
Seorang wanita tampak menyusuri hutan yang berada dipinggiran keraton Malwageni, mengenakan pakaian serba hitam dan penutup wajah membuatnya seolah menyatu dengan gelapnya malam. Langkahnya mengayun penuh kewaspadaan, sesaat keheningan membuat rasa takut jika saja seseorang mendengar pergerakannya.
"Akhirnya kau datang juga nak," suara Guntoro menghentikan langkah wanita itu.
Wanita itu menoleh ke atas pohon dan menemukan Guntoro sedang berdiri memandangnya. Dia terdiam sesaat sebelum membuka penutup wajahnya.
Wajah Guntoro berubah seketika saat melihat wajah dibalik kain itu bukan Mentari, dia mencabut pedangnya dan melompat turun dengan cepat.
Wanita itu berusaha menjauh namun Guntoro lebih sigap, dia menarik lengan gadis itu dan mengalungkan pedang dileher wanita itu.
"Siapa kau? apa kau suruhan rajamu?" bentak Guntoro.
"Maaf tuan, aku datang bukan atas perintah Yang mulia, kedatanganku untuk menawarkan kerjasama," balas wanita itu ketakutan.
"Kesepakatan?" Guntoro mengernyitkan dahinya.
"Tapi sebelum itu bisakah tuan menjauhkan pedang ini dari leherku," pintanya terbata bata.
Guntoro tampak berfikir sejenak sebelum menarik goloknya.
"Jika kau berani membohongiku maka aku tak segan untuk membunuhmu," balas Guntoro.
Wanita itu tampak berusaha mengatur nafasnya, ini pertama kalinya sebuah pedang menyentuh lehernya.
"Aku tak akan berani tuan," ucap Wanita itu setelah berhasil menguasai tubuhnya kembali.
"Siapa kau sebenarnya? dan kesepakatan apa yang ingin kau tawarkan padaku?" tanya Guntoro.
"Namaku adalah Airin, aku adalah pelayan pribadi nyonya selir," ucap Airin memperkenalkan diri.
"Jadi kau pelayan anakku? apa dia mengirim mu untuk menemuiku?"
Airin menggeleng pelan, dia terlihat mengumpulkan keberanian sebelum berbicara.
"Aku datang atas keinginanku sendiri, jadi nyonya selir benar benar anak anda?," jawab Airin pelan.
"Kau mulai membuatku kesal, katakan apa yang kau inginkan!" ucap Guntoro sedikit meninggi.
"Maaf tuan, aku sempat mendengar percakapan anda dengan nyonya selir tadi, sepertinya keinginan anda sulit dipenuhi karena nyonya selir sangat mencintai Yang mulia lebih dari dirinya sendiri. Kedatanganku kali ini ingin memberikan solusi pada anda," ucap Airin pelan.
"Solusi?" tanya Guntoro bingung.
"Nyonya selir tidak akan mudah dibujuk dengan cara apapun untuk meninggalkan Yang mulia, hanya ada satu cara untuk memaksanya," jawab Airin.
Guntoro menatap tajam wanita cantik dihadapannya itu.
"Apa yang membuatmu ingin membantuku? tak ada manusia yang sukarela membantu orang lain dengan resiko kematian, bukankah mengusir selir raja hukumannya adalah mati?"
"Aku sudah memikirkan semuanya dan tau apa resiko yang akan dihadapi. Kita memiliki tujuan yang hampir sama tuan, jika nyonya selir pergi dari keraton aku memiliki harapan untuk menjadi selir Yang mulia," jawab Airin sedikit ketakutan.
Wajah Guntoro berubah seketika, dia tidak menyangka rencana jahat itu keluar dari mulut gadis cantik dihadapannya.
"Gadis muda dengan ambisi yang sangat besar, aku mulai membencimu nak," balas Guntoro sinis.
"Ma...maafkan aku tuan, mohon anda jangan tersinggung. Aku sama sekali tidak membenci nyonya selir, aku hanya seorang gadis biasa yang memiliki cita cita tinggi," jawab Airin dengan terbata bata.
"Aku mengerti, lingkaran kekuasaan memang selalu seperti itu, penuh ambisi kotor dan saling menyingkirkan. Katakan apa rencanamu?"
"Maaf tuan," Airin mendekatkan wajahnya ke telinga Guntoro dan membisikkan sesuatu.
"Dengan begitu mau tak mau nyonya selir akan mengikuti anda tuan," tutup Airin.
Guntoro terlihat berfikir sejenak sebelum mengangguk pelan.
"Kapan dia akan menemuiku?" tanya Guntoro.
"Besok malam tuan, beliau memintaku menemaninya untuk menemui anda," jawab Airin cepat.
"Baik, pastikan rencana yang kau buat berjalan sempurna dan kau bisa mencapai ambisimu," ucap Guntoro.
"Terima kasih tuan, hamba mohon diri," jawab Airin sambil menundukkan kepalanya dan melangkah pergi.
"Mentari, tempat seperti inikah yang ingin kau tinggali? Kekuasaan hanya akan membawa penderitaan, sama dengan nasib leluhur kita dulu," gumam Guntoro pelan sambil menatap kepergian Airin.
***
"Ruang pemakaman raja Gropak Waton?" Kusna tampak terkejut saat Wardhana menanyakan lokasi pemakaman para raja Gropak Waton.
__ADS_1
Wulan mengangguk pelan, "Benar, itu yang dia minta kau tunjukkan," jawab Wulan menterjemahkan.
"Tempat raja adalah lokasi yang suci, kami dilarang untuk mendatangi tempat itu kecuali atas izin raja," jawab Kusna.
"Atas izin raja? apa kau pikir kerajaanmu saat ini masih ada? tunjukkan padanya dimana letak pemakaman raja dan kami akan membantumu membalaskan dendam," balas Wulan kesal.
Kusna terdiam sejenak sambil menoleh kearah Rubah Putih sebelum tersenyum kecil.
"Pemakaman raja adalah tempat yang paling suci di Gropak Waton, walaupun kini kami telah hancur, itu tak mengubah apapun tentang kesucian tempat itu.
Aku bisa mengantar kalian namun hanya dua orang, itulah aturan yang ada di sini," balas Kusna.
Rubah Putih sebenarnya ingin mengajukan diri namun jika dia langsung bicara, semua akan tau jika dia bisa bahasa Gropak Waton.
"Baik, antarkan aku dan tuan Wardhana ketempat itu," ucap Wulan pelan sambil menoleh kearah kesekelilingnya meminta persetujuan.
Rubah Putih dan yang lainnya mengangguk pelan, mereka sadar hanya Wardhana yang mampu memecahkan misteri yang menyelimuti tempat itu.
"Apa yang sebenarnya kau incar di tempat pemakaman itu tuan?" tanya Wulan sambil berjalan mengikuti Kusna.
"Hanya ingin memastikan kebenaran semua misteri ini tetua. Hampir semua kerajaan sama, mensucikan tempat pemakaman rajanya. Sang raja biasanya meminta dikuburkan bersama barang barang pribadinya, itulah yang aku incar.
Semua permasalah ini sepertinya bersumber dari kitab langit dan bumi walau ada sedikit perbedaan antara kitab milik Masalembo dan disini, namun ada satu titik temu antara keduanya. Kitab itu di buat oleh orang yang sama, yang mereka sebut tuan Agung. Aku yakin semua jawaban ada pada orang itu, semoga petunjuk semua ini ada diantara barang pribadinya," jawab Wardhana pelan.
"Kita sudah sampai," ucap Kusna tiba tiba, saat berada didepan bangunan berbentuk piramida yang terbuat dari emas.
"Tempat ini selalu membuatku terkejut," gumam Wardhana takjub melihat struktur bangunan yang sepertinya dibangun dengan perhitungan yang rumit.
Setelah Kusna menggeser tuas batu yang berada tepat di sisi bangunan, sebuah pintu terbuka. Bau tumbuh tumbuhan yang biasa digunakan sebagai pengawet langsung menyeruak keluar.
Mereka berjalan masuk dengan hati hati, terlihat sebuah peti besar berada disudut ruangan dengan ukiran bertuliskan Rakin Aryasatya.
"Rakin Aryasatya?" Wulan mengernyitkan dahinya.
"Beliau adalah raja pertama Gropak Waton yang biasa kami sebut tuan Agung," jawab Kusna pelan.
Wardhana berjalan mendekati peti itu dan merabanya.
"Boleh aku membukanya?" tanya Wardhana yang langsung diterjemahkan oleh Wulan.
Kusna sedikit ragu sesaat sebelum mengangguk pelan.
"Itu sepertinya catatan pribadi tuan Agung, kudengar sebelum kematiannya dia hanya meminta dua buku itu yang dikubur bersamanya," ucap Kusna menjelaskan.
"Kau sepertinya tau banyak mengenai tuan Agung?" Wulan menatap Kusna curiga.
"Beliau meninggalkan surat wasiat untuk ayahku yang isinya meminta ayah menggantikannya sebagai raja dan mengubur dua catatannya itu diam diam," jawab Kusna.
"Diam diam?" Wulan mengernyitkan dahinya, sangat janggal seorang raja meminta diam diam pada bawahannya.
"Bisakah anda membaca ini?" Wardhana menyerahkan sebuah kitab pada Wulan.
Wulan mengangguk sambil membuka halaman demi halaman.
"Aku bersama anakku menemukan sebuah tempat yang sangat menakjubkan, mereka dianugerahi alam kepintaran yang luar biasa. Tempat yang berada dibalik awan itu benar benar membuatku kagum. Sangat disayangkan tempat indah itu ternoda oleh peperangan diantara mereka sendiri karena suatu ambisi, aku harus menghentikan semua dan menyelamatkan mereka," baca Wulan sari sambil mengernyitkan dahinya.
"Tuan agung memiliki anak? lalu dimana anak itu?" Wulan melihat sekelilingnya dan tidak menemukan peti lainnya.
"Aku tidak tau karena saat beliau datang aku belum lahir namun yang kudengar dari ayah dulu tuan agung datang ke tanah suci dewa bersama seorang anak kecil berumur lima tahun.
Saat tuan Agung berhasil meredakan permusuhan diantara kami, dia memutuskan meninggalkan tanah suci dewa bersama kami semua dan menempati tempat ini. Tepat setahun setelah kami semua hidup disini dan sebulan sebelum kedatangan tiga orang itu, anaknya yang bernama Samudra Aryasatya menghilang.
Ayah pernah menanyakan perihal keberadaan Samudra namun tuan Agung hanya menjawab dia telah meninggal tanpa memberi tahu dimana anak itu dikuburkan," jawab Kusna pelan.
"Rubah Putih," ucap Wardhana tiba tiba.
Wulan tersentak kaget saat mendengar ucapan Wardhana, wajahnya terlihat tidak suka sambil menahan amarah.
"Aku sudah katakan dia tidak mungkin berasal dari sini, aku...," belum sempat Wulan menyelesaikan ucapannya, Wardhana kembali memotong.
"Anda hanya pernah melihat wajahnya bukan? apa anda tau masa lalunya? apakah anda tau orang tuanya?" tanya Wardhana pelan.
Wulan terdiam, dia kembali mengingat saat bertemu Rubah Putih untuk pertama kalinya.
Saat itu Rubah putih belum mengenakan topeng, dia bertemu dengan pria itu disebuah hutan saat sedang berburu bersama ayahnya.
Wardhana lalu memberi tanda pada Kusna, dia seolah memegang topeng dan meletakkan diwajahnya.
__ADS_1
Kusna tampak terdiam sesaat, dia seolah ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Sebenarnya, tuan Rubah Putih pernah menunjukkan wajahnya padaku saat kami bertemu pertama kali, dan wajahnya sangat mirip dengan tuan Agung," ucap Kusna pelan.
Wulan semakin terkejut setelah mendengar ucapan Kusna yang mendukung perkiraan Wardhana.
"Kau yakin?" tanya Wulan bergetar.
"Aku sangat yakin, melihatnya membuatku seperti bertemu tuan Agung dalam wajah muda," jawab Kusna cepat.
"Aku mulai menyadari ada yang aneh saat dia memberiku petunjuk tentang cahaya di jurang itu, dia seolah mengenali tempat itu," Wardhana menimpali.
"Jadi dia membohongiku," ucap Wulan geram sambil menatap Kusna.
"Dia tidak sepenuhnya berbohong," ucap Kusna tiba tiba.
"Apa maksudmu?" tanya Wulan cepat.
"Saat berbicara padaku, dia mengatakan hanya memiliki ingatan sampai umur sepuluh tahun, dia memintaku untuk membantunya menemukan jati dirinya, sepertinya ingatan dia menghilang," jawab Kusna.
"Jadi seperti itu, dia bukan menutupi jati dirinya namun diapun tidak tau dari mana berasal, ingatannya menghilang," ucap Wulan menjelaskan pada Wardhana.
Wardhana mengangguk pelan sambil berfikir.
"Tolong bacakan kembali catatan itu tetua," pinta Wardhana yang sepertinya mulai menemukan benang merah misteri yang menyelimuti selama ini.
"Maaf nona, sebenarnya tuan Agung memiliki dua anak," potong Kusna tiba tiba.
"Dua? didalam buku ini jelas dia hanya memiliki satu anak," balas Wulan sambil menunjukkan buku ditangannya.
"Tuan Agung memang memiliki satu anak saat tiba di tanah suci dewa namun setelah pindah ke gunung ini dan tuan Samudra menghilang, beliau menikah dengan penduduk Gropak Waton dan melahirkan anak perempuan," jawab Kusna sambil memberi tanda pada Wardhana dengan mengacungkan dua jarinya.
"Lalu anak itu tewas dibunuh oleh Lakeswara?" tanya Wulan.
"Hampir sama seperti tuan Samudra, nona Adriani menghilang sehari sebelum tuan Agung ditemukan tewas dirumahnya. Kami semua sudah berusaha mencarinya ke seluruh penjuru Gropak Waton namun tidak ditemukan. Tuan Agung seolah tau jika kematiannya sudah dekat," balas Kusna.
"Dua anak dan semuanya menghilang, apa mungkin tuan Agung sudah mengetahui rencana Lakeswara dan mengungsikan anaknya? tapi sepertinya tidak mungkin, jeda antara hilangnya Rubah putih dan anak keduanya cukup jauh. Apa yang sebenarnya sedang dipersiapkannya?" gumam Wardhana.
Wajah Wardhana berubah seketika saat melihat sebuah tongkat kecil yang berada didekat tengkorak Rakin Aryasatya.
"Jangan jangan...," Wardhana terlihat berfikir sejenak sebelum meminta Wulan melanjutkan membaca kitab itu.
***
Mentari tampak gelisah di kamarnya, dia beberapa kali bangun dan duduk kembali.
"Airin, sepertinya aku harus meminta izin pada gusti ratu untuk menemui ayahku, aku takut gusti ratu sedikit salah paham padaku," ucap Mentari pada pelayannya yang berdiri didekatnya.
"Maaf nyonya, jika anda hanya ingin menemui orang tua untuk terakhir kali, hamba rasa tak perlu meminta izin gusti ratu. Hamba justru takut gusti ratu salah paham mengingat kejadian kemarin malam disini," jawab Airin pelan.
Mentari terlihat berfikir sejenak sebelum mengangguk pelan.
"Kau benar, aku hanya ingin menemui ayah terakhir kali dan memintanya pergi jauh. Sebaiknya aku pergi sekarang," ucap Mentari pelan.
"Maaf nyonya, apa tidak sebaiknya anda memakai pakaian hitam dan menutup wajah anda, hamba khawatir ada yang mengenali," ucap Airin.
"Baiklah, tunggulah diluar, aku akan mengganti pakaianku," pinta Mentari.
"Baik nyonya," jawab Airin sambil melangkah keluar kamar Mentari.
Airin tersenyum kecil sambil mengingat kembali ucapannya pada salah satu prajurit penjaga.
"Tuan, sepertinya orang yang kemarin menyerang nyonya selir masih berada di hutan sekitar keraton. Tadi aku mendengar dari penduduk kota disekitar keraton jika ada seorang wanita berpakaian hitam menanyakan letak hutan itu.
Ada yang mendengar jika malam ini wanita misterius itu akan menemui seseorang di hutan itu. Aku khawatir orang yang ditemui wanita itu sama dengan yang menyerang nyonya.
Sepertinya mereka merencanakan sesuatu pada nyonya selir, anda harus menangkap mereka malam ini," ucap Airin pada salah satu prajurit kenalannya.
"Malam ini ya? nyonya adalah selir kesayangan Yang mulia, akan kupastikan melindunginya selama Yang mulia pergi," jawab prajurit itu.
Airin berdiri di balik pintu kamar Mentari sambil tersenyum dingin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pertama saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih pada kalian semua yang terus mendukung PNA sampai hari ini.
Terima kasih atas segala dukungan dan VOTE nya semua...
__ADS_1
ABM akan kembali update bulan ini, saya pastikan itu.
Terima kasih sekali lagi