Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Masuk ke Wilayah Sekte Bintang Langit


__ADS_3

Astaguna berjalan cepat menuju aula pertemuan Sekte bintang langit. Dia dikawal oleh dua orang muridnya.


"Aku ingin bertemu Ketua". Astaguna berbicara pada dua orang yang berjaga yang dia temui di pintu gedung tersebut.


"Silahkan masuk tuan". Salah satu penjaga memberi jalan padanya.


Astaguna masuk terburu buru seorang diri sedangkan dua muridnya ikut berjaga di luar.


"Hormat pada ketua". Astaguna menundukan kepalanya pada Birawa.


Raut wajah Birawa menjadi gelisah setelah melihat wajah Astaguna yang sedikit cemas.


"Ada apa Astaguna? apa terjadi masalah?". Tanya Birawa pelan.


"Lintang Wakulu memutuskan memilih ketua baru untuk menggantikan Andaru, dan Jagratara terpilih sebagai ketua yang baru". Astaguna bicara terbata bata.


"Jagratara? ini pasti ulah Daniswara, Jagratara memiliki kedekatan dengannya. Apa yang direncanakannya, bukankah sudah kukatakan untuk membekukan seluruh kegiatan Lintang Wakulu sementata waktu". Birawa mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Lalu apa yang harus kita lakukan ketua?". Tanya Astaguna.


"Aku belum tau apa yang dia rencanakan, tapi....". Belum selesai Birawa berbicara salah satu penjaga masuk keruangannya.


"Ketua, tuan Jagratata ingin bertemu".


Birawa menoleh kearah Astaguna sambil mengernyitkan dahinya.


"Hormat pada ketua". Tiba tiba Jagratara telah memasuki ruangan sambil tersenyum manis.


Penjaga tersebut hendak menghentikan Jagratara karena belum diizinkan masuk namun Birawa menahannya.


"Tidak apa apa, keluarlah". perintah Birawa pada penjaga itu.


"Maaf ketua jika aku meminta bertemu pagi pagi sekali". Jagratara menoleh kearah Astaguna dan menundukan kepalanya.


"Ada keperluan apa kau datang kemari?". Ucap Birawa dingin. Dia sangat mengerti sifat Jagratara yang angkuh dan penuh ambisi. Jagratara pernah menjabat sebagai wakil ketua Lintang Wakulu sebelum diberhentikan oleh Andaru karena selalu melanggar aturan kelompok.


"Aku ingin melaporkan jika Lintang Wakulu telah melakukan pemilihan ketua baru tadi malam dan aku terpilih menggantikan tuan Andaru".


"Pemilihan? bukankah aku sudah mengeluarkan keputusan untuk mengentikan sementara kegiatan apapun kelompok Lintang wakulu sampai keberadaan Andaru diketahui". suara Birawa sedikit meninggi.


"Urusan tuan Andaru bersifat pribadi bukan mencerminkan sikap kelompok kami jadi apa hak anda membekukan kegiatan Lintang wakulu? Anda harus ingat aturan Bintang langit, ketua Bintang langit dipilih oleh 3 kelompok besar dan diberi mandat untuk memimpin Sekte bersama ketua tiga kelompok lainnya. Anda tidak mempunyai hak sama sekali ikut campur urusan kelompok kami".


"Kau!". Birawa menatap tajam Jagratara.

__ADS_1


"Tuan Jagratara benar ketua, anda dipilih hanya untuk menyatukan 3 kelompok besar ini, sedangkan keputusan sekte tetap melibatkan para ketua dari 3 kelompok. Andaru telah melarikan diri demi ambisi pribadinya bukankah sudah sewajarnya mereka melakukan pemilihan ketua baru?". Daniswara muncul dari balik pintu dengan wajah congkak.


Birawa hanya terdiam mendapat serangan dari Daniswara. Apa yang dikatakan Daniswara semua benar, Ketua bintang langit hanya diberi amanat untuk memimpin bersama 3 kelompok lainnya dan tidak berhak ikut campur urusan internal kelompok.


"Kau harap bersabar Jagratara, semua bisa dibicarakan baik baik". Astaguna mencoba menengahi.


"Apakah anda mengizinkan jika aku ikut campur urusan kelompok Lintang gubuk?". Jagratara menatap tajam Astaguna.


Astaguna terdiam mendapat pertanyaan menohok Jagratara.


"Kami hanya ingin menata kembali semuanya setelah kepergian tuan Andaru, apakah itu salah?. Apa yang dilakukan Ketua sudah menyalahi aturan sekte, anda terlalu melindungi Andaru dan ikut campur urusan sekte. Aku akan menggunakan hak sebagai ketua Lintang Wakulu untuk memilih ketua baru Sekte Bintang langit".


Birawa dan Astaguna tersentak kaget mendengar ucapan Jagratara. Mereka tidak menyangka Jagratara mengucapkan hal itu. Birawa telah menjadi Ketua Bintang langit selama ratusan tahun namun hari ini statusnya digugat oleh Jagratara.


Daniswara yang berada disebelah Jagratara tersenyum penuh kemenangan.


Birawa menggeleng pelan setelah mendengar ucapan Jagratara, kini dia akhirnya mengerti apa yang direncanakan Dansiwara selama ini.


Birawa terlihat pasrah dengan keadaan yang dihadapinya saat ini. Hanya 3 kelompok besar yang memiliki suara untuk menentukan ketua. Jagratara sudah pasti akan memilih Daniswara.


"Baiklah jika itu keinginanmu, aku akan mundur dari ketua Bintang langit".


Suasana seketika menegang, Astaguna memejamkan matanya sesaat, dia sudah mengetahui hasilnya jika saat ini dilakukan pemilihan ketua.


"Umumkan bahwa aku adalah ketua terpilih yang baru Bintang langit, dan untukmu aku akan memberikan hadiah yang setimpal". Daniswara duduk di singgasana ketua Bintang langit dengan senyum merekah diwajahnya.


"Baik ketua". Jagratara menundukan kepalanya.


"Harusnya sejak dulu aku merebut bintang langit, tua bangka itu tidak becus memimpinnya".


***


"Segel kabut diciptakan untuk menyamarkan sesuatu dari pandangan mata dan hanya bisa dinetralkan oleh sesama pengguna segel kabut, ku harap kalian bisa menggunakan segel kabut karena jika tidak, walaupun aku menunjukan jalannya kalian tidak akan bisa menemukannya". Ucap Rakiti pelan.


"Apakah kakek bisa menggunakannya?".


Rakiti menggelengkan kepalanya."Aku tidak pernah tertarik dengan mainan seperti itu nak".


"Lalu bagaimana kakek bisa masuk ke Dieng jika tidak menguasai jurus segel? bukankah kabarnya gerbang menuju Dieng disegel?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Temanku adalah ketua kelompok Lintang Wakulu, salah satu kelompok Sekte bintang langit. Dia yang menunjukkan jalan padaku menuju Dieng namun aku hanya diijinkan sebatas gerbang pertama".


"Jika kalian tidak menguasai segel kabut bagaimana kalian bisa masuk ke Sekte bintang langit". Rakiti menghela nafasnya.

__ADS_1


"Aku bisa tetua". Tiba tiba Lingga berbicara.


Sabrang, Rakiti dan Mentari menoleh bersamaan.


"Kau? bagaimana kau bisa menguasainya?". Rakiti menatap tajam Lingga Maheswara.


"Ketua mengajariku jurus ini beberapa waktu lalu sebelum dia mengutusku ke sini". Lingga berkata pelan.


"Bagaimana Kertasura bisa menguasai jurus itu". Rakiti terlihat berfikir.


Tak lama Rakiti mengentikan langkahnya didepan Sebuah gua yang terhalang oleh batu besar. Suhu udara yang lembab disekitarnya dan pohon yang diselimuti lumut hijau menandakan sinar matahari tak mampu menembus rimbunnya pepohonan disekitar gua.


"Disini tempatnya". Ucap Rakiti sambi menatap sekelilingnya.


"Kakek yakin?". Sabrang bertanya pelan.


Rakiti mengangguk "Beberapa kali bertemu dengan temanku disini, aku yakin segel kabut menyamarkan pintu masuknya.


"Biar aku coba". Lingga melangkah maju dan berjongkok didepan gua.


Dia menggigit ujung jari telunjuknya dan menempelkan darah di telapak tangan kirinya membentuk suatu simbol dengan darahnya.


Lingga mulai merapal jurusnya dan menghentakkan telapak tangannya ke tanah.


Tak lama kemudian tiba tiba seluruh area disekitar gua diselimuti kabut tebal. Sangking tebalnya mereka sampai kesulitan bernafas. Beberapa saat kemudian kabut mulai menghilang.


Saat kabut hilang mata mereka terbelalak melihat pemandangan dihadapannya. Tak ada lagi udara lembab dan lumut dimana mana, yang mereka lihat saat ini hanya hamparan bunga mawar merah yang memanjakan mata.


Diantara hamparan bunga mawar merah tersebut terdapat sebuah jalan setapak menuju bukit tinggi didepannya.


"Indah sekali, tak kusangka ada tempat seindah ini". Mentari menggelengkan kepalanya.


"Aku perlu bicara padamu sebentar nak". Rakiti menarik Sabrang menjauh dari Lingga dan Mentari.


"Mereka adalah sekte yang sangat misterius, ditambah tubuh mereka hampir abadi karena meminum air kehidupan. Sifat manusia akan terus berubah seiring dengan perumahan zaman.


Berhati hatilah didalam sana, kita tidak tau apa yang akan menyambut kalian. Andaru adalah ketua Lintang Wakulu, dia adalah temanku. Jika kau terkena masalah cari dia dan katakan kau adalah muridku. Aku tidak bisa mengantarmu karena terikat perjanjian dengan Andaru untuk tidak pernah memasuki Bintang langit".


"Baik kek, akan kuingat semua pesan kakek". Sabrang memberi hormat pada Rakiti.


"Ayo kita masuk". Sabrang melangkah kearah hamparan bunga yang ada dihadapannya diikuti Lingga dan Mentari.


Rakiti memandang kepergian mereka sampai segel kabut kembali menutup dengan wajah sedikit cemas.

__ADS_1


"Ku harap kau bisa merubah semua kebusukan yang ada di dunia persilatan ini kelak nak, jangan ulangi kesalahan yang dilakukan Panca".


__ADS_2