil terus bergerak dengan keris ditangan kanannya.


Beberapa pendekar langit merah yang sempat berfikir akan lebih mudah menghadapi Sabrang jika tidak menggunakan pedang naga api harus menarik kembali kata katanya. Tak berbeda jauh dengan Pedang naga api, gerakan Sabrang bahkan jauh lebih cepat jika menggunakan keris penguasa kegelapan.


Sabrang sengaja memancing mereka mendekat untuk memudahkannya menghabisi dalam satu serangan.


Ketika suhu udara tiba tiba naik dengan cepat Lingga berteriak untuk menjauh, dia sudah sangat kenal dengan aura yang dirasakan.


"Si bodoh ini tak pernah melihat situasi saat bertarung". umpat Lingga sambil melompat mundur.


Walau belum tau maksud ucapan Lingga, semua pendekar tapak es utara mengikuti Linga menjauh.


Sabrang melompat diudara sambil melemparkan keris penguasa kegelapan yang tepat mengenai salah satu pendekar langit merah.


"Dia tidak memegang senjata, kepung dia" teriak salah satu pendekar.


Sabrang tersenyum dingin sambil menarik Naga api yang dari tadi berputar diudara. Dia memusatkan seluruh energi Naga api dipedangnya dan mulai merapal jurus Badai api neraka.


"Bakar mereka semua" teriak Sabrang kemudian.


Sebuah api merah darah berbentuk naga melesat cepat dan menghantam puluhan pendekar langit merah yamg tidak bisa bereaksi apapun.


Ledakan besar yang membentuk lubang seukuran danau kecil meluluhlantakkan para pendeka langit merah.


Mantili bahkan harus membentuk perisai es yang sangat besar untuk melindungi semua yang ada didekatnya.


Efek Badai naga api baru berhenti ketika dinding es Mantili hancur berkeping keping.


"Bagaimana anak itu bisa sekuat ini?". ucap Mantili pelan.


"Sepertinya dia sudah menguasai sepenuhnya sisi gelap itu. Aku yakin tak banyak pendekar yang bisa menandinginya saat ini" jawab Brajamusti.

__ADS_1


"Jadi anak itu?".


Brajamusti mengangguk pelan "Apa yang kita lihat hari ini baru awal perkembangannya. Tugas berat anda membimbingnya tetua, Kekuatan kadanh merubah seseorang dan jika sampai dia berubah tak akan ada yang bisa menghentikannya".


Sabrang berlajan mendekati Mantili dan memberi hormat, dia takut bibinya itu marah karena jurus badai api neraka merusak separuh bangunan utama Tapak es utara.


"Bola matanya berubah" gumam Mentari dalam hati.


***


Sabrang melangkah masuk ruangan perawatan Tapak es utara, dia menghentikan langkahnya saat melihat Wardhana terbaring diatas tempat tidur.


Wardahana yang sudah mulai sadar tampak berusaha bangkit namun Sabrang melaranganya.


"Apa ini perbuatanku paman?" tanya Sabrang lirih.


Wardhana terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Sabrang.


"Bukan anda yang melalukannya Yang mulia namun sesuatu yang ada ditubuh anda namun kudengar dari tetua Brajamusti anda sudah berhasil menguasainya".


"Maafkan aku paman".


" Yang mulia, anda tak boleh meminta maaf pada hamba. Hamba sudah memutuskan untuk mengabdi pada trah Dwipa sejak Ayah anda mengajak bergabung. Saat itu hamba hanya anak lemah yang kehilangan kedua orang tua. Kebaikan Yang mulia raja membuatku merasa memiliki tujuan hidup lagi".


"Yang mulia". ucap Wardhana tiba tiba.


Sabrang menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Wardhana.


"Jika anda berkenan, ada yang ingin hamba bicarakan dengan anda".


"Sekarang?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


Wardhana mengangguk pelan "Ini mengenai Masalembo".


Sabrang kembali duduk dihadapan Wardhana, sebenarnya diapun ingin membicarakan masalah ini namun melihat kondisi Wardhana yang masih lemah Sabrang mengurungkannya.


"Setelah hamba mempelajari beberapa petunjuk yang ada di ruang rahasia Balidwipa sepertinya masalah kali ini tidak sesederhana perkiraanku".


"Maksud paman?" tanya Sabrang heran.


"Mereka yang disebut para penguasa dunia sudah mempersiapkan semuanya untuk kebangkitan mereka namun sepertinya bukan untuk saat ini".

__ADS_1


"Bukan saat ini?".


"Disalah satu catatan Naraya Dwipa dia sempat menyinggung jurus keabadian penyempurna jiwa. Jurus itu yang sepertinya saat ini mereka coba sempurnakan". Wardhana terlihat mengambil gulungan kecil yang dia simpan dibalik bajunya. "Sebenarnya ruang rahasia Balidwipa tidak benar benar kosong. Hamba menemukan gulungan ini disalah satu celah ruangan, Hamba memutuskan merahasiakannya dari semua orang karena takut berhubungan dengan sejarah trah Dwipa namun ternyata bukan".


Wardhana mulai membuka gulungan itu dan membacanya.


Sabrang tersentak kaget setelah mendengar apa yang dibacakan Wardhana.


"Jadi maksud paman kebangkitan mereka membutuhkan energi Megantara?".


Wardhana mengangguk pelan "Aku belum tau apa hubungan jurus keabadian penyempurna jiwa dengan Megantara, sepertinya jawabannya ada di Masalembo".


"Jadi kita harus secepatnya menemukan Masalembo".


"Benar Yang mulia namun ada satu masalah Yang mulia, jika Malasembo adalah tempat mereka menguji coba para manusia berbakat didunia ini maka disana kita akan menghadapi puluhan atau mungkin ratusan pendekar pilih tanding yang menjaga tempat itu. Kita akan kekurangan pasukan Yang mulia".


"Apa aku harus meminta bantuan sekte lainnya? jika memang diperlukan aku akan meminta bibi Mantili untuk menghubungi sekte lainnya".


"Sebenarnya jika diizinkan aku ingin membentuk satu pasukan khusus diluar para pendekar sekte yang bertugas membantu semua gerakan kita melawan Masalembo sampai nanti merebut Malwageni. Ada dua keuntungan sekaligus yang bisa kita ambil saat ini Yang mulia".


"Pasukan khusus?".


"Selain para pendekar sekte, kita juga membutuhkan satu pasukan pendekar yang bertugas membantu kita menyelidiki kekuatan mereka secara senyap. Hamba membutuhkan perkiraan kekuatan mereka untuk menyusun strategi karena hamba yakin pertempuran kali ini akan jauh lebih besar dari perkiraan".


"Tak mudah membentuk pasukan yang terdiri dari para pendekar hebat dalam waktu singkat. Apa paman sudah memiliki nama siapa yang akan diajak bergabung?".


"Hamba sudah membicarakan masalah ini pada tetua Brajamusti saat dia menjengukku dan beliau bersedia membantu kita dengan merekomendasikan beberapa nama pendekar berbakat aliran putih. Untuk tahap awal sepuluh pendekar sepertinya sudah cukup karena kita butuh kualitas. Jika Yang mulia mengizinkan hamba akan mulai bergerak karena waktu kita terbatas".


Sabrang terlihat berfikir sejenak sebelum mengangguk setuju. "Persiapkan secepatnya paman, aku ingin sebelum kita pergi ke Hujung tanah kelompok itu sudah terbentuk".


"Baik Yang mulia" jawab Wardhana.


"Lalu mengenai nama? apa paman sudah memikirkannya?".


"Jika anda setuju aku mengambil nama sebuah gunung didaratan Cebeles yang bernama Hibata".


"Hibata ya, sepertinya nama yang cukup bagus". balas Sabrang dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Yang mengikuti Api di Bumi Majapahit pasti sudah mendengar tentang organisasi misterius bernama Hibata. Walau di ABM tidak diketahui siapa ketua Hibata saat itu namun cikal bakal Hibata sudah saya buka disini.

__ADS_1


Berikan Vote jika kalian merasa chapter ini menarik.


__ADS_2