Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kehancuran Nuswantoro IV


__ADS_3

"Ruh Cakra Loji?" Sabrang mengernyitkan dahinya bingung saat mendengar penjelasan Eyang Wesi.


"Kebangkitan ruh Cakra Loji itulah yang sebenarnya ditakutkan oleh ayahmu dulu sehingga dia memutuskan membuat perjanjian darah denganku," jawab Eyang Wesi sambil mengingat kembali pertemuannya dengan Arya Dwipa.


"Ayah sudah mengetahui tentang ruh Cakra Loji? jadi dia..."


"Ayahmu bukan pendekar sembarangan nak, tak banyak yang tau jika dia sebenarnya dianugerahi tubuh sempurna sembilan Naga sejak lahir. Kelebihan itulah yang membuat mata bulannya mampu menembus ruang dimensi milik siapapun dengan mudah, bagi Arya Dwipa tak ada segel yang bisa menahan kekuatan matanya, dia bahkan bisa menembus dimensi gerbang kesepuluh di ruang udara dengan mudah," Eyang Wesi menghentikan ucapannya sesaat, dia terlihat mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Banyak hal yang tidak kau ketahui tentang ayahmu nak, dia adalah orang baik namun kepeduliannya pada dunia ini membuat dia sedikit salah mengambil keputusan," ucap Eyang Wesi pelan.


"Katakan...Apa yang terjadi pada ayahku!" bentak Sabrang cepat, dia merasa Eyang Wesi menyembunyikan sesuatu tentang ayahnya.


"Kau tak harus mendengar semuanya nak karena setiap manusia pasti memiliki kesalahan, yang harus kita lakukan saat ini adalah menghentikan Cakra Loji secepatnya sebelum semua terlambat," jawab Eyang Wesi.


"Kau tak perlu meragukan aku kek, aku sekarang bisa membedakan urusan pribadi dengan dunia persilatan tapi tolong izinkan aku mengetahui sosok ayah agar semua pertanyaan dalam hatiku sirna. Terlalu banyak misteri yang menyelimuti ayah selama ini dan aku sebagai anaknya harus tau semuanya."


Eyang Wesi terdiam sesaat, dia merasa apa yang dikatakan Sabrang ada benarnya.


"Aku bertemu ayahmu beberapa saat setelah dia diangkat menjadi raja, setidaknya itu yang dia katakan saat pertama kali berhasil masuk kedalam ruang dimensi milikku. Saat itu aku yang masih tersegel begitu terkejut, bagaimana mungkin seorang manusia bisa menembus dimensi ruh pusaka dengan begitu mudah.


"Sempat terjadi pertarungan diantara kami sampai Arya Dwipa mengatakan jika segel gerbang kesepuluh melemah karena kesalahannya dan dia berniat meminta bantuan ku untuk memperbaiki semuanya."


"Kesalahan ayah? tidak mungkin, ayah tidak mungkin..."


"Itulah yang dia ceritakan padaku, sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak disengaja karena kepeduliannya pada dunia ini, cerita yang sangat tragis bukan?" potong Eyang Wesi pelan.


"Yasha Wirya memang melakukan kesalahan dengan menciptakan jurus mengendalikan waktu sehingga merusak dimensi waktu tapi segel buatannya seharusnya mampu menahan Cakra Loji sampai peradaban Maja yang menjadi penanda ksatria terakhir cahaya putih muncul. Wirya sudah memperkirakan itu semua sehingga di akhir hidupnya dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk menyegel gerbang kesepuluh.


"Namun ayahmu yang merasa ikut bertanggung jawab atas kesalahan leluhur trah Dwipa itu mencari cara untuk menyegel Cakra Loji selamanya di dimensi ruang api dan tanpa disadarinya tindakan itu justru melemahkan segel Yasha Wirya," Eyang Wesi melanjutkan.


"Latimojong leluhur kami? tidak mungkin..." balas Sabrang cepat.


"Setelah Latimojong Hancur, mereka terbelah menjadi dua kelompok, Lemuria dan Atlantis. Ciri khas Latimojong yang diturunkan pada Atlantis adalah mata bulan, lalu menurutmu dari mana mata itu kau dapatkan? Arya Dwipa mengetahui kenyataan ini secara tidak sengaja saat dia sedang menyelidiki beberapa organisasi rahasia yang berhubungan dengan Masalembo dan Pagebluk Lampor. Apa yang dilakukan ayahmu sebenarnya hanya demi menghentikan kehancuran dunia persilatan namun kesalahan terbesarnya adalah masuk ke gerbang kesepuluh sehingga membuat segel Yasha Wirya melemah.


"Keadaan semakin kacau karena Ken Panca menggunakan jurus mengendalikan waktu yang membuat segel Yasha Wirya semakin melemah dan Cakra Loji akhirnya berhasil keluar dari kurungan alaminya. Situasi ini juga memaksaku bangkit lebih cepat dari yang direncanakan Yasha Wirya," ucap Eyang Wesi.


Sabrang terdiam, dia masih tidak percaya dengan ucapan Eyang Wesi tentang ayahnya.


"Jadi ayah adalah salah satu pemicu semua kekacauan ini dan kau yang menyebut dirimu pusaka penjaga waktu hanya diam saja saat itu? kau seharusnya bisa mengembalikan semuanya seperti semula sehingga Cakra Loji tidak bangkit saat ini," balas Sabrang kesal.


"Kami sudah berusaha tapi tak berhasil, Arya Dwipa memang memiliki kekuatan besar dan tubuh sembilan Naga yang sempurna, namun kesalahannya masuk ke gerbang kesepuluh membuat energi Cakra Loji berhasil masuk kedalam tubuhnya.


"Kami tidak berhasil memperbaiki segel Yasha Wirya karena kekuatan ayahmu harus terbagi untuk menekan energi Cakra Loji yang setiap saat berusaha mengambil alih tubuhnya. Itulah sebabnya dia memilih mati saat keraton nya diserang puluhan tahun lalu agar tubuhnya tidak bisa diambil alih."


"Jadi itu alasan sebenarnya dia menolak menggunakan kekuatanku saat berhadapan dengan Lingga," sahut Anom tiba tiba.

__ADS_1


"Itulah rahasia yang dipendamnya selama ini, tak ada yang tau pengorbanan yang telah dia lakukan termasuk ibumu," ucap Eyang Wesi.


"Kesalahan Arya Dwipa adalah keputusannya untuk menanggung semua kesalahannya sendiri," balas Naga Api.


"Dia tidak punya pilihan lain, jika keberadaan gerbang kesepuluh dan tubuh istimewanya diketahui banyak orang, dunia tetap akan kacau karena pasti banyak pendekar yang akan mengincarnya. Saat itu keputusan apapun yang dia ambil mengandung resiko yang sama besar."


"Ayah tidak salah, dia pasti melakukan semua yang bisa dilakukan untuk menghentikan Cakra Loji. Apa ayah mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan gerbang kesepuluh dan cara menghentikannya?" tanya Sabrang cepat.


"Seharusnya, sesuai ramalan Sabdo Loji hanya tiga cahaya putih yang bisa menandingi kekuatan Cakra Loji dan mengurungnya di Ruang Api tapi cahaya terakhir tidak akan muncul sebelum peradaban Maja muncul, kecuali..." Eyang Wesi menggantung ucapannya, dia terlihat ragu untuk melanjutkan.


"Katakan kek, kita tidak punya banyak waktu lagi," ucap Sabrang cepat saat tubuhnya mulai melayang di udara dengan sendirinya.


"Gawat, kita terlambat, segel Yasha Wirya hampir hancur," Eyang Wesi terlihat panik sebelum melanjutkan ucapannya. "Sebenarnya ada satu cara untuk menyegel kembali gerbang kesepuluh sementara waktu sambil menunggu cahaya terakhir muncul dan Arya Dwipa sudah mempersiapkannya, hanya saja kau dan Rubah Putih belum mampu melakukannya. Kau mungkin mewarisi hampir seluruh kekuatan ayahmu tapi tidak mata bulan istimewanya, andai kita bisa menemukan dimana Adikmu berada."


"Adik? aku yakin Pancaka tidak memiliki mata bulan dan saat ini dia juga sudah tewas, apa tidak ada cara lain?" teriak Sabrang saat tenaganya mulai terhisap oleh sesuatu yang ada didalam gunung besar dihadapannya.


"Bukan dia tapi adik kandungmu, kita harus mencari keberadaannya karena mata bulan Arya Dwipa mungkin turun pada adikmu."


"Sepertinya kakek tua ini mulai gila dengan mengatakan sesuatu yang tidak mungkin, sebaiknya kita cepat mencari cara untuk menyegel kembali gerbang kesepuluh nak," potong Anom cepat, dia sudah mengikuti Arya Dwipa bahkan sebelum menjadi raja jadi tidak mungkin Sabrang memiliki adik dan dia tidak mengetahuinya.


"Apa kau ingat apa yang terjadi saat Sekar Pitaloka akan melahirkan? Arya Dwipa membawa Sekar Pitaloka ke dimensi waktunya bukan? anak ini lahir di dimensi ruang dan waktu, apa kau tidak berpikir alasan Arya Dwipa melakukan itu?"


Anom langsung terdiam, dia masih mengingat kejadian menghilangnya Arya Dwipa dan Sekar Pitaloka tepat sebelum ratu Malwageni itu melahirkan.


"Pemilik tubuh sembilan Naga tidak boleh memiliki anak kembar karena mereka akan saling menyerap kekuatan masing masing, itulah kutukan dari tubuh istimewa itu dan sayangnya Sekar Pitaloka mengandung anak kembar. Arya Dwipa seharusnya membunuh salah satu anaknya atau keduanya akan terbunuh, tapi dia tidak melakukannya dan lebih memilih menitipkan adikmu di suatu tempat. Jika adikmu bisa ditemukan maka..."


"Minak Jinggo? bukankah kalian..." belum selesai Sabrang bicara belasan energi pedang tiba tiba muncul dan menyerangnya.


Tubuh Sabrang terlihat kaku untuk beberapa saat sebelum Eyang Wesi mengalirkan tenaga dalam ke tubuhnya dengan cepat.


"Tapak Dewa Es Abadi," Sabrang membentuk perisai es tebal di hadapannya sebelum melompat mundur.


"Aku cukup kagum kau masih bisa bergerak setelah terkena jurus waktuku tapi itu tidak akan banyak membantu selama aku bergerak lebih cepat," kepulan asap hitam tiba tiba terbentuk di belakang Sabrang dan melempar belasan energi pedang lainnya yang mengandung tenaga dalam besar.


"Cakra Loji?" ucap Eyang Wesi terkejut.


Sadar tidak semua serangan itu bisa dihindari, Sabrang menghentakkan kakinya ke tanah untuk memadatkan udara di sekitarnya dan membentuk perisai energi menggunakan tenaga dalamnya namun diluar perkiraannya sebuah serangan energi pedang dari arah lain bergerak kearahnya dengan kecepatan tinggi.


"Gawat!" Mata bulan Sabrang sebenarnya bisa melihat serangan cepat itu namun dia tidak bisa berbuat apa apa karena dihadapannya sesosok pendekar yang mengenakan topeng hitam bergerak cepat dan menyerangnya dengan jurus tapak.


"Naga Api lindungi punggungku!" teriak Sabrang cepat.


"Tapak penghancur langit dan bumi"


"Tapak Dewa Bumi," Sabrang menangkis serangan itu dengan cepat.

__ADS_1


Sebuah ledakan besar terjadi akibat benturan dua tenaga dalam dan diantara kepulan debu yang beterbangan Sabrang merasakan seseorang berdiri dibelakangnya.


"Hampir saja aku terlambat," Minak Jinggo mencengkram energi pedang yang hampir membunuh Sabrang sebelum menghisapnya kedalam ruang dimensi miliknya.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Sabrang menyambar tubuh Minak Jinggo dan membentuk ratusan dinding es untuk menghindari serangan energi pedang Cakra Loji yang semakin cepat.


Tubuh mereka berputar di udara dan menghindari setiap serangan yang berhasil menembus dinding energinya.


"Perhatikan sisi kananmu!" Sabrang dan Minak Jinggo bergerak saling melindungi, mata bulan mereka seolah saling terhubung dan menutup celah masing masing.


"Tarian Rajawali," teriak Sabrang sambil mengayunkan pedangnya.


"Jurus pedang api abadi tingkat dua : Tarian api abadi," seolah tidak ingin kalah dari Sabrang, Minak Jinggo terus meningkatkan kecepatannya.


Belasan serangan energi pedang berhasil mereka tangkis sampai tiba tiba waktu menjadi sangat lambat.


"Jurus ini...Kakek!" Sabrang berusaha memperingatkan Minak Jinggo namun terlambat, gerakan mereka yang melambat membuat serangan pendekar bertopeng itu mampu menembus perisai api Sabrang dengan mudah.


Saat energi pedang itu hampir menghantam tubuh mereka, mata bulan Minak Jinggo tiba tiba menghisap seluruh energi pedang yang bergerak kearah mereka.


"Mata itu..." Eyang Wesi tampak terkejut melihat mata bulan Minak Jinggo mampu bereaksi lebih cepat dari serangan pendekar misterius itu.


"Kau masih berani muncul di hadapanku!" teriak pendekar misterius itu sambil melepaskan aura besar dari tubuhnya.


"Kau mengenalku? jangan jangan kau adalah kepulan asap hitam yang tadi melawanku di sisi gelap alam semesta?" jawab Minak Jinggo.


"Mata itu...akan aku hancurkan mata itu," ucap pendekar misterius itu kesal.


"Kekuatannya benar benar mengerikan, baru kali ini tubuhku merasakan tekanan sebesar ini," ucap Sabrang dalam hati.


"Cakra Loji, dialah iblis waktu yang selama ini tersegel di gerbang kesepuluh," balas Eyang Wesi.


"Cakra Loji? tapi tubuh itu..."


"Aku tidak tau tubuh siapa yang dia gunakan tapi jika tubuh itu mampu menahan kekuatan Cakra Loji, aku yakin dia bukan pendekar sembarangan."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ada beberapa reader yang protes cerita Sabrang dan Cakra Loji gak selesai selesai... Sebagai Author yang baik hati dan tidak sombong saya buatin cerita khusus yang langsung abis seperti di bawah ini.


Cerita khusus reader yang udah mumet...


Sabrang menatap Cakra Loji dengan mata bulannya dan saat dia berkedip tiba tiba Cakra Loji tewas dan menghilang dari dunia persilatan.


"Perasaan matinya cepet amat, belum juga gua bergerak," ucap Sabrang dalam hati.

__ADS_1


Kematian Cakra Loji membuat dunia persilatan aman, tentram dan damai.. Sabrang pun hidup bahagia bersama tiga istrinya....


Oke? gimana ceritanya??


__ADS_2