Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Dosa Masa lalu Trah Dwipa


__ADS_3

Seminggu sudah Sabrang berada di dasar lembah sukma ilang namun belum melakukan latihan apa apa, dia hanya duduk bersila dan memejamkan matanya. Pikirannya selalu terfokus pada ucapan Suliwa yang mengatakan jika trah keluarganya mempunyai sejarah kelam di masa lalu.


Banyak pertanyaan dalam pikirannya yang tidak bisa dia jawab, hal inilah yang mengganggu konsentrasinya untuk berlatih.


"Sepertinya terlalu berlebihan jika kau memilih tempat ini hanya untuk sekedar melamun dan meratapi nasibmu". Anom bicara kesal.


"Kau tidak tau apa apa tentang apa yang kurasakan saat ini Anom". Ucap Sabrang pelan.


"Aku memang tidak tau tentangmu nak, aku salah menilaimu. Kau ternyata hanya seorang bocah yang beruntung dilahirkan di keluarga Dwipa, Kau hanya bocah yang terpengaruh oleh mata bulan dan selalu tergantung pada pusaka yang kau miliki". Suara Anom tiba tiba meninggi.


"Hei bukankah ucapanmu sudah sangat keterlaluan Anom". Naga api ikut bicara.


"Apa yang aku katakan benar bukan? kau pun merasakannya?". Anom membentak Naga api.


"Jika kau merasa aku tak pantas menjadi tuanmu aku tak memaksa kalian mengikutiku". Ucap Sabrang dingin.


"Kau!". Tiba tiba keris penguasa kegelapan keluar dari tubuh Sabrang dan berputar diudara.


"Jika itu maumu akan kucabut nyawamu sebagai syarat pembatalan perjanjian leluhurmu dulu". Keris penguasa kegelapan meluncur cepat kearah Sabrang.


Sabrang tersentak kaget saat Anom benar benar menyerangnya dengan sekuat tenaga. Dia bisa merasakan jika anom menggunakan hampir seluruh kekuatannya. Sabrang berusaha menghindar namun aura anom membuat tubuhnya kaku tak bisa digerakan.


Saat keris itu hampir mengenai tubuh Sabrang tiba tiba pelindung api menahan serangan Anom.


"Kau ingin ikut campur Naga api?". Anom menghardik Naga api.


"Kau benar benar menggunakan seluruh kekuatanmu untuk membunuh anak ini? apa kau sudah gila?". Naga api tak habis pikir dengan tindakan Anom. Saat dia menangkis serangan Anom dia tau jika Anom menggunakan seluruh kekuatannya.


"Apa yang kau harapkan dari anak ini? Bahkan Arya Dwipa jauh lebih kuat darinya. Aku yakin Arya dwipa menangis melihatnya".


"Apa maksud ucapanmu? Jika ayah benar benar kuat dia tidak akan terbunuh oleh Lingga dan dimana kau saat ayahku bertarung? dengan kekuatanmu harusnya Lingga bukan masalah bagimu saat itu". Sabrang terlihat tidak senang dengan ucapan Anom. Mata bulannya kembali bersinar.


"Oh jadi itu yang selalu mengganggu pikiranmu selama ini? kau benar benar salah menilai Arya Dwipa".


Beberapa saat kemudian Anom kembali menjadi aura hitam dan dengan cepat menyelimuti tubuh Sabrang. Tubuh Sabrang melayang diudara saat seluruh tubuhnya telah diselimuti aura itu. Mata birunya yang tadi bersinar berubah menjadi hitam pekat.


"Ini?". Sabrang mengenyitkan dahinya, tiba tiba dia melihat sebuah ruangan mewah dalam pikirannya.

__ADS_1


"Siapa orang itu?". Sabrang menajamkan matanya saat melihat seorang pria memakai jubah perang sedang menggenggam sebuah keris di sudut ruangan.


"Anom?". Sabrang mengenali aura hitam di tubuh pria itu.


(Adegan ada di Chapter 4 : Keris penguasa kegelapan)


"Maaf menunggu terlalu lama, sudah saatnya kita bersama lagi sang penguasa kegelapan". Arya Dwipa menyarungkan keris di pingangnya.


"Ulurkan tanganmu tuan, aku akan memberimu kekuatan yang sangat besar untuk mengalahkan mereka". Anom mengulurkan tangannya namun Arya Dwipa menarik tangannya sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak Anom, kau pun merasakannya bukan? Walaupun masih samar namun jelas energi Mahendra masih ada di dunia ini. Aku tidak mau ambil resiko dia mendeteksi keberadaanmu jika aku menggunakan kekuatanmu". Arya Dwipa tersenyum pada Anom.


"Anda terlalu banyak berkorban tuan, aku tau ilmu kanuragan anda sangat tinggi namun kali ini yang anda hadapi adalah pendekar pilih tanding. Anda bisa kehilangan nyawa jika tidak menggunakan kekuatanku. Dosa leluhurmu dimasa lalu tak harus anda tanggung sampai sejauh ini. Dieng bukan tempat yang mudah untuk disembunyikan, sekuat apapun anda berkorban untuk menyembunyikan tempat itu suatu saat pasti akan ada yang menemukannya".


Arya Dwipa terkekeh mendengar ucapan Anom "Sejak kapan kau begitu perduli padaku? Aku ingat saat pertama kali keris ini diwariskan ayahku kau sekuat tenaga menolakku". Arya Dwipa menarik nafas sesaat sebelum dia melanjutkan ucapannya.


"Dengarkan aku Anom, Kesalahan terbesar trah Dwipa bukan menemukan Dieng dan memasukinya namun menciptakan 5 pusaka Dieng dan Monster monster seperti Mahendra. Sudah menjadi tugas bagi trah Dwipa untuk meluruskan sejarah kelam itu, dan aku yakin anakku akan mampu meluruskan sejarah itu karena kau tau sendiri dia dianugrahi tubuh 7 bintang. Jika nyawaku hari ini melayang anggap aja itu sebuah pengorbanan atas kesalahan masa lalu. Biar anakku yang meneruskan perjuanganku". Ucap Arya Dwipa pelan.


"Bagaimana anakmu akan tau sejarah panjang itu jika kau tewas dalam pertempuran ini?. Gunakan kekuatanku agar kau bisa mengatakannya langsung dan kita akan memikirkan cara jika Mahendra mencariku". Anom masih bersikeras pada pendapatnya.


Belum selesai melakukan persiapan terdengar suara langkah terburu buru “Ampun gusti prabu hamba mohon menghadap” terdengar suara Lembu Dongga dari luar. “Keraton telah dikepung gusti prabu”.


“Sudah saatnya” batinnya.


"Anom sampaikan pada anakku kelak jika aku tewas dengan gagah berani demi dirinya, demi tanah leluhurku dan demi mencegah angkara murka keluar dari Dieng". Arya Dwipa melangkah keluar, ada perasaan lega karena permaisuri dan Sabrang telah keluar dari keraton. “Ayo kita sambut mereka “dia melangkah menuju gerbang keraton diikuti oleh lembu Dongga dari belakang.


"Ayah.......". Sabrang menitikkan air matanya saat gambaran dikepalanya menghilang. Dia benar benar baru tau jika Arya Dwipa begitu mementingkan orang banyak.


"Betapa bodohnya aku selalu mementingkan diriku sendiri saat ayah dulu memperjuangan semua orang bahkan rela mengorbankan nyawanya. Maafkan anakmu yang bodoh ini yah".


"Apa kau tidak terlalu cepat memberitahukan rahasia ini padanya?". Ucap Naga api pelan.


"Aku hanya tidak ingin dia memilih jalan yang salah. Arya Dwipa adalah baik, aku tidak ingin ada pengorbanan lagi atas kesalahan leluhurnya".


"Anom, Sejararah kelam dan kesalahpahaman apa yang dimaksud ayahku?". Sabrang bertanya tiba tiba.


"Semua sudah tertulis disebuah batu di gerbang pertama Dieng. Kau akan mengetahuinya secara lengkap di sana namun tidak dengan kondisimu saat ini. Kau hanya akan membuat malu ayahmu". Anom berkata tajam.

__ADS_1


Sabrang tersenyum kecut mendengar ucapan Anom.


"Energi bumi tercipta dari gabungan Jurus api abadi dan kekuatan Naga api bukan?".


Anom mengangguk "Apa yang kau rencanakan?". Anom merasa Sabrang telah kembali seperti dulu.


"Selama ini aku selalu menggunakan kekuatan kalian secara terpisah, aku ingin mencoba menggunakan jurus api abadi menggunakan gabungan kekuatan kalian berdua".


"Apa kau sudah gila? tubuhmu bisa hancur jika kekuatanku dan Naga api kau gunakan secara bersamaan". Suara Anom meninggi.


"Jika kau bisa mempercayai ayahku, bisakah kali ini kau percaya padaku?".


Anom terdiam setelah mendengar ucapan Sabrang.


"Bukankah ini menarik Anom? belum pernah ada yang mencoba menggabungkan kekuatan kita? atau kau takut jika kekuatanmu kalah jauh dariku?". Naga api terkekeh.


Anom tersenyum kecil beberapa saat kemudian "Anda benar tuan, anakmu akan jauh lebih kuat darimu bahkan dari seluruh leluhurnya". Anom berbicara dalam hati.


"Baiklah, tidak ada salahnya dicoba".


"Terima kasih Anom atas segalanya". Sabrang mulai merapal sebuah jurus.


***


Tantri berlari dengan wajah khawatir kearah ruangan Wulan Sari. Dia beberapa kali terlihat mengumpat dengan suara pelan.


"Guru, Ledakan dan getaran itu kembali terdengar dari dasar Lembah. Apakah dia baik baik saja?". Ucap Tantri setelah berdiri dihadapan gurunya. Raut wajahnya bertambah buruk ketika melihat senyum diwajah Wulan sari setelah mendengar laporannya.


Selama beberapa hari ini memang selalu terdengar ledakan diikuti getaran dari dasar Lembah.


"Lalu apa yang harus kulakukan? mungkin saat ini kemampuannya jauh diatasku".


Tantri menggelengkan kepalanya berkali kali, dia tau seberapa hebat gurunya, Saat ini mungkin Wulan sari adalah pendekar wanita terkuat mana mungkin Sabrang lebih hebat dari gurunya.


"Aku takut anak itu akan tewas di sana, haruskah aku melihatnya?". tanya Tantri pada gurunya.


Wulan sari menggeleng pelan "Dia dilindungi Naga api aku yakin anak itu akan baik baik saja. Aku bersyukur mendengar suara ledakan itu setelah seminggu aku menantikan ledakan seperti itu. Anak itu sepertinya telah mengatasi gejolak didalam hatinya".

__ADS_1


__ADS_2