
Dananjaya terpaksa melompat mundur untuk menghindari serangan Anom. Beberapa pendekar lainnya yang mencoba membantu tak bisa berbuat banyak saat Lingga ikut menyerang.
"Mundur tuan". Arung meminta Tanwira mundur karena pertarungan semakin sengit. Benturan benturan tenaga dalam membuat ruangan bergetar hebat.
Wardhana melangkah masuk keruang rahasia untuk menghindari efek serangan.
"Kekuatannya terus meningkat pesat, apa dia masih menyembunyikan kemampuan yang sebenarnya?". Dananjaya hanya bisa bertahan tanpa bisa menyerang.
"Jika aku bisa menggunakan seluruh kekuatanku, sudah dari tadi mereka kulumpuhkan". Ucap Sabrang kesal. Bertarung diruangan yang sempit dan menahan kekuatan sambil bertarung bukan hal mudah.
Beberapa kali Sabrang hampir menghancurkan ruangan itu andai tak buru buru menarik kembali kekuatannya.
Hal ini tidak disiasiakan Dananjaya, dia berusaha menyerang balik saat Sabrang mengatur tenaga dalamnya.
Sabrang merendahkan tubuhnya sedikit saat pedang Dananjaya hampir mengenai lehernya.
"Sial! aku harus memancingnya keluar ruangan". Gumam Sabrang.
Lingga yang mengetahui kesulitan Sabrang berusaha menarik lawanya menjauh, dia tidak ingin pertarungannya semakin membuat Sabrang tidak leluasa.
Ketika menemukan celah lawannya, Lingga langsung mengeluarkan jurus andalannya. Dia melepaskan aura hitam sebelum bergerak dengan kecepatan tinggi menyerang lawannya. Dalam hitungan detik pendekar penjaga itu roboh ketanah.
Dilain pihak Sabrang kembali mundur saat Dananjaya tiba tiba meningkatkan kecepatannya. Sabrang terlihat mengeluarkan bongkahan bongkahan es untuk menangkis serangan Dananjaya.
Serangan serangan cepat Dananjaya sebenarnya masih dapat di ditangkis dengan mudah oleh Sabrang namun ruangan yang cukup sempit membuat Sabrang harus berhati hati mengatur tenaga dalamnya.
"Dia juga pengguna Es?". Gumamnya dalam hati. Ruangan kembali bergetar ketika kobaran api ditubuh Sabrang kembali membesar.
"Bangunan ini dibangun untuk tahan gempa dan getaran, sepertinya akan baik baik saja jika anda sedikit melepaskan kekuatan Naga api Yang mulia". Ucap Wardhana pelan.
"Kau yakin paman?". Tanya Sabrang pelan.
"Aku sudah memeriksa struktur bangunan ini tuan, ruangan ini dibangun memang untuk bertahan jutaan tahun".
Sabrang tersenyum kecil sambil merapal sebuah jurus. "Terima kasih paman, itu sangat membantu". Ucap Sabrang pelan.
Jika Sabrang mulai tersenyum beda hal dengan Dananjaya, dia mengutuk Wardhana. Jika dengan tenaga dalam yang sedikit saja dia sudah kesulitan menghadapi Sabrang bagaimana jika Sabrang menggunakan seluruh kekuatannya.
Dan Apa yang ditakutkan Dananjaya benar benar terjadi. Seketika tubuhnya menjadi berat saat Sabrang melepaskan aura yang cukup besar.
Sabrang bergerak dengan kecepatan tinggi, puluhan keris muncul diudara membuat Dananjaya semakin terpojok. Menghindari puluhan keris yang bisa muncul dari mana saja membuatnya benar benar kesulitan.
"Pertarungan sudah selesai". Ucap Lingga pelan saat merasakan tekanan aura yang sangat besar.
"Tidak mungkin secepat itu tuan, aku yang paling mengerti kekuatan yang dimiliki Dananjaya". Jawab Tanwira pelan.
__ADS_1
"Anda mungkin mengenalnya namun tidak dengan bocah api itu". Lingga menunjuk Dananjaya yang sudah berada diujung tanduk.
Mata Tanwira terbelalak ketika melihat Sabrang dengan mudah mendesak Dananjaya.
"Paman Malewa hanya ingin mengantarku masuk Wentira, dia bahkan tidak mempunyai ambisi apapun disini namun kau dengan kejam membunuhnya". Sabrang bergerak mendekat sambil melepaskan puluhan energi keris.
Ketika Dananjaya hendak menangkis serangan keris itu tiba tiba sebuah pukulan menghantamnya.
"Terbakarlah sampai habis". Sabrang muncul tepat dibelakangnya dan menghujamkan pedangnya. Dananjaya berusaha mencabut pedang ditubuhnya namun sebuah keris mucul diatas kepalanya.
"Aku sudah katakan tak akan ada yang akan keluar dari ruangan ini hidup hidup". Sabrang menarik keris itu dan menghantamkannya kearah kepala Dananjaya.
Dananjaya hanya bisa menahan rasa sakit yang sangat hebat sebelum tubuhnya habis menjadi abu.
"Kau benar benar menepati janjimu Panca, bahkan kau mengirimkan keturunanmu sendiri untuk melindungi Wentira, kota kecil didalam gua yang sangat kau cintai". Ucap Tanwira pelan.
"Sebaiknya anda cepat kemari Yang mulia". Suara Wardhana mengagetkan Sabrang dan yang lainnya. Mereka melangkah masuk kedalam ruang rahasia yang ditemukan Wardhana.
Wardhana menunjukan gulungan yang cukup besar dan membentangkannya ditanah. Raut wajahnya tampak pucat karena sangat terkejut dengan apa yang ditemukannya.
Sabrang mengernyitkan dahinya saat melihat gambar gambar yang ada digulungan itu.
"Gambar apa itu paman?". Tanya Sabrang penasaran.
"Ini sepertinya tanah Jawata, gunung ini sangat mirip dengan gunung merapi tempat sekte Pedang Naga api dan ini kemungkinan daratan Celebes". Wardhana menggaruk kepalanya heran.
"Siapa yang membuatnya tuan? sepengetahuanku Kumari kandam tidak pernah membuat gambar ini, kami memang menguasai ilmu membaca bintang dan cuaca namun gambar ini aku sangat yakin bukan buatan kami". Tanwira juga terlihat terkejut melihat gulungan itu.
"Aku masih belum mengerti tuan karena tidak ada catatan apapun digulungan ini namun bukan itu yang sangat mengganggu pikiranku. Gambar ini sangat detail setiap incinya bahkan gunung berapi ini digambar lengkap dengan air terjun dan gua yang ada disekitarnya. Gulungan ini seperti digambar dari udara, bagaimana mereka menggambarnya dan menggunakan alat apa mereka terbang diudara".
"Bukankah Ilmu kanuragan memungkinkan kita bisa melayang?". Arung ikut bicara.
"Tidak mungkin" Jawab Sabrang singkat.
Semua menatap Sabrang bersamaan, meraka sadar saat ini Sabrang adalah pendekar terkuat di Nuswantoro. Jika ada yang bisa terbang maka Sabrang lah orangnya.
"Melayang diudara membutuhkan tenaga dalam yang sangat besar, jika aku menggunakan seluruh energi Anom dan Naga apipun mungkin hanya bisa bertahan beberapa menit saja. Itupun dengan catatan aku harus terus bergerak diudara, tidak mungkin melayang diudara dan diam disatu titik". Ucap Sabrang menjelaskan.
Wardhana mengangguk setuju dengan penjelasan Sabrang.
"Menggambar membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi sambil menatap objek yang akan digambar. Jika Yang mulia memang bisa berdiam diri diudara tetap ada misteri lain yang tidak masuk akal, dimana Yang mulia akan meletakan gulungan ini? apakah bisa menggambar diudara dengan gulungan dipegang ditangan?.
Bukan hanya itu yang menjadi pertanyaanku, jika Nuswantoro sekecil ini maka gambar ini adalah daratan daratan lainnya diluar Nuswantoro. Siapapun yang menggambar gulungan ini dia sudah berkeliling dunia". Ucap Wardhana.
"Jadi banyak daratan lain diluar Nuswantoro?".
__ADS_1
Wardhana kembali mengangguk "Itu yang digambarkan gulungan ini. Jika bukan peradaban kumari kandam lalu siapa yang menggambar ini".
"Maaf tuan, sebenarnya ada yang harus kuceritakan pada kalian". Ujar Tanwira tiba tiba.
Dia terlihat menarik nafasnya sebelum memulai ceritanya. "Sebenarnya saat Kumari kandam berdiri kami sama seperti suku lainnya bahkan mungkin suku kami sangat jauh tertinggal dari suku lainnya. Hingga suatu saat disore hari seseorang merubah hidup kami".
"Seseorang merubah hidup kalian?". Wardhana mengernyitkan dahinya.
"Sore itu kami kedatangan seorang pemuda misterius yang sedang terluka. Kami merawatnya sampai sembuh. Pemuda itu sangat berterima kasih pada kami karena menyelamatkan nyawanya. Dia memberi kami beberapa buah kitab sebagai rasa terim kasih sebelum dia pergi. Saat kami membuka kitan itu kami sangat terkejut karena itu adalah kitab ilmu pengetahuan dan ilmu kanuragan yang sangat tinggi. Sejak saat itu hidup kami semua berubah, peradaban kami maju dengan pesat. Apa mungkin pemuda itu yang menggambar digulungan itu?".
"Apa kau tau dari mana pemuda itu berasal?". Tanya Wardhana.
Tanwira menggeleng pelan. "Saat peradaban Kumari kandam sudah sangat maju, kami sempat ingin mencari pemuda itu untuk berterima kasih namun dia bak hilang ditelan bumi. Seluruh sudut Nuswantoro sudah kami jelajahi namun kami tidak menemukannya dan yang lebih aneh lagi tidak ada pernah melihat pemuda yang kami gambarkan itu".
"Jika Dananjaya mengetahui ruangan rahasia ini berarti petunjuk kita hanya pendekar Langit merah, aku yakin mereka tau sesuatu".
Wardhana terlihat berfikir sejenak "Apakah gulungan ini boleh kubawa?".
Tanwira mengangguk pelan "Bawalah tuan, aku tidak membutuhkannya".
"Ciha, kemarilah". Panggil Wardhana.
Ciha mendekat dengan wajah bingung.
"Kau lihat gambar ini, jika ini celebes dan ini Jawata maka ini kemungkinan Daratan Suwarnadwipa. Kita hanya perlu mengarahkan kapal kearah sini, sepertinya titik ini bisa dijangkau cukup mudah". Ujar Wardhana menjelaskan.
"Tuan, lautan ini terkenal sangat misterius dan ganas, apa anda yakin akan memilih jalur ini. Apa tidak lebih baik memutar sedikit keselatan?".
"Itu akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, aku takut Langit merah bergerak lebih dulu. Apa kau bisa mengantarku Arung?".
Arung terlihat berfikir sejenak sebelum menjawab. "Aku bisa saja mengantar kalian namun saat ini aku tidak bisa meninggalkan Emmy disini. Setelah kematian guru dia tidak memiliki keluarga selain diriku. Aku harus membawanya".
"Bertambah satu orang berarti menambah kekuatan, kurasa Yang mulia tidak keberatan".
Sabrang terlihat mengangguk setuju.
"Tapi tuan...". Arung terbayang dua pendekar wanita yang berada ditanah Jawata. Dia heran bagaimana Sabrang bisa setenang itu setelah pertarungan Mentari dan Tunggdewi di sekte tapak es utara.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
PETA PIRI REIS ditemukan tahun 1929, Selain membuat kagum karena menggambar pantai timur Amerika secara detail, peta ini juga mencengangkan karena menggambar utara Antartika dengan presisi tinggi. Padahal , saat itu Antartika belum lagi ditemukan. Antartika ditemukan tiga abad kemudian.
Peta yang menurut para ilmuan hanya bisa digambar melalui citra satelit ini masih membingungkan sampai saat ini.
Saya memasukan peta ini dengan Nama berbeda dalam Novek PNA untuk menambah keseruan dan misteri dalam cerita Sabrang.
__ADS_1