
Sabrang dan Lakeswara kembali bertukar jurus di udara, suara suara ledakan besar mengiringi pertarungan mereka berdua.
Sabrang mengerahkan seluruh tenaga dalamnya kali ini, dia menarik hampir seluruh energi dalam tubuhnya termasuk energi Megantara.
Ekspresi wajah Lakeswara mulai berubah saat Sabrang mulai bisa mengimbangi dan sesekali menyerang balik walau dia masih dalam posisi tertekan.
"Sudah lama aku tidak bertemu lawan kuat, maafkan aku terlalu cepat menilai mu," Lakeswara melepaskan aura yang yang kalah besar dari Sabrang.
Benturan aura keduanya yang beradu membuat udara disekitar menjadi berat, bebatuan ditempat mereka bergerak melayang di udara mengikuti pergerakan mereka.
"Nak, kau terlalu memaksakan menggunakan ajian inti lebur saketi, tubuhmu bisa hancur jika terus menggunakan secara berlebihan," Eyang Wesi memperingatkan Sabrang.
"Aku tak mempunyai pilihan, sekuat apapun aku menyerangnya, dia tak memiliki celah sama sekali. Diam dan bantu aku!" balas Sabrang, dia terus berusaha mendekat dan mencari celah, mata bulannya menatap tajam setiap pergerakan Lakeswara.
"Pergerakan tubuhnya selalu berubah, mataku tak melihat sedikitpun celah," umpat Sabrang dalam hati.
Sebuah pukulan kembali menghantam Sabrang ketika dia terfokus pada gerakan pedang lawan, perubahan gerakan yang dilakukan Lakeswara benar benar tak mampu diikuti mata Sabrang.
Sabrang terdorong mundur sebelum menghilang dan muncul dihadapan Lakeswara.
"Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma," Sabrang melepaskan jurusnya saat melihat sedikit celah pada lawannya.
Lakeswara kali ini tidak tinggal diam, dia sadar serangan Sabrang mengandung tenaga dalam yang bisa membuatnya terbunuh. Dia mengalirkan tenaga dalam yang lebih besar ke pedangnya.
"Pedang Cahaya merah : Api Masalembo."
Aura merah milik Lakeswara dan energi Naga Api berbenturan, mengakibatkan ledakan yang sangat dahsyat. Candrakurama yang sedang bertarung dengan lawannya ikut terpental saat energi ledakan menyebar dan menghancurkan separuh hutan.
Lakeswara tampak terdorong beberapa langkah, sedangkan Sabrang terlempar lebih jauh, perbedaan kekuatan yang sejak awal terjadi tak mampu ditutupi Sabrang. Orang yang berada dihadapannya seperti seorang Dewa yang tak memiliki batas kekuatan.
Namun bukan hanya Sabrang yang terkejut, Lakeswara pun cukup kagum pada kekuatan yang dimiliki keturunannya itu.
"Kau? bagaimana kau bisa memiliki energi murni Tumerah?" ucap Lakeswara sambil memegang dadanya yang sedikit sakit, ini untuk pertama kalinya dia terluka setelah berhadapan dengan Rubah Putih.
"Apa itu penting? kau akan mengetahuinya setelah aku membunuhmu," balas Sabrang sinis.
"Anom, perhatikan setiap gerakan yang aku lakukan, aku ingin kau membawa masuk Naga Api ke dalam dimensinya," Sabrang kembali menyerang.
"Kau tidak bisa mengukur kekuatan? apa kau pikir dengan membuatku kagum kau bisa mengalahkan ku?"
Tubuh Sabrang terasa sakit saat dia meningkatkan ajian inti lebur saketi ke tingkat enam, namun rasa sakit itu sesuai dengan apa yang didapatkannya, Sabrang menjadi semakin cepat dan itu semakin mengejutkan Lakeswara.
"Dia masih bisa lebih cepat? jurus apa sebenarnya yang digunakannya?"
Ratusan energi keris bergerak mengikutinya dan mulai menyerang Lakeswara. Kecepatan lesatan keris itu semakin cepat dan kali ini cukup menyulitkan Lakeswara.
Jurus hampa udaranya yang membuat pedang lawan hanya menembus tubuhnya tak akan berfungsi saat melawan energi keris Sabrang yang mengandung energi besar, kali ini Lakeswara di buat bekerja keras menghindarinya.
Aura yang meluap dari tubuh Sabrang mulai bercampur darah segar menandakan dia sudah sangat memaksakan diri, dia kembali merapal kuda kuda jurus pedang jiwa sebelum kembali mendekat.
Lakeswara yang mulai terpecah konsentrasinya karena harus mewaspadai lesatan energi keris yang seperti tidak ada habisnya mulai meninggalkan celah, dia terlihat tidak siap ketika Sabrang bergerak sambil mengayunkan pedangnya.
"Jurus ini lagi?" Lakeswara melompat mundur untuk menangkis serangannya namun dia tersentak kaget saat Sabrang merubah gerakan pedangnya disaat terakhir.
"Kau bagaimana bisa?" wajah Lakeswara terlihat geram ketika mengenali jurus yang digunakan Sabrang.
"Pedang Cahaya merah : Api Masalembo," Sebuah sabetan pedang untuk pertama kalinya melukai tubuh Lakeswara.
Kemarahan terlihat diwajah Lakeswara, karena untuk pertama kalinya sejak berguru pada Rakin ada yang berhasil melukainya, bahkan Rubah putih tak mampu melakukannya.
Sabrang semakin menggila, serangan serangan berikutnya jauh lebih cepat, beberapa serangan memang bisa dihindari oleh Lakeswara namun sebagian lainnya mampu mendarat di sasaran.
Mata bulan Sabrang mulai berdarah dan terus membaca setiap gerakan Lakeswara.
"Jurus Pedang pemusnah Raga," Sabrang sedikit memutar mata pedangnya sebelum menyilangkan dua pedang ditangannya dan menghantam tepat di tubuh Lakeswara.
Lengan Lakeswara sempat menahan dua pedang itu namun dia terpental mundur saat energi Sabrang meluap tidak wajar.
"Ledakan tenaga dalam Iblis," tubuh Lakeswara terlempar dan membentur bebatuan sebelum hancur dan menguburnya.
Sabrang menarik nafasnya panjang sambil memperhatikan tumpukan batu yang mengubur Lakeswara.
__ADS_1
"Apa dia mati? sial dia tidak menggunakan mata bulannya hingga akhir," umpat Sabrang dalam hati.
"Berhati hatilah, aku masih merasakan energinya," ucap Naga Api tiba tiba.
"Apa?" belum sempat rasa terkejut Sabrang, bebatuan itu bergetar hebat sebelum meledak dan berhamburan di udara.
"Kau memaksaku menggunakan jurus itu! akan kubuat kau menyesal," Lakeswara kembali bangkit, matanya berubah menjadi biru dan aura dari tubuhnya terus meluap.
"Kau bahkan menguasai jurus Rubah putih, aku benar benar meremehkan mu," ucap Lakeswara kesal.
Lakeswara terlihat menotok beberapa bagian tubuhnya sebelum memusatkan tenaga dalam di kedua tangannya.
Sabrang yang melihat gerakan aneh Lakeswara tak membiarkan begitu saja, dia kembali menyerang dan tak memberi nafas pada lawannya.
Sabrang sadar mungkin ini adalah kesempatan terbaiknya untuk mengalahkan Lakeswara.
"Anom, bersiap," Sabrang kembali meningkatkan ajian inti lebur saketi satu tingkat, dia telah bersiap dengan serangan terakhirnya.
"Hei! bersabarlah, kita tidak tau apa yang direncanakannya," teriak Eyang Wesi. Namun semua terlambat, Sabrang sudah berada didekat Lakeswara.
"Jurus Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma," Saat pedang Sabrang terayun kearah Lakeswara, dia tersentak kaget ketika aura hitam meluap tiba tiba dan membuat tubuh Sabrang kaku seketika.
Tubuh Lakeswara seolah menghilang sebelum sebuah sabetan pedang mengenai tubuhnya.
"Pedang cahaya rembulan penghancur batu karang."
"Aura ini?" Anom bereaksi, dia berusaha menarik tubuh Sabrang keluar dari pertarungan dengan menekan balik aura Lakeswara.
Saat tubuh Sabrang mulai bisa digerakkan semua sudah terlambat, belasan sabetan pedang lainnya menghantam Sabrang tanpa bisa dihindari.
"Bertahanlah nah!" teriak Anom dalam pikiran Sabrang, energi Anom yang menyelimuti tubuh Sabrang tak mampu menahan serangan Lakeswara.
Sabrang mengaktifkan mata bulan dengan sisa sisa tenaga dalamnya untuk mengeluarkan Ken Panca dan Guntoro yang sejak awal bersembunyi di ruang dan waktunya.
Kedua pendekar itu muncul tepat dibelakang Lakeswara dan langsung menyerang.
"Kau pikir dengan memanggil bantuan akan berguna?" Lakeswara memutar tubuhnya dan menangkis serangan yang terarah padanya dengan mudah.
Guntoro merubah gerakannya tiba tiba, dia seolah sengaja membuat tubuhnya tertusuk pedang itu.
"Jleeeb," Pedang Lakeswara menancap di tubuhnya sampai tembus ke punggung.
"Dia sengaja mengorbankan diri?" Lakeswara mencoba menarik pedangnya namun Guntoro dengan cepat mencengkram pedang itu sekuat tenaga.
"Ini untuk leluhurku," Sebuah keris muncul ditangannya, dia mengayunkan tangan sekuat tenaga mengincar kepala Lakeswara.
Ken Panca dan Sabrang kembali menyerang untuk membantu, serangan mereka membuat Lakeswara tak memiliki pilihan lain selain menarik tangan Guntoro bersama keris itu kedalam ruang dan waktunya.
Jeritan menyayat Guntoro terdengar ketika lengannya putus dan hilang tiba tiba sebelum menyentuh Lakeswara.
Lakeswara kembali mengeluarkan jurus
Pedang cahaya rembulan penghancur batu karang untuk menangkis serangan Sabrang dan Ken Panca.
"Sial jurus ini lagi, kakek menghindar," teriak Sabrang sebelum tubuhnya kembali kaku.
Ken Panca menghilang saat tubuhnya hampir terbelah dua dan muncul kembali didekat Mentari.
"Syukurlah," ucap Sabrang sebelum tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa.
Yang terjadi berikutnya hanya jeritan Mentari yang terdengar, pandangan mata Sabrang mulai gelap ketika beberapa tusukan pedang menghujam tubuhnya.
Pendekar yang dianggap sebagian orang adalah cahaya putih dalam ramalan itu tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka bersama potongan tubuh Guntoro.
Rambut putihnya memerah terkena semburan darahnya sendiri, dia pingsan dengan posisi tubuh telungkup di tanah.
Wajah Mentari pucat pasi, apa yang dilihatnya dalam ramalan sebelumnya benar benar terjadi, Sabrang tumbang walau dengan kedua tangan masih lengkap.
Melihat kedua orang yang disayanginya tumbang bersamaan, mata Mentari menjadi gelap sebelum sebuah ledakan tenaga dalam keluar dari tubuhnya dan mengejutkan Ken Panca dan Lakeswara.
"Apa lagi ini?" Ken Panca terlempar akibat ledakan tenaga dalam Mentari.
__ADS_1
"Kubunuh kau!" suara Mentari terdengar menakutkan, tongkat cahaya putih ditangannya bersinar terang sebelum membentuk energi pedang di kedua ujungnya.
***
"Dimensi lain di dunia ini?" Rubah Putih tampak terkejut mendengar ucapan Wardhana.
"Ini hanya perkiraan, aku mulai menyadari sesuatu ketika terkurung di sini, ada yang aneh dengan tempat ini. Apa anda merasakan apa yang aku rasakan saat pertama masuk ke dimensi ini?"
"Tubuh kaku dan tak bisa digerakkan?" jawab Rubah Putih cepat.
"Apa anda tak pernah berfikir apa yang menyebabkan semua ini?" tanya Wardhana kembali.
"Mungkin kekuatan Lakeswara?" jawab Rubah Putih cepat.
"Lalu mengapa aku merasakan hal yang sama saat berada di ruang waktu milik gusti ratu? apa kekuatan gusti ratu setingkat dengan Lakeswara?"
Rubah Putih terdiam, dia mulai mengerti arah pembicaraan Wardhana.
"Anda liat langit atas rumah kehidupan itu? jika anda menatapnya cukup lama akan terlihat beberapa batu terbang dan terserap ke atas, aku tidak tau mereka menyadari atau tidak karena selama beberapa hari aku terus mengamati langit itu, hanya dua kali melihat batu terhisap ke langit.
Apa anda pikir itu menuju keluar? tidak, aku sudah mempelajari struktur dimensi ini tak ada jalan lain kecuali gerbang dimensi. Apapun yang ada dibalik langit itu sepertinya mulai terbuka akibat ujicoba rumah kehidupan milik mereka. Jika kita tidak menghentikannya maka sesuatu akan muncul dari sana," ucap Wardhana pelan.
Rubah Putih mengangguk pelan sambil menatap langit yang ada di atas rumah kehidupan.
"Sepertinya semua tekanan ini berasal dari tempat lain yang meresap masuk ke tempat ini, kita harus menghentikan semuanya," tambah Wardhana.
Wajah Rubah Putih berubah seketika saat melihat kilatan api keluar dari lorong dimensi dan menuju kearah mereka.
"Naga Api?" ucap Rubah Putih setengah berteriak.
Wardhana yang juga melihat kilatan api itu tersenyum lega.
"Sepertinya Yang mulia berhasil," balas Wardhana pelan.
Kilatan api terlihat semakin membesar dan membetuk sebuah tubuh saat berhenti dihadapan mereka.
"Naga Api, akhirnya kau berhasil menemukan kami," ucap Wardhana.
"Kita harus cepat atau anak itu akan mati," balas Naga api cepat.
"Sabrang?" tanya Rubah Putih.
"Aku meninggalkan tubuhnya sesaat sebelum dia tak sadarkan diri, tanpa energi milikku dia tak akan bisa mengimbangi Lakeswara. Pejamkan mata kalian, aku akan menarik kalian keluar," balas Naga Api.
"Apa kalian pikir bisa pergi begitu saja?" Lima orang pendekar yang memiliki aura besar muncul tiba tiba dihadapan mereka.
"Para pemimpin dunia dari trah Tumerah dan Ampleng? sepertinya mereka menyadari kedatangan Naga Api," umpat Rubah Putih kesal.
Walau mereka tak sehebat Lakeswara namun menghadapi lima orang sekaligus jelas bukan pekerjaan mudah.
"Lima orang? bukankah Lakeswara sedang bertarung dengan Sabrang di luar? lalu siapa dia?" tatapan Rubah Putih menuju ke seorang pendekar yang menutup wajahnya dengan topeng.
"Tuan?" ucap Wardhana tiba tiba.
"Ada perubahan rencana, ini akan sedikit menyulitkan. Mundurlah sedikit, mereka bukan lawanmu. Jika aku tak mampu menghadapi mereka, keluarlah bersama Naga Api dan segel tempat ini selamanya," Rubah Putih mencabut golok pusakanya.
"Rubah Putih, aku sering mendengar namamu dari Yang mulia, tak kusangka akan secepat ini berhadapan denganmu," ucap salah satu dari mereka.
"Arkantara Tumerah, kudengar kau memiliki energi murni yang tak terbatas, mohon petunjuknya," balas Rubah Putih sambil bergerak menyerang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini khusus saya ingin menyapa kakak Cyber Cafe yang sangat disayangkan tak memakai nama asli.
Penggemar berat PNA yang sudah menyumbangkan vote 10 poin saat Fir'aun masih lari hujan hujanan pake ****** ini protes keras dan meminta saya fokus pada PNA dan meninggalkan pekerjaan dunia nyata saya.
Begini Bambang, kemarin saya katakan jika akan diusahakan update bukan tidak Update dan terbukti saya masih mengusahakan update disela kesibukan.
Jangan marah ya mbang Cyber cafe dan jangan dicabut vote 10 poinnya nanti PNA bisa terkapar.
Terakhir saya mau mengucapkan terima kasih karena PNA akhirnya duduk di posisi 6 periode 28 Mangatoon. Hayuk kita naik perlahan menuju tangga no 1 sebelum Sabrang menutup ceritanya di Pedang Naga Api....
__ADS_1