
Gunung Indrapura adalah salah satu gunung tertinggi di Swarna Dwipa, letaknya yang sulit dijangkau membuat Suku Hutan Dalam menjadikan tempat itu sebagai markasnya.
Namun kali ini, lereng Indrapura terlihat mencekam, puluhan mayat terlihat bergelimpangan di lereng gunung.
Bangunan bangunan besar yang menjadi tempat suku hutan dalam berteduh selama ini ikut hancur berkeping keping.
Sabrang yang sudah terbiasa menghadapi pertarungan hidup dan mati pun tampak menatap ngeri bekas pembantaian yang ada dihadapannya.
"Mereka benar benar kejam," ucap Sabrang pelan.
"Yang mulia, hamba akan memeriksa bangunan itu," ucap Emmy sebelum melesat pergi kesebuah bangunan milik Suku Hutan Dalam yang sudah hancur.
"Berhati-hatilah, kita tidak tau apa mereka masih ada disekitar sini," jawab Sabrang.
Sabrang menatap sekitarnya untuk mencari pohon yang paling tinggi, setelah menemukan apa yang dicari dia melompat ke pohon tersebut.
"Apa yang sebenarnya mereka cari?"
Sementara itu Emmy yang memasuki salah satu reruntuhan bangunan milik Suku Hutan Dalam menemukan pesan yang ditulis dengan darah di sebuah gulungan kecil yang digenggam erat oleh salah satu mayat yang terkubur reruntuhan.
Dia mengambil gulungan itu perlahan sambil menutup hidungnya, bau menyengat benar benar membuat perut Emmy mual.
"Tujuh Mustika Merah Delima?" Emmy mengernyitkan dahinya bingung. "Apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan?"
Emmy memasukkan gulungan itu kedalam pakaiannya dan memeriksa sekitarnya kembali.
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Sabrang tiba tiba.
Emmy menggelengkan kepalanya pelan, "Hanya ini yang hamba temukan Yang mulia," jawab Emmy pelan.
"Tujuh Mustika merah Delima?" tanya Sabrang terkejut.
"Apa anda mengetahui tentang tujuh mustika Merah delima?"
"Aku tidak tau pastinya tapi menurut legenda ada tujuh buah batu mustika berwarna merah jatuh dari langit saat daratan Nuswantoro baru terbentuk. Batu itu konon menjadi hadiah dari sang dewa yang membuat daratan ini menjadi sangat subur.
Namun setahuku itu hanya sebuah legenda yang tidak benar benar ada," jawab Sabrang pelan.
"Bagaimana jika batu itu memang ada? hamba menemukan catatan itu dari salah satu mayat suku hutan dalam, apa mungkin orang yang hampir mati bisa berbohong?"
"Jadi maksudmu bukan suku hutan dalam yang mereka incar, tapi mustika itu?"
"Itu baru perkiraan hamba Yang mulia tapi bukankah Masalembo juga dulunya hanya legenda sampai kita benar benar menemukan mereka?"
Sabrang kembali terdiam, apa yang dikatakan Emmy benar, Masalembo atau telaga khayangan api, Dieng dulunya hanya sebuah legenda sebelum Wardhana berhasil menemukan petunjuk keberadaan tempat itu.
__ADS_1
"Jika yang kau katakan benar, apa yang mereka rencanakan dengan mustika dewa itu?" ucap Sabrang.
"Satu satunya cara adalah mencari petunjuk tentang mustika itu dan menyusup ke kerajaan Arkantara, entah mengapa hamba merasa masalah kali ini jauh lebih besar dari Masalembo," jawab Emmy.
"Arkantara? bagaimana kita bisa menyusup sedangkan letak kerajaannya saja tidak tau."
"Tuan Dewanto tadi mengatakan jika tidak jauh dari sini ada sebuah desa kecil dan dia sedang berdagang di sana. Jika kita pergi ke desa itu, mungkin bisa mendapat petunjuk dimana kerajaan Arkantara Yang mulia," jawab Emmy cepat.
***
Wardhana membuka setiap lembar halaman kitab Sabdo palon kedua yang ditemukan Rubah Putih di Makam kuno hati hati, dia terlihat bingung dengan kitab itu.
"Kitab Sabdo Loji jelas lebih tua dari makam kuno itu, jika catatan di dinding gua yang memperingatkan kemunculan Sabdo Loji menggunakan aksara Brahmi mengapa kitab ini justru ditulis dengan aksara Palawa yang lebih muda?"
Wardhana terus membaca isi kitab itu perlahan, walau tidak semua dibacanya namun beberapa halaman yang terlihat mencolok dia baca berulang ulang untuk memahami maksud yang tertulis.
Perhatian Wardana kemudian tertuju pada gambar tujuh buah batu yang berwarna merah dalam kitab itu.
"Tujuh mustika merah delima sebagai penjaga tanah Nuswantoro?" ucap Wardhana dalam hati.
"Segel keabadian adalah ajian tertinggi untuk memperlambat kematian karena kematian tak mungkin bisa dilawan. Ajian ini mampu menyegel ruh jika tubuh penggunanya hancur selama mencari tubuh baru.
Ajian ini memiliki kelemahan besar karena hanya bisa digunakan dua kali sebelum ruh itu musnah, hanya Tujuh mustika dewa merah delima yang mampu menyempurnakan kembali ruh yang musnah. Tujuh pusaran angin melindungi mustika dewa dari keserakahan dan amarah alam."
"Tuan Patih, tuan Paksi telah kembali dari Saung Galah, beliau meminta bertemu," suara prajurit penjaga mengejutkan Wardhana.
"Masuklah," balas Wardhana.
Tak lama, Paksi muncul dari balik pintu, dia menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Guru, anda sudah kembali," sambut Wardhana sopan.
"Apa terjadi sesuatu? wajahmu tampak lelah Wardhana," ucap Paksi sambil tersenyum.
Wardhana menutup kitab yang ada ditangannya dan mempersilahkan Paksi untuk duduk.
"Situasi keraton sedikit kacau sejak Yang mulia menghilang tapi saat ini sudah kembali normal, bagaimana dengan Saung Galah?"
"Seperti yang sudah kita perkirakan tak mudah mengatur wilayah jajahan, beberapa menteri masih berusaha melawan dengan menghasut putri mahkota. Aku baru bisa mengendalikan situasi setelah menemukan kesalahan mereka semua.
Kini, Saung Galah sudah menjadi wilayah Malwageni dan sesuai permintaanmu, kita yang akan memilih siapa yang akan memimpin Saung Galah yang mulai saat ini sudah berganti menjadi Galah Malwageni. Mereka telah mengakui takluk pada Malwageni," jawab Paksi.
Wardhana tampak lega, satu masalah kembali bisa teratasi dan itu cukup meringankan beban di pundaknya.
"Seperti biasa, aku selalu bisa mengandalkan anda, terima kasih guru," ucap Wardhana pelan.
__ADS_1
"Kau tidak seperti biasanya, apa terjadi sesuatu?" Paksi kembali mengulang pertanyaannya.
"Apa guru pernah mendengar tentang Tujuh pusaka Merah Delima?"
"Tujuh Pusaka merah delima? maksudmu legenda batu dewa yang menjaga Nuswantoro?" tanya Paksi penasaran.
Wardhana mengangguk, "Apa menurut guru mustika itu benar benar ada?"
"Aku tidak tau tapi di beberapa catatan kuno memang menyebutkan jika dulunya daratan Nuswantoro adalah tempat yang kering dan tidak ada satupun tanaman yang bisa hidup di sini.
Hingga suatu saat, tujuh bola api merah jatuh dari langit dan memancarkan sinar terang. Sejak saat itu, daratan Nuswantoro menjadi subur karena energi bola api yang kemudian di kenal sebagai tujuh Mustika Merah delima," jawab Paksi.
"Apa mungkin mustika itu benar benar ada? lalu apa ada hubungannya dengan pembantaian suku hutan dalam?" ucap Wardhana dalam hati.
"Apa kau bisa menjelaskan padaku mengapa kau begitu tertarik dengan legenda itu?"
Wardhana menyerahkan kitab Sabdo Loji pada Paksi sambil menjelaskan masalah yang kini dihadapi Malwageni.
"Kitab ini?" wajah Paksi berubah seketika.
"Sabdo Loji, kitab yang menjadi rujukan seni perang yang guru ajarkan padaku," jawab Wardhana cepat.
"Jadi kitab Sabdo Loji benar benar ada?" Paksi membuka kitab itu perlahan, wajahnya tampak bersemangat setelah mengetahui jika kitab yang dipegangnya adalah kitab yang selama ini menjadi rujukan semua seni perang di dunia.
"Kitab itulah yang menjelaskan tentang kekuatan energi Mustika Merah Delima," Wardhana kemudian menceritakan semua masalah yang menimpa Malwageni termasuk munculnya Pasukan Kuil Suci yang membunuh semua anggota Suku Hutan dalam dan kemungkinan ada hubungannya dengan kitab itu.
"Jika kitab Sabdo Loji yang mengatakannya aku yakin Tujuh Mustika Benar benar ada," ucap Paksi percaya diri.
"Tujuh pusaran angin melindungi mustika dewa dari keserakahan dan amarah alam. Tujuh pusaran angin? aku seperti pernah mendengarnya" ucap Paksi dalam hati.
"Guru, bisakah anda menemaniku ke suatu tempat?"
"Menemanimu?"
"Tuan Rubah Putih menemukan kitab ini di sebuah makam kuno dan aku ingin memeriksanya sekali lagi," jawab Wardhana.
"Jika itu berhubungan dengan Sabdo Loji, kemanapun kau pergi aku akan ikut," jawab Paksi bersemangat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bonus Chapter sudah saya penuhi, selamat bermalam minggu bagi yang menjalankannya, dan bagi para Jomblo jangan berkecil hati karena mungkin minggu depan kalian....
tetap jomblo....
Vote
__ADS_1